Nillaku

Nillaku
Nillaku 282 Grizelle malas bertemu Mumu


__ADS_3

Jhico beranjak menghampiri sang putri untuk membujuknya. Ia melihat Grizelle berbaring terlungkup tapi sepertinya tidak menangis. Hanya merajuk saja rupanya.


"Griz, nanti makanan punyamu menangis kalau tidak dimakan,"


"Biarrlkan (biarkan)," katanya singkat.


Jhico menghela napas pelan. Ia duduk di dekat kaki Grizelle. Lelaki itu meletakkan kaki putrinya di atas pahanya kemudian Ia mengusapnya dan kembali bicara, "Ayo, dimakan. Kamu tidak kasihan pada makananmu? dia menangis itu."


Grizelle merengek dan mengulang kata yang Ia ucapkan sebelumnya. Jhico lagi-lagi menghembuskan napas.


"Jangan merajuk begitu. Mumu melarang Griz karena Mumu sayang pada Griz. Mumu tidak mau Griz merasakan sakit. Kamu masih anak kecil tapi menyukai saus sampai seperti itu,"


"Mumu juga suka pedas," ucapnya pada sang ayah. Suaranya kurang jelas karena Ia bergumam dan kepalanya tenggelam pada bantal sofa.


"Iya, tapi Mumu sudah dewasa. Mumu juga akan Pupu tegur kalau sudah berlebihan. Tidak boleh menyukai sesuatu terlalu berlebihan apalagi kalau sampai membuat sakit,"


"Nanti aku akan dewasa,"


Jhico melipat bibirnya ke dalam. Grizelle bisa saja menyahutinya. Kalau sedang merajuk memang seperti itu. Dicari celahnya agar Ia bisa mendapatkan pembenaran atas apa yang Ia lakukan.


"Tapi sekarang Griz masih kecil 'kan?"


Grizelle terlihat menganggukkan kepalanya pelan. Jhico menggelitiki telapak kaki anaknya yang membuat anak itu menggeliat geli.


"Ayo, makan dengan Pupu dan Mumu. Jangan merajuk lagi. Kalau tidak mau makan, akan Pupu gelitiki terus kakinya," ancamnya agar Grizelle segera bangkit meninggalkan sofa dan kembali ke ruang makan.


"Aku malas berrltemu (bertemu) Mumu,"


"Tidak boleh begitu. Nanti kalau Mumu juga malas bertemu Griz lalu Mumu memilih bekerja lagi, bagaimana?"


Grizelle segera duduk dan melipat kakinya. Ia menggeleng tegas dan menatap ayahnya tidak suka. "Tidak boleh. Pupu mau menyurrluh (menyuruh) Mumu bekerrlja (bekerja)?"


"Tidak, kalau Griz mau makan sekarang. Tapi kalau Griz masih merajuk, Pupu akan meminta Mumu kerja saja biar tidak bertemu Griz karena kata Griz tadi, malas bertemu dengan Mumu,"


"HAAA TIDAK, TIDAK BOLEH, PUPU," Serunya kesal dan Ia menggeleng keras-keras. Likirnya Jhivo akan nenar-benar melakukan apa yang Ia katakan tadi, maka Ia cepat-cepat meninggalkan sofa dan kembali ke ruang makan.


Jhico masih terduduk di sofa. Ia terkekeh pelan, menertawai anaknya yang terlihat kesal sekali saat Ia mengatakan akan menyuruh Vanilla kerja sebab Grizelle malas bertemu dengannya.


Padahal, tidak mungkin Ia melakukan itu. Niatnya berujar seperti itu ingin membuktikan apa benar Grizelle malas bertemu dengan Ibunya. Tapi ternyata Grizelle marah besar, tidak terima bila Vanilla bekerja lagi. Artinya Grizelle tidak ingin melewatkan satu haripun tanpa Vanilla.


"Mumu," panggil Grizelle ketika tiba di tempat yang sama dengan Ibunya yang duduk sekarang. Ia duduk di samping Vanilla, menatap Vanilla.

__ADS_1


"Mumu mau bekerrlja (bekerja) lagi karrlena (karena) aku merrlajuk (merajuk) ya?"


Vanilla menatapnya bingung. Jelas saja bingung karena anaknya begitu kembali langsung mengajukan pertanyaan seperti itu.


"Mumu tidak boleh bekerrlja (bekerja) lagi ya. Apalagi hanya karrlena (karena) tidak mau berrltemu (bertemu) aku yang suka merraljuk (merajuk),"


Vanilla terkekeh pelan. Sepertinya ada yang dikatakan Jhico pada anak mereka tadi. Dan itu adalah tentang dirinya yang bekerja maka Grizelle sampai bertanya seperti itu.


