
Setelah menemani Keyfa dan Grizelle bermain hingga mereka bosan, Jhico bersiap untuk ke rumah sakit melakukan pemeriksaan rutin seperti yang dikatakan Vanilla pada saat Keyfa bertanya tadi.
Karina sudah datang ke apartemen Jhico untuk menemani putranya ke rumah sakit.
"Tidak perlu diantar, Ma. Aku bukan anak kecil lagi,"
"Tanganmu saja belum bisa digunakan untuk menyetir, Jhico."
Meski anaknya sudah melarang, Karina tetap akan mengantar Jhico ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin usai keluar dari rumah sakit.
"Aku mau menemani Kakak dokter ke rumah sakit ya," ujar Keyfa setelah Jhico keluar dari kamar usai mengganti bajunya.
"Tidak usah, lebih baik Keyfa temani Grizelle di sini saja,"
"Tapi aku ingin tahu kondisi Kakak dokter secara langsung dari dokter,"
Jhico nampak melirik istrinya menggunakan ekor mata nya. Vanilla memperhatikan interaksi suami nya dan Keyfa.
"Tidak apa, biarkan Keyfa ikut."
"Kakak manis saja mengizinkanku," ucap Keyfa seraya menatap Jhico.
"Ya sudah, Keyfa ikut ya,"
"Yeaayy,"
Vanilla dan Grizelle mengantar Jhico, Karina, dan Keyfa ke mobil. Jhico duduk disamping kemudi yang ditempati supir pribadi Karina karena mobil yang digunakan sekarang adalah milik Karina. Jhico duduk bersama Keyfa di atas pangkuannya. Sementara Karina duduk di tengah.
Vanilla memberikan buah yang sudah disiapkan oleh Bibi. "Dimakan buahnya ya," pesan Ibu satu anak itu pada suaminya.
"Okay, terimakasih Nillaku."
Vanilla meminta Bibi untuk menyiapkan buah agar bisa dibawa Jhico. Mungkin ketika di rumah sakit Jhico akan menghabiskan waktu lama. Buah itu bisa dimakan saat Ia di rumah sakit atau ketika di perjalanan.
Keyfa mencium Grizelle bertubi-tubi sebelum pergi hingga Grizelle menangis.
"Maaf, Grizelle. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis,"
"Tidak apa," ujar Vanilla mencoba untuk memahami bahwa Keyfa sangat gemas dengan anaknya.
"Silahkan berangkat sekarang," ucap Vanilla pada lelaki yang mengemudikan mobil yang akan menghantarkan suaminya ke rumah sakit.
Setelah mobil tak terlihat lagi di pelupuk mata, Grizelle semakin menangis. Mata yang sedang berlinang air mata itu menatap ke depan dengan sedih. Ia tidak mau mobil itu membawa pergi Pupunya.
"Kita masuk ya. Pupu hanya pergi sebentar, Sayang."
******
Bibi memasuki playground. Suasana di dalam ruangan bermain itu sangat berantakan. Semua mainan Grizelle tergeletak di setiap sudut ruangan.
Bibi membereskannya satu persatu sementara Vanilla ke basement mengantar Jhico yang ingin ke rumah sakit.
Vanilla sudah kembali ke unit apartemen nya. Ia mencari Bibi yang ternyata di playground.
"Kenapa Griz menangis?" Bibi bingung melihat Grizelle menangis dalam gendongan Mumu nya.
"Dia tidak mau Pupu nya pergi mungkin. Dan sepertinya Griz juga mengantuk. Bi, sekarang aku mau menyusui Griz dan biasanya setelah itu Ia tidur. Setelah Griz tidur, aku mau makan ramen yang pedas. Tolong buatkan ya, Bi."
"Iya, nanti Bibi buatkan,"
"Terimakasih, Bi."
"Iya, cepat hentikan tangis Griz. Kasihan dia,"
__ADS_1
Vanilla mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya untuk menyusui buah hatinya yang sudah terlihat mengantuk.
******
Thanatan menelpon Karina karena Ia akan meminta pada sang istri untuk menemaninya ke pesta salah satu putri dari rekan kerjanya yang hari ini menikah.
Ia baru ingat dengan undangan pernikahan itu sehingga saat ini, Ia langsung menghubungi istrinya untuk bertanya apakah Karina bisa ikut bersamanya untuk menghadiri acara atau tidak.
"Kamu bisa pergi bersamaku untuk menghadiri undangan?"
"Tidak bisa, aku sudah di rumah sakit menemani Jhico periksa,"
"Di rumah sakit? bukannya di butik?"
"Iya, tapi sekarang Jhico harus periksa jadi aku menemaninya,"
"Ya sudah, aku pergi sendiri kalau begitu,"
"Ya, hati-hati."
"Hanya kamu yang menemani Jhico? Vanilla tidak?"
"Vanilla harus bersama Grizelle di apartemen. Aku tidak sendiri. Ada Keyfa juga,"
"Oh anak itu ikut juga?"
"Iya, dia mau tahu kondisi Jhico dari dokter secara langsung katanya," ujar Karina seraya terkekeh kecil mengingat betapa keras kepala nya Keyfa tadi.
