
"Ian dan Ean sayang sekali dengan Mommy?"
Di tengah perjalanan, Devan yang kini mengendarai mobilnya sendiri merasa lebih hangat untuk bicara hal-hal seperti ini dengan anak-anaknya.
"Tentu saja, Dad,"
"Iya, Dad,"
Mereka berdua menjawab dengan cepat dan yakin tanpa lama-lama berpikir. Memang ada anak yang tak menyayangi orangtua terutama Ibunya? Pahlawan sesungguhnya untuk seorang anak adalah Ibu kemudian ayah.
"Oh, sampai kapan?"
Devan kembali melanjutkan pertanyaannya. Masih fokus dengan stir kemudinya.
"Sampai kapanpun," jawab Adrian yang kemudian disahuti jawaban kakaknya.
"Sampai mati,"
"Sayang dengan Daddy juga tidak?"
"Iya, Dad," Andrean menjawab langsung.
"Kenapa sih tanya-tanya itu, Dad?"
"Kamu tidak menjawab, Ian. Berarti tidak sayang pada Daddy,"
"Aku menyayangi Daddy juga! tapi kenapa bertanya begini? tidak perlu ditanya, pasti Daddy tahu jawabannya,"
"Ya...Daddy hanya ingin dengar langsung dari mulut kalian,"
"Sudah sering kita bicara seperti itu,"
"Memang iya? sekarang sudah jarang. Dulu waktu kecil iya,"
"Ah Daddy saja yang tidak tahu,"
"Dalam doa, Dad,"
Sahutan Andrean yang datar dibenarkan keras oleh Adrian. Itu yang Adrian maksud. walaupun kata Devan saat masih kecil mereka memang sering mengungkapkan langsung dan saat beranjak besar, mereka dikatakan Devan jarang mengungkapkan langsung, tapi percayalah kalau setiap mereka berdoa pada Tuhan, yang pertama kali mereka sebut itu adalah orangtua mereka. Devan dan Lovi.
"Hmm kalau sudah besar itu memang biasanya sulit untuk menyampaikan secara langsung,"
"Daddy begitu juga pada Grandpa dan Grandma 'kan? ayo mengaku, Dad. Tapi kenyataannya Daddy tetap menyayangi dan mencintai mereka, sama besarnya dari dulu sampai sekarang,"
Devan mengangguk pelan, membenarkan. Ia hampir tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya pada orangtua tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, Ia selalu melakukan itu setiap saat menatap mata kedua orangtuanya. Dan setiap kali Ia berdoa, Ia juga tak pernah lupa menghadirkan nama mereka dalam setiap pintanya.
"Kalau dengan Auris, kalian sayang tidak?"
"Hmm," Adrian hanya berdehem dan itu membuat Devan terkekeh.
"Sayang dengan adikmu?"
Lagi, Adrian hanya berdehem dan Devan kembali terbahak. Ia bertanya pada Andrean yang langsung menjawab "Ya,"
"Kenapa tidak mau bilang 'iya, aku sayang' susah sekali mau jujur?"
"Susah, Dad,"
"Takut Auris besar kepala ya?"
__ADS_1
"Iya, benar!"
"Tapi Auris sedang tidak bersama kita,"
"Memang Daddy pernah mengatakan 'Aku sayang adikku Vanilla'?"
Devan menahan senyumnya. Adrian benar-benar membuat Ia terdiam seketika. Sesaat kemudian Ia tertawa.
"Oh jadi gengsi kalau dengan adik ya? mengikuti jejak Daddy?"
"Ya habisnya adikku begitu, Dad. Aku jadi malas punya adik seperti dia,"
"Ssst tidak boleh bicara begitu,"
Adrian terkekeh menutup mulutnya. Ia tidak serius, biar sekesal apapun Ia pada Auristella, tetap saja Ia menyayangi adik satu-satunya itu.
"Kalian itu harus damai tentram sampai tua nanti, sampai Mommy dan Daddy tidak ada lagi,"
"Iya, Dad,"
Keduanya mengangguk pelan, berusaha menyimpan pesan dari ayah mereka sebaik mungkin. Agar mereka sampai nanti tetap rukun dan damai sekalipun tak ada Devan dan Lovi lagi yang bisa mendampingi mereka.
*****
Grizelle dan Vanilla sedang bermain tebak kata dengan menyebut ciri-cirinya.
Saat ini giliran Vanilla yang menebak. Grizelle bertugas untuk mengisyaratkan kata yang dimaksud dengan gerak tangannya.
Jhico yang membisikkan kata tersebut ke telinga Grizelle yang langsung diperagakan oleh Grizelle.
