
"Jangan digendong, Icelle. Nanti kamu digigitnya,"
"Dia baik, Grrlandma. Tidak mungkin menggigit. Dia 'kan bukan buaya,"
"Sudah tahu buaya menggigit kenapa meminta itu?"
Sampai sekarang Rena masih dibuat gemas dengan keinginan cucu keempatnya itu. Bisa-bisanya Ia menginginkan buaya dan lebih aneh lagi suaminya karena menuruti keinginan Grizelle.
Grizelle menurunkan She ke lantai dan kucing itu langsung berlari dan bersembunyi bawah sofa.
Auristella terkekeh geli melihat Grizelle panik She tak keluar dari sana. Grizelle menunduk dan membawa She keluar. Beruntungnya Ia mau.
Kemudian She duduk di sofa. Rena yang melihat itu berdecak. "She, awas kalau kamu membuang kotoran di sofaku ya," Rena mengancam She yang jelas tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Rena.
"Dia sudah pintar kata, Grandpa. Tidak mungkin mengotori sofa Grandma," bela Auristella mengusap bulu She yang lembut luar biasa sampai menyaingi bulu boneka-bonekanya di rumah.
"Iya, dia tidak begitu,"
Raihan masuk ke dalam rumah bersama kedua cucunya dan Ia yang mendengar istrinya bicara seperti itu langsung membela She.
"Tetap saja dia 'kan tidak mengerti," Rena menggerutu. Tampak sekali Rena memang kurang menyukai hewan apalagi bila ada di dekatnya.
"Grrlandma biarrlkan (biarkan) She berrlmain (bermain) di sini boleh 'kan?"
"Boleh, kalau tidak boleh sudah Grandma usir dari awal,"
"Tapi Grrlandma jangan kesal,"
"Kesal karena dia itu tidak bisa diam bila ada di sini, Sayang. Duduk juga dimana-mana,"
Lovi terkekeh mendengar penuturan Rena. Mungkin Rena merasa risih dan tidak nyaman rumahnya yang sangat bersih ini ditinggali hewan.
"Kita pulang ya? sudah cukup bermainnya,"
"Iya, Aunty,"
"Okay, Mom,"
"Ya ampun, kenapa sudah pulang saja? baru sebentar," Rena tidak rela membiarkan keempat cucunya pulang.
"Nanti kita ke sini lagi, Grrlandma,"
"Iya, Grandma tenang saja,"
Rena mengangguk pelan. Dan cucu-cucunya memeluk ketika pamit pulang.
"Tidak mau makan makan dulu?"
"Sekarrlang (sekarang) belum malam, Grrlanpa,"
"Sebentar lagi,"
__ADS_1
"Tidak, Pa. Kami makan di rumah saja," tolak Lovi dengan halus pada Ibu dan ayah dari suaminya itu.
"Ya sudah, hati-hati ya,"
Usai memeluk Rena dan Raihan, mereka memasuki mobil. "Besok kami akan datang ke tempat bermain, playground, Grandpa," lapor Adrian sebelum mobil melaju.
"Selamat bermain kalau begitu ya,"
"Terimakasih, Grandpa, Grandma" ujar Andrean pada kakek dan neneknya itu. Mereka berdua mengangguk masih dengan senyum hangatnya melepas kepulangan mereka.
Setelah itu mereka kembali ke dalam. "Aku belum mandi setelah kerja tadi. Aku mandi dulu,"
"Ya, setelah itu kita makan ya?"
Raihan mengangguk singkat kemudian Ia beranjak untuk melakukan ritualnya sehabis pulang kerja. Ia tadi hanya mengganti pakaiannya saja sebab cucunya tak sabaran lagi mengajaknya melihat peliharaannya.
Rena duduk di samping She yang masih nyaman di sofa. Bahkan kini She berbaring dan menggeliat. Rena yang melihatnya tersenyum gemas.
Ia meraih She ke atas pangkuannya namun She menghindar.
"Tidurlah She. Kamu nyaman di sini 'kan?"
Rena mengusap-usap bulu She. Lagi-lagi Ia merasa gemas. "Kenapa kau tidak mau aku pangku? hm? kesal denganku karena aku tidak pernah senang bila kau dibawa ke rumah? iya?" Rena bicara dengan She yang hanya menatapnya saja tak bisa menjawabnya.
"Jangan mengotori! ingat ya. Nanti tidak boleh lagi bermain di dalam rumah,"
Ia beranjak dari sofa setelah memberi peringatan pada She yang mulai menutup matanya. Sepertinya Ia benar-benar menuruti ucapan Rena yang menyuruhnya tidur.
