
Esok adalah hari ulang tahun Renald. Di perayaan istimewa itu, Renald sudah diberi berkat oleh Tuhan berupa materi yang lebih cukup dari pada tahun kemarin karena jabatannya yang naik menjadi kepala cleaning service dan juga Ia berhasil melanjutkan pendidikan kuliahnya.
Karena nikmat itulah Renald berencana mengajak Vanilla dan Joana untuk makan malam sederhana. Walaupun tidak yakin Vanilla akan menerima tawarannya, yang terpenting Renald sudah mencoba untuk mengundang dan semakin menjadikan hubungan pertemanan mereka lebih baik. Bila ditanya mengenai perasaan, tentu saja belum hilang sedikitpun. Tetapi Renald akan berusaha untuk lebih membuka matanya dan sadar akan posisi.
"My Renald telepon,"
Dengan santai Jhico menyerahkan ponsel milik gadis di sampingnya yang tengah melihat hasil editnya baru saja.
Suaminya tenang tapi Vanilla merasa tidak enak hati. Ia melirik kaku dan Jhico mengangguk seolah mengizinkan Ia untuk berbicara dengan si penelpon.
"Angkat saja,"
"Tidak, aku belum selesai melihat ini. Biarkan saja," Vanilla tidak tahu motif apa yang membuat dirinya mengatakan hal itu. Mungkin Vanilla tidak ingin lagi merasa bersalah. Sehingga memilih untuk menjaga perasaan Jhico.
Jhico akhirnya tidak melakukan apapun lagi. Dan setelah panggilannya terputus, Vanilla malah menghubungi Jane. Mereka membicarakan masalah pekerjaan. Jhico sempat merasa aneh dengan sikap istrinya yang tiba-tiba terlihat seperti ingin melindungi. Entah melindungi apa. Mungkin rumah tangga yang usianya sangat muda ini atau perasaannya yang sangat menyedihkan di mata siapapun.
"Hanya itu? okay, aku akan mengabari Joana agar Ia bisa siap-siap untuk besok,"
Esok adalah kali pertama untuk Vanilla kembali menjalani pemotretan salah satu brand pakaian. Setelah berbulan-bulan tidak berpose secara profesional di depan kamera, akhirnya Vanilla bisa merasakan itu lagi.
"Jadi-- apa yang mau kamu ceritakan?"
"Tidak ada. Aku tidak punya hal menarik yang patut aku katakan padamu,"
"Kata siapa? pekerjaanmu yang aku tanya,"
"Oh..."
Vanilla menggeleng singkat tetapi tangannya sedang menampilkan satu persatu foto yang sudah dipercantik oleh Jhico.
"Artinya kamu akan semakin sibuk?"
"Memang pekerjaan aku. Lagi pula hanya satu produk saja. Tidak akan lama, Jhico."
*******
Vanilla sedang bersama seorang laki-laki yang menjadi temannya dalam berfoto. Mereka menjadi partner kerja sekarang. Vanilla dan Ganadian menjadi model baju couple yang sudah memiliki banyak sekali penggemar. Brand nya sudah cukup ternama di kalangan para pesohor.
"Okay, angkat kepalamu, Vanilla!"
Vanilla menuruti arahan fotografer. Sudah lama tidak seintim ini dengan pria membuatnya sedikit gugup. Tangan Ganadian melingkar di pinggangnya. Ia diharuskan membalas tatapan Ganadian.
__ADS_1
"Luar biasa! Selesai," seru lelaki yang menjadi pemantau jalannya kegiatan hari ini. Fotografer bangkit dari posisinya lalu memperlihatkan hasil karyanya pada sepasang model itu.
"Bagus. Aku terlihat tampan di situ," guyon Ganadian yang sedari awal memang gemar bergurau. Vanilla hampir setiap saat dibuat tertawa. Ganadian sudah sesantai itu terhadapnya tapi tetap saja Vanilla merasa tidak nyaman. Sejak tadi Ia juga selalu mencuri-curi perhatian ke pintu. Berharap seseorang yang katanya akan menemani Ia photoshoot hadir.
