
"Ini yang aku mau selain ucapan terimakasih, Lov,"
Cup
Lovi baru saja masuk ke dalam kamar, Ia mengekori Devan tadi sebab Auristella sudah tidur dan mengizinkan kedua orangtuanya berlalu, tidak perlu menemaninya.
"Ck! kamu!"
"Apa, Lov?"
Lovi mengusap bibirnya dan Devan terkekeh geli. "Kenapa dihapus sih? bibirku 'kan candu untukmu. Benar tidak?"
Lovi mencubit pinggang suaminya dengan gemas kemudian berlalu ke kamar mandi sebelum beristirahat.
"Tidur, besok bekerja 'kan?" sebelum ke kamar mandi suara Lovi terdengar.
"Ya, Lov,"
Sahut Devan tersenyum menatap kepergian istrinya yang kini sudah berada di dalam kamar mandi.
Ia menunggu di depan pintu kamar mandi sebab Ia ingin masuk juga ke dalam setelah istrinya keluar dari sana.
Lovi keluar dan mengerinyit melihat suaminya yang senyum menaik turunkan alis menatapnya.
"Apa sih? aneh kamu,"
"Tidur?"
"Iya, memang apa lagi? kerja?"
"Oh, ya sudah. Tidurlah. Peluk aku nanti ya,"
"Selalu," kata Lovi singkat. Ia menaiki ranjang dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut.
"Aku mau lihat pekerjaan dulu ya, Lov,"
Devan berseru dari dalam kamar mandi yang langsung disahuti oleh Lovi dengan tegas, "Tidur, bukan lihat pekerjaan. Besok sudah bekerja,"
*****
Karina menerima dengan bingung boneka besar yang dibawa suaminya. Ia kemudian tersenyum malu.
"Kamu membelikan aku boneka, Pa?"
"Itu bukan buat kamu. Dan itu juga bukan dariku," kata Thanatan tegas, Istrinya sudah terlampau percaya diri. Untuk apa Ia memberikan boneka pada Istrinya?! mereka bukan anak remaja lagi.
"Lalu ini untuk siapa dan dari siapa?"
Thanatan melangkah ke kamar. Ia menghentak tubuhnya di sofa. Ia melepaskan satu persatu kancing suit yang mengurung tubuhnya seharian.
"Tadi Evelyn ikut Thomas ke kantorku. Dan dia meberiman itu padaku, kata Evelyn, itu untuk Griz,"
"Oh ya ampun, manis sekali Evelyn,"
"Ya manis, dan aku malu membawanya dari ruanganku sampai ke lobi,"
Karina terbahak mendengar keluh suaminya. Ia membayangkan suaminya yang membawa boneka besar itu dari ruang kerjanya melalui lobi, koridor, dan orang-orang yang masih ada di sana. Ia tahu Thanatan pasti malu sekali. Ini bukan dia sama sekali. Menjinjing boneka menggemaskan.
"Kenapa tidak minta tolong orang lain untuk membawanya?"
Thanatan diam, Ia berpikir kenapa saat di kantor Ia tidak terpikirkan hal yang disebutkan istrinya tadi? Padahal ada orang yang bisa ia mintai tolong.
__ADS_1
"Simpan, nanti berikan pada Griz,"
"Okay, siap, Sayang. Tapi sekarang Griz sakit,"
"Kamu tidak menjenguknya?"
"Rencananya esok pagi. Kamu mau ikut, Pa?"
Thanatan mengendikkan bahunya, "Lihat besok." Karina mengkus karena suaminya tak bisa mengambil keputusan sekarang juga.
"Ikut saja ya? biar dia senang kedatangan kamu,"
"Lihat besok, aku bilang,"
Thanatan melepas kemejanya yang langsung dimasukkan ke dalam laundry bag oleh sang istri. Ia melepas sabuk pinggangnya, arlojinya, barulah beranjak ke kamar mandi.
****
"Sayang, hari ini mau sekolah?"
Auristella mengangguk semangat. Tentu saja Ia ingin sekolah. Seharian kemarin meliburkan diri karena demam dan sakit kepala, hari ini ia ingin kembali ke sekolah,mencari ilmu di sana sebagai bekal untuk meraih kesuksesan di masa depan nanti.
"Ya sudah, bersiap ya,"
"Okay, Mom,"
"Tapi sebentar, Mommy cek dulu suhunya,"
Lovi mengukur suhu tubuh putrinya dengan thermometer. Suhu Auristella sudah normal, semoga sampai nanti seperti itu. Ia khawatirnya ketika Auristella kelelahan hari ini,demamnya kembali lagi.
