
Karina sebenarnya juga bingung ingin memberikan saran hadiah berupa apa. Akhirnya Ia mengajak sang suami untuk mengelilingi mall malam ini.
Thanatan awalnya keberatan. Ia kalau sudah sampai di rumah inginnya tidak pergi kemanapun selain ruang kerjanya. Tapi karena sang istri memaksa dan mengatakan bahwa acaranya sudah besok, maka Ia pergi juga.
"Sekali-sekali berkorban untuk cucumu. Tinggalkan dulu pekerjaan untuk mencari hal yang membuat dia senang,"
"Sekarang kita mencari apa?"
"Yang aku katakan tadi di rumah. Bagaimana kalau arloji. Selain itu, aku bingung,"
"Ya sudahlah. Cari arloji saja. Hadiahmu berupa apa?"
"Kalung dengan liontin yang sama denganku,"
"Berlian lagi?"
"Iya, kenapa memangnya?"
"Tak jauh dari itu," komentar Thanatan.
"Ya habis akupun bingung ingin memberi apa. Griz sudah punya semuanya. Aku juga membelikannya baju dan tas mungil untuknya pergi,"
Thanatan dan Karina menyusuri pusat perbelanjaan mencari store jam tangan untuk anak kecil.
Setelah mendapati storenya yang memang bersebelahan dengan store arloji orang dewasa dimana Karina sering belanja di sana untuk dirinya sendiri dan sang suami.
Thanatan dan Karina masuk ke dalam store besar dan berdesign elegan itu. Mereka langsung berpencar guna mencari arloji yang cocok melingkari tangan cucu mereka. Karina membantu suaminya dalam mencari model yang sesuai untuk Grizelle.
"Aku benar-benar buruk dalam memilih barang," gumam Thanatan dalam hati sebab Ia jadi pusing sendiri memilih ratusan jam khusus anak kecil itu.
"Ingin aku beli saja semuanya supaya tidak pusing dan lama memilih," lanjutnya lagi yang sedikit kesal dengan dirinya sendiri yang bodoh dalam hal memilih. Karena kalau Ia lihat, semuanya bagus. Tentu saja, karena harganya tak main-main. Tapi masalahnya cari yang cocok untuk Grizelle menurutnya susah. Ia tidak tahu selera anak itu dan kalaupun tahu belum tentu juga Ia tepat memilih.
"Aku suka yang ini," ucap Karina menunjuk salah satu dari koleksi jam tangan mahal itu. Yang disukai Karina berwarna biru tua dan designnya unik. Menurut Karina tepat jika itu digunakan di tangan cucunya.
"Kamu suka yang mana?" tanya Karina pada Thanatan yang hingga sekarang belum menjatuhkan pilihan.
Sampai akhirnya mata lelaki itu melihat arloji yang berwarna putih. Design jam tangan yang disukai Thanatan dan menurutnya bagus dipakai Grizelle sebab ini sangat simple. Jam nya kecil berbentuk persegi. Strap terbuat dari kulit dan berwarna putih, di dalam kaca arlojinya juga ada sedikit taburan berlian putihnya.
"Kamu suka yang itu? ya sudah, kamu beli lah yang itu. Karena yang kita cari sekarang ini adalah hadiah darimu untuk Griz,"
__ADS_1
"Tapi menurutmu yang mana?"
Karina mengangkat bahunya, Ia bingung juga memberi pendapat. Menurutnya kedua pilihan itu sama bagusnya.
"Karakter anaknya seperti apa? kalau boleh tahu, Tuan, Nyonya,"
Tanya salah satu perempuan berseragam formal pada sepasang suami istri itu. Ia mengerti bahwa keduanya tengah bingung, maka akan Ia bantu.
"Dia anak yang periang,"
"Oh anak perempuan yang simple atau tidak?"
"Iya, dia simple. Dan suka yang nyaman saja. Cucuku juga bisa dikatakan feminim,"
"Oh menurutku, lebih tepat yang ini untuk cucu Tuan dan Nyonya,"
Yang ditunjuk adalah pilihan Thanatan. "Ini sesuai dengan yang digambarkan Nyonya tadi,"
Karina dan Thanatan sempat beradu tatap sejenak. Mereka menatap pelayan store tersebut ketika lagi-lagi mengajukan pertanyaan pada mereka berdua.
"Cucu Tuan dan Nyonya suka warna apa?"
"Oh ini banyak yang merah muda kalau memang butuh pilihan yang lain,"
Thanatan dan Karina sudah melihat banyak arloji yang berwarna merah muda tadi. Tapi tak ada satupun yang mereka sukai.
