Nillaku

Nillaku
Nillaku 22


__ADS_3

"Bagaimana bisa Papa mendapatkannya?"


Melihat betapa kesal anaknya, Thanatan tertawa. Dan Jhico semakin tidak mengerti. Ini bukan perkara mudah. Ia sudah menunggu terlalu lama. Vanilla pun begitu.


"Papa sengaja mempersulit aku untuk mendapatkannya?"


Kalau sampai Thanatan mengatakan 'Ya' maka Jhico semakin tidak menyukainya. Ia kesal karena kalah cepat.


"Dan sudah dipastikan bahwa kornea itu tepat untuk Vanilla,"


"Aku akan bayar berapapun agar Vanilla segera dioperasi,"


Thanatan menggeleng dengan ekspresi menyebalkan. Rahang Jhico mengeras, Ia merasa dipermainkan.


"Papa sudah membelinya dan kamu tidak perlu membayar,"


"Ada syarat dibalik itu. Aku tahu, Pa."


Tawa Papanya menggelegar. Dan itu semakin memperkuat kalimat Jhico tadi. Thanatan sengaja memancingnya agar masuk ke dalam perangkap dengan menggunakan Vanilla sebagai objek yang bisa menarik Jhico, lalu setelahnya Jhico akan terikat.


"Dari dulu sampai sekarang Papa selalu seperti itu. Pada akhirnya aku di suruh untuk kembali tinggal di sini dan kita akan baik-baik saja,"


"Permintaan Papa sederhana,"


"Tapi aku punya pilihan. Papa tidak bisa selamanya memaksaku untuk memenuhi semua keinginan Papa,"


"Kamu tidak pernah memenuhi keinginan Papa, Jhico!" Thanatan menggeram marah. Nada bicaranya sudah naik disertai dengan tatapan tajamnya pada Jhico.


"Kamu tetap menjadi dokter, kamu tetap memilih Vanilla. Tidak ada satupun keinginan Papa yang berhasil kamu wujudkan,"


Langkah Vanilla semakin pelan saat namanya disebut. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang baik setelah keluar dari kamar Hawra.


Rupanya Ia adalah salah satu sumber yang membuat Jhico menjadi seperti ini. Karena dirinya, Thanatan semakin kesal terhadap Jhico. Dibalik kehangatan lelaki itu pada Ia dan keluarga, rupanya Thanatan sempat menawarkan pilihan yang lain kepada Jhico. Namun Jhico tetap memilih hidup bersamanya.


"Papa sepertinya lupa kalau aku pernah dipaksa untuk mengerti kesibukan Papa, Aku dipaksa untuk menekuni bisnis di usiaku yang masih sangat belia, Aku dipaksa untuk menjadi diam saat aku dibandingkan dengan sepupuku yang lain oleh Opa. Itu adalah beberapa jalan hidup yang Papa ciptakan untuk aku,"


"Vanilla, sedang apa kamu di sini?"


"Ya Tuhan,"


Vanilla mengusap dadanya yang berdebar terkejut. Karina memperhatikan gadis itu dengan kerutan di keningnya.


"Sudah selesai menyuapi Nenek?"


"Sudah, Ma."


Karina menatap ke depan dimana suami dan putranya sedang terlibat pembicaraan. Dan kehadiran Vanilla di balik dinding saat ini membuat Ia tahu apa yang sedang dilakukan Vanilla. Ia tersenyum geli.


"Kamu mencuri dengar pembicaraan mereka?"


Karina sengaja memelankan suaranya agar Vanilla tidak terlalu malu. Kalau suami dan putranya tahu, bisa dipastikan gadis itu akan dibuat merona karena telah tertangkap basah mendengarkan tanpa sepengetahuan keduanya.


"Maaf, Ma. Aku ingin meletakkan ini di dapur,"


"Lalu kenapa diam di sini?"


Melihat Vanilla diam, Karina akhirnya tertawa juga. Ia mengusap bahu istri dari anaknya itu. Lalu meraih satu piring dan gelas yang ada di tangan Vanilla.


"Biar Mama saja yang meletakkannya. Terima kasih sudah membuat Nenek senang,"


*****


"Di sini, Nillaku. Kamu sengaja membuat wajahku berantakan?"


