Nillaku

Nillaku
Nillaku 350 Sama-sama pernah cemburu dengan orang di masa lalu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jhico sudah bangun dari tidurnya. Ia ingin menyempatkan waktu untuk berolahraga sebentar sebelum datang ke rumah orangtuanya dan mengantar anaknya ke sekolah.


Saat Ia bangun, Ia menoleh ke sampingnya. Vanilla masih terlelap. Ia menatap jam sebentar. Masih pukul empat tiga puluh.


Jhici masuk ke kamar mandi sebentar kemudian kembali lagi ke ranjang.


Pikirnya akan terlalu pagi kalau Ia bersepeda sekarang. Mungkin nanti pukul lima tiga puluh Ia mulai bersepeda.


Ia memeluk istrinya lagi namun pergerakannya itu membuat Vanilla merasa terganggu. Vanilla mengerjap dan melenguh. Jhico menatap waspada istrinya yang sepertinya akan bangun. Ternyata benar, Vanilla terjaga dari tidurnya.


"Aku mengganggumu ya?"


Vanilla menatap suaminya sebentar. Kemudian menyisir rambut suaminya yang berantakn ke belakang. Ia menggeleng menjawab pertanyaan Jhico.


"Kenapa sudah bangun?"


"Terbangun sendiri,"


Vanill menatap jam. Ia menghela napas pelan. Rupanya sudah masuk waktu pagi. Sebentar lagi Ia harus membuat sarapan sekaligus bekal makan siang untuk anaknya.


"Aku ikut ke rumah Papa dan Mama ya? aku ingin bertemu Griz,"


"Tidak usah. Aku khawatir kamu sakit kepala lagi. Kemarin kamu jarang keluar kamar, kata Bibi semalam,"


"Ya, aku memang lebih banyak di kamar kemarin. Kepalaku sakit dan aku juga malas keluar dati kamar. Inginnya istirahat terus,"


Jhico mengusap kening istrinya lembut hingga membuat Vanilla sesikit terpejam.


"Tidak usah dulu kemanapun,"


Vanilla sebenarnya keberatan. Ia ingin bertemu anaknya. Kemarin Ia hanya berbincang dengan Grizelle lewat panggilan video saja melalui Karina.


"Aku mau bertemu Griz, Jhi,"


"Tapi sekarang kondisimu bagaimana?"


"Sudah sehat. Kepalaku sudah tidak sakit lagi,"


"Ya sudah, nanti kita pergi bersama,"


Vanilla tersenyum puas mendengar keputusan suaminya. Jhico melepas rengkuhannya kemudian berbaring menghadap langit-langit kamar.


"Nanti aku ingin bersepeda sebentar,"


"Iya, tidak apa. Sudah lama tidak bersepeda ya?"


Jhico mengangguk sesaat. "Sudah lama tidak bersepeda dengan Grizelle,"

__ADS_1


"Nanti kalau dia sudah pulang. Ajak saja ketika kalian sama-sama libur,"


Vanilla meraih ponselnya. Ia akan bermain dengan gadgetnya dulu sebelum sibuk dengan kegiatannya.


"Jhi, kamu masih ingat Renald?"


Seketika Jhico menleh dengan wajah datar. Ia mengangguk singkat. "My Renald nya kamu itu 'kan?" tanya Jhico seraya menyindir bagaimana manisnya Vanilla terhadap Renald dulu sampai nama kontak di ponselnya saja My Renald.


"Aku tidak mau lagi dipanggil My Jhi olehmu,"


Jhico langsung teringat kalau Vanilla tak jarang memanggilnya My Jhi. Bisa jadi terinspirasi dari masa lalunya bersama Renald dulu.


Vanilla terkekeh mengetahui bahwa suaminya tengah diliputi rasa cemburu. Renald yang pernah bekerja sebagai cleaning service di kampusnya memang pernah dekat dengannya bahkan terlampau dekat sekalipun Ia sudah bersama Jhico. Kalau ingat itu, Vanilla masih sulit untuk benar-benar memaafkan dirinya sendiri. Bisa-bisanya Ia menghiraukan Jhico yang begitu tulus menerima kondisinya dulu yang tak bisa melihat lalu memiliki perasaan dengan Renald.


"Renald sudah menikah dengan Anneth,"


"Siapa?" tanya Jhico yang tidak terlalu peduli sebenarnya. Tapi Ia juga penasaran bagainana kabar Renald yang pernah dekat dengan istrinya itu sampai Ia jadi diacuhkan oleh Vanilla padahal Ia suaminya dan Ia yang mencintai Vanilla dengan begitu besar sekalipun Vanilla memiliki kekurangan yaitu tak bisa melihat. Tapi kalau Renald, entah benar-benar memiliki perasaan sebesar dirinya terhadap Vanilla atau tidak. Tapi yang jelas mereka memang dekat.


