Nillaku

Nillaku
Nillaku 252 Mampu melepas penat karena foto Grizelle


__ADS_3

"Main kembang api nya bagaimana? nanti aku mau pegang kembang api ya, Nay-Nay,"


"Griz tidak usah ya? Nay-Nay takut,"


"Kenapa Nay-Nay yang takut? aku yang main kembang api nya,"


"Sayang, Nay-Nay tidak mau terjadi sesuatu padamu,"


"Nanti aku minta izin Pupu kalau begitu,"


Karina menghela napas pelan. Grizelle mengandalkan ayahnya untuk mendapat izin dan agar diberikan kepercayaan oleh neneknya.


"Hati-hati ya,"


"Yeaaayy boleh, Nay-Nay?"


Karina mngangguk dengan berat hati dan Grizelle senang bukan main. "Kalau aku minta izin pada Pupu belum tentu dibolehkan juga. Berlluntung (beruntung) Nay-Nay sudah bolehkan," batin Grizelle. Ia baru ingat bagaimana sikap ayahnya yang begitu menjaganya. Ia tidak yakin diberikan izin untuk ikut serta bermain kembang api.


"Aku diizinkan oleh Opa dan Omaku, Nay-Nay. Jadi Griz juga boleh ya?"


Karina mengangguk ketika Sherein menatapnya dan memastikan sekali lagi agar Grizelle diizinkan.


"Yang penting hati-hati,"


Meskipun mengizinkan, Karina tetap tidak melepaskan pandangan sedikitpun dari Grizelle. Ini pertama kalinya Ia hanya berlibur dengan Grizelle tanpa Jhico maupun Vanilla. Ia yang sepenuhnya bertanggung jawab pada cucunya itu. Untuk  dapat yang kedua saja perlu menunggu waktu dan ada saja halangannya. Maka yang pertama ini benar-benar harus Ia jaga.


Karina menggeleng saat Grizelle akan berlari membawa kembang api di tangannya.


"Ya sudah, Nay-Nay foto aku saja dengan kembang api ini," katanya meminta.


Karina langsung melakukannya. "Kirim, ke Kakek, boleh tidak Nay-Nay?"


Lagi, Karina menuruti permintaan cucunya. Ia segera mengirim foto itu ke Thanatan. Entah apa maksud Grizelle ingin mengirim fotonya sedang bermain kembang api.


"Biarrl (biar) Kakek tahu liburrlanku (liburanku) menyenangkan,"


Grizelle kembali bermain sementara menunggu chef selesai memasak.


"Griz, jangan dibawa berlari ya. Nanti api nya bisa mengenai tanganmu. Nay-Nay tidak mau kamu terluka. Mengerti tidak?"


"Okay, Nay-Nay," sedetik mengatakan itu, Grizelle sudah bersiap untuk bermain kejar-kejaran dengan temannya. Hal itu membuat Karina cemas.


"Griz, dengarkan Nay-Nay,"


"Bagus kembang apinya kalau dibawa lari-lari,"


"Iya, tapi tidak bagus bagi tanganmu. Sudah, bermainnya yang benar. Jangan sambil bercanda dan kejar-kejaran,"

__ADS_1


Karina benar-benar dibuat cerewet oleh cucunya malam ini. Memang benar yang dikatakan Jhico. Anak itu terkadang sulit diberi tahu, layaknya anak kecil pada umumnya. Tapi kalau sudah bersikap dewasa, Ia bisa membuat kagum siapapun.


"Yah, habis. Aku mau kembang api lagi,"


Grizelle meminta pada seorang lelaki yang memegang banyak kembang api kemudian Ia minta agar kembang apinya dinyalakan juga seperti tadi.


"Woahhh cantiknya," Grizelle mengibas kembang api itu ke udara hingga percikan apinya mengenai tangannya. Beruntung hanya sedikit dan Ia tak merasa sakit yang berarti. Sehingga Ia tak mengatakannya pada sang nenek.


"Griz itu penurut ya, Kar,"


Karina menoleh saat salah seorang temannya mengajak bicara.


"Iya,"


"Aku bisa melihatnya. Apapun yag kamu katakan, dia patuhi,"


"Tapi kalau keras kepalanya lagi timbul, dia bisa membantah juga,"


Merea berdua terkekeh. "Ya itulah anak kecil. Kita yang dewasa saja terkadang sulit diatur,"


Grizelle mendekati teman-temannya. "Ah kamu tidak mau bermain lomba lari dengan kita,"


"Aku tidak diizinkan. Nanti kembang apinya membahayakan aku, kata Nay-Nay,"


Angin di malam ini cukup kencang. Berlarian seraya memegang kembang api memang tidak seharusnya dilakukan. Namun tak ada yang tega melarang karena anak-anak itu terlihat bahagia sekali.