Vanilla mencibir kesal. Sudah dikatakan sejak awal kalau Ia buta, dan memberikan orang lain minum adalah hal yang sulit untuknya.


Tadi saja Hawra hampir tersedak karena Vanilla. Beruntung Tuhan masih berbaik hati pada Vanilla sehingga gadis itu tidak sampai dikatakan buruk dalam memperlakukan seorang manusia tua.


"Kamu bisa minum sendiri. Memang separah itu sakitnya? hanya demam, bukan tulang di tanganmu yang patah,"


Jhico menjauhkan gelas dari bibirnya lalu berujar, "Selagi ada kamu di sampingku, maka kalau aku sedang sakit, harus kamu yang merawatku." Kemudian Jhico kembali meneguk air minumnya.


"Sekarang aku ingin mandi. Tahu apa yang harus kamu lakukan?"


"Tidak ingin tahu,"


Sakitnya seketika hilang saat Vanilla menjawab pertanyaan itu dengan lugu. Jhico tahu kalau sebenarnya Vanilla mengerti akan maksud dari pertanyaannya.


Jhico hanya mencoba keberuntungan sekarang. Ini untuk pertama kalinya Jhico mengutarakan pertanyaan yang nakal. Selama menikah, Ia belum pernah menunjukkan sisi lain dari dirinya.


Jhico menyentuh dagu gadisnya lalu mencuri kecupan di wajah Vanilla. Istrinya itu berdecak seraya menghapus jejak basah di pipi kanannya.


"Ayo, berbaktilah pada suamimu!"


*****

__ADS_1


Jhico terbangun dari tidur karena merasa haus. Ketika turun, Ia mendengar kedua orangtuanya tengah berdebat. Di dekat mereka juga ada koper dan beberapa ransel yang sepertinya akan dibawa ke Roma sebentar lagi.


Seharusnya sudah berangkat. Tetapi kenapa memilih untuk berdebat di tengah malam seperti ini? Mereka benar-benar tidak berubah sejak dulu. Terkadang hangat, lalu tiba-tiba bertengkar. Itu salah satu hal yang membuat Jhico tidak nyaman berada di dekat orangtuanya sendiri.


Mereka semua duduk membelakangi Jhico. Televisi yang masih menyala menjadi penonton mereka.


"Kamu keterlaluan. Vanilla juga putri kita. Apa sulitnya membantu dia? Kasihan Vanilla, Pa. Jhico juga begitu. Mama bukannya merendahkan Vanilla, Tapi Papa sebagai laki-laki seharusnya tahu bagaimana kurang nyamannya seorang suami bila memiliki istri yang kurang sempurna,"


Merasa dirinya dibicarakan, dan batin Jhico tidak terima dengan semua persepsi Karina, Jhico akhirnya mendekati mereka.


"Aku yakin bisa membuat Vanilla melihat lagi tanpa bantuan Papa. Dan perlu kalian tahu, aku tidak masalah sedikitpun bila harus memiliki istri buta seperti Vanilla. Kalaupun pada akhirnya Vanilla ditakdirkan untuk tidak bisa melihat lagi selamanya, aku akan menerima itu dengan tangan terbuka,"


Jhico harap mereka mengerti dengan semua kalimat panjang lebar yang keluar dari mulutnya. Mereka membicarakan hal yang sama sekali tidak diakui oleh diri Jhico. Tidak ada sedikitpun rasa sesal atau tidak nyaman ketika memiliki istri seperti Vanilla.


******


Vanilla dan Jhico menghabiskan sarapan mereka bersama Hawra. Melihat cucunya yang justru melayani Vanilla, Hawra tersenyum. Jhico memperlakukan Vanilla sama seperti ketika bersamanya. Begitu dihargai.


Vanilla tidak terlalu menunjukkan usahanya dalam melayani Jhico, karena Ia takut malu lagi.


Teringat kejadian semalam saat mereka makan malam bersama. Di sana juga ada Thanatan dan Karina yang belum pergi.


