Nillaku

Nillaku
Nillaku 163


__ADS_3

"Aku akan mengajak Keyfa untuk menghadiri pernikahan Destira sore ini,"


Jhico sudah selesai menonton televisi. Ia bangun dari posisi berbaring nya lalu memperhatikan Vanilla yang sedang menggantikan Grizelle baju. Bayi itu baru saja muntah. Ia menyusu terlalu banyak. Vanilla tidak tahu anaknya sudah kenyang atau belum karena Grizelle tidak kunjung melepas sumber makanan dari mulutnya. Sampai akhirnya Vanilla dibuat terkejut saat melihat banyaknya susu keluar dari mulut mungil buah hatinya.


"Aku pergi dengan Keyfa ya, Nilla?"


Sedang khawatir dan sibuk dengan anaknya, Jhico malah membahas hal lain yang akhirnya membuat Vanilla kesal.


"Terserah, Jhico. Kamu mau pergi dengan siapa, itu pilihan kamu. Tidak ada urusannya dengan aku,"


Jhico menelan ludahnya kelat. Ia menyalahkan dirinya yang bodoh, tidak paham situasi.


Vanilla menggendong anaknya dengan posisi Grizelle yang tidak berbaring lalu perempuan itu mengusap pelan punggung anaknya.


"Sudah diberikan penghangat di perutnya?"


"Sudah," jawab Vanilla singkat.


"Di leher dan punggung nya juga?"


"Iya, sudah, Jhico."


"Aku 'kan bertanya, Nilla. Aku juga khawatir,"


"Kamu khawatir tapi kamu berisik," sentak Vanilla dengan kesal.


"Setiap Griz sakit kamu terlalu cemas sampai tidak bisa mengendalikan diri,"


Jhico pergi dari kamar. Ia tidak ingin ikut kesal. Sudah cukup Ia bicara seperti tadi agar Vanilla sadar bahwa yang Ia lakukan bukanlah hal baik. Setiap Grizelle kurang sehat, Vanilla pasti cemas begitupun dengan Jhico.


"Sudah tahu aku sedang mengurus Griz, dia malah membahas hal yang menurutku tidak penting. Jelas saja aku kesal," gerutu Ibu satu anak itu.


Vanilla menimang anaknya agar tidur. Ia berharap setelah tidur nanti, kondisi Grizelle jauh lebih baik. Grizelle mengeluarkan isi perutnya sekali dan sempat mual-mual juga setelahnya.


"Beruntung lah aku tidak jadi memaksa Jhico mengajak Grizelle ke pesta nanti. Kondisi Grizelle sedang seperti ini,"


*******


Keyfa sudah berpenampilan cantik. Ia tampak anggun mengenakan gaun berwarna putih berlengan panjang dan rambut yang digulung ke atas sementara rambut bagian depannya yang baru digunting dibiarkan begitu saja.


Jhico tersenyum saat melihat Keyfa sudah menunggunya. Jhico segera mendekati anak itu.


"Woaah penampilanmu berbeda, Keyfa. Yang ada di hadapanku ini benar Keyfa?"


Keyfa memainkan rambutnya lalu mengangguk seraya menahan senyum. "Bagaimana penampilanku? cantik tidak, kakak dokter?"


"Cantik sekali, Keyfa."


"Terimakasih, kakak dokter juga tampan sekali. Seperti seorang prince,"


"Hahaha kamu bisa saja membuatku tersipu,"


"Ayo kita pergi, Kakak dokter."


"Ibu dan ayahmu dimana?"


Keyfa ingat belum izin pergi dengan Ibu nya. Ia memanggil Vivi yang sedang di dapur. Ayahnya tidak ada di rumah, karena sedang bekerja.

__ADS_1


"Aku pergi sekarang ya, Ibu?"


"Iya, hati-hati."


"Kami pergi," ujar Jhico pada Vivi.


"Iya, Jhico. Hati-hati ya. Terimakasih sudah mengajak Keyfa pergi. Dia senang sekali saat kamu menelpon dan ingin mengajaknya menghadiri pesta,"


"Iya, sama-sama. Aku tidak bisa membawa Vanilla dan Grizelle yang sedang kurang sehat,"


"Hah? Griz sakit apa, Kakak dokter?"


"Mual,"


"Semoga cepat sembuh,"


"Iya, terimakasih, Ibu."


********


Kedatangan Jhico bersama Keyfa tentu membuat keluarga besarnya bingung. "Anakmu sudah sebesar itu, Jhi? cepat sekali,"


"Perkenalkan, dia Keyfa. Pernah menjadi pasien ku,"


"Oh aku kira anakmu. Kalian mirip juga,"


Jhico dan Keyfa saling menatap sekilas ketika dibilang mirip oleh Barvi. Thanatan menatap Keyfa dengan raut gerah. Anak itu lagi yang Ia lihat.


"Kenapa tidak membawa anakmu saja? malah membawa anak orang lain," ujar Thanatan dengan tajam. Hal itu membuat Keyfa menatapnya.


"Astaga, bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Karina dengan cepat.


"Kenapa bisa mual?"


Karina dan Hawra yang terlihat sangat khawatir. Selain mereka berdua, siapa lagi yang peduli? tentu saja tidak ada.


