Nillaku

Nillaku
Nillaku 74


__ADS_3

"Aduh, jangan pegang-pegang kepala aku. Hanya Jhico yang boleh melakukannya!"


"Ck! iya, maaf. Aku lupa kalau ada suamimu di sini. Nanti kalau dia tidak ada, boleh 'kan?"


Semakin tidak menentu saja perasaan Jhico kali ini. Ganadian berkelakar tapi mampu membuat dadanya kepanasan.


"Hih bicara apa sih? aku ini setia!"


"Iya, harus! jangan mentang-mentamg cantik dan punya karir bagus, kamu bisa seenak hati berkhianat. Sumpah demi apapun aku benci sekali dengan perempuan-perempuan yang hobi berkhianat,"


Vanilla mendorong lengan Ganadian yang sedang menyampaikan isi hatinya itu. "Aku tahu kamu dikhianati. Tapi jangan samakan aku dengan mantan kekasihmu, Gana! lagipula bukan hanya perempuan yang hobi berkhianat. Laki-laki juga,"


"Kamu dan dia berbeda, aku tahu. Aku hanya memberi pesan, agar kamu setia pada satu laki-laki," ujar Ganadian dengan lembut dan tangannya kembali terangkat untuk mengacak pelan rambut Vanilla tapi Vanilla segera menolak.


"Sudah aku katakan tidak boleh!"


"Lupa-lupa, maaf."


"Belum saja aku pelintir tanganmu sampai patah sekalian" akhirnya keluar juga ucapan yang sedari tadi hanya berdiam di dalam hati Jhico.


Ganadian menjulurkan tangannya ke arah Jhico, menantang. "Coba saja, yang ada juga tanganmu yang patah. Tanganku ini keras sekali,"


"Akan aku coba,"


"HEY JHICO JANGAN!"


Vanilla sampai berseru panik saat Jhico mendekati Ganadian dan bersiap untuk memutar lengan Ganadian.


"Biar saja, Van. Sekalian aku melihat hasil latihan beladiri yang selama ini aku jalani,"


"Sinting! sepintar apapun kamu beladiri kalau sudah diputar sengaja ya akan tetap rusak tulangnya,"


Jhico paling geram kalau sudah ditantang. Nyali nya merasa diremehkan dan Ia berkewajiban untuk menerima tantangan tersebut.


Tapi apa yang dikatakan Vanilla memang benar. Apa lagi Ia seorang dokter yang mengerti akan bahaya nya. Gila saja kalau dia sampai benar-benar melakukan itu. Selain mengingkari tugasnya sebagai dokter yang harusnya mengobati, Ia juga akan menjadi manusia yang jahat.


"Takut kau menangis saat pulang ke rumah nanti. Jadi lebih baik tidak usah,"


Ganadian menendang tulang kering Jhico dengan kesal membuat Jhico meringis sesaat. Ia juga terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Ganadian. "Sialan kau! memang aku anak kecil yang suka menangis saat bertengkar,"


"Bisa jadi, aku tidak tahu mentalmu seperti apa. Kalau dilihat dari badan sih boleh lah. Tapi takutnya saat aku putar tanganmu, kamu menangis histeris sambil mengadu pada ayah dan ibumu."


Saat Ganadian akan menarik lengan Jhico, Vanilla berseru tidak mengizinkan, lagipula Jhico sudah menghindar dengan cepat.


"Kamu tidak boleh menyakiti Jhico hey!"


"Kenapa? kamu sudah sering menyakitinya ya?"


"Hih kata siapa sih?! mulutmu asal bicara saja,"


"Pulang, Ganadian. Jangan lama-lama di sini,"


"Kau mengusirku, Co?"


"Iya, kau mengganggu,"

__ADS_1


Ganadian langsung menatap Jhico dengan pandangan jahil. Alisnya naik turun menggoda suami Vanilla itu.


"Ingat, Vanilla sedang hamil. Jangan aneh-aneh lah,"


"Maksudmu?"


"Aku mengganggu kalian? memang kalian sedang melakukan apa tadi?"


"Tidak usah penasaran dengan urusan suami istri!"


Vanilla mendorong tubuh Ganadian agar segera keluar dari apartemen. Ia melotot pada Ganadian yang masih ingin adu mulut dengan Jhico.


"Bye, kita bertemu di pemotretan ya," akhirnya lelaki itu menyerah. Ia akan segera pergi.


"Iya, doakan aku supaya segera pulih,"


"Doaku selau menyertaimu,"


Jhico berdecih geli mendengar ucapan lelaki itu. Sudah seperti drama-drama saja mereka berdua.


Ganadian keluar dan melempar kedipan mata pada istrinya, Ia melempar tinju di udara yang membuat Ganadian terbahak.


"Tidur lagi sana!" titah Jhico usai mereka mengantar Ganadian sampai di pintu.


"Kamu temani aku tidur ya,"


********


Joana, temani aku di sini. Aku kesepian :(


Hanya perlu beberapa menit, Joana datang ke unit apartemen sahabatnya. Ia tahu Vanilla tengah hamil. Jadi Ia semakin semangat untuk memenuhi keinginan Vanilla.


"Jhico dimana? kenapa kamu kesepian?"


"Dia bekerja, aku butuh teman."


"Ya sudah, aku temani. Tapi hanya sebentar saja ya. Karena aku harus membantu Ibuku nanti,"


"Oh berjualan kah?"


