Nillaku

Nillaku
Nillaku 337 Grizelle yang mau merawat Kakek


__ADS_3

"Kakek bertanya padamu,"


Grizelle melangkah mendekati pintu tak berani berbalik untuk sekedar menjawab pertanyaan Kakeknya.


Ia takut dimarahi karena membuat kakeknya terbangun! walaupun memang sebelumnya Karina yang memintanya. Dan juga Ia ingin Kakeknya itu makan dan minum obat terlebih dahulu. Tapi setelah Kakeknya membuka mata entah kenapa Ia jadi takut.


"Grizelle, kenapa pergi?"


Saat menekan handel pintu, suara Thanatan kembali menginterupsi. Thanatan tidak menyadari bahwa saat ini Ia seperti tengah menginterogasi Grizelle. Pikirnya Ia hanya bertanya kenapa Grizelle malah menjauh. Memang auranya seram sekali?


"Kemari, Kakek bertanya pada kamu. Belum di jawab,"


Suara serak Thanatan membuat Grizelle tidak tega untuk membantah. Akhirnya Ia menurut untuk memutar tumitnya kemudian berjalan kembali mendekat pada sang kakek.


Grizelle berdiri dengan cemas. "Kakek maafkan aku sudah mambangunkan Kakek. Nay-Nay yang memintaku untuk membangunkan Kakek. Biarrl (biar) Kakek makan berrlsamaku (bersamaku), Nay-Nay dan Mumu," ungkap anak itu dengan suara pelan. Sikap anak itu yang kelihatan ketakutan sendiri membuat Thanatan bingung.


Suara dengusan tawanya membuat Grizelle cepat menatapnya.


"Memang kakek akan memarahimu yang sudah membuat istirahat Kakek terganggu?"


"Maaf ya, Kakek. Tapi tadi aku membangunkan Kakek tidak berrlisik (berisik) 'kan? aku bangunkan dengan pelan-pelan. Tapi maaf kalau Kakek---"


"Siapa yang akan memarahimu? kenapa kamu mengucapkan kata maaf terus? Kakek tidak mau mendengarnya lagi. Kakek bosan. Mengerti?"


Grizelle menggigit bibir bawahnya kemudian Ia mengangguk pelan. Lagi, Ia melihat Kakeknya yang tertawa. Wwalaupun bukan tawa yang lebar, hanya terlihat sedikit bibirnya yang terangkat dan juga dengusan napasnya.


"Ayo makan dan minum obat, Kakek,"


Thanatan mengangguk pelan. Ia menghela napas pelan ketika akan bangkit dari ranjang. Untuk beranjak pun rasanya begitu sulit. Kepalanya masih pening! ya Tuhan, Ia benar-benar lemah sekarang.


"Kakek bisa? ayo, aku bantu,"


Grizelle menggenggam tangan Kakeknya dan membantunya untuk duduk terlebih dahulu.


Melihat kernyitan di kening Kakeknya yang Grizelle yakini karena rasa sakit, maka anak itu semain diliputi rasa khawatir.


"Aku bawakan makan dan obatnya ke sini ya?" ujarnya berinisiatif karena Ia rasa Kakeknya tak mampu untuk ke meja makan.


"Lagipula Nenekmu itu aneh. Sudah tahu Kakek belum bisa bangun. Kenapa makanannya tidak dibawa saja ke sini?" Ia menggerutu dengan giginya yang bergemelutuk.


"Aku yang akan membawanya ke sini. Kakek tunggu sebentarrl (sebentar) ya,"


Thanatan mengangguk, Ia membuarkan Grizelle keluar dari kamarnya menganmbil makanan untuknya. Ia kesal dengan Karina atau maid yang bekerja di sini. Seharusnya makanan diantar sepeeti tadi pagi. Ia belum bisa berjalan ke ruang makan! kepalanya pening sekali. Apa yang Thanatan lihat seperti berputar cepat.

__ADS_1


Grizelle beralih ke ruang makan. Di sana Ia tengah meihat Karinayang tengah menyiapkan makanan di atas baki. Dan Mumunya yang duduk memperhatikan Karina serta Hawra yang melakukan hal serupa. Mereka bertiga terlihat sambil mengobrol.


"Nay-Nay, itu untuk siapa?"


"Untuk Kakek, Sayang. Kenapa?"


"Oh Kakek kirrla (kira) makannya di sini makanya Kakek kesal pada Nay-Nay. Kenapa tidak dibawa ke kamarrl (kamr) saja makanannya. Kata Kakek begitu,"


Karina menggeleng pelan. Sedang sakit saja masih bisa kesal dan menggerutu.


"Tidak sabaran sekali dia. Ini sedang Nay-Nay siapkan," kata Karina seraya mengambil sendok dan garpu lalu di letakkan di samping mangkuk berisi gandum halus.


