
Vanilla bangun pagi-pagi buta sekali karena Ia merasa perutnya tidak nyaman. Sejak mereka datang ke rumah orangtua Jhico, kondisi Vanilla memang langsung terlihat tidak baik-baik saja. Vanilla tidak mengatakannya tetapi Jhico bisa melihat itu.
Tubuhnya jadi terlihat letih dan sesekali Jhico mendapati istrinya melamun. Ketika ditanya, jawabannya selalu tidak sesuai. Terlihat sekali kalau Vanilla sedang memikirkan sesuatu.
"Nillaku..."
Jhico mengerjapkan matanya seraya meraba sisi di sebelahnya. Tidak ada Vanilla dan Ia mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.
Jhico segera bangkit lau mengetuk pintu kamar mandi. Ia memanggil Vanila tapi tidak ada jawaban, mungkin suaranya kalah dengan aliran air.
Di kamar mandi, Vanila menghela napasnya pelan seraya mengusap perutnya. Ia merasa perutnya sembelit. Saat Ia akan keluar dari kamar mandi, Vanilla mual dan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.
Jhico merasa khawatir di depan pintu. Vanila menatap wastafel, tidak ada yang Ia muntahkan. Setelah membersihkan sudut bibirnya, Ia segera keluar dari kamar mandi lalu tersenyum pada suaminya.
"Kenapa? kamu mencari aku?"
Jhico mengangguk dan segera membawa istrinya kembali ke ranjang. "Aku mau minum," kata Vanilla yang langsung dituruti suaminya. "Kamu sakit ya?" tanya lelaki itu seraya memegang gelas minum Vanilla.
"Tidak, aku baik-baik saja,"
"Aku perhatikan setelah pulang dari rumah orangtuaku, kamu jadi berubah."
"Berubah bagaimana maksudnya?"
"Seperti ada yang tidak beres dalam dirimu. Kalau kamu merasa tidak baik-baik saja, jangan ragu untuk mengatakannya padaku,"
"Aku sehat,"
"Benar?"
"Iya, jangan khawatir."
*******
Nyatanya kalimat itu tidak benar-benar menggambarkan kondisi Vanilla saat ini. Ketika Ia sedang melakukan pertemuan dengan Deni selaku pemilik brand clothing dan juga semua model yang terlibat, Vanilla ditemukan pingsan di kamar mandi kantor Deni.
Kabar mengenai kondisi Vanilla itu langsung sampai ke telinga Deni. Tanpa pikir panjang, Ia membawa Vanilla ke rumah sakit padahal istrinya juga baru saja mengeluh kalau perutnya kram.
__ADS_1
Keynie yang melihat betapa besar kasih sayang Deni pada Vanilla, hanya tersenyum pilu. Kehamilan keduanya tidak bisa membuat Deni mau mencurahkan seluruh perhatian hanya untuknya. Ia terlalu peduli dengan sekitar sampai tidak menyadari kalau istri dan calon anaknya juga membutuhkan dirinya.
"Biar saya yang membawa Nona Vanilla, Tuan."
"Aku bisa melakukannya,"
"Tapi istri anda---"
"KAU TIDAK DENGAR UCAPANKU?!" Bentak Deni pada karyawannya yang coba-coba mengaturnya. Keynie memberi isyarat pada lelaki yang bekerja di perusahaan suaminya itu agar membiarkan Deni melakukan sesuatu yang diinginkannya. Lelaki itu tidak mau menerima uluran tangan orang lain. Hanya Ia yang boleh membantu Vanilla, bukan orang lain.
Keynie menoleh saat bahunya diusap oleh seseorang. Dia Jane, yang memberikan pengertian sekaligus memohon maaf padanya.
"Maaf, sudah membuatmu tidak diacuhkan seperti ini oleh suamimu sendiri. Kalau Vanilla tahu, dia juga tidak akan mau dibantu oleh Deni selagi ada orang lain yang bisa membantunya. Percayalah, Vanilla tidak sejahat itu padamu,"
Jane memeluk Keynie dan Keynie langsung menangis. Entah mengapa, di kehamilan keduanya, Ia cenderung lebih posesif dan manja. Padahal dulu, melihat Deni lebih perhatian dengan Vanilla sudah biasa menurutnya. Sekarang rasanya berbeda, jujur, hatinya sakit sekali. Mungkin karena hubungannya dengan Deni tak sedingin dulu, jadi ada rasa tidak terima ketika Deni lebih hangat dengan perempuan lain.
"Aku menyayangimu. Percaya padaku, Key."
Kalimat itu yang selalu diucapkan Deni hampir setiap malam sebelum mereka tidur. Walaupun Deni belum mencintainya, tapi Ia bersyukur karena Deni sudah lebih menghargainya sebagai istri dibandingkan saat awal-awal pernikahan mereka.
