
"Grandpa, aku datang menepati janji,"
"Tapi datangnya terlalu cepat. Grandpa masih bekerja,"
Auristella terkekeh, menatap kakeknya melalui layar ponsel sang ayah.
"Kamu di sana sampai Grandpa datang ya?"
"Aku ingin ikut Daddy ke kantor,"
"Oh ya sudah, oh iya, Grandma sudah memberikan berkas pada ayahmu?"
"Sudah, Grandpa. Terimakasih ya, Grandpa. Kakekku baik sekali, memberikan aku playground yang besar. Besok aku ingin ke sana kalau jadi,"
"Okay, Sayang,"
"Ya sudah, Grandpa yang semangat kerjanya. Aku tutup telepon nya ya?"
"Iya, Sayang,"
Auristella dan Devan sudah akan pulang dari kediaman Raihan dan Rena. Tapi Devan menyuruh putrinya untuk menghubungi Raihan terlebih dahulu agar kakeknya itu tahu bahwa cucu perempuannya dari anak laki-laki jadi datang hari ini.
"Kami pergi dulu ya, Ma. Terimakasih,"
"Iya, hati-hati. Auris, baik-baik di kantor Daddy ya,"
"Okay, Grandma,"
"Oh iya, kalian sudah tahu belum kalau adiknya Grizelle itu perempuan,"
"Hah perempuan?" tanya Aurisyella memastikan. Melihat neneknya mengangguk, Auristella bersorak seraya melompat riang. Bahagianya seperti Grizelle yang akan memiliki adik.
"Yang benar, Grandma?"
"Iya, Sayang"
"Vanilla belum mengatakan apapun padaku," gumam Devan, seharusnya adiknya itu langsung mengabari, melalui pesan pun tidak apa. Ah iya, Vanilla jarang sekali mau berkirim pesan dengannya. Kalau begitu, kenapa tidak melalui sambungan telepon. Devan terlambat mengetahui keponakan keduanya adalah perempuan lagi.
"Kamu senang sekali sih? padahal yang mau punya adik sebentar lagi itu Icelle. Tapi kamu tidak kalah senang ya?"
"Tentu saja, Grandma. Pasukanku bertambah. Dan pasukan laki-laki tidak bertambah, hanya dua," kata anak itu serata terkekeh. Ia senang karena teman bermainnya, adik perempuannya bertambah.
"Ya minta adik lagi pada Mommy dan Daddy biar tahu rasanya punya adik,"
Auristella dengan cepat menggeleng. Ia juga menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri. "Tidak mau, Grandma. Aku tidak mau punya adik,"
"Kenapa?"
"Nanti kasihan pada Mommy yang harus mengandungnya selama sembilan bulan lalu membesarkannya. Kasihan juga pada Daddy nanti tanggungannya bertambah,"
Tawa Rena dan Devan pecah seketika mendengar kalimat terakhir Auristella. Ia mengasihani ayahnya karena tak ingin ayahnya memiliki tanggungan lagi. Itu terdengar menggelitik telinga mereka yang mendengarnya.
"Mau punya adik sepuluh tidak masalah, Auris. Daddy bisa menanggungnya dengan baik. Dijamin sekali,"
__ADS_1
"Tetap tidak mau, Grandma,"
*******
Adrian memasuki kediamannya dengan raut gelap berbeda sekali dari biasanya maka pengasuhnya yang tak lagi mengasuh sertaus persen sebab sudah beranjak besar bertanya padanya.
"Kenapa, Adrian?"
"Tidak tahu,"
Usai menjawab singkat, Ia langsung bergegas ke kamarnya. Hati anak itu masih jengkel dengan Daddy dan adiknya yang pergi hanya berdua tanpa mengajak dirinya dan sang kakak. Ia begitu mempermasalahkan, berbeda dengan Andrean yang tenang saja. Kalau tidak diajak tidak ada masalah.
"Karena tidak dijemput Daddy, maka Ian kesal" Andrean yang menjelaskan perihal penyebab adiknya tampak berbeda saat ini.
Kemudian Andrean juga bergegas ke kamarnya. Sebelum itu, Ia berhenti terlebih dahulu di kamar adik keduanya dan mengetuk pintu kamarnya.
"Tidak boleh masuk" terdengar sahutan dari dalam yang galak. Andrean menggantung tangannya yang akan mengetuk lagi. Ia putuskan untuk masuk ke dalam, ternyata pintu tidak dikunci dari dalam.
