
"Daddy, sebelum kita pulang, ke pantai dulu ya,"
"Iya, nanti,"
"Sekarang, Dad,"
"Nanti saja sore hari,"
"Tapi ini sudah sore. Sore kapan lagi, Dad? nanti malam kita akan pulang,"
Devan meraba nakas untuk mencari ponselnya sementara matanya masih fokus menonton televisi dimana siarannya mengikuti selera anaknya.
Setelah melihat waktu di ponsel, Ia juga melihat waktu di arloji kamar.
"Benar sudah sore 'kan? aku tidak bohong, Dad. Lagipula kenapa Daddy tidak sadar kalau sekarang sudah sore. Daddy terlalu serius bermain game dan menonton televisi,"
"Daddy bekerja salah, menonton salah, bermain game juga begitu. Selalu salah yang Daddy lakukan ya, Auris?"
Devan jengah dengan cerewet putrinya yang sering sekali memberi komentar tentang apa yang Ia lakukan.
"Ya sudah, ayo kita ke pantai,"
"Yeaay, ayo, Dad, Mom," Ia mengajak ayah dan ibunya untuk pergi ke pantai.
"Sampai di sana mau apa, Auris? bermain volley lagi? ah membosankan sekali,"
"Hih, aku tidak mengajakmu," Auristella menjulurkan lidahnya pada Adrian yang berbaring dengan remote televisi yang ada dalam genggamannya.
Ia berancang-ancang melempar remote di tangannya tapi karena sadar ayahnya tengah memperhatikan, maka tak jadi Ia lakukan. Ia pun tidak tega bila benar-benar melempar benda tersebut pada Aurisella. Adiknya bisa memar.
"Ian dan Ean tidak mau ikut?"
Andrean dan Adrian yang tengah menonton sama-sama menggeleng. Mereka lebih baik di kamar menonton karakter hero favorit mereka daripada pergi ke pantai.
*****
Setibanya di pantai, Auristella langsung mengajak Daddynya untuk bermain ombak.
Devan menggendongnya lalu membawa Auristella yang dalam gendongannya untuk berdiri sedikit ke tengah pantai. Ketika gelombang datang, Devan sedikit menundukkan tubuhnya seolah menyerahkan Auristella pada ombak. Auristella tertawa kencng ketika tubuhnya beberapa kali diayun oleh ayahnya.
Mereka sibuk bermain berdua sementara Lovi duduk saja di tepi sembari mengabadikan momen suami dan anak perempuan mereka.
Setelah puas bermain dengan ombak, Auristella mengajak ayahnya untuk menaiki jetsky. Devan menurutinya. Ia mengendarai jetsky sementara Auristella Ia tempatkan di depannya.
__ADS_1
Auristella tampak menikmati keseruan bermain di pantai. Jarang sekali Ia bisa bersentuhan dengan air pantai selain ketika berlibur.
*****
"Kita buat pasta instan. Kamu mau tidak?"
Adrian mengguncang lengan kakaknya yang serius menatap televisi.
Andrean menggeleng. Ketika Adrian akan beranjak untuk membuat pasta instan yang dikatakannya tadi, Andrean melarangnya.
"Nanti saja, tunggu Mommy datang. Pasta instan itu harus menggunakan air panas,"
"Iya, aku tahu menggunakan air panas. Lalu kenapa?"
"Tidak boleh, Adrian. Tunggu mommy kalau mau buat itu. Air panas bahaya untuk anak kecil,"
Adrian mendengus tapi tetap menuruti apa yang dikatakan kakaknya. Ia tak lagi memaksakan diri untuk membuat pasta instan meskipun saat ini Ia ingin sekali. Tapi apa yang dikatakan kakaknya memang benar. Sekarang ayah dan ibu mereka sedang tidak ada. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya karena hanya ingin membuat pasta instan, Mommy dan Daddy nya bisa marah sekaligus khawatir sekali.
"Tapi aku ini lapar sekali, Ean," keluhnya kemudian seraya memegangi perutnya.
"Sebelumnya kamu sudah makan. Jangan mengeluh lapar," ucap Andrean seraya melirik kesal. Sebelum ayah dan ibunya menemani Auristella mengunjungi pantai, mereka sudah makan bersama.
"Tapi sekarang sudah lapar lagi,"
Mata Adrian seketika berbinar. Ia baru ingat kalau Mommy nya selalu mempersiapkan keperluan untuk liburan secara maksimal termasuk untuk makanan ringan.