"Iya, 'kan baru mulai. Dan syukurnya banyak yang ingin mencoba waffle buatan Ibuku,"


"Kamu membawakan aku tidak? aku tiba-tiba menginginkannya,"


Joana segera membuka ranselnya dan Ia menunjukkan tempat makan berisi waffle buatan ibunya.


"Tentu saja aku bawakan untuk temanku yang sedang hamil,"


"Wow terima kasih, Joana. Katakan juga pada Ibumu ya,"


Joana terseyum mengangguk dan ia mengulurkan waffle agar dicoba oleh Vanilla. Vanilla sampai memejamkan mata saat mencoba waffle itu. Benar-benar nikmat. Rasanya sangat pas.


"Aku ingin sekali menonton di bioskop,"


"Jangan minta padaku. Aku punya uang untuk membayar tiket nonton bioskop..."

__ADS_1


Vanilla menantikan kelanjutan ucapan Joana yang sengaja diputus oleh sahabatnya itu.


"Tapi masalahnya, aku tidak berani membawa kamu ke bioskop tanpa sepengetahuan Jhico," ujar Joana seraya meringis membayangkan bila Jhico mengetahui mereka pergi menonton.


"Ya sudah, aku ajak Jhico saja lah kalau begitu. Kamu jahat padaku, tidak mau menuruti aku,"


"Hissh! bukan begitu, tadi 'kan sudah aku jelaskan. Lebih baik kita menonton televisi dulu. Di bioskop nya nanti,"


Vanilla dan Joana menonton film tentang sepasang kekasih yang tidak direstui. Kisah cinta yang klise tapi bisa menguras air mata Vanilla yang memang mood nya sedang tidak stabil.


"Seperti kisahku dengan Renald dulu. Tapi tidak setragis ini,"


"Ck! masih dibahas saja. Ini hanya film, jangan membuat kamu ingat masa lalu, Van."


Vanilla mengusap sudut matanya yang banjir air mata. Joana yang melihatnya mencibir dalam hati, "Sampai segitunya. Berlebihan sekali dia."


Joana meraih tisu lalu diberikannya pada Vanilla. "Bersihkan dulu hidungmu. Aku takut bila Jhico melihat, dia akan mencari istri baru,"


"HUWAAAA."


"Astaga, Vanila! aku hanya bercanda," Joana jadi panik sendiri melihat sahabatnya menangis kian kencang.


Joana menepuk bahu Vanilla untuk menenangkannya. "Jhico tidak akan seperti itu. Dia mau membersihkan tubuhku waktu di rumah sakit. Tidak mungkin hanya karena ini dia mencari istri baru," ujar Vanilla dengan suara tersendat karena diiringi dengan tangis, tangannya menunjuk hidungnya yang masih saja mengeluarkan air padahal sudah Ia bersihkan dengan tisu.


"Bagaimana hidungmu akan berhenti memproduksi air kalau tangismu saja belum selesai,"


"Kamu membuatku semakin sedih,"


"Astaga, film yang menonton kamu, Van. Malah terbalik,"


Akhirnya Vanilla sadar kalau Ia sedang menikmati film yang genre nya begitu Ia sukai. Romantis dan ada kesedihan juga di dalamnya. Entah apa akhir dari film ini.


"Semoga mereka bersatu,"


Sayangnya tidak bisa. Karena keduanya sudah dijodohkan dengan pilihan orangtua masing-masing.


Yang semakin membuat Vanilla sedih adalah laki-laki dalam film tersebut rela ditembak oleh ayahnya sang perempuan yang memang seorang tentara ketika mengacaukan acara pernikahan anaknya bersama laki-laki lain.


"Hadeehh drama sekali ini ya. Kisah cinta yang miris,"


"Sama dengan percintaanmu 'kan?"


"Huh? sembarangan kamu!"


"Memang iya 'kan? kamu menyukai seseorang tapi kamu malah mau dijodohkan dengan laki-laki yang lebih tua. Tidak apa, Joana. Usia kalian tidak terpaut jauh,"


Joana menatap sahabatnya tajam. Ia tidak ingin membahas perkara itu, tapi Vanilla malah melakukannya.


"Kamu bukannya doakan aku supaya rencana itu gagal. Malah--"


"Aku doakan yang terbaik untukmu,"


Vanilla masih bertahan menonton sampai akhir sementara Joana tidak. Ia sibuk dengan ponselnya, mencatat pesanan-pesanan waffle buatan Ibunya. Walaupun Vanilla sedang rehat sejenak dari pekerjaannya, Joana tetap diberikan gaji sebagai asisten oleh Vanilla. Tapi tetap saja ia harus membantu Ibunya mencari uang, tidak bisa hanya mengandalkan gaji dari Vanilla.


Film itu berakhir dengan tragis. Karena tak cukup hanya tokoh utama laki-laki nya saja yang meninggal. Tokoh utama perempuan pun meninggal setelah resmi menikah dengan laki-laki lain. Ia mengakhiri hidupnya sendiri di malam pertama mereka menikah. Malam yang seharusnya dilewati dengan kemesraan dan kehangatan, malah dibuat menjadi malam berdarah karena Ia mengakhiri hidup dengan menggores nadi di tangannya.

__ADS_1


Vanilla meraung sendirian dengan air mata kian melimpah. Suaminya yang baru saja pulang untuk membawakan makan siang milik Vanilla sekaligus melihat kondisi Vanilla langsung terkejut melihat Vanilla menangis histeris seperti itu.


"Astaga, Vanilla. Apa yang terjadi?"


__ADS_2