Niat hati ingin memberikan minum secara spontan untuk Jhico yang tiba-tiba saja tersedak makanan, Yang terjadi malah Vanilla menuang air tidak tepat di bibir gelas sehingga meja makan di dekatnya pun basah sampai ke pakaian yang Ia kenakan. Hal yang dilakukannya itu justru mengundang tawa cemooh dari batinnya sendiri.


"Tidak bisa diandalkan sekali kau buta!"


Vanilla sakit hati sendiri padahal tidak ada yang membentaknya karena kecerobohan itu. Mereka tentu tahu kalau Vanilla tidak bisa melihat. Namun hati Vanilla memang sudah terbiasa gemar menyalahkan dirinya sendiri.


"Akhir pekan ini Kalian akan pergi kemana?"


"Mungkin membeli kebutuhan yang sudah kosong di apartemen, Nek."


"Hati-hati, ya. Nenek ingin berkebun dulu kalau begitu,"


Setelah menyelesaikan kegiatannya, Hawra bangkit dengan langkah terbatanya. Jhico segera membantu dengan tangkas.


"Nenek sudah kuat untuk melakukan itu? sebaiknya istirahat saja, Nek."


Sebelum melangkah, suara Vanilla membuat Hawra menoleh. Vanilla tersenyum hangat sehingga membuat hati Hawra senang karena merasa diperhatikan.


"Nenek paling kuat di dunia ini ya Nenek Hawra. Kamu belum mengetahui itu?"


Vanilla terkekeh menggeleng pelan. Dibalik kelembutannya, ternyata Hawra juga sosok yang humoris dan mampu mencairkan suasana. Bahkan saat mereka menghabiskan waktu berdua, Vanilla tidak merasa canggung sedikitpun.


******


"Iya! bagaimana aku bisa berjalan?!"


"Ya sudah, tidak perlu mengeluarkan urat seperti ini,"


Vanilla menelan ludahnya kaku saat tangan Jhico menyentuh lehernya. Ia membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering.


"Memang uratku keluar ya? ah, sepertinya tidak,"


Setelah tidak ada lagi tangan Jhico di lehernya, Ia juga melakukan hal yang sama. Menyentuh untuk memastikan.


"Kamu sedang datang bulankah?"


"Kalau aku datang bulan, kamu pasti tahu,"


"Heh?"


Vanilla cepat-cepat menutup mulutnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat itu karena memang setiap ingin mandi Jhico lah yang menyiapkan hampir semua perlengkapannya. Sebelum menikah, setiap Ia membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan tamu bulanan, Vanilla pasti meminta bantuan pada Rena atau pelayannya. Dan setelah menikah, siapa lagi yang akan membantunya kalau bukan Jhico?


"Oh iya aku lupa, Nillaku."


Tawanya renyah sekali sampai membuat rona di pipi Vanilla hadir tanpa izin. Jhico segera meraih Istrinya untuk Ia dekap setelah menutup pintu mobil.


"Aku sudah menyiapkan rumah untuk kita. Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk pindah ke sana?"


Vanilla segera melepas dekapan suaminya lalu mengerinyit ke arah Jhico yang bingung sekaligus tidak terima saat kedekatan tubuh mereka dipisahkan.


"Kamu baru memberi tahuku sekarang?"


"Karena baru siap sekarang, Nillaku."


"Aku tidak mau. Kita akan sering menginap di mansion. Kamu lupa dengan ucapanmu itu?"


"Rupanya kamu tidak bisa lupa dengan mansion barang sejenak. Aku sedang membahas rumah, Nilla."


Saat ada seorang anak kecil yang sedang berlari hampir membentur tubuh Vanilla, Jhico segera membawa Vanilla kembali dalam pelukannya. Tangan kanan lelaki itu tersampir dengan nyaman di bahu sang istri.


"Hati-hati, Sayang. Hampir saja kamu menyakiti Nillaku,"


Jhico merendahkan tubuhnya sejenak untuk menatap anak perempuan itu. Mata kecilnya mengerjap. Sungguh menggemaskan. Pahatannya benar-benar cantik. Pipi bulat itu begitu kontras dengan mata kecilnya yang menyipit.

__ADS_1


"Maaf-maaf. Keponakanku tidak sengaja,"


"Seperti suara--"


"Vanilla?"


