Nillaku

Nillaku
Nillaku 293 Rencana kepulangan triple A sebentar lagi


__ADS_3

Devan turun dari kendaraan roda empat mewahnya yang terlihat begitu mentereng dan tangannya menjinjing dua buah paper bag berisi makanan.


Ia tersenyum membayangkan anaknya yang pasti akan senang ketika Ia memberi itu.


Dengan langkah pelan, Ia mendekati kamarnya bersama sang istri tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung berseru,


"Taraaa Daddy membawa sesuatu."


Kedua anak laki-lakinya dan Lovi menoleh bersamaan ke arah pintu, tepatnya ke arahnya yang tersenyum riang. Ia mengangkat kedua tangannya yang menjinjing paper bag tersebut.


Ia mengerinyit. Tampaknya ada yang kurang dari personil yang menyambutnya saat ini.


Oh, anak perempuannya dimana? Ia segera melangkah masuk dengan bertanya-tanya.


"Auris dimana, Lov?" tanya Devan pada istrinya.


Lovi menunjuk putrinya menggunakan dagu. Auristella bergelung di bawah selimut dengan memeluk boneka kesayangannya.


Devan mendengus. Semangatnya tadi sedikit berkurang karena putrinya ternyata tidur tak ikut menyambutnya.


"Tadi dia mencari-cari kamu tapi kamu tidak ada dimanapun. Dia ingin meminta msaf lagi," ucap istrinya yang membuat sudut bibir Devan terangkat tipis.


"Daddy bawa apa itu?" tanya Adrian yang penasaran dengan barang yang dibawa Ayahnya.


"Coba kamu lihat sendiri,"


Segera Ia mengajak kakaknya untuk turut serta membuka paper bag yang dibawa ayahnya.


"Woah makanan. Kebetulan aku sedang lapar,"


Devan mendekati Auristella. Ia mengusap wajah putrinya dengan lembut. Lalu mencium hidung mungilnya dengan gemas. Tak mendapat reaksi apapun, Ia segera menggigit pelan puncak hidung Auristella hingga anak itu memekik.


Lovi segera menampar pelan paha suaminya yang duduk memperhatikan Auristella seraya terbahak.


"Jangan begitu! kenapa kamu mengganggunya sih?"


"Aku sedih dia malah tidur padahal aku sudah berharap ketiga anakku sudah menyambutku tadi,"


Auristella membuka matanya dan berusaha mengumpulkan nyawa. Wajahnya terlihat kesal sekali karena merasa tidurnya terganggu. Ia menatap ayahnya dengan kening mengerinyit bingung.


"Daddy yang menggangguku ya? bukan Ian?"


"Aku lagi, aku lagi," sahut Adrian tak terima namanya dibawa-bawa padahal jelas Ia sedang sibuk membuka kemasan makanan yang dibawa ayahnya.


"Biasanya kamu yang menggangguku," sungut adik Andrean dan Adrian itu. Ia duduk dan Devan segera mengusap helai rambut putrinya.


"Daddy membawa makanan. Kamu pasti suka,"

__ADS_1


"Woahh terimakasih, Dad,"


Berbeda dengan tadi yang kesal karena diganggu, sekarang Auristella langsung memasang senyum senang mendengar ayahnya membawakan Ia makanan dan sudah yakin kalau Ia akan menyukainya.


Seketika Ia ingat kalau tadi ayahnya pergi dan sepertinya karena kesal dengannya dan Adrian.


"Tapi Daddy tidak marah lagi 'kan?" tanya anak itu yang membuat Devan menggeleng tersenyum.


"Maafkan aku ya, Dad,"


"Daddy tidak marah. Hanya menasihati kalian saja tadi. Maaf kalau membuat kalian menjadi sedih. Daddy tidak bermaksud,"


Devan pun merasa bersalah. Ia takut kalimat-kalimatnya tadi ada yang menyinggung perasaan Auristella maupun Adrian.


"Tidak, Dad. Memang tugas orangtua itu menasihati kalau anaknya salah,"


Auristella mengangguk setuju dengan kalimat yang diutarakan kakak keduanya. Justru Ia yang merasa sangat bersalah karena apa yang dikatakan ayahnya tadi memang benar. Tak seharusnya Ia menginginkan hal yang serupa dengan Grizelle. Karena masing-masing dari mereka sebenarnya sudah memiliki. Dan tak seharusnya juga terlalu menuntut Raihan padahal selama ini kakek mereka sudah baik sekali pada mereka. Tak pernah membeda-bedakan kasih sayang dan cinta pada mereka cucunya.


"Ya sudah, sekarang dimakan,"


Devan mengacak lembut rambut ketiga anaknya sebelum beranjak.


