Nillaku

Nillaku
Nillaku 377 Grizelle kasihan pada Mumu yang kelelahan membawa adik kemanapun


__ADS_3

"Anak keduaku perempuan. Mama dan Papa senang tidak?"


Rena terlalu bahagia sampai Ia membungkam mulutnya penuh haru. Raihan tersenyum dengan mata mengerjap berusaha meyakinkan dari sorot mata putrinya.


"Perempuan, Sayang?" Raihan bertanya yang langsung diangguki oleh Vanilla.


"Ya ampun, cucuku perempuan,"


"Iya, Ma. Kemarin aku diberi tahu oleh dokter,"


"Mama senang tidak?"tanya Vanilla melanjutkan ucapan sebelumnya. Terang saja Rena mengangguk cepat.


Ia bahagia sekali. Menyambut anggota baru dalam keluarga, siapa yang tidak bahagia? cucu perempuannya akan bertambah.


"Selamat, Sayang. Kalian berdua sehat-sehat ya,"


Vanilla mengangguk mengucap terimakasih pada Mamanya yang kini memeluknya begitu erat dan hangat. Rena juga mengecup pipinya berkali-kali sebagai bentuk luapan rasa bahagia.


"Selamat ya, Sayang,"


Vanilla tersenyum mengangguk. Ayah dan ibunya kelihatan bahagia sekali, bisa Ia lihat dari wajah dan sorot mata keduanya.


"Aku senang semua orang menyambut kehadirannya dengan hangat,"


"Tentu saja, dia harus kita sambut dengan hangat. Ah Mama tidak sabar menantikan kelahirannya,"


Vanilla terkekeh. Sama hal dengan Karina, Rena juga berkata demikian. Tidak sabar anak keduanya lahir ke dunia menyapa mereka semua yang telah menantikan dengan sabar.


*****


Auristella terkejut saat ayahnya menjemput Ia ke sekolah dan mengajaknya ke rumah Rena dan Raihan. Padahal saat pagi, Devan tak mengatakan apapun.


"Karena Daddy tidak sibuk, maka Daddy mengajakmu pergi,"


"Jadi sekarang kita ke rumah Grandpa dan Grandma?"


"Iya, Sayang. Tapi mau makan siang dulu,"


"Ya, Dad. Aku lapar,"


"Bekal makan siang dari Mommy tidak habis?"


Auristella mengeluarkan wadah bekal makan siangnya. Habis tak bersisa, melihat itu Devan terkekeh.

__ADS_1


Ia mengacak pelan rambut anak perempuannya. "Jadi, mau makan lagi?"


"Iya, aku mau makan lagi biar gemuk,"


"Kenapa mau gemuk?"


"Biar bisa mengalahkan Adrian kalau sedang bertengkar," jawaban polos namun berhasil membuat perut Devan tergelitik untuk terbahak.


Padahal Auristella dan Adrian kalau bertengkar tak menggunakan fisik semacam tinju atau tendang, paling hanya melempar benda saja itupun akan langsung dimarahi Lovi maupun Devan. Kalau benda yang bertekstur keras dan berbahaya semacam remote, sepatu, atau yang lainnya, mereka juga pikir-pikir untuk melemparnya. Sekalipun sedang kesal. Tidak ingin saling menyakiti. Tapi kalau bantal, boneka, tidak perlu berpikir ulang untuk melemparnya. Yang sering melempar sebenarnya Auristella. Kalau ia sudah kesal dengan kakaknya itu, maka mode galaknya langsung aktif.


Devan dan Auristella makan di sebuah restaurant dengan olahan daging ayam. Devan mempersilahkan anak terakhirnya untuk memesan terlebih dahulu kemudian barulah dirinya.


"Nanti Daddy jemput Mommy,"


"Kalau bisa, ya. Tapi kalau tidak bisa Mommy tidak masalah,"


Auristella mengangguk pelan. Sembari menunggu makan dan minumnya datang, Ia memainkan benda logam yang melingkari jemari ayahnya yang kini meletakkan tangan di atas meja. 


Devan mencium singkat puncak kepala anaknya. "Tadi bagaimana sekolahnya?"


"Oh iya, tidak demam lagi 'kan?" Devan meletakkan punggung tangan di dahi dan leher Auristella. Tidak demam lagi dan Ia bersyukur akan hal itu.


"Habis dari rumah Grandma dan Grandpa, kita kemana lagi, Dad?"


"Aku ikut Daddy saja ke kantor. Boleh ya?"


