
Auristella benar-benar bingung harus melakukan apa saat ini. Ayah dan kakaknya belum pulang, sementara Mommynya masih sibuk dengan rancangan baju buatannya.
Auristella bosan bermain game di gadget. Ia memutuskan untuk menghampiri ibunya.
"Mommy, masih belum selesai juga?"
"Memangnya kenapa, Sayang? Auris perlu sesuatu?"
Auristella mengangguk pelan. Lovi segera mengalihkan perhatiannya pada sang putri.
"Perlu bantuan Mommy? apa?"
"Aku bosan,"
"Telepon Icelle saja. Biasamya begitu,"
"Memang dia tidak sibuk?"
"Sekarang hari libur, Sayang,"
"Takutnya Icelle sedang bermain dengan Mumu dan Pupunya,"
"Bermain apa? memang Aunty Vanilla dan uncle Jhico anak kcil?"
"Ya barangkali mereka menemani Icelle bermain. Tapi sebenarnya aku ingin juga bicara dengan Auris. Karena tadi dia tidak datang ke playground,"
"Ya sudah, coba saja di hubungi," kta Lovi menyarankan. Daripada anaknya bosan. Tidak tahu harus melakukan apa, lebih baik berinteraksi saja dengan Grizelle apalagi tadi Grizelle tidak hadir.
Auristella mencoba untuk menghubungi pamannya, Jhico dengan ponsel sang Ibu.
Jhico yang kini tengah menantikan anaknya mengatakan permainan selanjutnya selain tebak kata lansung menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Hallo, ada apa, Lovi?"
"Uncle, tahu 'kan ini siapa?"
Jhico tersenyum mendnegar suara itu. Tentu saja Ia tahu, sebab sering sekali mendengarnya.
"Hallo, Auris. Ada apa, Sayang?"
"Uncle dan Icell lagi sibuk?"
"Tidak, memang kenapa? Icelle lagi bingung ini mau bermain apalagi. Mau bicara?"
Auristella lngsung menjawab antusias, "Iya, boleh, Uncle. Aku mau bicara dengannya,"
Grizelle menerima ponsel yang diserahkan Pupunya. Ia menyapa lebih dulu, "Hallo, Icelle di sini,"
Auristella terkekeh gemas mendengar suara Grizelle yang seperti seorang resepsionis bila menjawab panggilan.
"Icelle tadi tidak datang ke playground aku!"
"Iya, maaf. Aku tidak tahu kalau diundang,"
"Huh iya. Maaf juga karena kami lupa mengundangmu. Tapi jujur aku pun tidak tahu kalu pagi ini adalah pembukaan resmi playground. Aku dibanguni oleh Daddy dan langsung dibawa pergi ke playground,"
"Berarlti (berarti) yang salah Uncle Devan. Kenapa tidak mengundangku. Huh,"
Padahal Devan mengira ayahnya sudah mengundang Vanilla dan keluarga kecilnya, ternyata tidak. Ia jadi berpikir tidak perlu lagi mengundang mereka agar hadir.
"Padahal aku ingin sekali mengajakmu bermain di sana. Menyenangkan sekali, Icelle"
"Ya, aku tahu. Aku juga belum jadi mengajakmu ke tempatku,"
__ADS_1
"Tapi kamu belum sembuh. Percuma kalau datang ke sana dan kamu masih sakit, nanti jadi tidak bisa bermain,"
"Hah,"
Grizele membuang napas kasar. Ia menatap lukanya. "Iya, kapan juga luka ini sembuh, tapi sebenarnya sudah sembuh hanya saja belum terlalu,"
"Tunggu benar-benar sembuh, Icelle, biar bisa bermain sepuasnya,"
"Ya, eh tadi aku berrlmain (bermain) tebak kata dengan Mumu dan Pupu,"
Jhico dan Vanilla menjadi oendengar saja. Sama halnya dengan Lovi.
"Tebak kta?"
"Iya, Pupu yang berrlikan (berikan) katanya lalu aku dan Mumu berrlgantian (bergantian) menebak,"
"Oh, siapa yang menang?"
"Aku! aku sudah pakai mahkota, mau lihat tidak?"
Vanilla menggeleng pelan melihat anaknya yang begiu antusias menceritakan pada Auristella bahwa Ia tengah mengenakan mahkota karena berhasil menjadi pemenang.
"Coba aku lihat,"
"Nanti aku foto ya,"
"Atau kita panggilan video saja?"
"Boleh,"
Tanpa memunggu waktu lama, Auristella menyudahi panggilan suara dan mengubahnya menjadi panggilam video yang langsung dijawab adik sepupunya.
"Itu mahkotanya? aku kira terbuata dari berlia,"
Auristella tertawa puas melihat Grizelle yang menatapnya kesal. Jelas sekali kalau kini Auristella tengah mengejeknya yang hanya menggunakan kertas sebagai bahan dari mahkota.
"Coba buat yang dari berlian, Icelle,"
"Mana bisa?!" masih kesal yang akhirnya membuat Ia menyauti Auristella dengan cibirannya.
