Nillaku

Nillaku
Nillaku 66


__ADS_3

"Adrian kenapa sebenarnya?" tanya Nindya saat Vanilla dan Jhico mendekati mereka yang baru saja duduk setelah ikut berdiri karena panik melihat Adrian tiba-tiba saja terjun ke dalam air.


Saat Zio bertanya pada Devan yang sedang membawa anaknya masuk ke dalam penginapan mereka, Devan tak menjawab. Lelaki itu terlihat khawatir sekali.


"Keram, ck! kalian selalu tidak update,"


"Jujur, aku takut mendekat kalau Devan sudah marah. Jadi lebih baik aku di sini saja,"


"Iya, aku pun begitu." sahut Jo atas ucapan Nindya tadi. Devan memang memiliki aura yang membuat orang lain segan apalagi kalau sedang marah. Semua orang lebih baik menyingkir daripada melihat lelaki beranak tiga itu marah.


Vanilla mengikuti Jhico duduk. Mereka sedikit menjauh dari Nindya, dan yang lainnya. "Sekarang kita harus melakukan apa supaya tidak bosan?"


"Cari camilan saja, bagaimana?"


Mata Vanilla langsung berbinar. Jhico tahu saja kebiasaannya kalau sedang bosan. Hanya makan lah yang membantu Vanilla.


"Ajak Auris,"


"Bukankah Auris tidur?"


Vanilla menghela napas kecewa. "Iya, padahal aku mau ada temannya,"


"Ada aku,"


"Kurang ramai,"


"Ya sudah, ajak Adrian saja,"


"Tidak mau, dia banyak tingkahnya apalagi kalau ada kamu,"


Jhico sama seperti Richard, kekasih Jane. Mereka berdua menjadi uncle kesayangan Adrian karena begitu baik, setiap Ia memiliki keinginan hampir keseluruhan dituruti. Semacam dimanfaatkan oleh Adrian kalau mereka sedang pergi bersama.


"Lagipula dia sedang mandi sepertinya,"


"Andrean kalau begitu,"

__ADS_1


"Dia terlalu pendiam. Kalau jalan bersama Andrean seperti berjalan dengan patung,"


Jhico menggeram gemas lalu mengacak pelan rambut sang istri. "Lalu kamu mau pergi bersama siapa? semua yang aku sarankan ditolak,"


Vanilla nampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk, "Ya sudah, Andrean saja kalau begitu,"


********


"Bagaimana liburan cucu kesayangan Nenek? menyenangkan katanya? pastilah senang, kalau bersama keluarga orang lain pasti dia senang,"


Hawra lebih banyak menyendiri di liburan keluarga kali ini. Biasanya selalu bersama Jhico. Dia yang selalu menemani Hawra, berbincang bersama di saat keluarga yang lain tak mengacuhkan mereka. Berlibur bersama, tapi rasanya seperti berlibur masing-masing, dan tidak saling mengenal.


"Nenek bersyukur masih ada yang bisa membuat Jhico bahagia walaupun bukan dengan keluarganya sendiri,"


Dinata terkekeh sinis. Tak heran lagi menyaksikan Hawra selalu membela Jhico. Setiap ada sesuatu yang dilakukan oleh keluarga terhadap Jhico, pasti keluarga lah yang dianggap bersalah oleh Hawra. Padahal ada alasan yang melatar belakangi mereka menyisihkan Jhico. Mereka geram karena Jhico tak pernah mau sejalan dengan keluarga, Ia selalu mengutamakan pilihannya.


"Kalau Vanilla meninggalkan dia, akan sehancur apa Jhico ya?"


Hawra berusaha menulikan pendengarannya. Namun tak bisa, hatinya terguncang tatkala Dinata berkata seperti itu. Ia tak sanggup membayangkan bila Vanilla benar-benar pergi meninggalkan Jhico. Cucunya akan kacau, kembali merasa kesepian karena hanya ada dirinya di samping Jhico.


