Nillaku

Nillaku
Nillaku 239 Berita kebahagiaan


__ADS_3

Sehabis menghadiri Dubai fashion week, Vanilla benar-benar tak berdaya di atas ranjangnya.


Ia langsung tidur begitu tiba di hotel. Perutnya terasa sangat sakit hingga rasanya sulit sekali ingin melakukan sesuatu.


Kamar tidurnya diketuk oleh seseorang. "Van, aku masuk ya," ujar Nein dari luar.


"Iya, Nein,"


Nein langsung masuk namun tak bisa karena pintu dikunci. Vanilla baru ingat. Ia menghela napas panjang, kemudian terpaksa bangun dari tempat ternyamannya.


"Kamu kelihatan lemas sekali,"


"Iya, hari pertama kedatangan tamu bulanan ditambah lelah juga,"


"Oh iya, ada Lovi menunggumu di living room,"


Vanilla mengangguk, kemudian beranjak menemui Lovi, istri dari kakaknya yang kini duduk di guest room bersama Joana.


Bentuk penginapan yang dipilih Vanilla kali ini adalah hotel namun seperti rumah untuk keluarga dimana di dalamnya terdapat tiga kamar, dapur, ruang tamu, kolam renang dan berbagai fasilitas lainnya. Tadinya Nein tidak ingin memilih yang seperti itu. Namun Vanilla mengatakan akan lebih nyaman kalau kamar mereka bertiga berdekatan, dalam satu lingkup, dan fasilitasnya juga lebih lengkap presidential suite yang mereka pilih sekarang daripada lainnya.


"Hei, kamu kelihatan lemas sekali,"


"Kedatangan tamu bulanan. Padahal sebenarnya yang keluar juga sedikit, tidak seperti biasanya,"


Alis Lovi bertaut. Matanya menatap Vanilla lama sebelum berdehem.


"Van, apa tidak diperiksa ke dokter?"


"Maksudmu?"


"Tadi kamu mengatakan tidak seperti biasanya. Barangkali saat ini kamu mengandung, dan itu bukan menstruasi, melainkan---- aku takut itu flek, mungkin?"


Vanilla tertegun sejenak. Ia menatap Lovi yang kini mengangguk, meyakinkan.


"Aku pernah seperti itu. Aku kira menstruasi karena aku tidak tahu tentang kehamilanku, ternyata itu flek," ujar Lovi mengutarakan pengalamannya saat mengandung anaknya.


"Aku antar ke rumah sakit ya?"


"Coba ikuti saran Lovi, Van. Barangkali kamu benar hamil,"


"Iya, kamu akan sangat bahagia kalau mendapat kabar itu. Cepat diperiksa,"


Nein dan Joana ikut membujuk Vanilla yang kelihatan tak yakin agar mau memeriksakan dirinya ke rumah sakit, sesuai anjuran Lovi.


"Ayo, aku antar ke rumah sakit," ajak Lovi sekali lagi.


Vanilla mengangguk pada akhirnya meskipun Ia ragu apakah Ia benar hamil atau tidak.


Lovi dan Vanilla akhirnya datang ke rumah sakit. Rencana Lovi datang ke penginapan Vanilla karena ingin berbincang, tapi ada hal yang lebih penting dari itu. Ia harus segera tahu apakah akan menambah keponakan baru atau tidak.


******


"Pupu, aku besok sudah mulai sekolah ya?"

__ADS_1


"Griz sudah siap belum?"


"Siap, aku sudah lindu (rindu) belajar (belajar) di sekolah. Aku juga halus (harus) segela (segera) mengumpulkan tugas yang sudah aku selesaikan,"


"Bagaimana kalau besok istirahat dulu. Kemudian besoknya lagi, barulah Griz sekolah,"


"Hmm begitu ya, Pu?"


"Iya, biar Griz benar-benar pulih dulu, barulah masuk sekolah. Griz 'kan baru pulang dari rumah sakit,"


"Hmm baiklah, aku mendengalkan (mendengarkan) salan (saran) Pupu saja,"


Jhico tersenyum mendengar anaknya yang tak membantah. Ia harus benar-benar memastikan terlebih dahulu bahwa Grizelle memang sudah siap untuk beraktifitas lagi seperti biasa.


"Tapi tidak boleh kelelahan ya, ingat pesan dokter. Makan nya juga dijaga. Jangan makan sesuatu yang tidak Pupu ketahui. Karena Tuhan pasti beri tahu Pupu,"


Grizelle terkekeh mendengar ucapan ayahnya yang tahu sekali Ia sering seperti itu.


