
"Istriku baik sekali ya,"
"Mau menjadi orang baik seperti suaminya,"
Jhico menyambut Vanilla yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Ia mengisyaratkan Vanilla untuk duduk di pangkuannya tapi Vanilla menggeleng. Vanilla terlalu malu untuk bersikap seintim itu dengan Jhico, Ia belum terbiasa.
"Aku sudah lama tidak bertemu Nenek,"
"Aku terakhir bertemu saat Nenek sakit,"
"Kata Nenek, keluarga besarku sudah merencanakan liburan,"
"Wow, sepertinya menyenangkan kalau kita ikut,"
"Aku tidak mau,"
"Tapi aku mau!"
"Kita bisa liburan berdua,"
"No! itu seperti honeymoon,"
"Memang kenapa kalau kita honeymoon?"
Vanilla terkekeh tiba-tiba. Ia geli sendiri saat Jhico bicara seperti itu. Dulu, ketika melihat orang lain berbagi kebahagiaan di sosial media saat bulan madu, Vanilla selalu menginginkan hal serupa. Tapi setelah menikah, Ia malah seperti ini.
"Ya sudah kalau tidak mau," Jhico kembali menyibukkan diri. Lelaki itu berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Tadi Ia bicara serius, berharap Vanilla menjawab "Ayo, kita liburan berdua," dengan semangatnya yang menggebu. Nyatanya Vanilla malah tertawa seolah ucapannya adalah hal yang lucu.
"Keluargaku juga mau liburan bersama akhir bulan ini, kalau tidak salah."
Jhico sudah tidak ingin lagi membahas liburan karena keinginannya akan semakin besar. Ia tidak mau bersama, yang Ia inginkan hanya berdua.
"Jhi..."
"Hmm?"
"Bekerja terus,"
"Kalau mau tidur bukan di sini tempatnya,"
Mendengar jawab sang suami yang seperti itu, Vanilla mendengus. "Aku tahu kalau ini tempat kamu bekerja, tapi maksudku, sesekali kita bicara. Kamu terlalu fokus pada pekerjaan,"
__ADS_1
"Sekarang kita bicara,"
Vanilla berdecak dan melirik suaminya dengan sinis, "Kamu badmood karena aku tidak mau dipangku ya?" godanya pada Jhico. Lelaki itu malah nampak tidak peduli, membiarkan istrinya berasumsi.
"Aku pulang saja lah. Bosan di sini,"
"Pulang?" Jhico menatapnya sebentar. Vanilla langsung mengangguk. Vanilla hanya ingin tahu reaksi Jhico.
"Ya sudah, pulang saja. Hati-hati," malah seperti itu jawabannya. Vanilla kira akan dilarang dengan kalimat manis, "Jangan, Nillaku. Kamu di sini saja, temani aku bekerja."
Vanilla malu sendiri terhadap ekspektasi-nya. Ia terlalu berharap lebih. Setelah dengan terang-terangan Ia mengakui perasaannya pada Jhico, Vanilla memang sering seperti ini.
"Pulang ke apartemen jangan ke kelab!" ujar Jhico dengan tegas. Matanya menatap Vanilla dengan tajam, dari sorotnya Jhico memperingati agar istrinya tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Ke kelab saja. Di apartemen sendirian,"
"Nilla, jangan macam-macam kamu!"
"Terserah aku lah. Aku bosan di apartemen, lebih baik senang-senang di kelab bersama teman-teman, kita berbaur jadi satu,"
Jhico menghentikan pekerjaannya. Rahang lelaki itu mengeras. Ia tak suka mendengar Vanilla bicara seperti itu. Seolah tak ada yang salah dari tindakan yang akan diambilnya. Haruskah rasa bosan membuat Vanilla ingin mengunjungi tempat itu?
"Kalau begitu, kamu tidak aku izinkan pulang! kita pulang bersama, tunggu aku selesai bekerja,"
"Kamu pikir, setelah mendengar keinginan sintingmu itu aku masih mengizinkan kamu untuk pulang? jangan harap, Vanilla!" sarkas suaminya membuat Vanilla tersenyum. Sebesar itu rasa tidak suka yang dimiliki Jhico terhadap apa yang Ia sukai. Padahal tempat itu adalah bagian dari hidupnya, dulu.
