
"Ya Tuhan, kapan aku bisa mengandung lagi? kapan? aku janji akan lebih menjaganya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku mohon berikan aku anugrah itu lagi ya, Tuhan,"
Vanilla menghentak kepalanya beberapa kali ke sandaran kursinya. Ia mengacak rambutnya merasa frustasi.
"Dan kalau aku hamil bagaimana caranya supaya dia berjenis kelamin laki-laki?"
"Memang aku berhak untuk menentukan? tidak! tidak mungkin,"
Vanilla meracau seorang diri di dalam mobilnya. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Hatinya masih terasa begitu perih. Ucapan-ucapan Thanatan belum juga hilang berdenging di telinga dan terus berputar di kepala.
Jhico tersenyum melihat mobil istrinya. Dugaannya benar. Vanilla dan Grizelle masih berada di kediamannya.
Tapi, Ia juga melihat mobil yang biasa dipakai untuk menjemput ayahnya di bandara.
"Papa sudah pulang?"
Tak ingin bingung sendiri, Jhico lekas keluar dari mobil. Kemudian kakinya melangkah mendekati mobil istrinya.
Ia mendekatkan kepalanya pada kaca jendela dan ia bisa melihat Vanilla duduk di kursi kemudi, memejamkan mata, meletakkan kedua tangannya di atas kepala yang menunduk.
Jhico mengetuk jendela itu beberapa kali dan berhasil mengalihkan atensi istrinya yang sebelumnya tenggelam dalam lamunan.
Vanilla menurunkn kaca jendela dan saat itulah Jhico melihat istrinya benar-benar kacau.
"Kamu menangis? ada apa, Nilla? kenapa kamu tidak masuk ke dalam? Griz dimana?" Jhico terlalu panik sehinngga seluruh pertanyaan yang saat itu berputar mengelilingi pikirannya langsung Ia lontarkan.
"Buka pintunya, aku ingin masuk ke dalam," pinta Jhico.
Vanilla menggeleng pelan dan tangisnya kembali pecah. Jhico merasa kesulitan bernapas. Ia bingung, Ia tidak mengerti kenapa Vanilla seperti ini. Ia merasa hancur. Vanilla sangat tidak baik-baik saja begitupun dirinya. Ia tidak bisa melihat Vanilla yang seperti ini. Oleh sebab itu dengan cepat Ia yang memasukkan tangannya ke dalam untuk membuka kunci pintu.
Vanilla tidak bisa menahan lagi. Suaminya kini memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam untuk memeluk Vanilla.
"Apa yang terjadi? hmm? cerita padaku,"
"Sebentar, aku masuk dulu," ujar Jhico seraya memutari mobil untuk masuk ke sisi mobil disebelah Vanilla yang duduk di kursi pengemudi.
"Nilla, cerita padaku. Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Aku ingin pulang," lirih Vanilla. Jhico menggeleng pelan kemudian meraih kepala istrinya. Merangkum wajah yang penuh dengan air mata itu. Ibu jari Jhico terulur mengusap jejak telaga yang dibuat Vanilla di atas wajahnya.
"Itu bukan jawaban yang aku inginkan. jangan buat aku khawatir, Nilaku,"
"Aku ingin punya anak lagi, Jhico. Aku ingin mengandung lagi. Aku janji akan menjaganya dengan baik. Aku menyesal. Kalau aku mengandung lagi, aku akan berhenti bekerja. Kalau sekarang, tidak bisa. Aku akan merasa sangat kesepian kalau berhenti bekerja sekarang. Tapi---"
Jhico memeluk istrinya yang meracau disela isak tangisnya itu. Ia benar-benar tidak mengerti dengan semua yang terjadi sebelum Ia datang.
Dan Ia yakin, ini semua masih ada kaitannya dengan keguguran yang dialami Vanilla waktu itu. Siapa yang membahasnya lagi? siapa yang sudah membuat Vanilla seperti ini?
"Ssttt hei. Bisa tenang? tolong jelaskan padaku. Aku tidak tahu apapun, Nilla,"
"Kita masuk dulu ya? Grizelle di dalam 'kan?" imbuh lelaki itu yang langsung direspon Vanilla dengan gelengan dan gumaman lirih, "Aku tidak ingin masuk. Kamu saja yang memanggil Griz di dalam,"
Mendengar kalimat istrinya yang menghindar dari rumah, otak Jhico mulai bekerja. Sepertinya sumber dari semua kekacauan Vanilla saat ini ada di dalam rumah yang menjadi tempatnya bernaung semasa kecil itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Jhico melepas dengan lembut pelukan Vanilla. Kemudian Ia keluar dari mobil. Melangkah lugas menuju istana kedua orangtuanya.
Ia benar-benar ingin tahu sebenarnya apa yang membuat Vanilla seperti enggan sekali untuk sekedar masuk sebentar ke dalam rumah orangtuanya guna memanggil anak mereka lalu mengajaknya pulang.