"Temannya,"


"Oh yang sempat memusuhi kamu itu?"


"Iya, dia rekan kerja Renald,"


"Hmm syukurlah,"


"Kamu cemburu ya?"


"Kamu pikir saja, Nilla. Tidak usah aku jawab,"


Vanilla menahan senyumnya. Jhico kalau cemburu hanya terlihat dari gesture jarang sekali mengungkapkan.


"Dulu aku juga sempat cemburu dengan Aurora, teman modelku yang kelihatannya menyukai kamu,"


Kini mereka jadi membahas kenangan-kenangan masa lalu yang sudah mereka tinggalkan. Tapi untuk dikenang, tidak masalah 'kan?


"Ya, aku tahu. Padahal dulu kamu masih sibuk dengan Renald ya? berarti kamu itu tidak benar-benar menyukai Renald, Nilla. tapi menyukai aku. Buktinya cemburu pada Aurora yang jelas-jelas adalah temanmu sendiri,"


"Kamu terlalu baik pada orang!"


"Ya memang aku baik. Lalau masalahnya dimana?"


"Karena kamu terlalu baik jadi banyak perempuan yang menaruh perasaan lebih padamu. Aku jadi kesal!"


Tidak hanya dengan kalimatnya saja, Vanilla membuktikan kesalnya dengan ekspresi wajah dan sorot matanya. 


"Kita sama-sama pernah cemburu. Aku cemburu karena kamu dekat dengan Renald. Dan kamu cemburu dengan Aurora,"

__ADS_1


"Dengan temanmu yang sesama dokter pernah, dengan teman masa kecilmu juga!"


Jhico tertawa ketika istrinya menambahkan dengan jujur pada siapa saja Ia merasa cemburu.


"Denaya yang pernah praktik denganku di rumah sakit?"


"Iya, siapa lah itu namanya. Aku tidak ingat,"


"Dia kan memang punya masa lalu denganku,"


Vanilla menatap sinis suaminya yang malah membahas itu. Ia sudah tahu lantas kenapa diingatkan?


"Aku tahu,"


"Ya aku pikir kamu lupa,"


"Lalu dengan teman kecilmu yang sekarang dengan Dion teman masa kecilmu juga. Itu siapa namanya?"


Vanilla mengaku pernah cwmburu dengan perempuan-perempuan yang pernah dejat dengan suaminya tapi ia tidak ingat lagi namanya.


"Flora,"


"Ya, dia juga dekat dengan nenek. Bagaimana aku tidak semakin kepanasan?"


Jhici tertawa gemas melihat Vanilla yang seperti ini. Ia menggigit bibir bawahnya tidak kuat melihat vanilla yang merengut hingga bibirnya mengerucut.


"Ini kamu pura-pura lupa nama mereka atau memang benar lupa,"


"Benar lupa. Untuk apa juga aku mengingat nama mereka? erghh," erangnya kesal yang kian membuat Jhico tergelak.


"Kamu yang mulai bahas masa lalu. Giliran dikulik lebih dalam, kamu juga yang merajuk. Nilla...Nilla..."


"Aku tidak merajuk,"


"Ini apa?"


Jhico dengan sengaja tanpa izin meraup bibir istrinya. Sedari tadi Ia sudah berusaha untuk mengendalikn diri tapi sulit sekali.


"Merengut begitu membuatku jadi gemas. Jangan merajuk lagi. Itu semua masa lalu yang menjadi kenangan. Tidak akan pernah terulang lagi. Kehidupan kita akan terus berputar. Jadi jangan takut aku akan kembali pada masa laluku,"


Vanilla memukul lengan suaminya yang merengkuh pinggangnya.


"Memang siapa yang takut kalau kamu akan kembali pada masa lalu? tidak! Aku juga tahu kalau sekarang ini dan sampai kapanpun kamu milikku, Jhi,"


Jhico tersenyum lega mendengar penuturan istrinya. Membahas masa lalu ternyata sedikit menyenangkan karena Ia jadi tahu betapa besar Vanilla mencintainya. Bahkan pengakuannya tentang rasa cemburu terhadap para perempuan di masa lalunya sudah membuat Jhico merasa bahagia. Vanilla sangat mencintainya dan sempat takut kehilangannya.


"Saat ini yang ada di pikiranku, hanya kamu dan Grizelle, dan akan selalu begitu,"

__ADS_1


__ADS_2