"Setiap malam aku ke sana sebelum kenal dengan kamu. Tidak ada yang terjadi padaku,"
"Itu karena belum mengenal aku. Jangan samakan saat kamu sudah menjadi istri aku!"
Vanilla tak bisa menahan ledak tawanya. Ia berhasil meraih perhatian suaminya, sementara Jhico tampak tidak suka ketika Vanilla tertawa disaat Ia kesal seperti ini.
Vanilla mendekati suaminya. Dan Ia memberanikan diri untuk duduk di atas pangkuan Jhico. Tangan Vanilla bergerak mengusap leher Jhico yang urat-uratnya begitu terlihat jelas. Pertanda Ia emosi.
"Santai saja Tuan Jhico. Kamu terlalu serius. Coba tarik napas, lalu hembuskan dengan perlahan,"
Sadar kalau Ia tengah dikerjai oleh Vanilla, Jhico mengusir tangan Vanilla dari lehernya. "Aku tidak lagi menginginkan kamu ada di sini."
"BENAR YA? OKAY, AKU PERGI."
Vanilla beranjak dengan dada bergemuruh kesal. Ia melepaskan tangan Jhico dari pinggangnya. Tadi Ia mengatakan tidak menginginkan Vanilla di sini, tetapi Vanilla malah dipeluk.
__ADS_1
Saat Vanilla akan mencapai pintu, Jhico sengaja menekan alat yang digunakan untuk menutup pintu secara otomatis. Bunyi kunci yang bergerak, membuat Vanilla bingung. Lalu Ia menoleh pada Jhico yang tersenyum miring seraya mengangkat alisnya.
"Pintunya tidak mau kamu pulang,"
"Pintu atau kamu?"
"Pintu lah, dia yang menghalangi kamu pulang,"
*******
Malam ini Vanilla dan Jhico belum juga bisa terlelap padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam. Akhirnya Vanilla meminta Jhico untuk memotret dirinya ketika mengenakan semua produk-produk yang telah menjadikannya sebagai bintang iklan untuk kemudian diposting di sosial media.
Jhico dengan senang hati membantu Vanilla. Ia senang melihat Vanilla berpose di depan kamera. Apa lagi kalau Ia yang menjadi fotografer-nya. Rasanya Ia tidak ingin lepas menatap kamera. Ah Jhico sudah benar-benar mabuk akan pesona Vanilla.
"Kurang ke sini," ujar Jhico mengarahkan Vanilla agar posisinya tepat.
Karena profesinya yang seperti itu, Vanilla sampai menyiapkan tempat sendiri untuknya berfoto. Ada dekorasi-dekorasi sederhana namun tetap menawan yang biasa digunakannya sebagai latar dalam foto.
"Sudah?"
"Sekali lagi,"
Vanilla kembali tersenyum manis. Dan berhasil! ini benar-benar pose terakhir yang diambil Jhico dengan sangat sempurna.
"Terima kasih,"
"Hanya itu?"
"Ya?"
"Balasannya hanya itu?"
"Tidak biasanya kamu pamrih," cibir Vanilla yang mengundang tawa Jhico. Lelaki itu mengulurkan kamera pada Vanilla agar istrinya itu melihat hasil potretnya tadi.
Vanilla mulai menggulir fotonya satu persatu. Ia tersentak saat Jhico memeluknya dari belakang. Vanilla sedang mengenakan baju tidur berbahan satin yang bahunya terbuka. Di sanalah Jhico meninggalkan kecupan.
"Nillaku..." Vanilla menelan ludahnya gugup saat Jhico berbisik. Suaranya dalam dan berat sekali seperti sedang menahan sesuatu.
"Aku mau kamu,"
-------
__ADS_1
Mau kamu😝 kl sm akyu n pembaca akyuuu mau gk, donat jeko?🤣🤣