
Richard menghela napas pelan. Mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kamarnya.
Berbeda sekali ketika Ia tiba di rumah. Biasanya ada Jane, perempuan itu akan menyambutnya ketika pulang.
Semenjak Jane pergi, Ia jadi malas pulang ke rumah. Sebab terasa sangat sunyi dan Ia terus memikirkan istrinya.
Richard mendapatkan panggilan di ponselnya. Tanpa melihat siapa yang menghubungi, Ia langsung menjawabnya. Suara ibunya terdengar menggelegar ketika Ia menjawab panggilan.
"Isrimu benar pergi meninggalkan kamu, Richard?"
"Kenapa dia bersikap seperti itu? kalian baik-baik saja 'kan?"
"Dia tidak seharusnya meninggalkan kamu,"
Richard sedang tidak ingin mendengar Ibunya mencerca. Oleh sebab itu Ia mengakhiri panggilan Ibunya.
Richard bergegas melakukan ritualny setelah meninggalkn kantor yaitu memberishkan badannya. Tadi begitu tiba Ia langsung menghubungi sang iatri untuk nenanyakan kabar. Ternyata Ia juga bisa bicara dengan Grizelle yang sangat menggemaskan dan pintar itu. Pintar untuk mengatakan kejujuran juga. Richard senang sekali mendengar apa yang disampikan Grizelle tadi. Jane merindukannya dan Jane juga gelisah berjarak dengannya.
Pulang cepat dari bekerja, biasanya Richard gunakan untuk menghabiskan waktu dengan istrinya. Seperti makan bersama di restaurant atau menemani Jane belanja. Tapi kali ini Richard tidak melkukan hal itu. Justru Ia malas sekali bila sudah akan pulang ke rumah. Karena tidak ada Jane yang tak jarang menjadi teman berdebatnya. Tapi setelah itu mereka cepat membaik dan mengalah.
******
"Icelle, Ean sakit. Kamu sudah sembuh?"
"Sudah, lukaku sudah sembuh. Ean sakit apa?"
"Demam,"
Auristella meminta pada Grizelle agar menerima panggilan videonya saat Grizelle sedang belajar. Grizelle ingin meladeni, maka Ia menghentikan sebentar kegiatannya saat ini.
Vanilla ada di sampingnya. Sedang mengawasi Ia belajar dan Vanilla juga yang memberi tahu kalau Auristella mengiriminya pesan.
"Eh Aurrlis sudah tahu belum kalau ada Aunty Jane di sini?"
"Hah?! ada Aunty Jane di rumahmu? kenapa dia tidak ke runahku juga?kaan Aunty Jane datang?"
"Hmm belum lama. Barrlu(baru)---"
Grizelle menghitung dengan jarinya. "Seperrltinya (sepertinya) dua harrli (hari) lalu,"
"Ya ampun! minta Aunty ke sini juga,"
"Aunty Jane?"
Lovi pun nendengar kalimat anaknya maka Ia bertanya. Auristella mengangguk cepat. Kemudian Ia mengatakan pada Lovi kalau Jane ada di rumah Vanilla.
"Ya nanti aku bilang pada Aunty Jane ya,"
"Coba katakan sekarang pada Aunty,"
Grizelle akhirnya kekuar dari kamar berjalan ke kamar Jane. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu memastikan Jane tidak sedang beristirahat. setelah mendapat sahuta dari dalam, barulah Ia msukĀ
"Aunty Jane, kapan ke rrlumah trliple A (rumah triple A)?"
"Hmm?" Jane bergumam bingung. Grizelle menyerahkannya ponsel, meminta agar Jane bicara dengan Auristella.
"Hallo, Aunty Jane,"
__ADS_1
Auristella melambai pada kamera menyapa Jane. "Aunty ke rumahku juga ayo. Kapan ke rumahku?"
"Tidak mau,"
"Huh kenapa tidak mau?" Auristell merajuk setelah mendengar penuturan Jane yang sebenarnya hanya ingin menggoda Auristella.
"Nanti diusir Daddymu,"
"Daddy tidak mungkin melakukannya, Aunty,"
Lovi ikut masuk ke dalam layar. Ia juga meminta Jane datang ke rumahnya.
"Datanglah ke sini, Jane. Bagaimana kabarmu? kamu bersama Richard di rumah Vanilla?"
"Aku akan kesana besok mungkin. Kabarku baik, dan saat ini aku hanya sendiri,"
Grizelle duduk di sampingnya. "Iya, Aunty. Uncle Rrli (Ri) tidak ikut berrliburl (berlibur) dengan Aunty Jane,"
"Oh ya? kenapa?"
"Uncle Rrli (Ri) sedang sibuk," jawab Grizelle menatap Auntynya yang mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Grizelle.