"Ya sudah,"
Klik
Thanatan mengakhiri panggilan lalu berdecak pelan. "Ada-ada saja Keyfa. Kemanapun Jhico pergi, dia mau ikut,"
******
Tok
Tok
Tok
Vanilla beranjak dengan hati-hati dari sisi Grizelle untuk membuka pintu kamarnya. Bibi membawa makanan yang diinginkan Vanilla.
"Wow terimakasih, Bi."
"Ya, sama-sama, Vanilla. Ini Bibi buatkan green tea juga,"
"Bibi pengertian sekali. Aku habis menyusui jadi semakin lapar,"
"Kamu tidak makan bersama Jhico dan Keyfa tadi,"
"Iya, tadi belum lapar, Bi. Sekarang aku makan dulu. Aku mau makan di balkon,"
"Ya, Bibi akan meletakkannya di meja balkon,"
Bibi membawa mangkuk ramen dan gelas green tea ke balkon kamar Vanilla. Vanilla akan menikmati deru angin bersama dengan ramen yang pedas dan masih panas serta green tea. Perpaduan yang sangat pas.
"Aku mau saus sambal,"
"Itu sudah pedas. Jhico tidak suka kamu makan pedas yang berlebihan,"
"Tidak setiap hari, Bi. Hanya sesekali saja. Semenjak hamil, aku jarang sekali makan pedas,"
__ADS_1
Vanilla beranjak ke dapur untuk mengambil saus sambal. Akan Ia tambahkan ke dalam ramen yang sudah pedas.
"Bibi tidak buat ramen untuk Bibi? kita makan di sini,"
"Tidak, Bibi sudah makan dengan Jhico dan Keyfa tadi. Bibi keluar dulu ya,"
"Iya, terimakasih ya, Bi."
"Sudah mengucapkan itu berapa kali?"
"HAHAHAHAHA,"
"Sstt hey! anakmu sedang tidur,"
Teguran Bibi membuat bibir Vanilla langsung terbungkam. Ia menahan tawanya.
"Aku lupa Griz baru tidur," ujar Vanilla meringis. Bibi keluar dari kamar Vanilla. Sementara Vanilla menikmati ramen nya di balkon kamar.
Ia sudah sangat lapar dan makanan itulah yang sangat ia inginkan. Tadi Ia tidak ikut makan dengan Jhico dan Keyfa karena perutnya masih kenyang.
Tidak ada Jhico jadi ia merasa bebas untuk menikmati makanan yang pedas itu. Lidahnya terasa terbakar ketika menyantap ramen. Tapi karena suka, jadi tidak ada kata berhenti untuk Vanilla.
******
Jhico keluar dari ruangan dokter usai diperika. Ia duduk di antara Karina dan Keyfa. Mereka berdua senantiasa menunggu Jhico selesai diperiksa. Vivi, Ibunya Keyfa sudah pulang. Ketika mengajak Keyfa pulang, Keyfa malah tidak mau. Rupanya karena Keyfa mau menemani Jhico.
"Bagaimana hasilnya?"
"Aku sudah baik-baik saja,"
"Tapi cedera nya?"
"Masih dalam pemulihan, Keyfa. Kalau secara keseluruhan sudah baik,"
"Lama sekali sembuhnya cedera itu. Aku tidak tega melihat lenganmu, Kakak dokter," ujar Keyfa seraya menyentuh lembut lengan dan juga tulang selangka Jhico yang cedera.
"Kita duduk dulu di sini ya,"
Jhico membuka wadah berisi buah yang tadi diberikan sang istri padanya. Ia menikmati buah itu bersama Karina dan Keyfa sembari memperhatikan suasana di sekelilingnya.
"Iya, tidak apa. Kita bisa pulang nanti-nanti kalau kamu masih ingin di sini," ucap Mamanya.
Jhico memperhatikan kesibukan di rumah sakit. Ia rindu dengan aktifitasnya. Sebelum Ia memiliki klinik, Ia sama sibuknya dengan dokter-dokter yang saat ini berlalu lalang untuk memeriksa pasien dari satu ruangan ke ruangan lainnya.
Setelah memiliki klinik sendiri, Ia sedikit lebih santai dalam bekerja meskipun tetap mengalami kesibukan terutama bila banyak pasien yang datang ke kliniknya.
"Kakak dokter pasti rindu memakai sneli dokter ya? Aku juga rindu melihat Kakak dokter memakai baju dokter itu. Terlihat lebih tampan saat Kakak dokter mengenakannya,"
Jhico tersenyum menanggapi celotehan anak itu. Ia mencubit gemas pipi Keyfa yang ikut memperhatikan sekitarnya.
"Tadi Pagi Papa jadi datang ke apartemen kamu?" pertanyaan Karina membuat Jhico menoleh padanya.
"Tidak, Ma."
"Oh padahal dia bilang mau datang melihat keadaanmu. Mama senang mendengarnya,"
Jhico mengalihkan wajahnya ke arah sang Mama untuk menjawab pelan sehingga tidak didengar Keyfa.
"Rasanya tidak mungkin Papa mau datang ke apartemen untuk melihat keadaanku apalagi di apartemen ada Grizelle,"
-----
Gesss makasi yaaa buat like, komen, dan vote nya. Makasih buanyakkk buanyakkk kalian baik syekaleee💙
__ADS_1
ADDICTED UPDATE📌