
Sejak kepulangan orangtua dan kakaknya, Adrian langsung kembali mengajak Grizelle mengobrol. Ia rindu dengan Auristella saat masih bayi dulu. Sangat menggemaskan dan tidak menyebalkan seperti sekarang.
"Griz, nanti kalau sudah besar jangan seperti Kak Auris ya. Dia itu musuh bebuyutan ku kalau di rumah. Tapi terkadang jadi teman juga sih,"
Grizelle menatap Adrian terus sejak tadi. Itu bentuk respon nya bila Adrian mengajaknya bicara atau bercanda.
Jhico sedang duduk di sofa menonton televisi di kamar. Sementara di ranjang ada Adrian dan Grizelle. Vanilla sedang menyiapkan makan malam untuk Adrian dan Jhico.
"Ini untuk siapa, Vanilla?" tanya Bibi saat melihat satu piring tambahan di meja makan yang baru saja diambil oleh Vanilla di kabinet untuk menyimpan piring.
"Ada keponakanku, Bi. Bibi belum tahu ya?"
"Oh begitu. Iya, Bibi belum tahu. Tadi 'kan jenguk anak Bibi di rumah sakit. Sekarang keponakan mu dimana?"
"Di kamar, tidak keluar-keluar karena sibuk dengan Griz,"
Bibi mengangguk kemudian mengambil air minum untuk Adrian. Ia hanya menyiapkan untuk Jhico saja. Vanilla sedang tidak ingin makan malam katanya.
Setelah makan malam selesai disiapkan, Vanilla memasuki kamarnya. Ia tersenyum melihat Adrian yang sedang menggoda Grizelle menggunakan boneka. Ia akan menjauhkan boneka tersebut saat Grizelle mengangkat tangan seperti berusaha untuk meraihnya dari Adrian.
"Adrian makan dulu, Sayang. Nanti dilanjut lagi bermainnya,"
"Griz sudah makan?" tanya Adrian pada adik sepupunya. Grizelle hanya mengulurkan tangan padanya, masih meminta boneka yang Ia pegang.
"Ini, aku berikan..."
Ia memberikan boneka kecil itu pada Grizelle dan langsung berusaha dipeluk oleh Grizelle. Saat lepas dari tangannya yang belum bisa memegang boneka, Grizelle merengek. Akhirnya Adrian meletakkan boneka itu di dada Grizelle lalu Ia meletakkan kedua tangan Grizelle di atas boneka agar memeluk boneka.
"Aku takut kamu menangis. Kalau Auris, sudah sering aku buat menangis. Aku tidak mau buat kamu menangis karena Daddy sudah pesan-pesan padaku tidak boleh nakal,"
Vanilla terkekeh mendengar Adrian bercerita pada anaknya. Bukan hanya Devan, Lovi pun demikian. Ia menyaksikan sendiri saat Lovi selalu memberi pesan agar Adrian tidak jahil pada Grizelle. Lovi dan Devan khawatir anak mereka membuat Grizelle tidak nyaman. Bayi berusia satu bulan itu perlu adaptasi dengan sepupunya yang jarang sekali Ia temui.
Jhico meninggalkan sofa kemudian Ia menghampiri Adrian yang sedang memperhatikan Grizelle sibuk dengan boneka nya.
"Adrian, ayo makan." Jhico mengajak Adrian yang langsung diangguki oleh anak itu.
"Kalian makan, Griz juga. Selamat makan,"
"Griz sudah bisa makan?"
"Susu,"
"Oh iya, seperti Auris waktu itu. Kalau bayi yang baru lahir, bisanya hanya minum susu 'kan Aunty?"
"Iya, Sayang."
****
__ADS_1
Jhico membuka pintu unit apartemennya setelah bel dari luar berbunyi. Ia melihat dari kamera cctv, rupanya Devan yang datang pagi ini.
Saat Daddy nya datang, Adrian melompat-lompat kesenangan. Ia memeluk Devan dengan perasaan rindu setelah semalaman tidak berjumpa.
"Bagaimana Adrian, Co? dia nakal?" Devan langsung bertanya pada suami dari adiknya itu.
"Tidak, dia menemani Griz tidur. Saat Griz bangun tengah malam karena haus, dia yang tahu lebih dulu,"
"Pintar, Baby boy Mommy ya. Nanti Daddy laporan pada Mommy,"
"Itu apa, Dad?"
"Puding,"
"Wow, mauuu."
Adrian langsung membawa puding yang dititip Lovi pada Devan untuknya, ke meja makan.
"Itu pudingnya banyak, jangan lupa berbagi,"
"Okay, Dad."
Adrian duduk di meja makan lalu mulai membuka tempat puding. "Bibi bantu ya?"
"Iya, bantu Adrian ya, Bi. Terima kasih,"
"Vanilla dimana?"
"Baru selesai masak, sekarang mandi." jawab Jhico atas pertanyaan Devan.
"Grizelle masih tidur?"
"Griz tidur lagi, Dad, habis minum susu jam lima pagi tadi," Adrian yang menjawab.
