
"Hallo, Mumu. Aku sudah bangun tidurrl (tidur) ini. Apa terrllalu (terlalu) malam aku menelpon Mumu?"
"Tidak, Sayang. Griz hati-hati di rumah ya. Mumu menginap di sini,"
"Iya, aku sudah tahu darrli (dari) Nada tadi, Mu. Tapi Mumu tidak apa-apa 'kan? adikku juga sehat?"
"Mumu baik-baik saja. Hanya kelelahan kata dokter. Besok sudah bisa pulang. Doakan ya,"
"Pasti, Mu. Aku tidak mau pisah dengan Mumu terrlalu (terlalu) lama. Maaf ya, Mu. Setelah berrliburrl (berlibur) Mumu malah sakit,"
"Hei, kenapa bicara begitu? Mumu sakit bukan karena berlibur. Memang kondisi Mumu saja yang lemah,"
"Tapi kata Dokterrl (dokter) Mumu kelelahan,"
Vanilla mengangguk saja, tanpa suara. Ia tidak sadar tadi mengatakan pada anaknya apa yang dikatakan Dokter. Seharusnya Ia simpan saja agar Grizelle tak merasa bersalah seperi itu karena merasa permintaan liburannya telah membuat kondisi tubuhnya menurun hingga terpaksa harus mendapat perawatan sebentar di rumah sakit.
Ia berdehem sebentar kemudian menyuruh anaknya itu untuk melanjutkan tidurnya lagi.
"Aku barrlu (baru) bangun, Mu,"
"Oh iya, Grandma sudah sampai,"
"Grrlandma ingin datang ke sini?"
"Iya, untuk menemanimu Grandma yang menginginkannya"
"Yeayyy Grrlandma mau datang,"
"Iya, Griz baik-baik dengan Grandma ya. Jangan nakal, Mumu hanya sebentar di sini,"
"Iya, Mu. Aku tidak perrlnah (pernah) nakal,"
Vanilla tersenyum ingin sekali mengusap kepala anaknya yang telah membuat Ia kagum dengan sifat pengertiannya itu.
"Ya sudah, Griz istirahat dengan Grandma kalau sudah datang nanti. Bye, Sayang,"
"Bye, Mumu. Cepat sehat dan cepat pulang,"
Klik
Grizelle menyelesaikan panggilannya kemudian mengembalikan ponsel Nada kepada pemiliknya. Pikirnya, biar sang ibu segera beristirahat, tak terlalu lama bicara padanya, maka Ia harus secepat mungkin mengakhiri pembicaraan mereka dan lagipula tak ada lagi yang harus mereka bicarakan. Ia heran kalau di telepon, tak terlalu banyak topik obrolan, tapi giliran bertatap muka, seolah tak pernah kehabisan topik.
"Sudah tenang sekarang?" tanya Jhico dengan lembut yang langsung dijawab anggukan dari istrinya.
"Iya, aku sudah dengar suaranya,"
"Ya sudah, kamu istirahat sekarang,"
Vanilla mengangguk kemudian matanya terpejam perlahan. Usapan di keningnya membuat Ia tenang dan nyaman sekali.
***
__ADS_1
"Nada, Grrlandma akan datang. Yeaay,"
Nada tersenyum melihat riangnya anak itu. Ia senang Grizelle tak lagi terlihat sedih karena Mumunya sakit. Meskipun Ia tahu, di lubuk hatinya pasti masih ada perasaan itu tapi saat ini sedikit tertimbun dengan kehadiran Neneknya yang akan menemani Ia malam ini.
"Ayo, kita tunggu Grandma di lantai bawah,"
Nada mengajak Grizelle untuk keluar dari kamarnya guna menyambut kedatangan Rena.
Mereka duduk menunggu di ruangan yang berhadapan dengan pintu rumah yang berdiri kokoh itu.
"Semoga Grrlandma tidak lama tiba di sini,"
"Sudah malam lalu lintas tidak terlalu padat, Griz. Pasti Grandma cepat sampai di sini,"
Grizelle mengangguk dan dengan setia menunggu sampai akhirnya tak lama dari pembicaraannya tadi bersama Nada mengenai lalu lintas, Rena datang.
Grizelle berseru menyambutnya. Ia semakin senang ketika melihat ada kakeknya juga.
"Grrlandpa tidak bawa She ya?" tanya anak itu pada kakeknya yang terlihat tidak mengikut sertakan kucing miliknya yang sudah Ia beri nama sesuai permintaan Raihan.
"Ya ampun, Sayang. Maaf, Grandpa tidak memikirkan She lagi setelah tahu Mumu sakit dan kamu di rumah tanpa Mumu dan Pupu,"
"Tidak apa, Grrlandpa. Lain kali kalau datang ke sini, bawa She ya, Grrlandpa,"
"Okay, pasti Grandpa ajak She ke sini,"
"Griz sudah makan malam?"
"Kenapa belum tidur?"
