Nillaku

Nillaku
Nillaku 62


__ADS_3

Jhico mengerjap karena Vanilla bergerak dalam rengkuhannya. Merasa ada yang tak biasa dari tubuhnya, Jhico terbangun juga pada akhirnya. Ia melirik jam yang tergantung di dinding. Matanya sedikit membulat.


Rasanya Ia baru tidur sebentar. Tapi ternyata sudah pukul setengah sembilan pagi. Sepertinya ini adalah waktu tersiang untuk Jhico bangun di pagi hari.


Tangan Jhico bergerak untuk menyingkap selimut, tetapi sebelumnya Ia sudah mengusap bahu istrinya yang terbuka untuk membangunkan.


"Nilla, kita harus bangun sekarang,"


"Engghh," Vanilla hanya melenguh dalam tidur lalu membalik tubuhnya hingga memunggungi Jhico, mencari posisi ternyaman. Ia sedikit mengerinyit saat tak mendapati dada Jhico yang semalaman menjadi bantalnya.


"Jhico..."


"Iya, ini aku. Cepat bangun, ini sudah terlalu siang," Vaniilla tak memberikan reaksi apapun. Malah napasnya kembali teratur, pertanda Ia sudah lelap lagi.


"Nilla, ayolah. Bangun!" Jhico yang gemas karena Vanilla tak juga membuka mata, akhirnya menepuk lembut wajah Vanilla yang sebenarnya sudah tak nyaman lagi dalam tidur karena Ia kehilangan tempat ternyamannya.


*******


"Belum keluar juga?"


"Sudah aku bilang tadi. Mereka pingsan di dalam," jawab Jane dengan nada tak santai. Raihan berdecak lalu mengetuk pintu apartemen Vanilla.


Jhico baru saja keluar dari kamar jadi bunyi bel dan ketukan pintu baru terdengar oleh telinganya. Ia langsung mandi sebelum keluar dari kamar. Jadi hal itu juga yang membuat Raihan dan Jane semakin lama menunggu.


Begitu pintu dibuka, Ia terkejut karena Raihan menggeram tiba-tiba di hadapannya. "Baru dibuka sekarang. Kemana saja dari tadi?"


"Huh? Papa sejak kapan datang ke sini? ayo masuk, Pa, Jane." ujarnya dengan ringan, tak tahu Ia kalau Jane tengah menyimpan kesal.


"Apa yang kamu lakukan, Jhico? ketukan pintuku yang lebih mirip dengan dobrakan itu tidak kamu dengar? Ya Tuhan, telingamu masih berfungsi atau tidak?" Jane menyembur Jhico setelah Ia duduk di atas sofa yang nyaman. Dinginnya air conditioner membuat hatinya yang sedari tadi panas menjadi sedikit sejuk.


"Sorry, aku baru selesai mandi,"


"Kamu bekerja?"


"Sebentar lagi berangkat, Pa."


"Huh? kita akan pergi liburan," ujar Jane.


Jhico mengerinyit bingung. Liburan? belum sempat Ia bertanya, suara Raihan mengalihkan fokusnya.


"Dimana Vanilla?"


"Seperti biasa, belum bangun, Pa.


"Astaga, anak itu benar-benar."


Jane bangkit dengan gerak cepat lalu Ia berseru, "Biar aku bangunkan dia,"


"JANGAN-JANGAN!" Jhico menarik lengan Jane agar duduk lagi. Kalau Jane sampai masuk ke dalam kamarnya, lalu melihat Vanilla yang masih dalam balutan selimut lalu berada di atas ranjang yang super berantakan, pasti Jane akan tahu semuanya.


"Jane, tidak sopan." ujar Raihan menegur seraya menggeleng. Ia juga tidak mengizinkan Jane untuk masuk. Keponakannya masih terbiasa dengan saat-saat Vanilla masih belum menikah dulu, yang selalu sembarangan masuk kamar Vanilla tanpa kenal waktu dan situasi.


"Kita akan liburan bersama 'kan? kenapa dia belum bangun juga?"


"Liburan bagaimana maksudmu?"


