
"Ean, awu ana?"
"Andrean pergi bersama Mommy dan Daddy dulu ya. Kamu di sini bersama Adrian dan Grizelle. Jadi anak yang baik ya,"
"Aman, Dad." sahut Adrian yang diikuti oleh adiknya, "Ya, aman."
"Auris seperti orang dewasa saja," ucap Jhico. Ia gemas melihat Auristella mengatakan aman sembari mengangkat ibu jarinya.
"Sepertinya yang bicara didepanku ini bukan anak berusia satu tahun," ucap Jhico sedikit tak percaya dengan kemampuan Auristella dalam berkomunikasi yang kurang sebanding dengan usianya.
"Uwa taun,"
"Belum, kamu belum ulang tahun yang kedua,"
"Tapi uwa taun, Dad."
"Ya sudah, terserah lah. Mau dua tahun, tiga tahun, terserah Auris. Andrean pergi dulu dengan Mommy dan Daddy ya,"
"Ya,"
"Hati-hati, Dad." lanjut Adrian seraya melambaikan tangannya pada Lovi, Devan, dan Andrean yang pergi untuk menghadiri birthday party anak dari rekan Daddy nya yang bernama Abella.
*******
Kedatangan Renald ke apartemen dengan dalih ingin melihat Grizelle yang sudah hampir dua bulan lahir, membuat Jhico bingung.
"Vanilla sedang pergi,"
Ucapan Jhico membuat Renald yang sedari tadi memperhatikan cedera tangannya langsung menatapnya kemudian mengangguk.
Jhico mempersilahkan Renald untuk duduk di ruang tamu. Kemudian lelaki itu beranjak ke dapur menyiapkan air minum untuk Renald yang sepertinya baru pulang bekerja terlihat dari seragam cleaning service yang dikenakannya. Setelah itu, Jhico duduk di hadapannya lalu berusaha mencari topik obrolan agar tidak terasa kaku.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, kau sendiri masih belum benar-benar sehat ya?"
"Iya, tinggal cedera tulang yang kualami saja,"
"Dimana anakmu?"
Renald membawa hamper berisi buah dan baju anak bayi lalu meletakkannya di atas meja.
"Griz tidur dengan kedua sepupunya. Tapi terimakasih sudah datang dan memberikan ini semua,"
"Hanya sedikit. Aku malu kalau datang tidak membawa apapun,"
"Doa saja sudah cukup. Tapi sekali lagi terimakasih,"
"Uncle..."
Suara pelan Adrian yang baru bangun tidur membuat kedua lelaki yang masih canggung itu, menoleh.
"Ya, Sayang?"
"Griz bangun, sepertinya ingin susu,"
"Okay,"
Setelah mendapat jawaban seperti itu dari Uncle nya, Adrian kembali ke kamar untuk menemani kedua adiknya. Auristella masih tidur sementara Grizelle memang sudah bangun tetapi Ia tidak menangis sama sekali. Adrian menebak jika Grizelle haus karena terlihat dari mulutnya yang selalu berdecak.
******
"Hallo, Jhi?"
"Kamu masih belanja?"
"Sudah ingin pulang,"
"Kenapa cepat? bukankah mau treatment dulu?"
"Tidak jadi, kenapa kamu menelponku?"
"Ada Renald di sini. Dia ingin melihat Griz,"
"Dia sudah pulang?"
"Sepertinya dia mau menemui kamu,"
__ADS_1
Dalam hati Vanilla berdecak, "Kenapa dia mau menemuiku? bukankah katanya mau bertemu dengan Griz,"
******
"Uncle sudah bertemu dengan Griz..."
"Sekarang pulang 'kan?" Adrian bertanya pada Renald seolah mengusir Renald secara halus.
"Iya, sekarang akan pulang,"
"Okay, hati-hati di jalan. Terimakasih sudah berkunjung ke sini. Lain kali ti---"
Hap
Jhico menutup mulut Adrian sebelum anak itu menyelesaikan kalimatnya. Adrian terlalu jujur terhadap hal-hal yang tidak Ia sukai. Anak itu memang sangat frontal bahkan dari dulu.
"Terimakasih, Renald,"
Renald mengangguk kemudian melangkah keluar. Dan bertepatan sekali dengan kedatangan Vanilla.
Begitu Vanilla ada di dekatnya, Renald langsung menatap perempuan itu dalam-dalam. Ia sudah lama tidak bertemu Vanilla. Sebelumnya Ia sudah terbiasa tidak sedekat dulu dengan Vanilla. Belakangan ini Ia merasa kesepian.
"Hai, Renald. Bagaimana kabarmu? sudah ingin pulang?"
"Iya, aku baik. Sekarang aku ingin pulang,"
"Terimakasih sudah datang,"
"Ya, sama-sama, Vanilla. Aku pergi dulu,"
"Tidak ingin mengobrol dulu?"
Adrian mengerinyit saat Aunty nya secara tidak langsung menawarkan Renald masuk lagi ke dalam.
Adrian tidak suka karena Renald menganggu waktu kebersamaan Jhico dengannya. Apalagi rencananya setelah Vanilla pulang, Jhico akan menemaninya berenang bersama Auristella. Kalau Renald masih berada di apartemen, tentu rencana itu tidak jadi terlaksana.