"Besok datang ke rumahku ya, Aunty!" Auristella tidak mau Jane menolaknya. Ia ingin Jane datang ke rumahnya.
"Okay, Aunty akan datang,"
"Yeayyy aku tunggu ya, Aunty,"
"Okay, bye,"
Jane mengembalikan ponsel pada Grizelle. "Kamu masih belajar?"
"Nanti ke sini ya,"
"Okay,"
"Aku keluarrl (keluar) dulu,"
Grizelle berjalan keluar dari ruangan yang menjadi tempat istirahat Jane selama di sini.
Jane kembali melihat-lihat katalog rumah yang berada tidak jauh dari kediaman Vanilla dan Jhico ini.
Banyak sekali rumah baru yang dijual dan membuat Jane tertarik tapi Ia masih bimbang dengan keputusannya untuk pindah ke sini. Saat sebelum datang, ia begitu yakin untuk pindah.
"Hah, aku tidak boleh ragu. Aku bisa pindah dan kalaupun Richard tetap ingin bersamaku, maka dia akan datang ke sini,"
Jane mulai mencari informasi tentang beberapa rumah yang Ia sukai. Ia akan meminta pendapat Vanilla untuk memilihnya.
"Sudah bicaranya?"
Grizelle mengangguk dan menutup pintu kamarnya. Ia melangkah mendekat pada Mumunya.
"Icelle lanjut lagi belajarnya. Setelah itu tidur," kata Vanilla yang masih setia duduk di kursi sebelah meja belajar Grizelle.
"Aku diminta datang oleh Aunty Jane ke kamarnya,"
"Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Entah, Mu. Apa mungkin aku akan diberrlikan (diberikan) hadiah?" duganya yang membuat Vanilla terkekeh. Karena diminta datang ke kamar Jane, anaknya mengira akan diberikan hadiah.
"Ya sudah, setelah dari kamar Aunty Jane lngsung istirahat ya,"
Grizelle mengangguk patuh. Ia kembali belajar dan Vanilla masih menemaninya.
*****
Richard melihat mesin waktu yang menggantung di dinding. Di tempat Jane sudah malam. Apa istrinya sudah tidur?
Richard meraih ponsel di nakas. Kemudian menghubungi nomor ponsel istrinya. Ia tersenyum ketika dijawab oleh Jane.
"Hallo, Ri,"
"Jane, kamu belum tidur?"
"Belum, sedang melihat-lihat katalog rumah,"
Mendengar jawaban istrinya, Richard tertegun sejenak. Ternyata sampai sekarang Jane tetap bersikeras ingin tinggal terpisah dengannya.
"Istirahatlah. Jangan terlalu lelah,"
"Tidak, aku tidak lelah. Aku baik-baik saja di sini, aku bahagia,"
Richard tersenyum meskipun hatinya sakit karena mendengar pengakuan Jane yang tetap baik-baik saja sementara dirinya berbeda sekali.
"Aku senang mendengarnya. Ya sudah, terimakasih mau menjawab pangilanku ya. Selamat beristirahat,"
"Ya, selamat malam,"
Biasanya Ia dan Richard akn saling memeluk jika malam sudah menjemput dan berada di atas tempat tidur untuk melepas penat. Sekarang Ia dan Richard tidak melakukannya.
"Aunty, aku masuk ya?"
"Okay, masuk saja, Sayang,"
Grizelle menekan handel pintu kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Ia baru saja selesai belajar dan langsung ke sini menghampiri sepupu dari Mumunya itu.
"Aunty meminta datang ke sini karrlena (karena) ingin memberrli (memberi) hadiah ya?"
"Hadiah? oh iya kamu belum lama ini ulang tahun ya? astaga, Aunty lupa. Hmm tapi 'kan bua tangan yng Aunty bawa kemarin itu bisa menjadi hadiah juga ya?"
Grizelle menepuk keningnya. "Aku lupa kalau dapat hdiah darrli (dari) Aunty,"
"Itu saja hadiahnya ya?" Jane terkekeh melihat Grizelle yang mengangguk.
"Aku bingung kenapa Aunty memaggilku ke sini. Seperlti (seperti) ingin memberrlikan (memberikan) aku hadiah,"
"Icelle memang mau hadiah apa?"
"Sudah Aunty berrlikan (berikan) waktu datang. Buah tangan dari Aunty,"
"Tapi memang hadiah ulang tahun Icelle belum ada. Icelle mau apa?"
"Benarrl (benar) aku boleh jawab?"
"Ya ampun, tentu saja. Aunty bertany jadi kmu harus menjawab,"
__ADS_1
"Hmm... aku mau jalan-jalan saja dengan Aunty dan Uncle Rrli (Ri) nanti kalau sudah datang,"