"Hanya terlalu kenyang minum susu sepertinya,"


"Kalau sudah mual beberapa kali, kamu bawa ke rumah sakit. Tidak datang ke sini juga tidak apa," jawab Thanatan dengan raut tak acuh namun terdengar sangat menyayangkan sikap Jhico yang malah memilih untuk menghadiri pesta daripada membawa anaknya ke rumah sakit agar segera diperiksa.


Karina meminta Jhico dan Keyfa untuk duduk. Mereka baru datang tapi sambutan yang diberikan untuk mereka kurang hangat.


"Keyfa mau makan apa?"


"Hmm terimakasih atas tawarannya. Keyfa sudah makan sebelum pergi ke sini,"


"Yang benar?"


"Iya, Keyfa sudah makan,"


"Kamu mau menikmati hidangan apa, Co?"


"Aku ingin mengambil minum saja, Ma."


"Biar Mama ambilkan,"


"Aku saja,"

__ADS_1


Melihat Jhico pergi, Thanatan melirik Keyfa yang memperhatikan suasana meriah di sekitarnya. Thanatan berdehem hingga mengalihkan perhatian Keyfa.


"Keyfa, kamu tahu 'kan kalau Jhico sudah memiliki anak?"


"Iya, aku tahu, Paman."


"Oh aku kira kamu tidak tahu,"


Karina memberi tatapan tajam pada suaminya, Ia tahu Thanatan akan melanjutkan ucapannya.


"Kamu dekat sekali ya dengan Jhico,"


"Iya, kami memang dekat. Sejak lama, bahkan sebelum Kakak dokter menikah dengan Kakak manis. Tapi memang dulu tidak sedekat ini sepertinya,"


Thanatan tersenyum miring mendengar pengakuan yang disampaikan anak itu dengan sangat antusias.


Seluruh keluarga fokus dengan obrolan sementara Thanatan ingin melakukan apa yang selama ini Ia niatkan. Yaitu mengingatkan Keyfa agar tidak terlalu berlebihan dengan putranya.


"Oh ya?"


Keyfa mengangguk cepat dengan senyuman manis nya. Thanatan tidak habis pikir kenapa anak itu bisa bersikap layaknya ingin menyaingi cucunya dan juga menantunya dalam menarik perhatian Jhico. Kalau dilihat dari wajahnya, Keyfa sangat polos sekali.


"Berhubung Jhico sudah punya Grizelle, maka sampai kapanpun Grizelle yang berhak atas Jhico. Kamu mengerti maksudku 'kan? jangan sampai saat Griz besar nanti, kamu dan Griz bertengkar untuk berebut kasih sayang dan perhatian Jhico,"


"Tapi Kakak dokter menyayangiku,"


"Iya, dia menganggap mu adik 'kan? tapi Grizelle anaknya. Tentu saja dia lebih menyayangi anaknya,"


Biar bagaimana pun Thanatan tidak ingin ada siapapun merebut kasih sayang putranya untuk Grizelle.


Keyfa merajuk, Ia berlari ke arah Jhico yang terlihat sedang menunggu minuman disiapkan.


Karina langsung menegur Thanatan yang bisa-bisanya bicara seperti itu dengan Keyfa.


"Kamu terlalu berlebihan. Keyfa adalah anak kecil, jadi wajar---"


"Sudah tidak wajar menurutku, Karina. Lama-lama sikapnya seperti ingin menyaingi Grizelle. Aku tidak suka melihatnya. Mereka boleh dekat, tapi tidak selalu harus dekat. Yang aku perhatikan, dia selalu menjadi pengganggu saat Jhico fokus dengan keluarganya,"


"Kamu peduli dengan Griz?"


Thanatan tak menjawab. Ia memilih untuk meneguk air minum di hadapannya lalu mengalihkan matanya ke arah Keyfa yang sedang menangis dalam gendongan Jhico.


"Lihat itu sekarang!" titah Thanatan pada istrinya agar melihat Keyfa yang sedang menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Jhico dan Jhico mengusap punggung Keyfa agar berhenti menangis.


"Grizelle dibiarkan hanya berdua dengan Vanilla di apartemen dalam kondisi kurang sehat. Sementara di sini, anak itu bebas sekali menyita apa yang seharusnya didapatkan Grizelle, yaitu perhatian Jhico,"


"Griz baik-baik saja. Dia sehat, hanya terlalu kenyang kata Jhico tadi,"


"Tapi mual beberapa kali," lugas Thanatan mengingatkan Karina atas ucapan anak mereka tadi. Karina terdiam ditatap tajam oleh suaminya.


"Dia boleh menganggap Jhico kakaknya, tapi tetap harus ingat siapa dia untuk Jhico. Jhico tentu tidak bisa menjauhinya dengan alasan rasa tidak tega karena dia sakit. Di perlakukan sangat baik oleh Jhico malah melunjak,"


 ----------


Aduwww Thanatan mulai tayank dedeq Icell nih kayanya wkwk. Dia makin ga suka sama Keyfa yg menurut dia, lebay bgt ke Jhico😂itu kakek-kakek rempong bgt yak wkwkwk


 

__ADS_1


__ADS_2