
Thanatan berdecak kesal di dalam mobilnya karena menunggu Istrinya yang sedang dandan lama sekali, belum selesai dari setengah jam yang lalu Ia menanti di dalam mobil.
Ia membunyikan klakson beberapa kali. Maid segera menghampiri kamar Tuan nya lalu memberi tahu pada Karina bahwa klakson sudah berbunyi, artinya Thanatan sudah bosan menunggu.
"Iya, sebentar lagi aku selesai," ujar Karina pada maid.
"Tidak sabar sekali. Padahal ini juga sudah cepat-cepat," gerutunya pelan.
Ia segera mengambil tasnya setelah selesai berdandan. Wanita karir itu berjalan keluar dari kamar dan menghampiri mobil suaminya dengan langkah cepat.
"Seharusnya berangkat saja sendiri. Tidak usah bersama aku,"
"Ck! hemat bahan bakar dan menghindari kepadatan kota. Selagi bisa menggunakan satu mobil, kenapa harus dua mobil?"
"Bahan bakar mau hemat tapi beli tas terus,"
"Berisik,"
Thanatan melirik kesal sang istri. Kemudian Ia segera mengendarai mobilnya keluar dari wilayah tempat tinggal nya.
********
"Hari ini aku ingin ke kampus ya,"
"Kenapa ke sana?"
"Kemarin aku sempat mengatakan pada pihak kampus untuk berhenti kuliah dulu. Tapi karena kamu---"
"Kamu sudah bicara seperti itu pada pihak kampus tanpa persetujuan dari aku?"
"Iya, maaf."
Jhico menatap Vanilla yang sedang menguncir rambutnya di hadapan cermin. "Biasanya apapun itu kamu selalu bicarakan dengan aku sebelum kamu lakukan. Tapi kenapa kali ini kamu berbeda?"
"Karena tadinya aku ingin memaksa kamu supaya mengizinkan aku tidak kuliah lagi. Tapi tidak jadi aku lakukan, karena aku tidak berani,"
"Astaga, Nilla..."
"Hehehe maaf, Jhi. Aku tetap kuliah seperti apa katamu,"
"Jadi hari ini aku ditinggal hanya dengan Griz? Bibi sedang pulang ke rumahnya, kamu pergi,"
"Iya, tapi semua keperluan Griz sudah aku siapkan. Aku hanya sebentar, tenang saja,"
Jhico mengangguk walaupun Ia merasa cemas karena dalam bayangannya, mengurus Grizelle sendirian pasti sulit.
"Hanya sebentar aku tinggal, kamu terlihat keberatan. Bagaimana kalau aku tinggal setiap hari?" ujar Vanilla seraya terkekeh.
Jhico menggeleng membantah, "Tidak keberatan. Hanya saja aku takut tidak bisa sepandai kamu dalam mengurus Griz,"
"Bisa, kamu bisa. Lagipula aku hanya sebentar saja di kampus. Aku ingin membatalkan rencanaku itu,"
Vanilla sudah siap untuk pergi. Grizelle sudah dimandikan oleh Vanilla tapi sekarang tidur lagi.
"Aku pergi ya,"
"Ya, hati-hati, Nilla."
__ADS_1
******
"Aku ingin ke apartemen Jhico,"
"Katamu tadi ke butik,"
"Sekarang aku ingin ke sana dulu. Nanti saja ke butik,"
Thanatan menghembuskan napas merasa keberatan. Karina baru mengatakan ingin ke apartemen setelah mobilnya menuju butik Karina. Ia harus putar balik lagi ke arah apartemen anaknya.
"Kamu ke apartemen Jhico juga bisa 'kan?"
"Untuk apa? aku ada meeting pagi ini. Setelah mengantar kamu, aku langsung ke kantor,"
Karina mendengkus kesal. Padahal Ia ingin Thanatan masuk ke apartemen anaknya dan bertemu dengan Grizelle, tidak hanya mengantar sampai di basement saja.
"Grizelle sudah dua bulan, Pa."
"Ya, lalu kenapa?"
"Kamu belum pernah bertemu dengannya,"
"Nanti, lain kali."
"Kapan? sampai dia sudah besar dia tidak mengenal kakeknya,"
"Tidak masalah,"
*******
Joana senang sekali saat tahu Vanilla datang ke kampus. Joana mengajak Vanilla duduk di sebuah bangku di depan kelas.
"Ada perlu apa datang ke sini? aku berharap kamu menarik kembali keputusanmu kemarin,"
Vanilla tersenyum mendengar itu. Ternyata Joana juga tidak ingin Vanilla berhenti kuliah.
"Iya, aku tetap melanjutkan kuliah setelah masa cuti ku selesai,"
"Hah? benarkah?"