"Ini hewan atau benda?" tanya Vanilla memastikan sebelum Ia menebak. Ia bisa melihat Grizelle yang membuka kedua tangannya kemudian menutup.
"Terus apa? Mumu bingung,"
"Ini olahraga, Nilla," kata Jhico memneri tahu.
Vanilla kembali melihat gerakan yang dibuat anaknya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung mau jawab apa.
"Ayo, Mu. Waktunya sedikit lagi," Grizelle menyemangati Ibunya.
Waktu habis dan Vanilla menghela nspas kecewa. "Itu olahraga apa sih?"
"Berrlenang (berenang) kan sku buka tutup tangan tadi,"
"Oh iya,"
Vanilla menepuk keningnya, merasa bodoh sekali Ia. Bisa-bisanya tidak tahu dengan olahraga itu.
"Mumu, kalah!"
Grizelle mengoles powder miliknya ke wajah Mumunya. Grizelle terkekeh melihat Vanilla sudah ada empat coretan sementra Ia masih bersih.
"Sekarang Aku yang tebak,"
"Okay, ayo, Pu, berikan katanya," Vanilla mendekatkan telinga pada suaminya yang langsung berbisik memberikan kata yang ada di otaknya saja.
Vanilla segera memperagakan. Ia berdiri kemudian berlenggak lenggok dan itu membuat Grizelle terbahak, menganggap Mumunya sedang mengajak bercanda.
"Mumu, ayo yang benarrl (benar),"
__ADS_1
"Ini sudah benar Mumu pergakan. Cepat kamu tebak,"
"Apa? aku bingung,"
Grizelle mengaruk keningnya bingung. Jhico terkekeh melihatnya. Grizelle berpikir keras, Ia tidak ingin kalah.
"Oh, hmm...model?" Ia menjawab ragu tapi Vanilla langsung berseru senang dan hampir saja Ia melompat kegirangan. Tapi Ia segera sadar kalau kini tengah mengandung.
"Mumu malah senang padahal 'kan skor Mumu jadi semakin terltinggal (tertinggal)," kata anak itu.
"Oh iya, ya,"
Vanilla menjadi bahan tertawaan Grizelle dan Jhico. Ia bahagia sekali Grizelle bisa menebak lagi yang artinya Ia semkain terbelakang.
"Okay, ini penentuan ya,"
Vanilla dan Grizelle mengangguk. Vanilla yang akan kembali menebak sementara Grizelle yang memperagakan.
"Ayo tebak, Mu. Ini mudah,"
Grizelle melebarkan kedua tangan lalu mengibasnya. Mata Vanilla langsung berbinar. "Pesawat? burung?"
"Kenapa dua jawabannya?"
"Pesawat?"
Grizelle menggeleng pelan.
"Burung ya?"
"Benarrl (benar), akhirrlnya (akhirnya) Mumu dapat skorl (skor),"
Vanila tertawa merasa kalau anaknya jini tengah prihatin dengan dirinya yang baru dapat skor sekarang padahal setelah empat kali kendapat coretan di wajah.
"Yeayy selamat Mumu,"
"Icelle yang menjadi pemenang,"
"Oh iya, selamat kepada Icelle," ujr anak itu memberikan selamat untuk dirinya sendiri.
"Kalau tidak Pupu beri yang mudah, Mumu tidak akan mendapat skor itu,"
"Iya, terimakasih Pupu," kata Vanilla memeluk suaminya.
Keduanya juga memberikan selamat pada Grizelle. Anak itu juga dipasangkan mahkota di atas kepalanya yang dibuat Grizelle oleh Grizelle sendiri dengan bahan kertas dari bukunya.
"Pintar sekali anak Mumu,"
"Aku yakin Mumu sengaja mengalah ya? supaya aku menjadi pemenangnya,"
"Tidak, Mumu memang tidak bisa menebak begitu. Susah diajak berpikir, sudah tua. 'Kan icelle sendiri yang beri sebutan princess tua untuk Mumu,"
"Itu bukan maksudnya mengejek Mumu tua. Princes tua itu aku berrlikan (berikan) untuk Mumu karrlena (karena) Mumu orrlangtua (orangtua) aku. Sudah aku jelaskan sejak awal," anak itu merengut. Ia tidak ingin disebut meledek Mumunya tua. Karena jenyataannya memang tidak seperi itu.
"Mumu masih muda! belum tua," tegas Grizelle.
"Ya, tapi sudah malas berpikir makanya tidak bisa menebak. Hanya sekali saja yang bisa itupun karena mudah,"
"Tapi Mumu hebat! yeayy. Aku yakin Mumu mengalah supaya aku menang ya,"
__ADS_1
Anak itu masih penasaran. Ia tidak percaya kalau bisa menang dari Mumunya.