Nillaku

Nillaku
Nillaku 172


__ADS_3

Pagi ini Vanilla menjalani kesibukannya sebagai seorang Istri dan Ibu seperti biasanya. Ia bangun pagi-pagi sekali. Sebenarnya rasa kantuk masih menyerangnya tapi kewajiban harus segera diselesaikan.


Vanilla mengikat asal rambutnya lalu beranjak turun dari ranjang. Saat Ia akan berjalan keluar dari kamar, Grizelle terdengar melenguh. Vanilla langsung menatap anaknya.


Grizelle bangun dan langsung menggeliat. Vanilla segera menggendong anaknya. Kalau Grizelle sudah bangun seperti ini, maka Ia harus ditemani Grizelle saat memasak. Biasanya Grizelle akan diam di depan dapur. Karena kalau membiarkan Grizelle yang sudah bangun dengan Jhico yang masih terlelap, Vanilla merasa khawatir meskipun sebenarnya Grizelle belum bisa berpindah-pindah tempat.


"Woahhh Griz sudah bangun ya," Bibi menyapa Grizelle yang matanya masih terlihat menyipit.


"Iya, Bi. Mau menemani aku memasak,"


"Bibi ambil dulu tempat tidurnya biar bisa tidur lagi,"


Vanilla harus memasak dan Grizelle tentu saja tidak bisa digendong nya. Oleh sebab itu Grizelle harus diletakkan di tempat tidurnya yang biasa digunakan Grizelle bila menemani Vanilla memasak atau melakukan hal-hal lain.


*****


Jhico terbangun dan Ia mengerinyit bingung saat tidak menemukan anaknya. Ia segera keluar dari kamar dan menuju dapur karena Ia tahu istrinya pasti sudah berada di sana.


Ia melihat Grizelle yang tidak ingin dibiarkan sendiri. Grizelle tidak ingin lepas dari Vanilla.


"Griz biar denganku saja, Nilla."


"Ya sudah, aku belum melakukan apa-apa. Lagipula tidak biasanya dia begini,"


"Mungkin baru bangun, Nilla. Jadi masih ingin dimanja, ingin digendong terus,"


Jhico segera membawa anaknya masuk ke dalam kamar. Kemudian lelaki itu mengambil stroller Grizelle.


"Lebih baik kita keliling saja, Griz. Cari udara segar sambil menunggu Mumu selesai memasak," ujarnya pada Grizelle.


Ia mengatakan ingin pergi pada istrinya. "Okay, jangan terlalu lama ya. Aku harus memandikan Griz seperti biasa sebelum berangkat kuliah,"


"Aku saja yang memandikannya nanti. Kalau kamu sudah selesai memasak lalu ingin langsung pergi ke kampus, tidak apa. Biar aku yang memandikan Griz,"


"Jangan, aku saja."


"Apa bedanya, Nilla?"


"Kamu lama kalau memandikan Griz. Kamu ingat tidak kamu pernah mandikan Griz lalu Griz sampai kedinginan karena kamu terlalu lama,"


"Itu karena dia pup, Nilla. Jadi harus benar-benar dibersihkan,"


"Sudah, kalian pergi sana. Aku sedang sibuk memasak ini,"


Jhico terkekeh saat istrinya menggerutu ketika kegiatannya diganggu dengan perdebatan yang Ia buat.


Jhico beranjak keluar dari unit apartemen, sementara Vanilla melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Vanilla berangkat kuliah jam berapa?"


"Seperti biasa, Bi."

__ADS_1


"Kalau sudah dekat waktunya, biar Bibi saja yang menyelesaikan,"


"Tidak, Bi. Aku masih bisa menyelesaikannya, waktunya masih lama,"


Karena Grizelle sempat melarang Mumu nya memasak akhirnya beberapa menit terbuang untuk membujuk Grizelle sampai akhirnya Jhico datang sebagai penolongnya.


******


Jhico membawa anaknya yang berada di dalam stroller menjelajahi street food pagi ini. Ia ingin mencari-cari cake yang akan Ia makan sebelum makanan berat nanti.


"Griz, menurutmu----"


Tin


Tin


Tin


"Griz, Uncle,"


"Eh--"


Jhico menoleh ke belakang setelah dibuat terkejut dengan bunyi klakson. Di belakangnya ada Adrian dan Devan yang tengah menunggangi sepeda mereka masing-masing.


Devan menegur anaknya yang masih saja membunyikan klakson hingga orang disekitar mereka menatapnya.


"Jangan menyebalkan ya, Adrian. Daddy tinggal kamu sendirian di sini nanti," ancamnya pada Adrian. Adrian langsung terbahak mendengar ucapan Daddy nya.


