Nillaku

Nillaku
Nillaku 104


__ADS_3

"Kalian tidak bawa baju ganti?"


"Tadi tidak sempat menyiapkan baju ganti, Nek. Begitu aku dapat kabar tentang Nenek, kami langsung ke sini."


"Maaf, Nenek sudah membuat kalian---"


"Nek, jangan bicara yang macam-macam. Memang sudah menjadi keinginanku dan Vanilla untuk menemani Nenek di sini,"


"Bagaimana kalian ingin mengganti baju?"


"Tidak ganti juga tidak apa, Nek."


Sebenarnya Vanilla dan Jhico adalah tipe orang yang paling tidak nyaman bila tidur mengenakan pakaian yang seharian dikenakan. Tapi untuk saat ini mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Jhico juga bingung meminta bantuan pada siapa karena di apartemen hanya ada mereka.


"Hubungi saja Mama mu, Jhico. Dia bisa minta bantuan pada anak buah nya,"


"Tidak usah, Nek."


Malah neneknya yang punya pikiran seperti itu sementara Karina sendiri tidak. Padahal Karina melihat Vanilla dan Jhico tidak bawa apapun untuk persiapan menginap malam ini.


Hawra memutuskan untuk meraih ponselnya. Ia yang akan menghubungi Karina, mungkin putrinya itu masih di jalan, belum tiba di rumah.


"Hallo, Karina."


"Ada apa, Bu?"


"Jhico dan Vanilla tidak membawa baju ganti. Kamu tahu itu 'kan? bisa Ibu minta bantuan?"


"Oh iya maaf, Bu. Aku akan meminta bantuan pada orang di rumah untuk membelikan mereka baju lalu mengantarnya,"


Walaupun ini sudah malam tapi sepertinya masih ada waktu sebelum semua tempat perbelanjaan tutup.


"Terima kasih,"


Hawra memutus sambungan telepon kemudian beralih pada Vanilla dan Jhico yang terdiam.


"Tunggu sebentar ya,"


"Mama memang tidak pernah peka, Nek."


"Ya, Nenek tahu itu. Makanya Nenek sembur dia,"


Jhico tertawa kecil mendengar Hawra yang sudah bisa menggerutu, jauh lebih baik kondisinya daripada siang tadi.


*****


"Ibu yang telepon?"


"Iya, minta tolong diantarkan baju untuk Jhico dan Vanilla,"


"Lagipula kenapa tidak mereka bawa sendiri sih?"


"Mereka langsung ke rumah sakit setelah mendengar kabar bahwa Ibu sakit,"


"Buat orang sulit saja,"


"Apa nya yang sulit? kita bisa minta bantuan orang rumah. Kamu jangan bicara begitu. Mereka sudah baik mau menunggu Ibu yang sedang sakit,"


****


"Uhuk uhuk uhuk,"

__ADS_1


"Pelan-pelan saja mengunyah nya, Nek."


"Nenek takut kamu bosan menunggu Nenek mengunyah,"


Vanilla mengusap lembut punggung Hawra yang sengaja mengunyah sedikit cepat karena khawatir Vanilla bosan menunggunya.


Padahal tidak seperti itu. Vanilla malah tidak tega kalau Hawra sampai tersedak seperti sekarang. Orang yang sudah berusia senja memang wajar makan sedikit lamban, apalagi Hawra sedang sakit juga.


"Nenek tidak boleh bicara begitu," ucap Vanilla seraya menggeleng pada Hawra.


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Jhico yang baru saja mandi. Setelah baju ganti diantar oleh supir Karina, Jhico langsung mandi.


"Kamu mandi saja dulu. Nenek makan sendiri," ujar Hawra agar Vanilla segera mandi mengingat waktu sudah semakin malam.


"Vanilla ganti baju saja," ujar Jhico melarang istrinya untuk bersentuhan dengan air.


"Aku mau mandi,"


"Ini sudah malam, kamu bisa kedinginan."


"Oh iya, benar. Ini sudah malam, Vanilla. Sebaiknya jangan mandi," Hawra mendukung larangan sang cucu.


"Ada air hangat 'kan?"


"Tapi---"


"Aku tidak akan nyaman bila tidur tanpa mandi,"


Jhico tak bicara apapun lagi. Sudah dilarang tapi masih keras kepala. Ia bergegas ke bed sofa lalu mengeluarkan selimut yang juga dibawakan oleh supir Karina.


"Kamu mau makan apa? malam ini belum makan,"


"Tidak, aku tidak lapar."


Vanilla mengangguk dan tak lama kegiatannya menyuapi Hawra makan pun selesai. Setelah itu, Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


****


"Terima kasih sudah datang,"


"Iya, Nek. Aku terkejut begitu Vanilla mengatakan dia di rumah sakit. Aku pikir dia kenapa, ternyata Nenek nya sakit,"


Siang ini Rena dan Senata datang mengunjungi Hawra di rumah sakit. Tadi pagi saat Rena menelpon Vanilla untuk menanyakan kabar Vanilla, putrinya itu mengatakan baik-baik saja tapi sedang di rumah sakit. Ia langsung bertanya khawatir karena pikirnya terjadi sesuatu pada Vanilla, ternyata Vanilla di rumah sakit karena menjaga Hawra yang sedang sakit.