"Ian, tidak boleh marah-marah seperti ini. Tadi kita sekolah dan mungkin Daddy terburu-buru makanya tidak menunggu kita,"
"Tetap saja aku kesal dengan Daddy. Hanya Auris yang dijemput dan diajak pergi. Sedangkan kita berdua tidak"
"Aku tidak masalah kalaupun tidak diajak. Sudahlah, jangan marah begitu. Sampai-sampai menjawab orang tidak sopan. Kalau orang bertanya itu, dijawab baik-baik," Andrean ingin memperingati adiknya tentang masalah itu juga. Tadi orang lain bertanya denga baik padanya, kenala malah dijawab singkat lalu langsung pergi. Menurutnya itu tidak sopan.
Andrean keliar dari kamar usai menasihati adiknya. Setelah iu Ia ke kamarnya sendiri. Berganti baju, istirahat sebentar kemudian melakukan kegiatan apapun yang Ia sukai. Membaca cerita, melukis, belajar, mengerjakan tugas, menonton televisi, atau bermain game.
*****
"Mumu, sudah berrli (beri) tahu Aunty lovi kalau adikku perrlempuan (perempuan)?"
"Nanti kalau Aunty Lovi tahu, pasti Aunty Lovi bilang ke trrliple A," katanya.
Vanilla menatap mesin waktu. Sekarang jadwalnya makan siang. Ia ingin coba menghubungi Lovi yang Ia harapkan sedang tidak sibuk. Atau kalaupun sibuk, Ia bisa beri tahu lain waktu.
"Hallo, Vanilla,"
"Lovi di butik sekarang?"
"Iya, kenapa, Van?"
"Sibuk ya?"
"Tidak, kamu perlu apa? ada yang bisa aku bantu, Van?"
"Hmm..tidak, aku hanya ingin..."
"Ingin apa?"
"Grizelle memintaku untuk segera memberi tahumu,"
"Perihal apa itu? aku penasaran,"
"Anak keduaku perempuan, Lovi. Aku hanya ingin mengatakan itu. Tidak penting ya? maaf,"
__ADS_1
"Ya ampun, kata siapa itu tidak penting? aku senang sekali mendenharnya? kenapa baru sekarang memberi tahu aku? itupun karena sudah dingatkan Grizelle,"
"Iya aku lupa. Maaf, Lovi,"
"Ya, tidak apa. Akan aku beru tahu pada Devan dan triple A nanti,"
"Sekali lagi maaf mengganggumu,"
"Tidak sama sekali,"
"Bye, Lovi,"
"Bye, Van,"
Grizelle yang sebelumnya disuruh untuk ganti baju sepulang sekolah, malah diam di depan Mumunya mendengarkan pembicaraan sang ibu dengan Aunty nya.
"Ganti bajumu, Sayang,"
"Aku masih butuh bantuan Mumu,"
Grizelle melirik lukanya. Vanilla baru ingat, Ia menepuk pelan dahinya.
"Okay, kita bersihkan dulu lukamu, setelah itu Mumu bantu ganti baju juga ya,"
******
Devan melangkahkan kakinya kembali ke gedung megah perusahaannya dengan satu tangan menggenggam tangan putri kecilnya.
Kedatangan Auristella membuat banyak pekerja salah fokus. Anak itu terlihat hangat sekali pembawaannya. Ia akan tersenyum ketika ada yang bertemu tatap dengannya.
Selain cantik, Ia juga murah senyum sehingga siapapun yang melihatnya akan terkesima.
Dengan pakaian sekolah dan ransel berwarna biru pastel perpaduan merah muda pemberian Vanilla saat Ia ulang tahun, Auristella, anak berusia delapan tahun itu kelihatan sangat menggemaskan.
Devan membuka pintu ruang kerjanya dan mempersilahkan anaknya untuk masuk.
Auristella langsung berhambur masuk ke dalam. Kemudian menghentak tubuhnya ke kursi kebesaran sang ayah hingga Devan yang menyaksikannya tersenyum.
"Senang datang ke sini?"
"Senang, Dad,"
Ia berdiri meninggalkan kursinya meminta Devan segera duduk kemudian Ia memilih untuk duduk di sofa.
"Lepas ranselmu biar duduknya nyaman," kata ayahnya yang ia turuti.
Ia melepas ranselnya kemudian meletakkan tepat disampingnya. "Kalau mau tidur, tidur saja ya. Daddy akan bekerja kembali,"
"Iya, Dad. Aku tidak akan ganggu,"
"Terimakasih, Sayang,"
Auristella mengangguk tersenyum. Ia duduk menghabiskan waktu di sofa, menatap ayahnya yang tengah serius bekerja.
__ADS_1
Sampai tak lama kemudian, Auristella merasa terbuai dengan kenyamanan yang Ia rasakan saat ini. Ruangan ayahnya sejuk, harum, dan sunyi. Wajar saja bila Ia tidak perlu waktu lama untuk terlelap.