"Aku rasa yang putih saja," putus Thanatn yang diangguki Karina. Akhirnya arloji berdesign simple namun elegan pilihan Thanatan tadi, jadi mereka bawa pulang unruk hadiah ulang tahun Grizelle esok hari.
Usai melakukan transaksi, mereka keluar dari store. Satu paper bag bertuliskan brand jam tangan yang terkenal mematok harga tinggi itu kini berada di tangan Karina.
"Kamu ingin mencari apalagi?"
"Entah, tapi aku rasa ini sudah cukup. Griz pasti senang mendapat hadiah ini darimu. Terimakasih," kata Karina seraya tersenyum.
Akhirnya mereka keluar dari mall kembali ke rumah. Beruntung mall masih buka. Kalau tidak, bisa malu Thanatan bila esok jadi datang tapi tak membawa hadiah apapun. Meskipun Grizelle tak meminta hadiah padanya.
Karina benar-benar bahagia sekarang. Suaminya baru pulang kerja dan langsung pergi lagi hanya untuk mencari hadiah yang akan dipersembahkan pada cucu mereka.
"Terimakasih ya, Griz pasti senang,"
__ADS_1
Thanatan hanya mengangguk pelan. Entah mengapa istrinya malah mengucapkan kata terimakasih padanya sudah dua kali.
"Aku harap besok kamu benar-benar hadir. Jangan kecewakan Griz,"
*****
Usai mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai sambutan untuk menyambut kehadiran tamu-tamu yang diundang, Jhico kembali bersama putrinya yang sedang bermain dengan teman sebaya yang merupakan anak-anak dari temannya dan juga Vanilla. Sementara Vanilla sendiri tengah berbincang dengan keluarganya yang hadir. Ada beberapa sepupu Vanilla yang datang membawa putra putri mereka. Jhico tak memiliki sepupu yang memiliki hubungan dekat dengannya. Sedari kecil Ia memang seperti dijauhi, mungkin karena mereka menjadi apa yang diinginkan oleh orangtua sementara dirinya memilih jalan sendiri untuk masa depannya.
Grizele senang sekali semua kakek dan neneknya datang. Ia beberapa kali mengucapkan terimakasih pada kakek dan neenknya terutama Thanatan yang mau menepati janjinya.
"Kakek, terrlimkasih (terimakasih) sudah datang dan terrlimakasih juga atas hadiahnya. Aku suka sekali," ucapnya.
"Belum dilihat hadiahnya tapi sudah mengatakan suka?"
"Aku selalu suka apapun yang diberrlikan (diberikan) Kakek,"
Tak hanya bahagia mendapat hadiah dari Thanatan dan Karina, Grizelle juga bahagia mendapat hadiah tak kalah luar biasa dari Grandma dan Grandpnya.
"Aku tidak menyangka akan mendapatkan tempat untuk berrlmain (bermain) dan itu dekat sekolahku. Aku akan mengajak teman-temanku untuk berrlmain (bermain) di sana,"
Raihan mengangguk tersenyum. Hatinya terharu melihat kebahagiaan Grizelle. Memang sudah Ia duga. Sambutan Grizelle terhadap semua pemberian orang pasti selalu antusias sehingga orang yang memberinya merasa sangat dihargai.
"Terrlimakasih Grrlandpa, Grrlandma. Aku suka sekali dengan hadiahnya,"
"Iya, Sayang. Sama-sama,"
"Akan aku berrli (beri) tahu pada Aurrlis nanti kalau aku punya tempat berrlmain (bermain). Dan aku akan minta Aurrlis, Ean, dan Ian datang berrlmain (bermain) di sana,"
"Boleh mereka datang ke sana?"
"Tentu saja, itu 'kan milik bersama dari Grrlandpa,"
"Semua cucu Grrlandpa harrlus (harus) berrlmain (bermain) di sana," lanjutnya
"Pasti mereka senang," kata Raihan.
Usai berbincang hangat dengan keluarganya, barulah Grizelle berbaur dengan teman-temannya.
Konsep acara ini benar-benar dibuat layaknya sedang berada di tengah kebun binatang. Vanilla mewujudkan permintaan putrinya. Dari mulai dekorasi sampai pada souvenir untuk para tamu.
__ADS_1
Bahkan kostum yang digunakan Grizelle dan kedua orangtuanya juga mengikuti konsep. Vanilla totalitas dalam mempersiapkan semuanya.