"Vanilla mengatakan kalau kamu dan dia akan ikut,"

__ADS_1


Jhico terdiam sesaat. Vanilla lupa memberi tahunya atau bagaimana? kenapa mereka tidak ada kesepakatan sama sekali?


"Tapi--"


Cklek


"Jhico, aku mencari kamu."


Pintu kamar Vanilla dan Jhico terbuka. Jane dan Raihan sedikit terkejut begitu melihat Vanilla yang keluar dengan baju tidur dan juga selimut yang membalut tubuhnya.


Jhico terbelalak melihat istrinya seperti itu. Ia segera bangkit untuk mendorong pelan tubuh Vanilla agar kembali masuk ke dalam kamar. Walaupun dia mengenakan pakaian tapi sungguh tidak sopan bertemu tamu dengan kondisi belum mandi dan hanya memakai baju tidur sekalipun tamu itu keluarga sendiri.


"Papa dan Jane mau minum apa?"


"Tidak usah, Co. Kami tidak punya banyak waktu. Kalian sudah bersiap untuk pergi bukan?"


"Sebentar ya, Pa. Aku bicara dulu dengan Vanilla,"


********


Vanilla kembali berbaring bukannya mandi. Padahal Ia sudah melihat ada tamu di luar sana.


Melihat istrinya kembali terlelap, Jhico berdecak. Ia segera menggendong tubuh Vanilla di bahunya lalu meletakkan Ia di dalam bathtub.


Vanilla berseru kesal. Matanya baru saja tertutup, Ia terbangun hanya untuk mencari Jhico.


"Apa sih?! ganggu tidurku saja!"


"Di luar ada Papa dan Jane, kamu tahu itu bukan?"


"Jawab saja tidak jadi," Vanilla merebahkan tubuhnya di bathtub. Melihat Vanilla yang benar-benar gila tidur, Jhico meraih shower lalu membasuh rambut Vanilla.


"Cepat mandi! aku siapkan pakaian kita untuk pergi berlibur,"


"Kamu terlihat keberatan, jadi kenapa dipaksakan untuk ikut?"


"Bagaimana mungkin kita menolak sementara Papa dan Jane sudah menunggu kita sejak tadi?"


Vanilla mendengkus lalu menuruti titah suaminya. Sementara Jhico cepat-cepat menyiapkan pakaian mereka untuk berlibur. Hari ini Jhico terpaksa tidak masuk kerja. Ia pikir sudah saatnya juga menghilangkan penat. Sebenarnya Jhico khawatir pada Vanilla yang semalam baru saja digempurnya habis-habisan lalu sekarang harus pergi berlibur entah kemana.


"Kamu baik-baik saja? yakin mau pergi?" tanya lelaki itu memastikan saat Vanilla keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih baik.


"Yakin, memang kenapa? kamu berubah pikiran tidak jadi ikut? ya sudah, biar aku saja yang ikut berlibur,"


"Bukan begitu, semalam kita habis--"


"Apa korelasinya?"


"Kondisi tubuhmu sudah baik-baik saja?"


Vanilla menatap suaminya dengan pandangan aneh. Ia baik-baik saja walaupun badan memang terasa masih letih. "Kamu melakukannya dengan lembut semalam. Jadi tidak perlu khawatir,"


"Okay, kita keluar sekarang,"


"Ponselku--"


"Sudah aku masukkan ke dalam sini," Jhico menyerahkan Sling bag Vanilla. Vanilla dan Jhico membawa koper kecil masing-masing. Jhico tidak tahu mereka pergi kemana. Ia hanya membawa pakaian seperlunya.

__ADS_1


"Pakaian aku sedikit sekali?!"


"Tidak usah banyak-banyak. Memang berapa hari?"


"Tidak tahu juga,"


"Kamera kamu?"


"Ya bawalah! aku mau foto-foto di sana..."


"Oh iya, produk-produk yang harus aku--"


"Kita ke sana mau liburan. Untuk apa bekerja? kalau mau endorsement jangan disaat liburan,"


Jhico tidak mau membuat Istrinya berpikir mengenai pekerjaan terus. Tujuan mereka berlibur adalah untuk bersenang-senang tanpa memikirkan yang lain.


Vanilla selesai mengenakan kaus kaki dan sneaker. Ia menatap cermin sekali lagi, sementara Jhico sudah menunggu di depan pintu dengan dua koper di tangan.