Vanilla tidak bisa melihat tapi Ia kenal dengan suara yang sudah lama tidak singgah di telinganya itu. Vanilla menipiskan bibirnya untuk bergumam, "Elea,"


"Kenapa harus bertemu denganmu di sini ya? Padahal belum lama ini kamu pernah bertemu dengan Lovi. Aku harap ini terakhir kalinya,"


Jhico menegakkan tubuhnya lalu menggenggam tangan Vanilla lebih erat untuk memberi peringatan pada gadis itu.


"Apa?! sakit, Jhico!" Vanilla menepisnya. Rahang Jhico mengeras seketika. Hadir lagi sikap kekanakannya.


"Siapa namamu?" Jhico mengalihkan suasana yang tiba-tiba saja terasa panas dengan menyapa anak perempuan yang ada di hadapannya.


"Namaku Dayana, Uncle."


"Nama yang cantik sama seperti wajahnya. Berapa usiamu?"


"hmm..." Dayana menghitung dengan jarinya yang gemuk-gemuk itu. Kemudian Ia menunjukkan lima jari pada Jhico.


"Lima tahun? sama seperti keponakan Uncle,"


"Oh ya? siapa namanya?"


"Mereka laki-laki. Adrian dan Andrean,"


Vanilla membuang pandangan malas. Padahal Ia tidak melihat interaksi itu namun suara mereka yang terdengar sangat akrab membuatnya kesal.


"Bisa kita pergi sekarang? kamu harus bekerja bukan?"


"Ini adalah akhir pekan, Vanilla. Aku ingatkan kalau kamu lupa,"


"Sialan!"


Jhico berdecak seraya menarik bibir Vanilla dengan ringan. Kenapa mereka berdebat seperti ini? apakah ada masalah yang pernah terjadi di antara mereka?


"Kami pergi dulu,"


"Aku memang harus bekerja," Jhico mengurangi kadar malu istrinya walaupun hari ini Ia sedang tidak bertugas.


Jhico mengusap kepala Dayana sekilas dan membalas senyum anak yang sedang mendongak kepadanya itu.


"Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Bye, Dayana."


****


Setelah membawa Vanilla pergi jauh dari Dayana dan Elea, Vanilla masih saja memasang wajah kesalnya. Ia telah dipermalukan oleh Elea walaupun tidak seberapa tapi Jhico malah menegurnya seolah Ia yang salah.


"Kalian ada masalah?"


"Tidak,"


Jhico mulai jengah. Tangan Jhico digunakan untuk membawa wajah Vanilla yang fokus ke arah lain agar mau menatapnya.


"Lalu kenapa seperti itu?"


"Kamu berharap akan bertemu lagi dengan mereka?"


Vanilla mengingatkan Jhico akan kalimat terakhirnya tadi sebelum pergi. Kenapa masih saja ada korban Elea saat ini? tidak cukupkah Ia dan Devan? Jhico berharap bisa berteman dengan gadis itu atau bagaimana?


"Kamu cemburu, Nilla?"


"Aku tidak membahas itu, Jhico!"


"Aku juga tidak membahas kalimatku tadi. Aku bertanya, kenapa interaksi kalian seperti itu?"


"Dia mantan kekasih Devan,"


"Lalu masalahnya dimana? tidak aneh menurutku. Kecuali kalau dia mantan kekasihmu, barulah aku bereaksi lebih,"


Vanilla menghentak kakinya kesal. Sial! kenapa Vanilla sekesal ini pada Elea? apakah Vanilla sedang mengingat masa lalunya dimana Elea selalu menjadi ratu sementara Ia menganggap Lovi sebagai manusia paling rendah?


"Dia juga pernah mencelakai Lovi sampai hampir mati. Itu perbuatannya yang paling parah,"


"Benarkah? artinya dia jahat?"


"Kamu punya otak? simpulkan sendiri!"


----------


FOLLOW AKUNKU BOLEH KALIII. SEKALIAN KASIH LIKE DAN VOMMENT. MASA BACA AJA SIII GA MO NINGGALIN JEJAK? KELEAN JAHAT_-


INI IG & TWIT AKYUU. FOLLOW JG YAAAKK ;)

__ADS_1



__ADS_2