Rena duduk di depan meja makan usai mencuci tangannya dengan bersih. Ia mulai menyiapkan makanan untuk disantap suaminya nanti.
"Tadi kita belum mengembalikam She,"
"Eh iya. Aku lupa,"
Auristella dan Grizelle terbahak mengingat She yang masih berkeliaran di rumah kakeknya, belum dikembalikan ke tempatnya.
"Mungkin sekarang sudah diletakkan lagi oleh Grandpa,"
Grizelle mengangguk. Mengingat Rena tak begitu menyukai She pasti tak akan lama Raihan membiarkannya di dalam rumah, mungkin sudah dikembalikan oleh Raihan sekarang.
"Tapi Grandma tidak marah-marah pada She. Ia hanya kesal saja. Grandma baik pada She,"
"Ya memang siapa yang mengatakan Grandma jahat, Ian?"
"Barangkali saja kalian berpikir seperti itu mengingat tadi kalian ingin sekali She dibiarkan di sana dan Grandma melarangnya,"
"Tidak lah. Kami juga tahu kalau Grandma itu tidak nyaman,"
Hampir sepuluh menit meninggalkan kediaman Raihan dan Rena, Auristella dan Grizelle baru ingat kalau She masih di atas sofa tadi.
Sekarang mereka masih berada di perjalanan. Terdengar musik yang dinyalakan pelan oleh Adrian senagai teman mereka selama menyusuri jalanan.
__ADS_1
"Kenapa terhambat begini?"
Lobi bingung karena perjalanan yang sebelumnya lancar kini tampak sedikit terhambat seperti ada sesuatu di depan sana yang menyebabkan keterhambatannya.
"Ada kecelakaan sepertinya, Nona,"
"Ya ampun,"
"Oh iya, itu ada mobil pihak berwajib," Seru Adrian menunjuk mobil dengan sirine diatasnya di depan sana.
"Semoga korrlbannya (korbannya) selamat ya," Grizelle jadi ikut cemas mengetahui berita itu.
"Semoga, Icelle,"
"Kasihan keluarganya," lanjut Grizelle.
Auristella mengusap rambut Grizelle dengan lembut. "Kamu jangan tegang begitu. Doakan saja," ujar Auristella.
"Tidak, aku tidak tegang," bantah Grizelle dan Ia terkekeh. Ia hanya cemas dengan korban kecelakaannya. Ikut mengkhawatirkan bagaimana perasaan keluarga korban nantinya.
****
"Nilla,"
"Ya, Jhi?"
Vanilla yang sedang fokus menatap jalanan dari jendela mobil yang berada di samping kepalanya menoleh saat sang suami memanggil.
"Oh, aku kira kamu tidur,"
Vanilla menggeleng, Ia menyentuh lengan Jhico dengan pelan. "Kenapa memangnya? kamu mau bicara sesuatu?"
"Tidak,"
"Yang benar, Jhi,"
"Iya, Nilla. Aku hanya ingin memastikan kamu tidur atau tidak,"
"Panggilan untukku kurang lengkap itu,"
"Hmm?" Jhico mengangkat alisnya bingung.
Vanilla tersenyum tak mengatakan apapun. Ia kembali menatap suasana diluar mobil. Dan tak lama Ia merasakan tangannya digenggam oleh seseorang yang tak lain adalah suaminya. Tak ada lagi orang lain yang bersamanya kini selain Jhico.
"Sejak Griz di rumah Devan dan Lovi, kita seperti sepasang kekasih yang belum memiliki anak,"
Vanilla terkekeh dan Ia mengangguk membenarkan penuturan suaminya. Yang biasanya kamar mereka selalu didatangi Grizelle sejak kemarin sepi. Grizelle biasanya diam di kamar orangtuanya melakukan hal apapun. Baik itu menonton atau mengerjakan tugas.
"Sekarang juga begitu. Kita seperti habis jalan kencan padahal dari dokter kandungan," tambah Jhico dengan tawanya.
"Kalau Griz terlalu lama meninggalkan kita, bisa-bisa kita lupa kalau sudah punya anak bahkan sudah mau dua," canda Vanilla. Ia mengusap perutnya yang merasa lebih kencang ketika Ia tertawa.
__ADS_1
"Anak kita nyaman sekali dengan triple A. Bisa jadi lebih lama Griz di sana, Nilla,"
"Hah, jangan. Aku sudah rindu selali dengannya," Vanilla merengek sedih.