"Kalau Mumu kembali bekerja, itu bukan karena ingin menghindari Griz atau tidak mau bertemu dengan Griz," jelasnya pada sang putri.


"Memang Mumu mau bekerrlja (bekerja) lagi?"


"Belum tahu, Sayang. Adikmu saja belum lahir,"


Grizelle mengangguk. Ia lega mendengarnya. Jadi, kalaupun Vanilla bekerja itu bukan karena menghindari dirinya.


Pupu kembai bergabung bersama anak dan istrinya. Langsung disambut oleh Grizelle dengan perkataan.


"Kata Pupu tadi, kalau aku merrlajuk terrlus (merajuk terus), Pupu akan menyurrluh (menyuruh) Mumu untuk bekerrlja (bekerja),"


Terdengar seperti sedang mengadu pada Ibunya mengenai apa yang dikatakan ayahnya tadi.


"Itu ada saus keju. Nanti wajahku jadi ada arrloma (aroma) kejunya,"


Vanilla terkekeh. Ia segera membersihkannya dengan tissue. Kemudian Ia melakukan apa yang ingin Ia lakukan tadi. Yaitu mengecup pipi anaknya.


"Jadi Pupu bohong ya, Mu?"


"Tidak bohong. Kalau Griz memang merajuk seperti tadi lagi, akan Pupu suruh Mumu untuk bekerja lagi. Daripada di rumah. Griz malas bertemu kamu. Tadi dia bilang seperti itu,"


Vanilla memasang raut sedih. Ia sampai menghentikan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah.


Grizelle merengek tak ingin melihat sedih di wajah Ibunya. Ia malah ikut sedih dan matanya berkaca.


"Aku tidak serrlius (serius) mengatakannya. Mumu, maafkan aku ya. Aku tidak akan bicarrla (bicara) itu lagi,"


"Griz menyuruh Mumu menjauh ya supaya Griz tidak melihat Mumu lagi?"


"Haaa tidak, Mumu. Aku tidak serrlius (serius) mengatakannya. Perrlcaya (percaya) lah padaku, Mu,"


Melihat anaknya yang ingin menangis karena sepertinya merasa bersalah, Vanilla cepat-cepat mengubah ekspresinya menjadi tersenyum manis. Wajahnya tidak lagi merengut sedih. Tadi Ia hanya pura-pura saja karena penasaran dengan reaksi Grizelle ketika melihatnya yang sedih dengan perkataannya.

__ADS_1


"Ya sudah, kita lanjut makan lagi,"


"Tapi mumu tidak marrlah (marah) 'kan?"


"Tidak, tadi 'kan Griz yang marah pada Mumu,"


"Iya, aku minta maaf,"


Anak itu sampai menyatukan kedua tangannya di depan dada dan wajahnya benar-benar tulus meminta maaf pada Ibunya.


"Iya, Sayang. Mumu maafkan Griz. Sekarang Griz makan lagi. Sausnya sudah Mumu buang tadi. Tapi masih ada sedikit biar Griz tetap bisa merasakan pedasnya,"


Jhico terkekeh pelan seraya menggeleng. Istrinya ternyata cukup jahil juga membuat anak mereka sampai ingin menangis seperti itu karena rasa bersalahnya. Padahal niat Vanilla tidak seperti itu. Ia pun tidak menyangka kalau anaknya akan bereaksi lebih ketika melihat raut wajahnya yang sedih. Terbukti, Grizelle sangat menyayanginya dan tak ingin sedikitpun melihat sang ibu merasakan sedih.


"Griz mau mac and cheese punya Pupu?"


"Mau,"


Ia membuka mulutnya lebar menerima suapan macaroni dan saus keju dari sang ayah.


"Lezat ya?"


"Iya, aku suka,"


"Ini, buat Griz saja. Pupu sudah kenyang,"


"Benarrl (benar) Pupu sudah kenyang?"


"Iya, benar. Buat Griz saja"


Grizelle mengangguk dan segera menggeser macaroni and cheese itu mendekat padanya dan Ia segera menyuap ke dalam mulut.


"Hmm lezat, saus kejunya banyak. Rrlasanya (rasanya) tidak ada yang berrlebihan (berlebihan),"


"Hamburgernya dihabiskan juga ya,"


"Iya, Mu, kalau perrlutku (perutku) masih muat,"


"Hamburgernya menangis nanti kalau tidak dihabiskan,"


Grizelle mengangguk. Biar keduanya habis dimakan olehnya, Ia makan macaroni berbarengan dengan hamburger. Ia meletakkan macaroni ke dalam hamburger miliknya lalu  dimakannya langsung.

__ADS_1


__ADS_2