"Jangan dibawa berllarli (berlari) nanti apinya mati,"


Grizelle hanya menyaksikan teman-temannya yang berlari kesana kemari dengan kembang api ditangan mereka masing-masing. Bila apinya padam, maka mereka akan minta dinyalakan kembali. Begitu seterusnya sampai akhirnya Novel terjatuh dengan kembang api masih menyala di samping badannya yang tergeletak di rerumputan.


"Astaga, Novel,"


Nenek dari Novel segera menghampiri cucunya dan menginjak kembang api itu.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Tidak apa, tapi kakiku sakit," rengek anak berpita rambut itu. Merasa tak tahan dengan rasa sakitnya, Ia menangis.


Beruntungnya Novel tidak hanya ditemani oleh neneknya saja, melainkan kakeknya pun ikut dan neneknya tidak kewalahan menghadapi Novel yang menangis kesakitan dan marah juga.


"Bermainnya hati-hati ya. Jangan sampai apa yang terjadi pada Novel, terulang lagi," pesan Arselia pada teman-teman Novel tak terkecuali Grizelle yang terdiam.


"Huh berrluntung (beruntung) aku tidak ikut berrlarri tadi," gumam Grizelle merasa takut.


Ia segera membuang kembang api miliknya kemudian diinjaknya namun api sulit padam. Mungkin karena kakinya juga berukuran kecil sehingga tenaganya untuk memadamkan kurang.


"Erghh kenapa tidak mau padam sih?! nakal ini apinya,"

__ADS_1


"Grizelle..." Karina memanggil cucunya yang tengah menginjak-injak kembang api.


"Apalagi yang mau dilakukan anak ini?" Karina segera mendekat pada cucunya.


"Hah! akhirnya padam juga,"


Setelah menginjak kencang berulang kali, barulah apinya padam.


"Itu kembang api nya memang dibentuk supaya sulit padam, sepertinya,"


"Iya, Nay-Nay,"


"Hah ada yang sudah makan beef. Aku mau,"


Mata Grizelle berbinar melihat orang lain ada yang sudah menikmati hasil dari barbeque malam ini.


"Ayo, kita coba,"


Karina membawa tangan cucunya untuk Ia genggam kemudian mereka mendekati meja tempat penyajian dan mereka mulai mencicipi daging-daging olahan yang tadi dipanggang oleh chef.


*****


Thanatan akhirnya bisa pulang sebelum pukul sepuluh malam. Wajahnya benar-benar lelah. Hari ini jadwalnya penuh seperti biasa.


"Tuan, perlu apa?"


Ia hanya menggeleng begitu maid menyambutnya dengan sopan. Tanpa mengatakan apapun, Ia bergegas ke kamarnya untuk melepas penat.


Kamar itu kosong. Biasanya, Karina masih terjaga dan bergelut dengan kesibukannya atau hobinya membaca majalah di sofa sudut kamar. Malam ini, tak ada pemandangan Karina sama sekali. Istrinya itu tengah menikmati liburan bersama cucu pertama mereka. Entah bagaimana liburan mereka itu berlangsung. Apakah menyenangkan atau biasa saja. Ia tak ada keinginan untuk bertanya.


Usai membersihkan tubuhnya secara kilat dan mengganti stelan formalnya dengan pakaian tidur, Ia menaiki ranjang.


"Pekerjaan yang belum selesai bisa aku kerjakan nanti," pikirnya.


Ia berbaring dengan nyaman. Helaan napas lega terdengar begitu punggungnya menyentuh ranjang.


Ia ingin sekali beristirahat. Menghilangkan semua beban pikirannya untuk sementara waktu. Tapi entah mengapa sulit sekali untuk sekedar memejamkan mata.


Ia hanya diam menatap langit-langit kamar. Berusaha mencari rasa kantuknya karena lelah benar-benar menghantamnya saat ini.


Bermenit-menit Ia habiskan untuk melamun. Sampai akhirnya Ia memilih untuk meraih ponsel, benda canggih yang sengaja sejak tadi Ia hindari karena nantinya Ia akan bertemu dengan berbagai macam laporan dan dokumen pekerjaan.


Ia mendapat pesan lagi dari Karina. Kalimat 'Jangan kirim pesan lagi. Kamu menggangguku,' hanya sampai di ujung lidah tatkala Ia melihat pesan dari Karina bukan pesan yang tidak penting seperti laporan bagaimana liburannya atau semacamnya, tapi pesan yang dikirim Karina adalah foto cucunya lagi. 


Tanpa sadar Ia tersenyum tipis melihat Grizelle yang diantara remang cahaya tampak berdiri menatap kamera dengan kembang api di tangannya.


Setelahnya, Ia meletakkan ponsel itu. Kemudian Ia mencoba untuk memejamkan mata yang pada akhirnya mempertemukan Ia dengan alam mimpinya.

__ADS_1


-----


Icelle bisa jadi obat tidur jg ternyata. Itu kakek yg susah tidur langsung tidur stlh liat foto Icelle😆


__ADS_2