Devan tersenyum tak menolak kedatangan anaknya. Tentu Ia mengangguk, Anaknya tidak menyulitkan sama sekali kalau datang ke kantor sebab dia sudah beranjak besar dan sudah mengerti kalau di kantor ayahnya sibuk. Dan lagipula Auristella juga sudah cukup lama tidak berkunjung ke kantornya. Kedua anak laki-lakinya juga, mungkin akan Ia ajak besok. Tapi mereka memang sudah jarang mau datang ke kantornya. Lebih sering ingin di rumah kalau tidak ada kegiatan di sekolah. Bermain di rumah atau menonton. Pikir mereka daripada di kantor mereka mudah bosan, lebih baik di rumah. Sekalipun di ruang kerja ayah mereka terdapat sebuah kamar atau tempat beristirahat untuk Devan dan tersedia pula televisi, tetap saja tidak senyaman di rumah. Ruang lingkup mereka terbatas.


Auristella dan Devan mulai menikmati makan siang mereka sebelum datang ke rumah Raihan dan Rena sesuai permintaan mereka kalau Auristella sudah sembuh, maka wajib datang ke sana.


*****


"Erghh jadi Auris sudah dijemput Daddy. Kenapa sih kita tidak ditunggu?"


Adrian mendengkus kesal saat Ia tahu dari penjaga adiknya di sekolah kalau adiknya itu sudah pulang bersama sang ayah.


"Mungkin Daddy ingin mengajak Auris ke suatu tempat," ujar Andrean yang tidak kesal sama sekali seperti Adrian yang merasa ditinggali oleh ayahnya.


"Kenapa tidak mengajak kita juga?kita 'kan anak Daddy juga,"


"Sudahlah, jangan berpikiran buruk seperti itu pada Daddy. Aku rasa Daddy berpikir kalau kita belum akan pulang, makanya Daddy hanya menjemput Auristella,"


"Seharusnya menunggu kita juga,"

__ADS_1


Mereka bertiga akan sangat senang alau dijemput oleh orangtua mereka. Makanya begiu tahu kalau hanya Auristella yang dijemput Devan, Adrian jengkel sekali. Sekarang ini mereka tengah berjalan menuju mobil yang sudah menunggu. Keduanya langsung masuk ke dalam.


"Mungkin Auris sedang diajak Daddy ke rumah Grandpa,"


"Hah, aku dan kamu juga cucu Grandpa kenapa hanya Auris yang diajak?"


Andrean menghela napas pelan. Ia memilih bungkam tak ingin menyahuti lagi karena pasti ada saja yang akan menjadi bahan argumen dari Adrian.


******


Vanilla tiba di sekolah anaknya tepat waktu. Dari rumah orangtuanya Ia langsung bergegas ke sini.


Seorang staf sekolah Grizelle membantu Grizelle melangkah dan masuk ke dalam mobil. Vanilla mengucapkan terimaksih padanya kemudian menyusul anaknya masuk ke mobil.


"Hah," terdengar helaan napas Vanilla yang membuat Grizelle menoleh.


"Lelah ya, Mu? kenapa bukan Mr. Jun yang jemput aku?"


"Sekalian, Sayang. Tadi Mumu dari rumah Grandpa langsung ke sini,"


"Oh, Mumu pasti sudah berrli (beri) tahu Grandpa kalau adikku perrlempuan (perempuan)," tebaknya yang langsung diangguki sang ibu.


"Sudah aku duga. Lalu apa kata Grlandpa dan Grlandma, Mu?"


"Mereka tentu sangat senang,"


"Semuanya senang,"


"Iya, kakaknya termasuk yang senang juga," Vanilla mengusap pipi lembut putrinya.


"Iya, aku senang karrlena (karena) akan punya adik. Perrlempuan (perempuan) atau laki-laki tidak masalah," katanya.


"Mumu, jangan jemput aku lagi ya,"


Vanilla menoleh bingung saat Ia tengah mengenakan seatbelt. "Kenapa, Sayang?"


"Aku tidak mau Mumu kelelahan. Nanti Adikku akan semakin besarrl (besar) pasti Mumu lelah membawanya kemanapun,"


Vanilla tersenyum tipis. Lagi, Ia mengusap lembut wajah anaknya yang begitu pengertian ini. Sampai melarangnya agar tidak menjemputnya di sekolah supaya tidak kelelahan sebab Ia tahu bahwa adiknya akan tumbuh semakin besar dan Grizelle tentu tahu juga bahwa Mumunya akan merasa sangat lelah ketika harus membawanya.


"Tidak apa, Mumu masih bisa melakukannya,"


"Tapi tidak usah, Mu. Kasihan Mumu nanti kelelahan. Mumu kalau kemanapun harrlus (harus) mengajak adik. Aku tidak tega kalau Mumu kelelahan,"

__ADS_1


__ADS_2