"Mau kemana? makan juga," ajak istrinya yang diangguki Devan.


"Sayang, kita makannya di ruang makan seperti biasa ya,"


Keempat bagian penting dalam hidup Lovi tampak mengikuti Lovi ke ruang makan. Mereka akan menyantap makan menjelang malam dengan kehangatan seperti biasanya.


"Dua hari lagi kita pulang ya,"


"HAH?! YANG BENAR, DAD?"


Adrian berdecak seraya mengusap kasar telinganya yang tiba-tiba panas mendengar suara melengking milik adik satu-satunya itu.


"Bisa bicara dengan nada yang normal tidak? huh?" tanya nya sebal yang mengundang tawa Auristella.


Anak bungsu Lovi dan Devan itu menangkup kedua tangannya di depan dada lalu memohon maaf pada Adrian, Andrean, dan kedua orangtuanya.


"Maaf, aku lupa gunakan tombol on dan off nya,"


Mereka hanya mendengus pelan. Sudah biasa mendapati Auristella yang seperti itu sebenarnya. Dan sudah sering juga dimarahi Adrian tapi Auristella tetaplah si mulut berisik.


"Tapi Daddy serius?"


Devan tentu saja mengangguk. Tak mungkin Ia berbohong. Ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dan Ia berencana  dua hari lagi Ia dan keluarga kecilnya kembali ke negara kelahiran mereka.


"Yeayyy pulang, kita pulang,"

__ADS_1


Auristella beranjak dari kursi dan meninggalkan makanannya untuk merayak sendiri kesenangannya karena sudah bisa kembali ke tempat tinggalnya. Ia menari riuh sendiri hingga mengundang tatapan aneh dari Adrian dan Andrean. Sementara kedua orangtuanya hanya bisa terkekeh melihat kelakukan putri mereka.


Andrean dengan wajah datarnya terlihat lebih sadis menatap adiknya. Seolah Ia tengah menatap orang paling aneh sedunia.


"Kenapa sih? aku 'kan sedang bahagia," Auristella berseru kesal menatap kedua kakaknya yang kelihatan tak senang sekali melihat Ia yang melampiaskan kebahagiaan dengan keriuhan yang Ia buat sendiri.


"Bahagia boleh, tapi aneh jangan," gumam Andrean.


"Gila mungkin," sahut kembarannya.


"Hei mulutmu, Ian!" tegur Lovi dengan tegas seraya melempari anak keduanya dengan tatapan tajam yang membuat adrian tersenyum meringis.


"Dia riuh sendiri, Mom,"


"Tapi adikmu itu tidak gila. Jangan bicara seperti itu lagi ya,"


"Maaf, Mom,"


Agar tak kebiasaan, Lovi menegur anaknya. tak terima Ia mendengar salah satu anaknya dikatakan tak berakal sekalipun dikatakan oleh anaknya yang lain.


"Marahi saja, Mom. Biar dia tidak lagi seperti itu," Auristella memanasi.


"Sudah, kalau berdebat, Daddy batalkan saja rencana kepulangan kita ya,"


"OH JANGAN-JANGAN, DAD,"


Kompak Auristella dan Adrian berseru panik. Mereka tidak rela bila harus lebih lama lagi menetap di tempat ini. Mereka semua sudah rindu dengan tempat tinggal asli mereka.


"Maka jangan berdebat,"


"SIAP ,DAD,"


Lagi, mereka berdua kompak sekali hari ini. Adrian dan adik perempuannya sama-sama menoleh dan saling menatap sejenak.


"Kenapa kamu mengikuti ucapanku terus sih?" sentak Adrian. Seolah lupa baru beberapa detik lalu ayahnya meminta agar mereka tak berdebat lagi.


"Kamu yang mengikuti! kamu tidak kreatif. Coba cari kata-kata sendiri. Jangan mengikuti aku terus,"


"Hih? kamu---"


"Ian, Auris, habiskan makan kalian sekarang juga. Tidak boleh lagi mulut kalian terbuka selain untuk makan,"


"Dad, kenapa begitu," Auristella protes tak terima. Bisa gawat kalau mulutnya tak boleh lagi terbuka kecuali untuk makan.


"Maksud Daddy, untuk saat ini mulut kalian hanya boleh digunakan untuk menghabiskan makanan, bukan berdebat,"


"Oh,"

__ADS_1


Keduanya membulatkan mulut seraya mengangguk. Lagi-lagi bersamaan. Mereka kembali saling menatap dan karena tak boleh membuka mulut untuk berdebat, maka hanya mata yang bisa digunakan untuk berdebat. Keduanya saling melempar tatapan tajam karena merasa kompak terus dan mereka tak suka itu.


__ADS_2