"Kebetulan yang sangat tidak disangka, Uncle. Aunty Vanilla dimana?"


"Ada di apartemen,"


"Daddy ingin beli makanan dulu. Lapar,"


Devan membiarkan anaknya bersama Jhico sebentar sementara dirinya pergi mencari makanan yang sedang Ia inginkan pagi ini.


"Uncle tidak mencari makanan juga?"


"Uncle mau cari cake. Kamu mau apa?"


"Hmm...tidak, aku tidak mau apa-apa,"


"Adrian!" Devan memanggil anaknya.


"Tadi mau beli macaron 'kan? cepat kemari!" titah Devan pada Adrian. Anaknya itu langsung mendekat ke stand macaron yang sedang disinggahi Devan.


"Katanya tadi tidak mau apa-apa. Hufft Adrian...Adrian,"


Jhico pun tak ingin diam saja. Ia mencari cake-cake kesukaannya. Sudah lama Ia tidak ke street food dekat apartemen nya ini. Ia sudah rindu dengan makanan nya.


Setelah Ia, Devan, dan Adrian menemukan makanan yang diinginkan, Adrian dan Devan pamit ingin kembali ke rumah mereka.

__ADS_1


Sebelum benar-benar pulang, Adrian mencium Grizelle yang sepertinya sudah ingat dengan Adrian karena Ia menatap Adrian dengan senyum, bukan wajah bingung setelah tiba-tiba saja Adrian mencium pipi nya terus.


"Kalian bersepeda lumayan jauh ya. Sampai menyasar ke sini,"


"Adrian mau ke sini dengan harapan bisa bertemu Griz. Ternyata Tuhan mengabulkan,"


"Tidak mau ke apart---"


"Tidak usah, Co. Nanti kalau sudah ke sana, Adrian tidak mau pulang, sementara dia harus belajar untuk persiapan ujian dua hari lagi,"


"Sudah ujian lagi. Kamu semakin besar saja, Adrian,"


"Tentu saja, Uncle. Namanya makhluk hidup pasti tumbuh dan berkembang,"


"Hahahah iya juga,"


"Oh ya, kepastian kalian pindah kapan?" tanya Devan yang hampir lupa bertanya rencana selanjutnya dari Jhico usai kemarin melihat perkembangan rumahnya yang sedang dibenahi.


"Uncle jadi pindah ke rumah baru? tidak tinggal di apartemen lagi?"


"Iya, Adrian. Nanti sering-sering datang ke rumah Griz ya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahmu,"


"Okay, tapi kalau aku datang ke sana, aku tidak mau ada Keyfa ya, Uncle."


"Siapa Keyfa?"


Adrian menatap Devan yang bertanya bingung. Jhico terkejut mendengar permintaan Adrian yang tidak ingin ketika Ia sedang berkunjung ke rumah Grizelle, ada Keyfa juga yang berkunjung.


"Anak perempuan, dia tidak baik, Dad."


"Dia baik, Adrian."


"Tidak, Uncle. Waktu itu, Griz menangis karena Keyfa merebut boneka yang dipegang Griz. Dia beberapa kali membuat Griz menangis,"


"Kamu juga sering membuat Auris menangis. Artinya kamu juga tidak baik,"


"Aku baik, Dad. Aku berbuat begitu pada adikku sendiri lagipula niatnya hanya ingin membuat Auris kesal lalu setelah itu biasanya aku meminta maaf pada Auris. Sementara dia melakukan itu bukan dengan adiknya, tapi dengan orang lain, anaknya Uncle Jhico, dokter yang pernah membantu dia,"


Devan menutup mulut Adrian yang masih akan melanjutkan ucapannya. Devan menatap Jhico yang diam dengan wajah datar mendengar kalimat sarkas Adrian yang bertubi-tubi.


Devan tidak kenal dengan anak yang bernama Keyfa itu. Tapi sepertinya Adrian benar-benar kesal dengan sosoknya sampai tidak ingin bertemu.


"Padahal kamu dan Keyfa bisa bermain bersama,"


"Tidak mau! aku tidak mau bermain dengan Keyfa. Cukup Griz, Andrean, dan Auris saja teman bermainku, tidak apa,"


"Mungkin kamu belum terlalu mengenalnya, Adrian," Jhico berusaha membuat hati keponakannya luluh, dan berhenti kesal dengan Keyfa.


"Aku sudah kenal dan aku sudah tahu dia seperti apa,"


 -------

__ADS_1


Ucett Adrian jg kzl bgt keknya ama Keyfa pdhl Keyfa gk salah apa-apa sama dia ya😂


__ADS_2