"Aku sudah sembuh, Mom,"
"Iya, Sayang. Ayo, bersiap,"
Ia selesai mandi dan berpakaian, kemudian waktunya memeriksa buku dan alat tulis.
Saat ia tengah sibuk dengan itu, pintu kamarnya diketuk. Kemudian kepala Adrian timbul di cela pintu.
"Kenapa?"
"Sekolah hari ini?"
"Iya, sekolah. Kenapa?"
"Oh, aku kira bolos lagi,"
"Enak saja bolos! aku sudah minta izin ya! dan aku juga tidak masuk karena sakit!"
"Iya-iya,"
Adrian mencibir kemudian menutup pintu kamar adiknya. Auristella mendengkus. "Kenapa ke sini coba? padahal dirinya sendiri belum siap-siap. Masih belum pakai baju sekolah," gerutu Auristella yang selalu terganggu dengan kehadiran Adrian di kamarnya. Pasti ada tujuan untuk membuatnya kesal.
Seperti tadi, mengatakan bahwa Ia bolos. Padahal kedua orangtuanya sudah memohon izin pada pihak sekolah agar ia diberikan waktu untuk memulihkan kesehatan. Ia bahkan tetap mengerjakan tugas dari sekolah.
Tok
Tok
Tok
"Apalagi, Ian?"
__ADS_1
"Tidak, hanya mengetuk saja,"
Adrian dari dapur melihat Mommy nya memasak sebentar, setelah itu ia bergegas lagi ke kamarnya dan melewati kamar Auristella. Maka sengaja Ia ketuk kamar adiknya.
Saat Auristella berseru, Ia terkekeh pelan. "Kenapa dia kesal terus denganku sih?" gumamnya sambil menutup pintu kamar dan berganti pakaian sekolah.
Auristella selesai merapikan buku yang akan Ia bawa ke sekolah, Ia memastikan penampilannya sebentar di hadapan cermin.
"Sudah cantik dan siap sekolah," katanya menatap diri sendiri di cermin. Ia terkekeh dalam hati, kalau ada Adrian, pasti
Adrian akan menyorakinya yang terlalu percaya diri.
Auristella menjinjing ransel sekokahnya. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Otaknya yang juga jahil berjalan ke depan kamar Adrian. Ia melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan Adrian tadi yaitu mengetuk pintu kamarnya.
"Iya, Mom? sebentar,"
Tok
Tok
Tok
Auristella masih mengetuk. Ia menahan tawa, kala Adrian menganggapnya adalah Mommy mereka.
"Iya, Mom. Aku masih bersiap,"
Tok
Tok
Tok
Auristella kembali mengetuk. Ia berusaha menahan tawa susah payah. Ia memegang perutnya yang terasa keram.
Tok
Tok
Tok
Adrian berdecak pelan. Sepertinya Ia tahu kalau yang mengetuk pintu kamarnya bukan Mommynya.
"Kamu yang mengetuk pintuku pasti setan ya?"
Auristella menatap tajam pintu dj depannya. Dia tidak salah dengar? Adrian mengira dia adalah setan?
Tok
Tok
Tok
Aurista sengaja mengetuk lagi kali ini lebih kasar. Ia bisa mendengar Adrian berdecak. Auristela tertawa lagi tapi sangat pelan. Ia belum selesai membuat kakaknya kesal.
"Hei setan yang mengetuk pintu kamarku. Pergi!"
Auristella kesal,sudah dua kali Ia dikatakan setan,maka Ia membuka kasar pintu kamar Adrian. Kakaknya ktu langsung terbahak begitu Ia masuk.
"Kenapa panggil aku setan?! hah? aku ini manusia, anak mommy dan Daddy, bukan setan!"
Adrian masih tertawa puas. Ia sudah menduga kalau itu adalah Auristella. Tak hanya Auristella saja yang bisa membuatnya kesal. Tapi Ia juga bisa membuat adiknya itu kesal. Ia pasti tidak terima ketika disangka bahwa Ia itu setan.
__ADS_1
"Aku laporkan pada Mommy kalau kamu itu menyebut aku setan,"
"Salahku dimana? aku kira memang yang mengetuk pintu kamarku adalah setan. Ternyata kamu. Siapa suruh ketuk-ketuk pintu tapi tidak masuk?!"