Nillaku

Nillaku
Nillaku 80


__ADS_3

Aurora baru saja shopping di mall. Ia berjalan tergesa keluar dari mall karena jadwal pemotretan sudah menunggu.


Kesalahan Aurora saat ini adalah, Ia berjalan terlalu cepat sampai tidak lihat kanan dan kiri. Aurora terkejut karena bunyi klakson yang cukup kencang, lalu Ia kehilangan keseimbangan tubuh.


"ARGHH SIAL!"


Brakk


pemilik mobil keluar dan langsung menghampiri Aurora.


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja,"


"Tidak apa, sebenarnya mobilmu tidak menyentuhku. Hanya saja aku terlalu terkejut karena klakson mu,"


"Mari, aku bantu."


Aurora menerima uluran tangan seorang laki-laki yang sepertinya memiliki usia tak terpaut jauh darinya.


"Aku bawa ke rumah sakit,"


"Tidak perlu, terima kasih sudah membantuku,"


Lelaki itu memperhatikan kaki Aurora yang sepertinya terkilir. Memang terlihat tidak ada luka di kulitnya namun cara berdiri Aurora membuat Ia yakin Aurora tidak baik-baik saja.


"Kamu harus diperiksa, takut terjadi apa-apa pada kakimu,"


Sekali lagi Aurora menggeleng. Ia harus bekerja sekarang. Tidak ada waktu untuk memeriksa kakinya. Lagipula Ia yakin kakinya baik-baik saja walaupun rasanya memang sedang nyeri.


"Kamu serius?" tanya lelaki itu memastikan. Aurora terseyum membuktikan. Ia tidak perlu dibawa ke rumah sakit karena Ia baik-baik saja.


"Terima kasih sudah membantuku. Maaf juga karena aku mengganggu perjalananmu. Sampai jumpa,"


Lelaki itu memperhatikan punggung Aurora yang sudah menjauh dengan langkahnya yang tertatih-tatih. Saat Aurora masuk ke dalam mobilnya, Ia pun melakukan hal yang sama. Melanjutkan laju mobilnya untuk masuk ke basement sebelum belanja di dalam mall.


***


Di sela makan siangnya, Jhico menyempatkan waktu untuk menghubungi istrinya. Ia sempat bingung saat melihat ada panggilan dari Vanilla beberapa saat lalu tapi tidak sempat Ia jawab.


Hari ini Jhico tidak pulang menyiapkan makan siang untuk Vanilla, karena Ia sudah masak untuk makan pagi dan siang istrinya. Sementara makan malam nanti, Ia akan membeli dari luar. Dan ia berharap bisa pulang sore hari. Ia masih khawatir meninggalkan Vanilla sampai malam. Karena saat ini, yang ditinggalnya bukan hanya Vanilla, melainkan anaknya juga.


Jhico menjauhkan ponselnya dari telinga saat panggilannya tak kunjung mendapat jawaban dari sang istri.


"Kemana dia? apa tidur?" gumam Jhico seraya menghubungi Vanilla lagi. Tiga kali Ia coba, belum juga ada respon. Jhico pikir istrinya tengah istirahat.


***


"Okay, semua siap ya?"


"Siap,"


"1, 2, 3."


Cekrek


Cekrek


Ini adalah sesi foto bersama dimana model yang mengikuti pemotretan kali ini yaitu Vanilla, Aurora, dan Keynie berpose bertiga.


"Selesai untuk Keynie dan Aurora,"


"Vanilla masih ada satu look lagi 'kan?"


Vanilla mengangguk dan Ia segera mengganti bajunya dengan model kedua dan make up yang temanya menyesuaikan model dan warna baju.


"Aku pulang dulu ya,"


"Iya, hati-hati. Dan segera obati kakimu. Beruntungnya bagian kamu memang sedikit hari ini,"


"Iya, jadi aku bisa pulang cepat,"


Aurora segera berpamitan pada mereka semua. Tak terkecuali Vanilla yang sedang berada di ruang make up. Vanilla menanggapi dengan senyum saja dan kalimat 'Hati-hati, Aurora.'


Aurora rasa tidurnya tidak akan nyenyak kalau Ia tidak segera mengonsumsi obat pereda nyeri untuk kakinya.

__ADS_1


Akhirnya sebelum melaju ke apartemen, Aurora memutar arah ke klinik Jhico untuk memeriksakan kakinya.


Sampai di klinik, rupanya Jhico sudah mau pulang karena sekarang sudah sore, Ia juga khawatir dengan kondisi istrinya yang tidak mengangkat telepon dari siang sampai sore hari ini. Vanilla terlalu sibuk bekerja dan lupa mengisi baterai ponselnya yang saat berangkat ke studio foto memang tersisa hanya beberapa persen.