Seperti ini kalau mau pergi dengan perempuan. Jhico berhasil menyiapkan pakaian tidak sampai lima belas menit, lalu mengganti bajunya dengan yang lebih pantas untuk pergi berlibur. Sementara Vanilla hanya tinggal mandi, semuanya sudah disiapkan oleh Jhico tetapi masih saja lama.


Sampai ketika keluar kamar, Jane marah-marah. "Benar-benar kalian ini. Membuat bokongku kebas karena terlalu lama duduk menunggu,"


"Apa lagi Papa. Pinggang semakin sakit karena menunggu,"


Jhico meringis, Ia tahu betul sekesal apa Jane dan Raihan. "Maaf, sebenarnya aku tidak tahu kalau kita mau liburan,"


Mereka keluar dari apartemen. Lalu berjalan menuju basement untuk menghampiri sanak kelurga yang ikut.


"Lain kali, bicarakan dulu dengan Jhico, Vanilla. Kamu jangan ambil keputusan sendiri,"


"Aku tahu kalau pada akhirnya Jhico akan ikut. Jadi aku setujui saja saat kalian mengajak,"


Vanilla tahu Jhico tidak akan pernah bisa menolak apapun itu kalau sudah berhubungan dengan Vanilla. Terbukti, dalam waktu yang singkat Jhico berhasil dibuat kerepotan dalam menyiapkan semuanya demi memenuhi keinginan Vanilla. Ia tidak mengeluh, malah rela meninggalkan pekerjaan karena ingin terus berada di samping Vanilla padahal Vanilla tidak masalah kalau memang seandainya Jhico menolak dan memilih untuk tetap bekerja sementara Vanilla dan keluarga besarnya berlibur.


"HALLO AUNTY!"


"Hai, Sayang."


Vanilla memeluk keponakan-keponakannya yang gembira sekali melihat Ia bersama Jhico. Akhirnya penantian mereka berakhir juga. Sedari tadi Adrian dan sepupu-sepupunya yang lain keluar masuk mobil karena bosan menunggu mereka yang berada di dalam apartemen. Sampai Ia mengatakan hal ini pada Devan, "Sudahlah, Dad. Kita tinggal saja Aunty Vanilla, Aunty Jane, dan Grandpa. Mungkin mereka sudah berlibur di dalam apartemen," karena terlalu kesal sampai Adrian berpikiran konyol seperti itu. Ia tidak tahu saja kalau Jane dan Raihan juga sekesal itu menunggu Vanilla dan suaminya.


Setelah melepas pelukan, Adrian mengerinyit seraya menatap penasaran ke leher Vanilla yang terlihat memerah. Ia menyentuhnya dan secepat kilat Vanilla menyingkirkan. Vanilla baru sadar akan sesuatu.


"Aunty, itu lehernya kenapa?"


Vanilla menelan ludahnya gugup. Diam diam Ia melirik Jhico yang baru saja memasukkan koper ke dalam bagasi mobil yang sudah dikeluarkannya. Mereka pergi berlibur menggunakan mobil Vanilla karena di dalamnya hanya ada Jhico dan Vanilla. Ukuran mobil Vanilla tepat sekali untuk mereka berdua. Keluarga yang lain sudah menggunakan mobil milik masing-masing.


Semuanya ikut menatap Vanilla lalu mencuri pandang ke objek yang dimaksud Adrian. Vanilla cepat-cepat mengusap-usapnya seolah Ia baru saja digigit serangga.


Jane menghembuskan napas beberapa kali untuk menahan gejolak dalam dirinya. Namun tetap saja, rasanya Ia ingin berteriak.


"PANTAS SAJA AKU MENUNGGU KALIAN LAMA SEKALI SAMPAI RAMBUTKU HAMPIR PUTIH SEMUA,"


Akhirnya bukan hanya sekedar keinginan. Jane berhasil mengeluarkan lahar panas dari mulutnya, menumpahkan kekesalan yang sedari tadi menimbun di hati.


 ---------


Okrey Jane dah paham🤣 saking keselnya ampe teriak doi wkwwk

__ADS_1


__ADS_2