Keynie melepas pelukannya, Ia baru ingat kalau saat ini mereka tengah berada di gedung perusahaan Deni. Jangan sampai semua orang di sana bingung melihatnya menangis.
"Justru seharusnya aku yang meminta maaf. Aku terlalu egois, seharusnya aku tidak seperti ini. Vanilla sedang membutuhkan pertolongan,"
Jane menatap Keynie dengan sendu. Sebenarnya diantara mereka berdua tidak ada yang salah. Hanya situasi yang sulit ditebak.
*****
"Nona Vanilla tidak apa-apa. Ia hanya kelelahan dan sepertinya banyak hal yang sedang menjadi beban pikirannya sehingga kondisi kesehatannya menurun,"
Deni yang sedari tadi berdiri tidak tenang di depan ruang pemeriksaan langsung menghela napas lega begitu mendengar hasil pemeriksaan dokter.
"Anda suaminya?"
"Oh, hmm---"
Belum sempat Deni menjawab, Jane yang baru tiba langsung menyela. Ia datang bersama Keynie.
__ADS_1
"Bukan, dokter. Dia hanya kerabat Vanilla. Suaminya sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Memangnya ada apa, dokter?"
Tak lama Deni mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila keluar dari area basement kantor untuk membawa Vanilla ke rumah sakit, Jane langsung menyusul mereka bersama Keynie. Ia pun sama paniknya dengan Deni.
"Nona Vanilla sedang mengandung. Usia kandungannya masih sangat muda sehingga rentan sekali,"
Jane menutup mulutnya tak menyangka, Ia mengharu biru. "Astaga, aku akan memiliki keponakan lagi," jeritnya dalam hati. Seketika perasaan khawatir yang sedari tadi menderanya tergantikan dengan rasa bahagia setelah mendengar kabar yang mengejutkan ini.
Deni pun sama terkejutnya, sama halnya dengan keynie yang begitu sampai langsung mengambil posisi di samping suaminya untuk memberi ketenangan walaupun Deni nampak tak acuh.
"Berapa usia kandungannya?"
"Dua minggu,"
Jane menggigit bibirnya gemas. ia ingin berteriak untuk meluapkan rasa bahagianya sekarang. Sepupunya yang selalu berdebat bila bertemu, namun tetap saling menjaga satu sama lain, teman hang out, rekan kerja, sekaligus adik tingkat di kampusnya, kini akan menjadi seorang Ibu.
"Selamat Vanilla. Kebahagiaan yang kamu dapatkan semakin lengkap,"
*********
"Brengsek! suami macam apa kau membiarkan istrimu beraktifitas seperti biasa ditengah kondisinya yang lemah!"
"Deniele, Jhico mana tahu kalau Vanilla akan berakhir seperti ini. Jangan berbuat keributan, Ini rumah sakit,"
Keynie mencoba menenangkan suaminya yang langsung kalap begitu Jhico masuk ke dalam ruang perawatan Vanilla.
"Deni, kau panik, apa lagi dia suaminya. Peduli boleh, tapi kau harus ingat, kalau Vanilla sudah memiliki suami yang bisa menjaganya. Kau tidak perlu berlebihan," Jane mencibir perilaku Deni yang semaunya. Ia laki-laki, seharusnya tahu bagaimana rasanya berada di posisi Jhico sekarang. Jhico juga terlihat sangat cemas.
Deni berdecih seraya menatap Jhico dengan tajam apa lagi ketika Lelaki itu mendekati Vanilla seperti tak mengindahkan ucapannya.
"Bisa menjaga? kalau dia bisa menjaga istrinya, tidak mungkin ada kejadian Vanilla tak sadarkan diri di toilet,"
Jhico terperangah mendegar ucapan Deni. Saat Jane menghubunginya tadi, gadis itu memang tak menjelaskan banyak hal, hanya meminta ia datang ke rumah sakit ini dan dari situlah Jhico mulai merasa ada yang janggal.
"Apa yang bisa diandalkan darimu?"
"Astaga, stop! Deni, berhenti bicara! kau tidak punya otak ya? Vanilla sedang terbaring lemah, dan kau sibuk menyalahkan suaminya seolah-olah dia tidak punya rasa bersalah. Aku yakin, tanpa kau cerca pun, Jhico tahu bahwa dia belum bisa menjaga Vanilla dengan baik. Lagipula ini semua bukan sepenuhnya salah Jhico. Vanilla sendiri yang mengatakan padaku kalau ia sudah membantah larangan Jhico untuk tetap tinggal di apartemen,"
__ADS_1