"Tadi malam Uncle Jhico tidur di kasur lain karena aku mau tidur dengan Griz," lanjut anak itu.
Devan segera menatap Jhico yang sedang terseyum pada Adrian yang baru saja menceritakan soal tadi malam pada Daddy nya.
"Dia mengusirmu?"
Jhico terkekeh saat Devan bertanya seperti itu. Jhico menggeleng seraya menjawab, "Aku yang mau. Tidak akan aku biarkan dia tidur sendiri. Griz juga tidak bisa jauh dari Adrian. Mereka akrab sekali,"
Vanilla keluar dari kamar dengan penampilan segarnya. Ia tersenyum mendapati kakaknya yang datang.
"Anakmu pintar sekali, Devan. Dia kakak sepupu yang baik. Aku sampai heran, kenapa dengan Griz dia selalu akur tapi giliran dengan Auris dia bertengkar terus,"
"Karena aku sudah diberi peringatan tegas oleh Daddy dan Mommy agar tidak mengganggu Griz, Aunty."
__ADS_1
"Tapi kamu juga diberi peringatan agar tidak menggangu Auris. Nyatanya kamu tetap menganggu Auris. Kalau dengan Griz, tidak sama sekali." ucap Vanila.
Kemudian Vanilla bicara pada kakak nya, "Adrian mengajak Griz bermain, mengobrol sampai mau tidur Griz tidak mau jauh dari Adrian."
"Kalau dia nakal dengan Griz, buat Griz menangis, Mommy nya sudah bilang, dia tidak boleh lagi datang ke sini. Artinya ancaman Lovi ampuh,"
"HAHAHHA," Vanilla terbahak mendengarnya. Selain karena memang dia benar-benar menyayangi Griz, rupanya dia takut dengan kemungkinan yang akan terjadi bila mengganggu Griz.
"Sekarang aku tidak lagi mengganggu Auris."
"Iya, kamu sudah besar. Jangan jahil lagi dengan adik. Kasihan Auris. Kamu bisa baik dengan Griz, masa dengan adik sendiri tidak?"
"Iya, Uncle. Tapi Griz juga adikku, sama seperti Auris. Bedanya Griz dengan Auris adalah, Griz tidak menyebalkan, kalau Auris sebaliknya,"
"Nanti kalau Griz sudah besar sedikit, dia bisa seperti Auris,"
"Auris saat seusia Griz juga membuat kamu gemas dan kamu jarang sekali mengganggunya. Tapi begitu Auris sudah sedikit besar, kamu mulai melancarkan aksi,"
Adrian terkekeh memperlihatkan gigi-gigi kecilnya, Ia tidak membantah ucapan Daddy nya karena apa yang dikatakan oleh Devan memang benar. Saat Auristella masih bayi, Ia akur sekali dengan Auristella. Dan setelah Auristella mulai mengerti bahwa kakak keduanya adalah anak yang jahil, barulah mereka sering bertengkar. Auristella sudah bisa membalas apa yang dilakukan Adrian terhadapnya.
Usai melihat Grizelle sebentar, Devan bersiap pergi ke kantornya. "Kapan ke kantor Daddy? Dashinta sudah menanyakan kamu terus,"
"Nanti, setelah aku pulang ke rumah,"
"Okay, baik-baik di sini ya,"
Adrian menerima ciuman bertubi-tubi dari Devan sebelum Devan berangkat. Ia sudah menunggu kedatangan Devan sejak tadi. Saat malam Ia menelpon, Devan mengatakan pasti datang. Ternyata benar, Devan datang. Devan tidak pernah membuatnya kecewa.
*****
Jhico berangkat kerja, Adrian menemani Grizelle yang duduk bersama Vanilla di balkon untuk mengirup udara pagi sekaligus berjemur di bawah sinar matahari yang menerobos ke balkon.
Grizelle berbaring terlungkup tanpa menggunakan bajunya. Ia baru bangun tidur dan langsung diajak berjemur. Setelah berjemur nanti, biasanya Ia diberi susu barulah mandi.
Adrian merendahkan tubuhnya untuk melihat Grizelle yang terlungkup. Grizelle tidak bisa diam oleh sebab itu Adrian menghiburnya agar terus terlungkup sampai Vanilla mengubah posisinya menjadi terlentang.
"Jangan lama-lama, Aunty. Griz tidak suka sepertinya,"
"Iya, memang begitu dia. Padahal hanya sebentar,"
Sekitar lima menit terlungkup, Grizelle dipangku dengan posisi terlentang. Ia akan menyentuh kacamata yang sengaja digunakan Vanilla pada anaknya agar matanya terlindungi. Adrian yang melihat itu langsung menahan tangan adik sepupunya.
"Jangan dilepas, Griz. Nanti matamu rusak," Adrian memberi pengertian dengan lembut hingga mengundang senyum Vanilla.
Lagi pada apa niyy bagi yg blm tidooorr? ramein komen yaaa :)
__ADS_1