Vanilla berjalan ke arah Joana yang sudah bersiap membantu Vanilla melepas segala atribut yang melekat di tubuh Vanilla. Seperti Crown, belt, dan lain-lain.
"Jhico kemana sebenarnya?" cibir gadis itu yang langsung disahuti Joana, "Memang dia akan datang?"
"Ya, tapi harus menyelesaikan sesuatu dulu,"
"Oh, mungkin ada hubungannya dengan medical clinic..." sambungnya lagi yang baru ingat kalau belakangan ini Jhico memang disibukkan untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan rencana pembuatan tempat praktiknya sebagai dokter.
Vanilla duduk di depan cermin besar lalu wajahnya mulai dibersihkan dari semua make up yang menunjang penampilannya seharian ini.
Usai memastikan barang-barang Vanilla aman, Joana kembali mendekati Vanilla dan seorang perempuan yang sedang membersihkan wajah sahabatnya.
"Van, Renald mengundang aku untuk makan malam dalam rangka merayakan hari ulang tahunnya. Kamu pasti diundang juga,"
"Renald ulang tahun? Astaga, aku tidak tahu,"
"Serius? semalam dia menelponku,"
"Kamu tidak diundang? sulit dipercaya," lanjut Joana lagi.
"Oh, A--ak-aku diundang. Setelah ini kita cari kado untuknya. Bagaimana?
"Suamimu akan datang sebentar lagi, aku yakin."
"Ya sudah, kita ajak juga dia,"
"What ?! Vanilla, jangan gila."
"Apa salahnya? dia juga tidak akan marah,"
******
Jhico baru saja mengesahkan sertifikat dan perizinan lainnya pada notaris. Ia kembali memasuki mobil lalu melajukan mobil ke tempat pemotretan istrinya.
Sampai di sana Ia melihat Vanilla yang sudah siap pulang. Ia menghampiri Vanilla yang sepertinya tengah pamit pada pekerja di sana.
"Oh, kamu sudah datang. Ayo, kita pergi."
__ADS_1
Ganadian tersenyum ramah pada Jhico. Ia menerima uluran tangan Jhico. "Ganadian,"
"Jhico,"
Ganadian beralih pada Vanilla, "Suamimu?"
"Ya,"
"Pasangan serasi. Cantik dan tampan," pujinya tanpa berbohong. Jhico tampak segan membalas gurauan rekan kerja istrinya itu. Karena sepertinya usia Ganadian lebih dewasa. Dan mereka baru bertemu kali ini, jadi suasananya belum terlalu mencair. Berbeda dengan sikap Vanilla yang terlihat begitu friendly pada Ganadian. Bahkan seperti adik dan kakak.
"Kami pulang dulu,"
"Okay, bye. Semoga kita bisa bekerja sama lagi ya,"
******
Joana duduk di kursi tengah, menjadi sosok yang menyaksikan kedua orang di depannya bersikap diam di dalam mobil.
"Jhico..." panggil Vanilla pelan dan ragu.
"Hmm?"
"Renald ulang tahun. Nanti malam aku dan Joana akan datang di undangan makan malamnya,"
Jhico diam menunggu kelanjutan ucapan istrinya yang sudah pasti meminta izin untuk menghadiri undangan itu.
"Jhico, aku boleh--"
"Boleh, kamu sendiri yang mengatakan bahwa kita harus hidup masing-masing saja layaknya teman. Jadi kenapa harus meminta izin?"
Joana melirik keduanya dari belakang. Ia tidak menyangka mereka akan setenang ini dalam membahas sesuatu yang sebenarnya sangat sensitif untuk rumah tangga mereka.
"Baiklah, antar aku membeli kado ya?"
Jhico bisa apa selain menuruti? biarkan saja Vanilla lelah sendiri dengan sikap egoisnya. Jhico tidak ingin lagi terlihat menyedihkan. Pernikahan mereka terlihat baik-baik saja dari luar, itu sudah membuat Jhico sangat bersyukur.
----------
Uyeaayy Jhico mo dtg ke ultah mantan gebetan istrinya. EhðŸ¤
MCH UP. GO GO GO DICEK MANTEMAN!!!
__ADS_1