
Tidak hanya bicara, Jhico benar-benar membuktikan ucapannya bahwa Ia bisa menghadiri pertemuan di sekolah Grizelle yang seharusnya dihadiri oleh istrinya. Ia bisa diandalkan disaat Vanilla tidak bisa diandalkan.
Tanpa mengambil ponsel di rumah, dari klinik, Ia langsung bergegas ke sekolah anaknya. Karena Ia tidak mau ada keterlambatan bila Ia harus ke rumah terlebih dahulu.
"Untuk apa mengatakan bisa hadir kalau pada akhirnya tidak bisa? maafkan Mumu ya, Griz," gumam Jhico disaat Ia sedang menyetir. Ia menghembuskan napas berat lalu menggeleng pelan. "Aku harap kamu tidak seperti ini lagi, Nilla. Aku saja kecewa dengan kamu, apalagi Grizelle,"
******
"Griz, orangtuamu belum datang? acara nya sebentar lagi dimulai,"
Grizelle semakin murung ketika temannya bicara seperti itu. Mereka tidak salah, mereka hanya bertanya. Tapi entah mengapa pertanyaan dari mereka membuat Ia bingung sekaligus sedih. Ia sudah mengharapkan Mumu nya datang dan tepat waktu. Tapi sepertinya dari kedua harapan itu, belum bisa dipenuhi oleh Vanilla.
Vanilla bilang, Ia yang akan datang hari ini ke sekolahnya. Tapi sampai acara akan dimulai, hanya orangtua nya saja yang belum tiba di sekolah.
*****
Jhico menghela napas lega setelah memasuki kemudi nya lagi. Mesin mobilnya tadi tiba-tiba bermasalah hingga akhirnya Ia harus meminta bantuan pada seseorang. Itulah sebabnya Ia belum juga sampai di sekolah Grizelle.
"Maafkan Pupu, Griz," hati Jhico merasa sangat bersalah. Ia yakin, kedatangannya pasti sudah terlambat. Tapi Ia tidak akan kembali ke klinik. Ia akan tetap bergegas ke sekolah.
Mesin mobilnya rusak disaat yang tidak tepat. Kalau terlambat seperti ini, Ia sama saja seperti Vanilla. Ia membuat Grizelle kecewa, sedih, dan merasa tidak diperhatikan.
******
Satu menit sebelum acara pertemuan yang diselenggarakan sekolah Grizelle dimulai, Vanilla berhasil menapakkan kakinya di sekolah dengan kualitas tinggi itu.
Grizelle yang melihat kedatangannya tentu saja merasa bahagia. Ia segera memeluk anaknya lalu meminta maaf juga. Grizelle menggeleng dan mengatakan bahwa Vanilla tidak salah apapun. Vanilla datang saja sudah membuat Ia senang. Seandainya Vanilla terlambat pun, Ia tidak masalah walaupun Ia tetap kecewa. Tapi nyatanya, sebelum acara dimulai, Vanilla bisa tiba tepat waktu.
__ADS_1
******
"Maaf, Xendi. Vanilla tidak bisa melakukan pemotretan saat ini karena Ia harus datang ke sekolah anaknya,"
Jujur saja mendengar ucapan dari Nein, manager Vanilla, Xendi merasa marah. Ia tidak menyangka kalau Vanilla bisa membatalkan jadwal sepihak, tanpa konfirmasi dulu dengannya dan model laki-laki yang sudah hadir. Semua sudah siap, tapi Vanilla meninggalkan set pemotretan begitu saja.
"Sepertinya dugaan ku terhadap Vanilla saat dia pertama kali bertemu dengan aku adalah benar. Dia tidak profesional dalam bekerja,"
"Tidak begitu, Xendi. Selama ini Vanilla sangat profesional. Tapi ini urusan anak, tentu saja Ia tidak bisa menomor duakan nya,"
"Menomor duakan segala urusan memang sudah risiko kalau dia bekerja, Nein,"
"Tapi tidak dengan urusan anak, aku rasa. Anak, keluarga lebih tepatnya, tidak bisa dinomor duakan. Ya, aku tahu itu memang risiko yang harus diterima Vanilla ketika Ia memilih untuk bekerja, tapi----"
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar pembelaan kamu terhadap talent kamu itu,"
*******
"Griz anak yang dewasa sekali walaupun usianya terbilang masih sangat kecil. Griz adalah sosok yang mengayomi teman-temannya juga. Kalau prestasi, jangan diragukan lagi. Anda patut bangga telah memiliki Griz,"
Vanilla tersenyum senang mendengar penuturan pengajar yang hampir setiap hari bertemu dengan Grizelle, mengamati setiap tingkah laku putrinya itu, dan juga menilai seberapa cerdas Ia dalam menuntut ilmu.
Banyak hal disampaikan oleh pengajar terhadap Vanilla hingga Vanilla semakin dibuat bangga dengan putrinya. Saat kecil saja Grizelle berhasil membuat Vanilla bangga, apalagi nanti saat beranjak dewasa.
******
"Pupu, woahh Pupu datang,"
__ADS_1
Bugh
"Aduh, kencang sekali pelukannya," ringis Jhico saat Grizelle menyambut kedatangannya dengan pelukan yang tiba-tiba dan begitu erat.
"Heheheh,"
Jhico mengusap rambut anaknya sekilas, "Maaf, Pupu terlambat, Griz."
"Tidak apa, sudah ada Mumu di dalam,"
Jhico segera melepaskan pelukan anaknya dengan pelan lalu menatap Grizelle dengan lurus. "Mumu datang?"
Grizelle mengangguk cepat dengan senyuman riang nya. Ia tidak menyangka kalau kedua orangtuanya akan datang.
"Kapan Mumu datang? apa terlambat?"
"Tidak, Mumu tidak telambat (terlambat) sama sekali, Pu."
Grizelle mengangkat satu jarinya yaitu telunjuk sembari berujar, "Satu menit sebelum acala peltemuannya (acara pertemuannya) dimulai, Mumu sudah datang. Jadi guluku (guruku) bilang, satu menit lagi acala (acara) akan dimulai tapi hanya olangtuaku (orangtua ku) yang belum datang. Dan setelah guluku belkata (guruku berkata) sepelti (seperti) itu, Mumu datang. Aku senang sekali," cerita anak itu dengan begitu excited. Jhico yang melihat senyum Grizelle, ikut tersenyum.
"Padahal ini adalah kegiatan yang rutin, dan Mumu juga sudah sangat sering datang ke sekolahmu, tapi kenapa kamu sebahagia ini?"
"Aku selalu bahagia kalau Mumu dan Pupu mempelhatikan aku,"
----------
Ogheyyy rasa nya nyess pas Icelle bilang begitu :'(
__ADS_1