"Tidak, aku lelah setelah bekerja dan ingin beristirahat,"
Renald benar-benar undur diri. Adrian langsung mencubit lengan Vanilla hingga Vanilla meringis.
"Aunty ini nakal sekali ya. Kalau Uncle itu mengobrol di dalam lagi, nanti aku tidak jadi berenang ditemani Uncle Jhico,"
Mendengar ucapan istrinya sontak saja Jhico memberi tatapan tajam pada sang istri. "Maksudnya apa?"
Vanilla terkekeh puas. Ternyata dibalik tenangnya sikap Jhico, Ia masih menyimpan rasa cemburu terhadap Renald.
"Tidak boleh, Aunty hanya boleh mengobrol dengan Uncle Jhico,"
"Huh keponakan dan Uncel nya sama-sama posesif,"
"Dimana Griz?"
"Tidur lagi setelah minum susu yang kamu siapkan tadi,"
*******
Setelah berganti baju, Vanilla mendatangi dapur untuk membantu Bibi yang belum selesai meletakkan semua kebutuhan yang mereka beli tadi.
"Lebih baik kamu istirahat, Vanilla."
"Bibi saja tidak istirahat,"
"Sebentar lagi,"
Adrian menghampiri Vanilla yang tengah berkutat bersama dengan Bibi.
"Aunty, apa kata Mommy saat di telpon tadi? Mommy mengizinkan aku berenang 'kan?"
"Iya, diizinkan Mommy. Tapi jangan lama-lama karena setelah itu kalian akan langsung pulang,"
"Yahh tidak menginap?"
"Besok kamu harus sekolah, Adrian."
"Oh iya, aku lupa,"
Jhico keluar dari kamar dengan celana kargo yang hanya sebatas lutut dipadukan kaus berwarna putih. Ia siap untuk menemani Adrian berenang.
__ADS_1
Adrian memasuki kamar untuk meyakinkan adik perempuannya. "Auris, kamu yakin tidak mau ikut?"
"Ndak awu,"
"Ya sudah,"
Adrian melihat tangan Auristella mengusap kepala Grizelle. "Hey jangan mengganggu Griz. Dia masih tidur,"
"Ndak,"
"Awas ya kalau sampai dia bangun karena kamu,"
Usai memberi peringatan untuk adiknya yang terkadang jahil itu, Adrian langsung keluar dari unit apartemen karena Jhico sudah menunggu di luar.
"Bye, Aunty." ucapnya sebelum benar-benar turun ke lantai bawah dimana kolam renang berada.
"Bye, ingat jangan lama-lama ya,"
"Iya, tenang saja,"
Β *******
Kamu sengaja menghindari aku ya? tadi aku menunggumu pulang. Karena kamu lama, aku memutuskan untuk pulang.
"Vanilla, Griz sudah bangun,"
"Hah? oh iya, Bi. Terimakasih sudah memberi tahuku,"
Vanilla terlalu sibuk memikirkan jawaban apa yang bisa Ia berikan untuk pesan yang dikirimkan Renald sampai tidak menyadari kalau anaknya sudah bangun dari tidur.
Vanilla meletakkan ponsel dan juga makanan ringannya di meja makan. Lalu setelah itu Ia menghampiri anaknya didalam kamar.
Bunyi bell membuatnya menoleh. "Bi, tolong buka pintu. Sepertinya itu Lovi dan Devan,"
"Iya, Vanilla."
Bibi segera mendekati pintu untuk membukanya. Yang datang ternyata Lovi dan Devan.
"Adrian sedang renang ya, Bi?"
"Iya, belum lama berangkat,"
*********
"Uncle tidak mau renang?"
"Tidak, Uncle melihatmu saja dari sini,"
"Jadi kurang seru, Uncle."
"Uncle tidak bawa baju,"
"Huh kenapa tidak bawa baju?"
"Sengaja, Uncle sedang tidak ingin berenang,"
"Okay, aku berenang ke sana dulu ya,"
Jhico mengangguk. Ia memantau keponakannya itu dari sebuah kursi di tepi kolam renang yang merupakan fasilitas dari apartemen itu. Sengaja Jhico menawari Adrian berenang karena kolam renang itu termasuk private dan waktunya juga pas. Sedari tadi Adrian mengeluh bosan karena Grizele dan Auristella terlelap, Ia tidak ada teman bercanda dan bermain. Oleh sebab itu Jhico menawari anak itu untuk berenang.
Adrian berenang ke berbagai arah. Sudah beberapa menit Ia bergerak ke sana ke mari, tiba-tiba Ia diam di tempat. Kepalanya tidak muncul-muncul juga.
Jhico yang tadinya duduk langsung berdiri dan mendekati kolam seraya memanggil-manggil nama Adrian.
"Adrian..."
"Adrian..."
Jhico sudah melepas kaus yang Ia kenakan namun tawa Adrian berhasil membuatnya terkejut di tengah rasa cemas yang menyerangnya. Ia sudah khawatir terjadi sesuatu pada Adrian.
"HAHAHAHA..."
"Uncle sudah lepas baju. Lebih baik berenang denganku di sini. Ayo,"
Β --------
Bisaan bgt ni bocah wkwkwk. Pen mendem Adrian di kolem ga si?ππ
__ADS_1
ADDICTED UP YAAA. TERIMAKASIH UNTUK SEMUA DUKUNGAN KALIAN. TERBAIK KELEAN TUCHππ