
Setiap berulang tahun Grizelle selalu dilimpahi berkat juga bertabur doa dan hadiah.
Setelah pesta berakhir, Grizelle langsung kembali ke kediamannya bersama Mumu dan Pupunya.
Usai berganti pakaian, Grizelle segera membuka hadiah-hadiah yang Ia terima tadi.
Ia membukanya tak sabaran. Hadiah yang Ia buka dari Mumu dan Pupunya berupa tiket berlibur ke tempat yang Ia inginkan dan juga mobil-mobilan yang Ia minta pada Jhico.
"Yeaayy aku jadi berrliburl (berlibur). Aku juga punya mobil seperrlti (seperti) Ian,"
"Senang?"
"Senang sekali, Mu,"
Grizelle tersenyum lebar menggambarkan betapa bahagianya Ia sekarang. Kebahagiaan yang dirasakan anak itu bisa sampai juga pada Vanilla dan Jhico yang kini menemaninya membuka hadiah.
Setelah melihat hadiah dari Mumu dan Pupunya, Ia membuka hadiah dari kakek dan neneknya.
Sebagai simbolis hadiah, Raihan memberikan foto tempat bermain yang Ia berikan. Sehingga Grizelle memiliki gambaran bagaimana tempat bermain yang dibuat Raihan. Setelah membuka hadiah dari Raihan, kini Grizelle membuka hadiah dari Rena. Setelah itu barulah Ia membuka pemberian dari Karina.
"Woahh aku dapat berrlian (berlian) lagi darrli (dari) Nay-Nay. Hadiahnya sama dengan Grrlandma ya," katanya.
"Tapi berbeda model,"
Grizelle mengangguk membenarkan ucapan Ibunya. Yang satu kalung dan yang satunya lagi adalah sepasang anting.
Ia langsung minta dipakaikan oleh Mumunya. Setelah barang-barang cantik itu sudah melingkari leher dan terpasang di kedua telinganya, Ia tersenyum kagum menyentuh barang-barang cantik itu.
"Aku merrlasa (merasa) semakin cantik memakai ini"
Jhico terkekeh mendengar anaknya yang berkata seperti itu. Lalu menyahuti "Memang Griz sudah cantik, memakai itu jadi bertambah cantiknya ya,"
"Iya, aku merralasa (merasa) begitu, Pu," Grizelle mengatakannya seraya terkekeh malu.
"Ini hadiah dari Kakek,"
Vanilla menyuruh anaknya agar segera membuka hadiah dari kakeknya. Terlalu mengagumi pemberian kedua neneknya, Grizelle sampai membutuhkan waktu lama untuk membuka hadiah dari Thanatan sementara Vanilla sendiri sudah penasaran sekali.
Begitu dibuka, rupanya sebuah jam tangan. Mata Grizelle berbinar senang. "Yeayy aku dapat ini dari Kakek,"
Grizelle memeluk arloji yang dibelikan kakeknya lalu Ia lingkari di pergelangan tangannya.
"Aku suka sekali dengan ini. Kenapa Kakek bisa tahu ya?"
"Berarti Griz dan Kakek sehati," ucap Vanilla tersenyum menatap anaknya yang bahagia sekali mendapat barang-barang dari kakek dan neneknya.
"Ya memang sehati, Mu. Aku cucu Kakek,"
"Iya," Vanila mengusap rambut anaknya.
__ADS_1
"Tadi sudah mengatakan terimakasih pada semuanya 'kan?"
"Sudah, aku langsung mengucapkan terrlimakasih (terimakasih) pada yang datang,"
Kini Grizelle membuka hadiah yang dikirim Lovi berupa sebuah gaun designnya. Grizelle langsung mengenakan gaun tersebut lalu berputar-putar di depan cermin.
"Aku seperrlti putrrli (seperti putri),"
Setelah membuka hadiah dari keluarganya, saatnya Grizelle membuka hadiah dari tamu-tamu yang datang tadi.
Hadiah yang mereka berikan tak ada yang main-main sebagai tanda bahwa Grizelle dan orangtanya sangat dihargai dan disayangi sampai mereka memberikan hadiah yang terbaik untuk Grizelle.
Dari mulai pakaian sampai mainan Grizelle dapatkan dari mereka.
"Aku tidak beli-beli mainan dulu untuk satu tahun ini,"
Jhico terkekeh pelan mendengarnya. Terlampau banyak sampai Grizelle berpikir untuk tidak membeli mainan baru dulu dalam satu tahun ini.
"Yang benar tidak mau beli mainan dulu?"
"Iya, Mu,"
"Ya sudah, tapi kalau kita pergi ke mall, jangan minta singgah di toys store ya,"
Grizelle diam sejenak. Kemudian Ia tersenyum lebar. "Tidak janji ya, Mu,"
Sepertinya tak ada kata cukup untuk Grizelle bila menyangkut dunianya sebagai anak kecil.