Adrian segera melihat-lihat snack atau makanan ringan yang dibawa Mommy nya untuk berlibur.
"Woahh banyak sekali. Kamu mau apa, Ean?"
"Tidak, aku tidak lapar,"
"Hah ya sudah,"
Kesal mendengar jawaban singkat dari kakaknya, Adrian mendengus. Ia memilih untuk mengenyangkan perutnya sendiri.
*****
"Kemana lagi, Auris?" tanya Devan yang mulai lelah menemani anaknya bermain. Sedari tadi tangannya ditarik kesana kemari oleh Auristella.
"Aku mau menaiki itu, Dad," ucapnya seraya menunjuk perahu berbentuk pisang.
Lovi melarang langsung. "Sudah cukup bermain airnya. Sekarang kita kembali ke penginapan ya. Kasihan kedua kakakmu kalau ditinggal terlalu lama,"
__ADS_1
"Huh siapa suruh mereka tidak ikut saja,"
"Hei jangam bicara begitu. Biarkan saja mereka memilih untuk tetap di penginapan. Mungkin mereka lelah jadi memilih unuk istirahat di sana,"
"Tapi tadi mereka berdua menonton televisi, Mom,"
"Lalu kamu inginnya melihat kedua kakakmu belajar, Auris? sekarang lagi berlibur, biar saja mereka menikmati waktu liburan sesuka hati,"
Auristella melengkungkan bibirnya ke bawah mendengar ayahnya bicara seperti itu. "Kenapa mereka tidak ikut kita saja ke sini? malah di penginapan. Aneh,"
"Mereka inginnya di sana. Ya biar saja," kata Lovi tak mengerti dengan Auristella yang protes mengenai pilihan kedua kakaknya yang lebih memilih untuk tetap di penginapan, tidak ingin ikut ke pantai.
"Tapi aku jadi tidak bisa lama-lama di pantai karena mereka di sana, Mommy jadi khawatir,"
"Nanti kalau kita berlibur ke sini lagi, pasti kembali lagi ke pantai. Sudah, jangan cemberut seperti itu," bujuk Daddynya yang tak langsung meluluhkan hati Aurisrlla. Ia kesal pada kedua kakaknya yang tidak ikut ke pantai. karena mereka di penginapan, Lovi jadi mengajaknya pulang sekarang karena Lovi merasa khawatir pada mereka.
Lovi dan Devan mengajak Auristella pulang. Mau tak mau Auristella menuruti. Meskipun Ia belum merasa puas menghabiskan waktu di pantai dengan bermain air.
*****
"Huh Auris pamer foto liburannya terus," keluh Vanilla menatap foto-foto yang dikirimkan Auristella padanya. Ia yakin bukan Lovi yang mengirim tapi anaknya itu dengan niat hati ingin memberi tahu pada Grizelle bagaimana suasana liburannya.
"Iya, aku 'kan jadi mau liburrlan (liburan) juga,"
"Sabar, sebentar lagi Griz juga berlibur,"
"Oh iya, aku juga ingin liburrlan (liburan) Hahaha memang kamu saja yang bisa berrliburrl (berlibur), Aurrlis (Auris),"
Grizelle berkacak pinggang dan tertawa seolah mengejek Auristella yang kini berbeda negara dengannya.
"Jangan sombong begitu. Barangkali liburan Auris lebih menyenangkan,"
"Liburlranku (liburanku) nanti juga menyenangkan, Mu. karrlena (karena) aku perrlginya berrlsama (perginya bersama) Mumu dan Pupu," katanya seraya tersenyum manis. Kepalanya mulai terisi dengan bayang-bayang liburan yang akan Ia lewati nanti. Tak sabaran sekali ingin berlibur bersama kedua orangtuanya dan adiknya yang masih dalam perut Vanilla.
"Kalau dengan Mumu dan Pupu sudah pasti menyenangkan?"
"Iya, tapi sebenarrlnya (sebenarnya) setiap berrliburrl (berlibur) itu selalu menyenangkan untukku,"
"Yeaay yang mau berlibur," ledek Vanilla seraya menggelitiki perut putrinya yang membuat Ia langsung terpingkal-pingkal dan menghindar dari tangan jahil sang ibu.
"Mumu, jangan digelitiki. Aku tidak kuat, geli," masih dengan tawa, Ia memohon pada Mumunya agar tak lagi membuat Ia kegelian.
Vanilla akhirnya diam, tak lagi menjahili Grizelle yang kini tersengal tapi masih ada sisa tawa yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Mumu ini menyebalkan sekali,"