"Ya sudah, kita akhiri pembicaraan soal cucu ya,"
Theo dan Thanatan memang lebih banyak membahas perihal keluarga mereka masing-masing terutama tentang anak dan cucu mereka.
Theo tersenyum melihat kedatangan Jhico yang sempat mendengar ucapannya tadi. Thanatan menoleh pada putra tunggalnya itu.
"Aku pulang dulu ya. Terimakasih sudah berubah pikiran tentang kerja sama kita,"
Thanatan mengangguk kemudian mempersilahkan Theo untuk undur diri. Theo pun pamit pada Jhico yang kini diam berusaha menyusun puzzle yang sedang berantakan di otaknya.
Hingga satu pertanyaan terlontar dari bibirnya, "Apa yang Papa katakan pada Vanilla?"
Thanatan yang akan melangkah ke dalam tanpa ada niat untuk menyapa anaknya yang jarang sekali datang ke rumah, dibuat menghentikan langkah karena pertanyaan putranya itu.
"Maksudmu?"
Thanatan melihat keberadaan Vanilla di rumah ini saja tidak. Apa yang Ia bicarakan pada menantunya itu?
__ADS_1
"Papa jangan pura-pura tidak mengerti. Paa sudah membuat Vanilla seperti itu di luar. Apa yang Papa katakan padanya? Tolong jawab, Pa."
"Pembicaraanmu tidak penting,"
Jhico memendam amarahnya susah payah. Melihat Papanya yang tidak merasa bersalah sama sekali, amarah Jhico memenuhi kepalanya dan ingin sekali Ia ledakkan.
"Pa, tolong jawab pertanyaanku." kali ini suara Jhico lebih tegas lagi. Ia berusaha menelan keinginan untuk berbicara kasar dengan ayahnya.
"Vanilla menangis di luar. Tidak mungkin dia bisa seperti itu kalau tidak ada sebabnya,"
"Lalu menurutmu Papa penyebabnya? begitu?!"
Suara Thanatan menggelegar. Ia menatap Jhico dengan tajam. Ia merasa tidak terima ketika putranya datang lalu tiba-tiba menyalahkan dirinya. Ia merasa tidak berbut apapun yang bisa membuat Vanilla menangis, seperti apa yang dikatakan Jhico tadi.
"Papa hanya berbincang dengan Theo saja tadi. Tidak ada Vanilla di sini. Papa dan Theo membicarakan tentang cucu kami,"
"Apa yang Papa bicarakan tentang cucu Papa? hmm? Grizelle yang tidak Papa senangi kehadirannya di dunia ini atau tentang kematian anak keduaku?"
"Iya, tentang itu semua. Tentang Grizelle yang tidak akan mungkin bisa diandalkan menjadi penerus Papa dan Vanilla yang bodoh karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik padahal ada kemungkinan anak itu adalah seorang laki-laki yang---"
Bugh
Jhico tidak pernah seperti ini. Ia meninju dinding di sebelahnya. Pembawaannya yang tenang lenyap seketika setelah mendengar penjelasan ayahnya.
Thanatan mengatakan semuanya dengan santai dan ringan seolah tidak ada hati yang bisa saja tersakiti ketika mendengar ucapannya itu.
Jhico kini bisa menyimpulkan bahwa penyebab istrinya menangis kesakitan di dalam mobilnya karena ayahnya sendiri.
Karina menggenggam tangan Grizelle dan mereka berjalan tergopoh menuju sumber keributan. Sementara Hawra yang tidak kuat lagi berjalan cepat memilih untuk menyusul di belakang.
"Papa tidak sepantasnya mengatakan apapun tentang Vanilla. Papa hanya bisa menilai orang lain tanpa berkaca pada diri Papa sendiri. Apa Papa sudah menjadi orangtua yang baik sampai Papa bisa menegaskan bahwa istriku bodoh tidak bisa menjaga anak kami?"
Jhico berusaha untuk tenang disaat dirinya sendiri ingin memberontak untuk melakukan hal yang lebih dari sebelumnya. Napasnya tidak beraturan. Matanya berkaca. Menahan amarah sekaligus kesedihan. Tak bisa membayangkan apa yang dirasakan Vanilla tadi saat mendengar Thanatan bicara seperti itu.
"Vanilla bukan istri dan Ibu yang bodoh. Dia adalah sosok luar biasa. Aku dan dan dia sama-sama masih terus belajar menjadi orangtua yang baik. Dan kejadian waktu itu, bukan kesalahannya. Semua terjadi karena takdir,"
Ā -----
__ADS_1
Jhi mulai keluar tandukšPupu nya Griz bisa marah jg ternyata. Kira-kira Griz tau ga ya kl Pupu nya lg gelut sm kakeknya?