Sementara Vanilla sedang berbincang dengan Rena, Senata, dan Hawra, Jhico memilih untuk pergi membeli makanan untuk mereka semua. Ia sendiri juga sudah lapar, apalagi Vanilla.


*****


Kondisi kesehatan Hawra berangsur membaik tapi Ia belum diperbolehkan pulang sampai esok untuk menunggu perkembangan apakah Hawra sudah benar-benar bisa keluar dari rumah sakit atau belum.


Dan pagi ini Vanilla harus ke kampus nya sebentar, Ia terpaksa meninggalkan Hawra. Namun Hawra mengerti dan menenangkan Vanilla yang terlihat tidak enak hati padanya.


"Kamu bekerja?" tanya Vanilla pada Jhico.


"Tidak, sampai Nenek sembuh aku akan tetap di sini,"


"Kamu menyetir sendiri, Vanilla?"


"Tidak, Nek. Aku sudah menghubungi temanku untuk datang,"


"Oh syukurlah,"

__ADS_1


Jhico menatap Vanilla sebentar. Perempuan itu sudah siap untuk berangkat, tinggal menunggu kedatangan Joana lagi.


Setelah Joana datang, Vanilla kembali berpamitan pada suami dan neneknya. "Aku pergi dulu ya,"


"Iya, hati-hati, Vanilla."


"Iya, Nek."


Saat Jhico mengecup kepala Vanilla, lelaki itu berpesan, "Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai sampai di kampus."


Vanilla mengangguk kemudian Ia keluar dari ruang perawatan Hawra karena Joana sudah menunggu di area parkir.


*****


"Tidak risih juga ya kuliah dengan perut yang semakin membesar,"


"Mungkin sebentar lagi ambil jatah libur sendiri,"


Ada saja mulut-mulut pedas yang mengomentari keputusan Vanilla yang masih ingin berkuliah ditengah kondisinya yang lagi hamil. Padahal perutnya belum terlalu besar dan tidak begitu terlihat juga karena Ia memakai dress yang longgar. Tapi mereka terlalu detail memperhatikan.


"Cleaning service itu cari masalah denganmu ya. Aku heran, ada dendam apa sih dengan mu?"


Memang yang tadi berbisik-bisik itu adalah Anneth dan temannya yang sedang menyapu lantai dimana Vanilla dan Joana baru saja melangkah.


Vanilla dingin saja menanggapi. Ia menahan hasrat ingin menarik rambut Anneth karena biar bagaimana pun Ia masih punya rasa malu dan harga diri yang harus dijaga. Jhico pun tidak akan suka bila Ia bertengkar apapun alasannya.


"Hai, Vanilla."


"Hai, Renald."


"Buru-buru sekali,"


"Dosen kami sudah datang, jelas lah buru-buru." entah sejak kapan Joana jadi sebal melihat Renald. Karena yang Ia tahu Renald dan Anneth berteman baik, terlihat dari kedekatan mereka selama ini. Dan Anneth kerap sekali memandang Vanilla sebagai musuh oleh sebab itu Ia tidak suka dengan keduanya.


"Aku masuk dulu," ujar Vanilla pada Renald. Renald menahan tangan Vanilla sebelum melangkah lebih jauh.


"Ada apa?"


"Kenapa kita tidak bisa seperti dulu? Katamu, kita bisa menjadi teman 'kan?"


Joana menatap Renald dengan sorot marah sementara Vanilla bingung. Ia cukup terkejut mendengar Renald bicara seperti itu. Padahal sebelumnya mereka sudah terbiasa tidak dekat, tepatnya setelah Vanilla dan Jhico berkomitmen untuk saing menjaga cinta satu sama lain. Jadi apa yang dipermasalahkan?


"Ya, teman. Tapi memang sulit kalau ingin seperti dulu. Canggung dekat denganmu sekarang," aku Vanilla tanpa basa-basi.


"Nanti kalau Vanilla dan kamu dekat seperti dulu, wanita yang selama ini dekat denganmu akan tidak suka melihat kedekatan kamu dan Vanilla,"


"Siapa?"


"Entah, coba pikir sendiri." jawab Joana dengan acuh seraya mengangkat bahunya.


"Anneth? dia hanya temanku. Dulu aku sempat ingin menjadikan dia lebih dari teman tapi ternyata aku belum bisa melupakanmu, Vanilla."


Joana segera menarik tangan Vanilla untuk masuk ke dalam kelas. Ia akan melindungi Vanilla dan juga pernikahannya. Apa maksud Renald mengatakan hal itu? agar Vanilla dekat lagi dengannya?


Sebelum benar-benar pergi dari hadapan Jhico, Joana mendesis dan di dengar oleh Renald samar-samar.


"Lelaki sinting!"


 


Aku up malem bgt yak wkwk, maapin :) tp tetep mau kasi like, vote, dan komen 'kan? plisss masih yaaa :( *ngarep 🤣

__ADS_1


Dah singgah ke sini?👇 kl blm, cusss singgah😆



__ADS_2