Nillaku

Nillaku
Nillaku 421 Pulang dari rumah Grandpa dan Grandma


__ADS_3

Raihan tertawa kencang setelah itu mencium kening cucunya berkali-kali.


"Grandpa bercanda,"


"Haaa Grlanpa aku pikirl (pikir) Grlandpa marrlah (marah),"


Grizelle memang benar-benar takut kakekmya marah. Matanya bahkan berkaca menandakan tidak lama lagi Ia menangis.


"Ya sudah, Icelle sudah tahu Grandpa tidak marah. Sekarang kita istirahat ya,"


Raihan mengajak cucunya untuk kembali berbaring tengah-tengah antara dirinya dan sang istri.


Raihan mengusap-usap punggung cucunya agar cepat terpejam sebab Ia malah mendengar Grizelle bernyanyi pelan.


"Tidurrlah, Icelle,"


"Tidurrlah,"


"Tidurrlah,"


Ia mensugesti dirinya sendiri agar tidur dengan bernyangi yang liriknya seperti itu. Raihan mrnahan tawanya. Biasanya kalau orang sulit tidur tidak menciptakan lagu sekaligus menjadi penyangi dadakan seperti Grizelle. Paling hanya melamun sampai rasa kantuk menyerang.


Kemudian setelah bermenit-menit akhirmya Grizelle bisa terlelap. Napasnya mulai teratur, posisinya kini berbaring terlungkup menghadap Raihan hingga Raihan bisa menatapnya.


"Cantik sekali cucuku ini. Bahkan lebih cantik dari putriku sendiri. Dosakah aku kalau bicara seperti ini?" gumamnya dalam hati yang bukan hanya sekali dua kali saja mengagumi paras Grizelle yang menawan ini.


****


Richard saat ini lebih fokus pada Ibunya sebab sang ayah sudah mulai membaik tapi memang masih dalam perawatan medis.


Maka setiap saat Ia berada di ruangan sang ibu untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.


Ibunya sedang terlelap dan digunakan Richard untuk bekerja menggunakan gadget ataupun menanyai kabar istrinya.


Ia tidak sadar saat sedang membaca pesan balasan dari Jane, ibunya terbangun.


"Richard,"


Ricjatd terlonjak dan Ia langsung mendekat pada ibunya. "Ada apa, ibu?"


"Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu? hm?"


Richard yang tadinya kelihatan panik sekarang kembali tersenyum mendapat pertanyaan itu dari Ibunya.


"Sedang membaca pesan Jane,"


"Jane tahu Ibu sakit?"


"Tahu, dan dia mendoakan kesehatan Ibu dan ayah,"


"Tidak mau datang ke sini?"


Richard tersenyum getir. Kali ini Jane memang benar-benar marah pada dirinya dan keluarganya. Tapi meskipun begitu Jane tetap peduli pada kedua orangtuanya


"Padahal Ibu ingin dijenguk olehnya,"

__ADS_1


"Ibu tahu 'kan kalau Jane sedang menjauh dari kita. Dia marah, Ibu,"


"Tapi tidak seharusnya pergi begitu saja,"


"Dia tidak pergi begitu saja, dia izin padaku,"


"Suruh dia kembali. Kalian akan pindah ke sana kalau pekerjaanmu sudah selesai,"


"Dia belum mau. Sekarang justru Ia ingin membeli rumah. Ia sudah melihat rumah itu secara langsung,"


"Astaga,"


Melihat Ibunya yang benar-benar terkejut, Richard segera menenangkan baik dengan sikap tubuhnya yang mengusap bahu sang ibu maupun mengeluarkan kalimat-kalimat penenang.


"Ibu tidak perlu memikirkan apapun. Pikirkan kesehatan Ibu saja,"


"Ibu tahu kamu sangat terpukul, Ri. Ibu yang akan bicara dengan Jane. Tolong sambungkan teleponnya,"


Richard menggeleng pelan. Ia tidak ingin kondisi Ibunya semakin menurun. Entah bagaimana reaksi Jane nanti, Ia tidak tahu. Ada kemungkinan besar Jane menyakiti perasaan Ibunya. Begitu Ibu yang mungkin akan menyakiti hati Jane lagi.


"Ibu akan meminta maaf padanya. Ibu tidak ingin kamu terus terpukul. Melihat kamu sedih adalah salah satu yang membuat Ibu jatuh sakit, Richard,"


Richard tertegun sejenak. Ia salah satu faktormya? ya ampun. Memang sejelas itu hampa yang Ia alami sejak Jane memutuskan untuk menjauh? padahal Ia berusaha terlibat normal. Bersikap, bekerja, semuanya Ia usahakan normal.