Aurora membuka pintu klinik dan kebetulan Jhico ingin keluar dari klinik. Ia langsung tersenyum menyapa Jhico.


"Sudah mau pulang, Co?"


"Iya, Ada apa dengan kakimu?"


"Sakit, biasalah."


"Terkilir?"


"Entah, aku juga tidak tahu."


"Ya sudah, kamu bisa diperiksa oleh Kenzo. Aku pulang dulu ya,"


"Oh mau jemput Vanilla ya?"


Tangan Jhico yang ingin membuka pintu keluar klinik langsung berhenti bergerak. Ia menatap Aurora sebentar dengan dahi yang mengerinyit.


"Jemput Vanilla?"


"Iya, dia bekerja 'kan. Biasanya kamu menjemput dia. Atau hari ini langsung pulang?"


Aurora yang memang tidak tahu kalau Vanilla keluar sendiri tanpa sepengetahuan Jhico, tidak sengaja membuka suara. Ia hanya ingin tahu tujuan Jhico setelah pulang dari sini.


Wajah Jhico datar tanpa ekspresi. Tanpa mengatakan apapun Ia segera keluar dari klinik dan mengendarai kuda besinya menuju studio foto. Karena pekerjaan yang dimaksud Aurora pasti adalah pemotretan. Ia tidak marah Vanilla bekerja, karena memang sudah disepakati bersama setelah Dokter mengatakan kandungan Vanilla sudah baik-baik saja. Yang membuatnya bingung, kenapa Vanilla tidak izin dulu dan apakah Ia pergi dengan mengendarai mobil sendir?


***


"Ganadian, aku pemotretan hari ini."


Usai baterai ponselnya terisi dan aktif kembali, Vanilla menelpon Ganadian, teman barunya itu.


"Oh iyakah? aku besok, Van."


"Sendiri ya? kasihan, tidak ada teman."


"Semangat!"


"Kamu mulai bekerja hari ini? atau sejak kapan?"


"Baru hari ini. Dan aku hampir absen lagi,"


"Kenapa memangnya?"


"Deni tidak memberi tahu kalau ada jadwal pemotretan karena Ia kira aku masih perlu istirahat. Aku juga lupa memberi tahu Jane dan Deni kalau sudah bisa beraktivitas lagi,"


"Akhirnya kamu tahu jadwal pemotretan hari ini dari siapa?"


"Jane menanyakan kabarku, dan aku mengatakan sudah bisa beraktivitas lagi. Dia langsung senang dan memberi tahu perihal pemotretan kali ini,"


"Oh begitu. Hmm... omong-omong sudah ada yang bisa aku kenal belum?"


"Huh? maksudmu?"


"Kamu mau membantu aku mencari kekasih 'kan?"


Tawa Vanilla meledak mendengar ucapan Ganadian. Saat ini make up nya tengah dibersihkan dan setelah itu Ia akan pulang. Pemotretan untuk hari ini sudah selesai. Sementara Vanilla dibersihkan make up nya, Joana membereskan segala perlengkapan Vanilla dibantu oleh Jane yang sudah dijemput oleh kekasih hatinya, Richard.


"Ya, nanti. Aku saja baru bisa keluar dari apartemen. Kamu tidak sabaran sekali sih,"


"Tidak betah lagi dengan status ini, Van."


Vanilla kembali terkekeh geli seraya menggeleng. Ganadian terlalu mendramatisir. Padahal menurutnya single adalah status yang paling membuat seseorang nyaman.


Jhico memasuki studio foto dan bertemu dengan Deni dan istrinya yang baru keluar. Melihat mereka, Jhico semakin yakin bahwa tadi ada pekerjaan di studio tersebut.


"Vanilla sudah pulang?"


"Belum, Jhico. Dia masih di dalam," Keynie menjawab ramah sementara suaminya malah berjalan lebih dulu dengan wajah tidak peduli saat Jhico bertanya.

__ADS_1


"Baik, terima kasih, Keynie. Hati-hati di jalan,"


"Ya, kamu dan Vanilla juga hati-hati,"


Setelah itu, Jhico segera memasuki studio foto mencari ruangan yang biasanya digunakan oleh sang istri untuk berpose di depan kamera.


"Intinya jangan lupa dengan ucapanmu. Kamu harus buat aku mendapatkan jodoh segera,"


"Iya, tunggu saja."