"Tidak mungkin? Sangat mungkin Vanilla pergi dari hidup Jhico, mengingat Jhico adalah laki-laki egois,"


"Dia egois terhadap kalian yang juga egois. Jhico adalah laki-laki yang baik, kalau kalian memperlakukan dia dengan baik,"


Hawra menjawabnya dengan suara dalam. Berusaha menekan rasa sakit hati dan sedih karena lagi-lagi cucunya yang tak salah apapun diperlakukan sedemikian kejam, seperti bukan keluarga.


"Hidup ini selalu ada timbal balik. Keluarga ini selalu menuntut untuk dihargai oleh Jhico tapi kalian sendiri tidak menghargai Jhico. Jadi apa yang salah dari tindakannya?"


Qany menghampiri suaminya yang saat ini sedang mengepalkan tangan. Kalau di hadapannya ini bukan Neneknya, sudah pasti Ia akan melakukan sesuatu.


"Aku mencarimu sejak tadi. Ternyata di sini,"


"Ada masalah apa, Nek? tidak biasanya Nenek bicara empat mata dengan Dinata? Karena tidak ada Jhico, jadi Nenek kesepian ya? giliran seperti ini, Nenek malah ingat cucu Nenek yang lain,"


Qany sekejam itu menamparnya dengan dugaan-dugaan yang salah. Padahal suaminya yang menghampiri Hawra lalu menyerang Hawra dengan bertubi-tubi sampai mengikut sertakan Jhico yang saat ini sedang bahagia bersama istrinya.

__ADS_1


"Nenek selalu ingat dengan kalian semua. Kalian keluarga nenek 'kan? sepertinya kalian yang lupa dengan Nenek," jawab Hawra, senyum tergambar di wajahnya yang senja. Ia tak pernah protes apapun sebelumnya. Tapi kali ini, mereka semua sudah keterlaluan. Ia sangat dekat dengan Jhico karena hanya Jhico lah yang memerlukan kasih sayang dan perhatian darinya. Sementara cucu-cucunya yang lain hanya perlu perannya untuk mengendalikan Jhico. Hawra tidak akan pernah bisa melakukan itu.


********


"Ada anjing tidak terurus,"


"Kasihan sekali,"


Vanilla akan mendekat, tapi ditahan oleh Andrean. "Aunty, jangan! kita tidak tahu dia punya penyakit apa, badannya juga kotor sekali,"


"Tapi--"


"Aku juga takut anjing,"


"Aunty tidak akan membawanya ke penginapan. Hanya ingin memberikan ini. Kira-kira dia menyukainya tidak ya?" Vanilla mengangkat steak yang dibawanya. Ia berniat untuk memberikan itu pada Adrian karena anak itu marah-marah di telepon setelah mengetahui bahwa Ia tidak diajak juga seperti Andrean. Vanilla sengaja membelikannya sebagai permintaan maaf, agar Adrian tak merajuk lagi.


"Ya sudah, berikan itu saja."


Andrean dan Jhico memperhatikan dari jauh. Vanilla membuka steak yang dikemas itu, lalu mengusap kepala anjing. Ia juga mendekatkan makanan yang terbuat dari daging itu ke mulut anjing yang terlihat sangat kurus.


Langsung dilahapnya. Vanilla tersenyum senang ketika melihat itu. Ia merasa berguna sebagai manusia. Saling membantu ternyata seindah ini. Tidak hanya pada manusia, dengan mahluk hidup lain juga harus peduli.


"Aunty memegangnya. Aku sudah bilang, tubuh anjing itu kotor," ujar Andrean saat Vanilla kembali mendekatinya dan Jhico.


"Tenang, Aunty bawa handsinitizer. Tolong ambilkan di tasku, Jhi." Ia melirik tas kecil yang tergantung di bahu sampi ke pinggangnya. Jhico segera membuka, lalu meraih benda yang diinginkan sang istri.


"Hanya ini saja yang kita bawa?" Jhico mengangkat goodie bag berisi steak untuk Zio yang tadi juga menginginkannya.


"Iya, aku malas kembali lagi ke restoran. Kita sudah berjalan cukup jauh,"


"Lalu ini akan menjadi milik siapa?"


"Siapapun yang tidak mau mengalah,"


"Aku rasa Adrian,"

__ADS_1


Vanilla mengangguk, membenarkan ucapan Andrean yang sudah tahu betul bagaimana perangai adiknya.


__ADS_2