"Ibu, aku minta maaf,"


Tangan Richard digenggam erat oleh Ibunya yang kini menggeleng pelan.


"Justru Ibu yang seharusnya meminta maaf padamu dan Jane. Itulah sebabnya Ibu ingin bicara dengannya. Ibu tidak ingin kalian bertengkar lebih lama dan melihat kamu semakin hampa. Ibu tidak mau itu terjadi. Ibu tahu bagaimana kesedihanmu, Richard. Ibu adalah sosok yang kelahirkan kamu, ibu tahu apapun yang terjadi pada kamu tanpa kamu berkata jujur,"


Meskipun tidak setiap saat bertemu tapi sekalinya bertemu Ibunya tahu bahwa Richard sangat terpukul dijauhi oleh istrinya. Ini saat yang tepat untuk meminta maaf dari Jane dan memintanya kembali.


"Jangan sekarang ya, Ibu. Nanti saja kalau kondisi Ibu sudah membaik. Sekarang ibu tidak perlu memikirkan apa--"


"Tidak bisa, Richard. Ibu ingin bicara dengannya sekarang. Ibu tidak akan menyakitinya lagi. Ibu akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi agar kalian sama-sama bertahan, dan kamu tidak sedih lagi,"


Ibunya sampai beberapa kali mengungkapkan bahwa Ia tidak bisa melihat Richard bersedih. Sebesar itu rasa sayangnya pada Richard. Tak berbeda dengan Richard yang begitu menyayangi orangtua terutama Ibunya sehingga tak pernah berani bersikap tegas bila keklarga terutama orangtuanya menyakiti Jane.


*****


"Yeayyy Pupu dan Mumu sudah jemput,"


Grizelle berseru ditengah sarapannya melihat kedatangan ayah dan ibunya.


"Aku makan serrleal (sereal)," katanya ketika Mumu dan Pupunya hampir sampai di meja makan bergabung dengannya bersama nenek, kakek, dan Auntynya.


"Mumu dan Pupu sudah makan,"


"Yah sayang sekali. Kenapa tidak makan di sini?"


"Sudah lapar, Ma," ujar Vanilla seraya terkekeh. Tapi Ia tetap mencoba menu sarapan hari ini.


"Icelle pulang sekolah ke sini 'kan, Sayang?"


"Tidak, Grlanma. Aku pulang ke rrlumahku,"

__ADS_1


"Kenapa hanya sebentar?"


"Nanti ke sini lagi, Grlandma tenang saja,"


"Hmm okay. Grandma tunggu kedatangannya,"


Grizelle tersenyum mengangkat ibu jarinya. Seperti biasa Ia selalu merasa nyaman dimanapun berada apalagi di rumah kakek dan neneknya.


"Icelle sudah sering menginap di sini, Ma,"


"Tidak, siapa bilang sering? jarang sekali!"


Vanilla terkekeh melihat mamanya yang menggeleng tegas.


"Sebelum Mumu hamil aku serrling (sering) menginap di sini,"


"Dengar 'kan, Ma? anakku sendiri mengakui,"


"Tapi Grandma merasa sudah lama sekali Icelle tidak menginap di rumah Grandma dan Grandpa,"


"Nanti pulang sekolah aku mau ajak ketiga kakaku berlmain,"


"Oh diplayground Icelle?"


Grizelle mengangguk semangat. Rencananya Ia akan mengajak ketiga sepupunya untuk bermain. Ia berharap mereka tidak sibuk.


"Aku juga ingin datang ke playgrlound Aurrlis,"


"Iya, kalau begitu bermainlah. Hati-hati ya," pesan kakeknya pada Grizelle yang langsung memasang sikap hormat.


"Siap, Grlanpa," katanya tegas.


"Tapi nanti sore kita akan hadir ke acara pernikahan teman Mumu. Icelle mau ikut 'kan?"


"Mau-mau. Yeaay aku mau datang ke pesta,"


"Temanmu, Van? model?"


"Renald,"


Alis Jane bertaut. Ia tidak asing dengan nama itu. Sebelum Ia pergi meninggalkan negara ini, Ia sepertinya kenal dengan lelaki itu.


"Aku sudah selesai makan. Saatnya perrlgi (pergi) sekolah,"


"Okay, ayo,"


"Hati-hati, Sayangku," Pesan Rena pada cucunya 


"Iya, Grlandma,"


"Aunty tidak pulang?"


"Nanti Aunty pulang,"


"Okay, aku tunggu di rrlumah (rumah). Aku perrlgi (pergi) sekolah dulu sekarrlang (sekarang),"

__ADS_1


__ADS_2