"Aku barrlu (baru) bangun tidurrl (tidur). Aku tidurrrl sorrle ( tidur sore) tadi setelah berrlmain (bermain),"
"Grrlandpa pasti barrlu (baru) pulang kerrlja (kerja) ya? lebih baik Grrlandpa tidurrl (tidur) karrlena (karena) pulang kerrlja (kerja) pasti lelah,"
Raihan mengacak lembut rambut cucu ke empatnya itu. Ia menggeleng tak ingin istirahat disaat cucunya saja masih terlihat semangat sekali belum mengantuk.
"Kita menonton saja, bagaimana?" tawar Rena yang diangguki cepat oleh Grizelle.
"Tapi Grandma dan Grandpa Griz makan saja dulu," ujar Nada pada kedua orangtua dari Nona pemilik rumah itu.
Raihan dan Rena menggeleng seraya tersenyum hangat. "Kami sudah makan, Nada,"
Rena makan di rumah sementara Raihan di kantornya. Maka sebaiknya menonton televisi saja sembari menanti rasa kantuk.
"Besok Griz libur 'kan?"
"Iya, lusa aku masuk sekolah,"
Bingung harus melakukan apa bersama cucunya yang belum ingin tidur, Rena akhirnya mengajak Grizelle menonton televisi saja. Dan Raihan pun akhirnya ikut menonton.
"Griz, Kakek dan Nay-Nay sering datang ke sini?"
__ADS_1
Raihan memang tak nyaman berlama-lama di depan televisi tanpa bersuara. Maka Ia akan menghadirkan topik obrolan bersama cucunya sesekali.
"Hmm...tidak juga, Grrlandpa. Kenapa memangnya?"
"Tidak, hanya bertanya. Grandpa merasa bersalah saja karena belakangan ini jarang bertemu kamu,"
"Jarrlang berrltemu (jarang bertemu)? malah kita serrling berrltemu (sering bertemu), Grrlndpa,"
"Grandpa rasa tidak. Karena belakangan ini Grandpa memang sibuk sekali,"
"Waktu itu Grrlandpa datang membawa She ke sini setelah She disekolahkan. Itu belum lama kita berrltemu (bertemu),"
"Grandpa sudah lupa mungkin, Sayang. Ya maklum saja, usianya sudah tua,"
Grizelle tertawa mendengar ucapan neneknya kemudian Ia menatap Raihan yang memicingkan matanya ke arah Rena.
"Sama saja. Kamu juga sudah tidak muda lagi. Kalau kamu lupa, cucumu empat, sebentar lagi lima,"
Rena akhirnya tertawa juga mendengar balasan dari suaminya. Candaan tentang umur memang sudah sering mereka gunakan karena memang kenyataannya mereka sudah punya cucu yang artinya tak muda lagi.
******
Karina tersenyum menatap bekal anaknya yang telah Ia siapkan. Pagi ini Ia akan mendatangi Jhico di kliniknya dan Ia akan memberikan sarapan yang telah Ia siapkan pada Jhico.
"Untuk siapa?"
"Jhico,"
"Kamu ingin bertemu dengannya?"
Karina mengangguk atas pertanyaan suaminya. Ia meminta suaminya agar segera bergabung di meja makan bersamanya dan sang Ibu.
"Titipkan salam rindu ibu pada Jhico ya. Kami masih kerap berkirim pesan atau telepon tapi sudah jarang sekali bertemu,"
"Iya, Ibu. Nanti akan aku sampaikan," Karina tersenyum pada Ibunya. Ia tahu sedekat apa Hawra dengan Jhico. Bahkan bisa dikatakan Jhico adalah cucu yang paling dekat dan perhatian padanya. Wajar saja karena sejak kecil jika kedua orangtuanya sibuk, Jhico selalu bersama Hawra.
*****
"Dokter Jhico hari ini tidak datang untuk praktik, Nyonya. Karena Nona Vanilla sedang berada di rumah sakit,"
Alis Karina bertaut mendengar berita itu. Ia sudah yakin sekali dengan kehadiran Jhico di klinik tapi ternyata putra tunggalnya itu sedang tidak melakukan praktik melainkan bersama Istrinya yang tengah dirawat di rumah sakit.
"Baik, terimakasih,"
"Sama-sama, Nyonya," receptionist mengangguk sopan pada Karina sebelum wanita itu keluar dari klinik.
Karina berdecak pelan, menatap food bag yang Ia jinjing saat ini. Ia menghela napas pelan kemudian masuk ke dalam mobilnya dan Ia langsung menghubungi Jhico.
Ia baru tahu tadi kabar mengenai Vanilla. Kalau Ia tidak datang ke klinik, mungkin Ia tidak tahu apapun.
"Hallo, Ma,"
__ADS_1
"Kamu tidak memberi tahu pada Mama kalau Vanilla sedang mendapat perawatan di rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi, Jhico? Apa Vanilla baik-baik saja? dan bagaimana kondisi janinnya?"