Jhico memasuki ruang make up karena set foto sudah selesai dibereskan. Ia melihat Vanilla tengah menelpon seseorang. Ia bisa menggunakan ponselnya seperti biasa, tapi kenapa untuk memberinya kabar bahwa hari ini ada pekerjaan, tidak bisa Vanilla lakukan?


"Nillaku..."


Suara Jhico keluar bertepatan dengan selesainya Vanilla berbincang dengan Ganadian. Ia menoleh dan tersenyum seraya mengulurkan kedua tangannya ke arah Jhico, ingin dipeluk.


Jhico segera mendekati sang istri yang duduk di depan cermin. Ia memeluk Vanilla yang wajahnya sudah bersih dari make up.


"Aduh, beruntungnya aku sudah dijemput. Jadi hati dan mataku tidak sakit melihat pemandangan itu," cibir Jane yang mengundang tawa Joana. Joana selesai memasukkan sepatu sneaker Vanilla ke dalam tempat khususnya lalu menatap Vanilla dari cermin.


Jane sudah mau keluar, tapi Ia sempatkan pamit, "Aku pulang dulu, Van. Kamu juga segera pulang, bersihkan lagi wajahmu supaya tidak timbul jerawat, setelah itu istirahat!"


"Iya, terima kasih, Jane. Hati-hati ya, bye."


"Bye..."


Jane mengecup pipi Vanilla kanan dan kiri setelah itu menepuk bahu Jhico singkat, "Aku pulang, Co."


"Ya, terima kasih sudah menjaga Nilla,"


Jane mengangguk dan segera keluar dari ruang make up. Joana masih berdiri di belakang Jhico dan Vanilla seraya menatap cermin di depan Vanilla.


"Ayo, pulang. Kamu antar aku seperti biasa 'kan?" Tanya Joana pada sahabatnya itu.


"Tentu saja,"


Vanilla segera bangkit usai mengenakan sandalnya yang sedari tadi Ia letakkan di bawah meja rias, sementara Jhico membawa perlengkapan Vanilla. "Itu berat, Joana. Aku saja yang bawa,"


"Tidak apa, aku bisa."


Joana menolak saat Jhico hendak membawakan sebuah kotak berisi tiga sepatu Vanilla yang tadi dipakai.


Jhico keras kepala, Ia tetap meraih kotak tersebut dan Ia menggunakan dagunya untuk menunjuk tas transparan yang berisi baju ganti Vanilla saat pergi ke studio foto tadi. Ia meminta Joana membawa itu saja karena tidak berat.


Vanilla meraih sling bag nya dan mereka semua keluar dari studio foto. Seperti biasa, sebelum Vanilla dan Jhico pulang ke apartemen, mereka akan mengantar Joana pulang terlebih dahulu.


Vanilla baru ingat Ia bawa mobil ke studio. Kalau Ia pulang bersama Jhico yang juga membawa mobil, lantas mobilnya ini bagaimana?


"Joana, kamu bisa bawa mobilku. Kau mau 'kan? bukan maksudku tidak mau mengantar kamu, tapi aku akan pulang bersama Jhico. Dan aku tidak mau mobilku tinggal di sini,"


Mendengar ucapan istrinya, raut Jhico semakin dingin saja. Jadi benar Vanilla menyetir mobil sendiri bukan dijemput oleh Jane.


"Ah aku tida berai bawa mobilmu,"


"Kenapa? tida masalah, Joana. Aku sagat percaya padamu. Tidak perlu takut. Kau yabg bawa ya? kamu 'kan bisa menyetir,"


Tanpa ingin dibantah lagi, Vanilla segera menyerahkan kunci mobilnya pada sang sahabat.


"Hati-hati ya. Sampai jumpa besok di kampus,"


"Hmm... kamu serius, Van?"


Joana masih ragu untuk membawa mobil mewah Vanilla. Ia bisa menyetir karena Ia juga pernah menjadi seperti Vanilla. Ia sempat punya mobil dan segala fasilitas lainnya dari sang ayah.


"Cepat pulang, Joana!" titah Vanilla untuk Joana karena Ia mulai geram pada Joana yang masih terdiam setelah menerima kunci mobil Vanilla.


Akhirnya Joana memasuki mobil Vanilla setelah beberapa kali Ia meyakinkan Vanilla.


Di tengah suasana hatinya yang kesal dan kecewa karena sang istri tidak jujur padanya, Jhico masih bisa bersikap tenang.


Bahkan saat Joana melambai singkat padanya dan Vanilla, Ia membalasnya dengan hal serupa dan tersenyum tipis.


 --------

__ADS_1


Udh mampir ke lapak triple A blm? kalau blm, mampir dan berikan dukungan yaa. Makasih semuaaaanya.



__ADS_2