"Bisa, minta pada Pupu dan Pupu pasti dibuatkan. Atau pada Grandma dan Grandpa,"
"Tidak mau. Untuk apa mahkota sebgus itu. Memang setiap harrli (hari) aku memakai mahkota?"
"Buat disimpan,"
"Tidak usah,"
"Ya sudah nanti buat aku,"
"Oh jadi memang niat nya unuk kamu tapi kamu surrluh (suruh) aku supaya minta pada merrleka (mereka) begitu ya?"
Auristella terpingkal melihat Grizelle yang mencibirnya. "Aku bercanda, Icelle,"
"Cukup ini saja,"
Grizelle menyentuh mahkota di atas kepalanya. Kemudian melepasnya.
"Ini buatnya penuh perrljuangan (perjuangan),"
"Oh ya? memang siapa yang buat,"
"Aku,"
__ADS_1
"Hah? kamu yang buat kamu juga yang pakai? ini pasti sudah dirancang supaya kamu yang menang ya?" tanya Auristella menatap ke arah Grizelle dengan mata memicing. Grizelle mendengkus kesal.
"Aku pemenangnya. Intinya begitu," Kata Grizelle dengan rautnya yang jumawa.
"Halah kalau lawan aku, pasti aku yang menjadi pemenang,"
"Buktikan saja nanti," tantang Grizelle tidak takut membuktikan kalau ucapan Aurisella itu belum tentu menjadi kenyataan. Ia bisa juga menjadi pemenang bila bertanding dengan Auristella! Ia bertanding dengan Mumunya saja bisa!
"Mumu mengalah padamu ya?"
Auristella terbahak setelah mengatakan itu. Ia kini benar-benar mencurigai adik sepupunya hingga kelihatan sekali Grizelle semakin kesal padanya.
"Aku juga tadinya berpikirrl (berpikir) begitu. Tapi kata Mumu tidak. Mumu sudah tua jadi malss berlpikirll (berpikir) makanya kqlah,"
Vanilla terkekeh ketika anaknya masih mengingat apa yang ia ucapkan tadi. Sebagai bukti yang diberikan pda Auristella kalau memang Vanilla tidak mengalah.
"Ah aku tidak percaya,"
"Hih? ya sudah!"
"Nanti kalau datang ke rumahku, kita bermain ya,"
"Tidak usah di rrlumahmu (rumahmu), datang saja sekarrlang ke rrlumaku (sekarang ke rumahku),"
Auristella menepuk tangannya tak menyangka kalau Grizelle akan menantangnya begitu.
"Tidak-tidak, aku berrlcanda (bercanda)," setelahnya Grizelle meminta kaaf. Ia tiak bermaksud tidak sopan.
"Tak apa. Aku yang lebih dulu menantangmu, Icelle. tapi benar, nanti kalau kamu datang ke sini kita bisa bermain itu. Nanti aku minta mahkota berlian yang asli,"
"Minta pada siapa?"
Grize bertanya ingin tahu ketika Auristella menunjuk dirinya, Grizelle kaget.
"Aku saja pakai yang begini modelnya," gerutu anak itu seraya memegang mahkotanya sendiri yang hanya berbahan kertas saja.
"Kita minta pada Grandpa mahkota berlian,"
"Aku tidak mau,"
"Buat disimpan, dipajang. kita jadi seperti ratu yang sesungguhnya, Icelle"
"Ah kamu aneh,"
Lovi berdecak pelan mendengar penuturan anaknya yang sejak tadi menggoda Grizelle sampai menghasut Grizelle supaya segera memiliki mahkota sungguhan.
"Jangan dengarkan Auris, Icelle,"
"Okay, Aunty. Aurrlis memang aneh,"
"Bercanda! aku juga tidak mau mahkota sungguhan,"
"Tapi kalau diberrlikan (diberikan) menolak, Auris? terdengar suara Vanilla yang menanyakan hal itu padanya maka langsung saja Auristella jawab, "Tidak menolak, Aunty. Kenapa? Aunty mau buatkan mahkota sungguhan untuk aku?"
"Tidak, mintalah pada Daddy da Mommymu. Mereka banyak uang,"
"Aunty yang banyak uang" Seru Auristella tak ingin kalah menyerukan bahwa Auntynya itu punya banyak uang.
"Icelle kalau dibuatkan juga menolak atau tidak?"
"Hmm..kalau diberlikan (diberikan) tidak menolak, Mu. Pemberrlian (pemberian) itu harrlus diharrlgai (harus dihrgai) tapi masalahnya siapa yang mau berrlikan (berikan) aku mahkota sungguhan? aku 'kan bukan putrrli kerrlajaan (putri kerajaan) aku hanya putrrlinya (putrinya) Mumu dan Pupu,"
Lovi menggeram gemas di samping Auritella mendengar penututan Grizelle. "Ya ampun, pintar sekali sih kamu membuat Aunty gemas,"
__ADS_1