"Pupu kapan mulai datang ke klinik, tidak memantau dari laptop atau ponsel saja,"


"Kalau Griz sudah sekolah, mungkin Pupu akan kembali bekerja,"


"Yah, aku kesepian,"


"Mumu akan pulang,"


"Oh iya, Pupu sudah beli (beri) tahu Mumu kalau aku sudah ada di lumah (rumah)?"


Rena terlihat menghampiri anak dan ayah yang sedang duduk di sofa depan televisi.


"Co, Mama pulang ya,"


"Oh iya, Ma. Terimakasih sudah datang,"


"Iya, kalau butuh apa-apa, telepon saja. Tapi besok Mama datang ke sini lagi. Mama akan sering datang selama Vanilla tidak ada,"


"Mumu 'kan besok lusa sudah pulang, Glandma. Saat aku masuk sekolah,"


"Lusa Griz sudah mulai sekolah?"


"Iya, Ma. Tapi lihat kondisinya dulu," jawab Jhico.


"Ya bagaimana kamu saja, Co. Kamu yang paham tentang Griz,"


"Grandma pulang dulu ya,"


"Glandma hati-hati ya. Dijemput Glandpa?"


"Tidak, Sayang. Ada driver yang sudah menunggu,"


Grizelle dan Jhico mengantar Rena sampai masuk ke dalam mobilnya. Sebelum pulang, seperti biasa Rena mencium cucunya hingga puas dulu.


"Bye, Glandma,"

__ADS_1


"Jangan kencang-kencang bawa mobilnya ya," pesan anak itu pada driver yang tersenyum mengangguk.


"Siap, Nona kecil,"


Grizelle merengut dipanggil seperti itu, "Jangan panggil aku begitu. Panggil Gliz (Griz) saja,"


Lagi-lagi driver itu mengangguk. Rena terkekeh melihat cucunya yang protes dengan menggemaskan. Grizelle yang terkadang banyak omong sudah kembali lagi.


****


"Usianya baru tiga minggu. Yang tadi itu bukan menstruasi, tapi flek karena Nona mungkin kelelahan,"


Badan Vanilla kian lemas setelah mendengar penuturan Dokter yang baru selesai memeriksanya.


Dunianya terasa berputar. Rasa haru, tidak menyangka, bahagia, semua bercampur jadi satu. Tuhan sebaik ini padanya. Bahkan belum lama ini Ia berharap ingin mengandung lagi, dan kini Tuhan sudah memenuhi permintaannya. Ia sempat frustasi juga meminta solusi pada Jhico agar ia bisa segera hamil saat Thanatan mengatakan bahwa dirinya penyebab kematian anak keduanya.


"Ini anak pertama?"


"Ketiga, Dokter. Yang kedua belum lama ini meninggal dalam kandungan,"


Dokter mengangguk pelan. Ia menatap Vanilla dengan sorot serius.


"Dijaga dengan baik ya, Nona. Kandungan Nona memang lemah.  Jangan sampai melakukan hal yang bisa memicu suatu hal terjadi,"


"Iya, Dokter,"


"Akan saya beri resep vitamin. Diminum setiap hari, kemudian istirahatnya tolong diperhatikan,"


Vanilla mengangguk paham. Ia akan menjaga anaknya dengan baik. Agar yang pernah terjadi, tak terulang.


Vanilla keluar dari ruangan bongkahan rasa bahagia yang tak terbendung. Ia berusaha menahan keinginannya untuk berteriak bahagia. Akhirnya Ia diberikan keturunan lagi. Grizelle akan memiliki adik.


Di luar, Lovi sudah menunggunya. Perempuan itu pun menanti tak sabar, kabar apa yang akan Ia dengar dari Vanilla.


"Bagaimana kondisimu?"


Vanila memeluk Lovi erat. Berkat Lovi Ia bisa cepat mengetahui keberadaan anaknya. Kalau tidak diajak Lovi ke rumah sakit, mungkin Ia belum tahu kalau kini ada nyawa dalam perutnya.


"Aku mengandung lagi," gumamnya penuh haru di atas bahu Lovi.


Lovi segera meregangkan pelukan mereka. Ia tersenyum lebar, menumpukan kedua tangannya di bahu Vanilla.


"Berapa usianya?"


"Tiga minggu,"


Lovi menangkup wajahnya dengan kedua tangan, seraya mengucap rasa syukur.


"Ya Tuhan, dia masih kecil sekali. Kamu harus semangat menjaganya. Jangan sia-siakan kepercayaan Tuhan,"


------


Yeaayyy Nilla hamil lg. Icelle punya adik lg. Mana suaranya yg udh nunggu-nunggu Mumunya Icelle hamil lg?

__ADS_1


__ADS_2