"Pu, tolong antarrl (antar) aku ke sekolah ya,"
"Hmm? untuk apa, Sayang?"
Baru saja menyelenggarakan pesta ulang tahun di akhir pekan sehingga semua teman dan pengajarnya tadi bisa hadir ke pesta, lalu sekarang Grizelle minta di antar ke sekolah. Tentu saja Jhico bingung.
"Maksudku antarrl (antar) aku ke tempat berrlmain (bermain). Tenpat itu dekat dengan sekolahku,"
"Oh okay. Ayo, Pupu antar,"
Grizelle tersenyum lalu segera bangkit dan melompat-lompat riang.
"Hadiahnya sudah aku buka semua. Sekarrlang (sekarang) aku ingin lihat tempat berrlmain (bermain) yang dibuat Grrlandpa,"
"Mumu tidak ikut ya? Mumu masih lelah," kata Vanilla yang diangguki Grizelle.
"Iya, Mu. Mumu di rrlumah (rumah) saja biarrl (biar) istirrlahat (istirahat),"
*****
"Huwaa bagus sekali,"
__ADS_1
"Jadi mengajak temanmu datang ke sini?"
"Jadi, Pu. Ini 'kan untuk umum,"
Jhico mengangguk kemudian mengajak anaknya melihat-lihat suasana tempat bermain tersebut. Besok akan ada pembukaan secara resmi dari tempat bermain itu. Dan grizelle tak sabaran menantikan hari esok. Ia akan langsung bermain.
"Griz jangan malas pulang ke rumah kalau sudah bermain di sini ya,"
"Iya, Pu. Tenang saja," Grizelle mengingat pesan ayahnya yang mendadak takut anaknya jadi lupa dengan rumah karena tempat bermain ini. Berhubung lokasinya sangat dekat, anaknya pasti akan sering datang ke sini sehabis sekolah.
"Bagus sekali. Aku senang, ingin berrlmain (bermain) di sini terrlus (terus) rrlasanya (rasanya),"
"Griz bebas mau bermain kapan saja di sini. Begitu kata Grandpa tadi 'kan?"
Grizelle mengangguk cepat. Ia akan ingat pesan kakeknya tadi. Ia diizinkan datang kapanpun untuk bermain.
"Tapi jangan datang dini hari juga. Karena sudah tidak beroperasi, Sayang. Maksud Grandpa datang kapan saja itu, tidak dibatasi harinya,"
"Iya, Pupu. Aku tahu," Grizelle merengek merasa kesal atas ucapan ayahnya yang seolah ia akan datang tengah malam untuk bermain di sini. Padahal Ia juga tahu kapan waktu yang tepat untuk datang.
"Aku tidak sabarrl (sabar) mengajak Trrliple A ke sini,"
"Nanti saat mereka pulang, langsung ajak bermain di sini,"
"Pasti, Pu. Pasti menyenangkan sekali kalau kami berrlempat (ber-empat) main berrlsama (bersama),"
Usai melihat-lihat, Grizelle dan ayahnya kembali ke rumah. Ia akan memberi tahu secepatnya pada ketiga kakak sepupunya tentang tempat bermain itu.
Mereka pasti juga senang, sama seperti dirinya. Karena mereka memiliki tempat bermain sendiri.
"Kita lalui sekolahku ya, Pu," pintanya pada sang ayah.
Jhico mengangguk pada anaknya yang kini sudah duduk tenang di sampingnya.
"Rindu dengan sekolah? padahal kemarin-kemarin sekolah,"
"Iya, aku rrlindu (rindu) dengan sekolahku, Pu. Tapi tidak rrlindu (rindu) dengan tugas-tugasnya,"
Tawa Jhico pecah mendengar penuturan anaknya. Ia kira anaknya yang terbilang rajin itu selalu merindukan tugas dari para pengajarnya. Karena saat sakit pun Ia tetap mengerjakan tugasnya dengan senang hati tanpa mengeluh malah Ia yang meminta agar pengajarnya tak menahan tugas untuknya dikarenakan Ia sakit waktu itu.
"Pupu kira Griz selalu merindukan tugas,"
"Tidak, terrlkadang (terkadang) aku bosan, Pu,"
"Jangan, belajar itu tidak boleh bosan. Mau jadi anak yang sukses 'kan,"
"Iya, mau, Pu. Aku mau sukses seperrlti (seperti) Pupu dan Mumu,"
"Kalau bisa, harus lebih sukses dari pada Mumu dan Pupu," pesan Jhico seraya menepuk lembut puncak kepala anaknya.
__ADS_1