
Joana ikut masuk ke dalam rumah sakit karena Ia ingin menjenguk Hawra juga. Mereka memasuki lift untuk segera tiba di ruang perawatan Hawra.
"Hanya Jhico yang menjaga Nenek Hawra?"
"Iya, dia sendiri,"
Cklek
Vanilla membuka pintu, Ia langsung mendengar orang-orang yang sedang berbicara.
Mereka berdua melewati ruang tamu sebelum masuk ke dalam ruangan khusus Hawra berbaring.
Di sana mereka melihat Jhico yang duduk menggenggam tangan Hawra, seorang laki-laki dan juga perempuan sedang duduk di sofa.
"Hai, kenapa tidak beri tahu aku kalau sudah pulang?" sapa Jhico pada istrinya yang terkejut melihat kehadiran Fionna dan juga Dion.
"Sudah kenal dengan Fionna 'kan?" tanya Jhico pada istrinya. Vanilla mengangguk. "Ini Dion," lanjut Jhico seraya menunjuk Dion.
Vanilla lagi-lagi mengangguk. Ia juga tahu karena beberapa kali melihat foto mereka bertiga saat masih kecil di rumah orangtua Jhico.
"Mereka menjenguk Nenek," ucap Jhico setelahnya agar tidak hening. Entah mengapa Vanilla jadi diam.
"Kalian tidak ada rencana babymoon?" tanya Fionna dengan senyum nya.
"Ada, tapi nanti."
"Ajak aku jangan lupa,"
Meskipun nada nya bercanda tapi telinga Vanilla merasa tidak nyaman mendengar ucapan Fionna.
"Aku bercanda, Vanilla." Fionna tahu bahwa Vanilla telah menangkap kelakar nya dengan makna yang lain.
"Aku tahu, kamu babymoon juga lah. Tapi nikah dulu, dan hamil dulu." sahut Vanilla dengan canda juga.
"Aku ajak nikah tidak mau, Van."
Vanilla tertawa mendengar ucapan Dion. Ia tidak tahu pasti apakah benar Dion menyukai Fionna, hanya Jhico yang tahu.
"Kamu serius tidak? kalau serius---"
"Kalau ditanya serius atau tidak, sudah dari dulu aku serius. Dari kecil malah,"
"Gila, dari kecil sudah mau serius dengan wanita. Wow hebat!"
Joana berdecak kagum dengan prinsip Dion. Sepertinya Dion tidak sedang bergurau. Ia memang ada perasaan yang lebih dari sekedar sahabat untuk Fionna.
"Iya, tapi sayang Fionna menyukai orang lain," setelah mengatakan itu mata Dion melirik Jhico yang tidak sengaja bertemu tatap dengannya.
"Banyak cerita di luar sana sahabat menikahi sahabat. Aku dukung kalian,"
"Doakan aku Vanilla. Aku sedang berjuang untuk bisa benar-benar pindah lagi ke sini. Lalu mengejar Fionna,"
"Ah jangan bicara begitu, Dion." Fionna mendorong bahu sahabatnya dengan tawa kecil. Jhico yang melihat Fionna tersipu malu tak pelak merasa bahagia. Karena sepertinya Fionna sudah benar-benar menganggap dirinya sebagai sahabat, tanpa perasaan lebih lagi.
__ADS_1
*****
Jhico membantu istrinya untuk bangkit dari bangsal setelah sebelumnya menurunkan baju Vanilla yang sengaja disingkap.
Vanilla baru saja melakukan USG lagi. Dokter duduk, diikuti oleh Vanilla dan juga Jhico.
"Jenis kelamin nya tidak berubah, dia perempuan,"
Tepat di usia kandungan Vanilla yang ke lima bulan, mereka kembali menjalankan pemeriksaan untuk kedua kalinya. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan jenis kelamin anak mereka perempuan.
"Kondisinya sehat dan terus dijaga ya," pesan dokter pada Vanilla yang langsung mengangguk patuh.
"Terima kasih, Dokter."
"Ya, sama-sama,"
Vanilla keluar dari ruangan dokter dengan pikiran berkelana. Tidak ada yang berubah. Padahal Ayah mertuanya berharap pemeriksaan kali ini sesuai dengan keinginannya. Ternyata tidak.
"Anak pertama kita baby girl, Nillaku."
"Hmm... iya," jawab Vanilla dengan suara yang pelan.
Jhico menghentikan langkahnya kemudian mengangkat dagu Vanilla yang sedari tadi menunduk dengan telunjuknya.
"Kenapa? kamu memikirkan apalagi?"
"Tidak, aku hanya merasa senang."
"Iya,"
"Ya sudah, kenapa kamu terlihat kurang bahagia?"
"Aku sangat bahagia, tapi apa semua orang yang mendengar kabar ini merasakan hal yang sama?"
"Kamu masih saja memikirkan itu. Aku lelah memberi tahumu. Mereka saja tidak mau memikirkan perasaan mu, kenapa kamu malah sebaliknya?"
Jhico menarik tangan Vanilla untuk berjalan cepat masuk ke dalam mobil. Ia ingin bicara lebih tegas dengan Vanilla yang keras kepala ini. Ia harus melakukan apa lagi biar Vanilla menutup telinga dari tanggapan keluarga nya?