"Iya, Joana. Karena Jhico tidak mengizinkan aku. Aku ingin memaksa, tapi tidak berani. Aku ingin mendengar kata-katanya,"
"Aku senang sekali mendengarnya. Kamu bisa-bisanya memutuskan untuk berhenti kuliah padahal sudah jelas suamimu tidak setuju,"
"Jujur saja aku lelah kuliah. Aku juga ingin fokus menjadi istri dan Ibu saja,"
"Tapi kamu bisa melakukan itu semua beriringan, Vanilla. Banyak orang di luar sana yang tetap berkuliah meskipun sudah menikah dan memiliki anak,"
"Iya, itu yang dikatakan Kakak ku juga,"
"Kamu jangan lama-lama di sini. Grizelle dengan siapa?"
"Ada Pupu nya. Biar Jhico merasakan jadi aku untuk sementara waktu," ucapnya seraya terkekeh kecil.
*******
Jhico sedang mengganti popok anaknya yang baru saja dipenuhi air seni nya. Meskipun Ia sedikit kesulitan melakukannya karena tangannya masih ada yang cedera, tapi Ia tetap melakukannya dengan penuh kelembutan. Pasien nya saja bisa ia rawat sepenuh hati. Apalagi darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
"Sudah, Griz. Kalau mau tidur lagi, silahkan. Biar Pupu bisa bermain game," ucapnya pada sang putri yang begitu tenang. Ia hanya merengek disaat tertentu saja, itupun terbilang jarang sekali. Entah itu karena merasa lapar, haus, mengantuk, atau popoknya sudah penuh.
Saat Jhico mengusap-usap lengannya, Grizelle menggeliat seperti menolak untuk ditidurkan oleh Pupu nya. Akhirnya Jhico tidak memaksa anaknya untuk kembali tidur. Mungkin Grizelle memang tidak mengantuk lagi.
Tok
Tok
Tok
"Jhico, Grizelle..."
"Iya, Bi. Ada apa, Bi?"
Jhico segera beranjak untuk membuka pintu. "Ada Mama dan Papamu, Jhico."
"Oh iya, Bi. Aku akan keluar sebentar lagi,"
Saat Jhico akan masuk ke dalam kamarnya untuk membawa Grizelle keluar bersamanya, Karina datang menghampiri.
"Grizz tidur?"
"Tidak, Ma."
Karina langsung masuk ke dalam kamar anaknya untuk melihat Grizelle setelah sebelumnya Ia menyuruh Jhico untuk menyingkir dari depan pintu.
"Tuan, mau pergi?"
"Iya,"
"Tapi sebentar lagi Jhico keluar, Tuan."
"Aku harus pergi sekarang,"
Istrinya menghampiri Grizelle, Thanatan memutuskan untuk pergi dari apartemen Jhico.
Karina memaksanya untuk ikut menemui Jhico, Vanilla, dan Grizelle. Dengan berat hati Ia mengikuti Karina keluar dari mobil menuju unit apartemen anak mereka. Sekarang ada kesempatan untuk pergi, maka Ia pergi karena ada meeting juga yang harus Ia laksanakan.
"Bi, Papa dimana?" tanya Jhico saat tidak menemukan Papanya di ruang tamu. Padahal kata Bibi dan Karina, Thanatan datang.
"Sudah ke kantor. Katanya ada meeting, Jhico."
Jhico mengangguk pelan. Mungkin lebih baik memang mereka tidak sering bertemu karena setiap ada pertemuan selalu saja berdebat. Ia sempat bingung dan tidak menduga Papanya akan datang ke apartemen. Ia kira Papanya ingin bertemu Grizelle. Ternyata hanya singgah saja.
Karina membawa Grizelle keluar dari kamar. Ia mengerinyit saat tidak melihat suaminya. "Papa pergi?"
"Iya, Ma. Ada meeting kata Papa,"
"Memang ada meeting, tapi Mama minta dia ke sini dulu. Ternyata keras kepala,"
"Ya sudah, Ma. Mungkin Papa harus segera sampai di kantornya,"
Karina duduk lalu meraih ponsel di dalam tasnya sembari memangku Grizelle. Ia mengetik pesan untuk suaminya dengan isi kalimat yang menggambarkan bahwa Ia marah dengan sikap Thanatan.
---------
Mantemaaan hari ini kayanya aku gk bisa up Addicted soalnya takut blm sempat. Kl gk ada notif dari ReRai (Rena & Raihan) maapin yaaa. Tp tetap ramein komen di sana yaakk. Kali aja aku hilap wkkwkwk. Makasih untuk semua dukungan kalian. Lope lope💙💙
__ADS_1