"Aku yang bawa ya, Nay-Nay?"


"Jangan, Sayang. Kamu tidak akan bisa membawanya," ujar Karina tersenyum pada Grizelle.


"Nanti tunpah, Sayang. Eh ya, kamu belum menyapa Nenek," Hawra berseru di akhir kalimatnya yang membuat Grizelle juga baru ingat. Anak itu segera memeluk Hawra dengan erat.


"Maaf ya, Nenek. Aku tadi di kamarrl (kamar) Kakek jadi belum menyapa Nenek,"


"Iya, Sayang. Tidak apa. Grizelle makan dulu,"


"Nanti saja, Nenek,"


Karina beranjak meninggalkan meja makan dengan baki tersebut di kedua tangannya. Grizelle mengekori neneknya itu. Karina menghentikan langkah dan menoleh pada malaikat kecil yang dilahirkan Vanilla ke dunia ini.


"Griz makan dulu dengan Mumu. Nanti Nay-Nay menyusul,"


"Aku mau suapi Kakek. Boleh ya, Nay-Nay?"


"Biar Nay-Nay saja, Sayang. Griz masih kecil belum bisa suapi orang dewasa,"


"Aku bisa. Waktu itu Kakek perrlnah (pernah) sakit. Aku bisa menyuapinya," sahut Grizelle tak ingin dilarang menyuapi kakeknya.


"Ya sudah, Nay-Nay yang bawakan ya? Nanti Griz yang suapi,"


"Okay, Nay-Nay,"


"Tapi Mumu sudah menunggu Griz untuk makan bersama itu,"


"Nanti Mumu makan dengan Nay-Nay saja. Aku makan dengan Kakek,"


"Tidak apa ya, Mu?" ia menoleh pada Mumunya yang mengangguk tidak keberatan. Jelas saja Ia tak keberatan justru senang karena Grizelle begitu perhatian pada Kakeknya. Memilih untuk menyuapi Thanatan dan makan bersamanya.

__ADS_1


Karina memgantarkan makanannya kendalam kamar. Ia langsung mendapat tatapan mals dari suaminya.


"Kalau bukan Grizelle yang menyuruhmu untuk membawa makan ke sini pasti tidak akan kamu datang mmbawa ini. Iya 'kan?"


"Ya ampun, memang sudah aku siapkan. Griz datang ke bawah, aku sesang menyiapkan makanan untukmu dan akan membawanya ke sini. Aku tahu kamu belum bisa makan bersama di ruang makan,"


"Aku suapi Kakek," suara menggemaskan Grizelle tanpa sasar membuat Karina dan Thanatan adu mulut yang mungkin akan berkelanjutan setelah ini.


"Nay-Nay akan membawa makann untukmu ke sini. Sebentar ya,"


"Terrlimakasih Nay-Nay,"


Karina mengangguk tersenyum. Hnya hal kecil tapi Grizell selalu mengucapkan kata itu. Menurut Grizelle perlakuan kecil Karina iu sangat luar biasa untuknya. Sebenarnya Karina bisa meminta tolong pada maid tapi Karina tak melakukan itu. Tadi Ia mengatakan akan mengantarnya.


"Kenapa kamu makan di sini?"


"Mau makan dengan Kakek,"


"Kakek bisa makan sendiri,"


Bibir Grizelle terlihat melengkung ke bawah menerika penolakan secara terang-terangan dari kakeknya.


"Tapi aku mau suapi Kakek," ucapnya pelan.


"Memang bisa? nanti malah--"


"Bisa, aku bisa,"


Grizelle mengangguk cepat. Ia menurut ketika diminta untuk mengambilkan stand meja yang bentuknya fleksibel bisa dilipat. Kemudian Ia meletakkan meja tersebut di depan kakeknya yang duduk bersandar di kepala ranjang.


Grizelle naik ke atas ranjang untuk duduk di samping kakeknyam Ia sedikit kesulitan karena ternyata ranjang sedikit lebih tinggi dari ranjang di rumahnya.


"Bisa tidak? makanya rajin olahraga biar tinggi," Thanatan terdentar mengejek cucunya itu namun tak ada gurat tersinggung sama sekali. Justru Grizelle tertawa lebar.


"Sudah rrlajin (rajin). Okay, bisa!" Ia berseru saat berhasil menaiki ranjang kokoh dan besar itu.


"Huh, besok diganti, Kakek. Biarrl (biar) aku mudah,"


"Untuk apa diganti? kamu juga jarang datang ke sini,"


"Jadi aku boleh serrling (sering) datang ke sini?"


Thanatan menggedikan bahunya dan menjawab dalam hati, "Memang siapa yang melarang?"

__ADS_1


"Oh mungkin karena sikapku jadi dia jarang mau berkunjung ke sini. Dan mungkin Jhico juga Vanilla tidak mengizinkan,"


__ADS_2