"Mama senang-senang saja mendapat cucu perempuan begitupun Nenek. Papa? tidak usah kamu pikirkan. Papa memang egois, Vanilla. Dan aku sudah biasa mendapatkan perilaku Papa yang egois. Cukup diamkan saja, nanti lelah sendiri. Lagipula banyak yang senang dari pada yang tidak senang. Kamu pikirkan saja mereka yang senang. Jaga anak kita dengan baik, sehingga yang senang merasa semakin senang ketika anak kita terlahir dengan sehat. Kamu mengerti ucapanku tidak?" ucap Jhico panjang lebar dengan perasaan yang geram luar biasa. Papa nya sudah segila itu mempengaruhi Vanilla sampai-sampai setiap bertemu Vanilla selalu mengatakan hanya ingin cucu pertama nya laki-laki.
Napas Jhico tak beraturan. Ia ingin memberi peringatan yang lebih keras lagi pada Vanilla tapi Ia tak bisa melakukannya. Vanilla sudah keterlaluan memikirkan ucapan orang lain. Ia tidak berpikir bahwa itu bisa menyakiti mental nya sendiri dan juga membahayakan anak mereka.
*****
Sementara Jhico dan Vanilla ke dokter kandungan, Hawra dijaga oleh Karina. "Suamimu kenapa belum sampai?"
"Sebentar lagi sepertinya, Bu. Jhico dan Vanilla juga sudah di jalan,"
"Akhirnya mereka selesai periksa juga. Baru sebentar ditinggal oleh mereka, Ibu sudah rindu. Apalagi dengan Vanilla yang banyak bicara saat menjaga Ibu,"
Hawra senang sekali karena sakitnya kali ini bukan hanya Jhico yang menemani, tapi juga ada Vanilla.
"Nenek..."
__ADS_1
"Wah sudah pulang,"
"Iya, sudah rindu, Nek? kita baru berpisah kurang lebih satu jam," ucap Vanilla pada Hawra. Ia tersenyum menyapa Karina lalu memeluknya.
"Tumben Ma datang sekarang, biasanya selesai kerja." ujar Jhico.
"Iya," hanya itu jawaban Karina setelah anaknya bicara.
"Bagaimana kondisi kandungan mu? sehat 'kan?" lanjut Karina bertanya pada menantunya.
"Sehat, Ma."
"Tetap perempuan?" tanya Hawra, Vanilla mengangguk dan saat itu juga Hawra terkekeh senang.
"Kalau Nenek panjang umur nanti, dia akan menjadi teman Nenek,"
Jhico mengusap punggung tangan yang sudah keriput itu. Ia tidak suka mendengar ucapan neneknya. Ia ingin Hawra selalu bersamanya. Ia ingin anaknya juga bisa merasakan kasih sayang tulus dari Hawra seperti dirinya selama ini.
"Kamu seorang model dan pandai dalam segala hal yang berkaitan dengan perempuan. Pasti dia akan menjadi teman mu yang menyenangkan, Vanilla." ujar Karina yang juga turut bahagia sejak pertama kali jenis kelamin cucunya terungkap.
*****
Siang ini Hawra sudah diizinkan untuk kembali ke rumah. Ia tinggal menjalani masa pemulihan lagi. Jhico senang karena neneknya sudah kembali sehat.
"Kalau nenek sehat, kita tidak bertemu lagi nanti."
"Nek, jangan bicara begitu. Aku janji akan sering mengunjungi Nenek. Maaf kemarin-kemarin aku jarang sekali melihat keadaan Nenek karena sulit sekali mencari waktu,"
"Maaf ya, Nek." lanjut Jhico yang juga merasa sedih karena Hawra ternyata merindukan dirinya tapi karena sibuk, Ia menghiraukan walaupun tidak ada niat seperti itu.
"Nenek istirahat ya," ucap Vanilla.
Vanilla membantu Hawra untuk berbaring. "Jangan banyak aktifitas dulu, Nek." pesannya dengan perhatian. Hawra mengangguk.
"Terima kasih, sudah menemani Nenek beberapa hari ini,"
"Iya, sama-sama, Nek."
"Kalian pulang, biar istirahat. Bukan nenek mengusir tapi lebih baik istirahat di apartemen, Nenek rasa lebih nyaman di tempat sendiri 'kan?"
Tadi Thanatan menyuruh mereka menginap di rumah tapi Hawra mengatakan itu yang artinya Ia tidak setuju. Lebih baik mereka pulang saja agar Thanatan tidak ada kesempatan cari masalah dengan anak dan menantunya.
"Aku malah meminta mereka menginap," ucap Thanatan.
"Tidak usah, pulang saja. Aku yang menyuruh mereka. Dan pasti mereka menurut. Iya 'kan, Jhico?"
Jhico mengerti maksud neneknya. Hawra ingin melindungi dirinya dan Vanilla dari Thanatan yang kerap sekali mencari perkara bila mereka berdekatan.
---------
Hollaaa selamat malam🙋 udh dinner? lg apa niyy? sehat-sehat trs ya kaliaaan. Terima kasih udh baca dan beri dukungan🙏🤗
__ADS_1