Nillaku

Nillaku
Nillaku 333 Obrolan Vanilla dan Lovi


__ADS_3

Thanatan memilih pulang setelah lebih dari lima belas menit bersepeda.


Begitu Ia tiba di rumah, rupanya Karina sudah pulang. Ia tidak menyangka kalau istrinya akan benar-benar pergi sebentar.


"Kamu benar-benar aneh ya. Sakit tapi masih keras kepala bersepeda? beruntung kamu tidak pingsan di jalan!"


Thanatan tersenyum geli mendengar ucapan istrinya. Ia tak selemah itu! buktinya saat ini Ia baik-baik saja. Pulang dengan kondisi selamat. Walaupun kepalanya masih pening dan demamnya belum turun.


"Istirahat!" ujar Karina dengan sorot tegas. Tapi hanya ditanggai Thanatan dengan gendikkan bahunya saja kemudian lelaki itu berlalu ke balkon.


"Nanti Griz akan datang ke sini,"


Karina melangkah menghampiri suaminya. Ia berdiri tepat di samping Thanatan yang tengah menikmati sapuan udara di wajahnya.


"Kamu masih merasa pusing dan demam?" tanya Karina padanya. Ia mengangguk pelan. Dan langsung dapat mendengar dengusan dari istrinya.


"Jelas saja. Karena kamu tidak istirahat,"


"Grizelle akan datang ke sini," karina mengulangi kalimatnya tadi sebab belum mendapat raksi apaoun dari suaminya entah kareba suaminya belum mendengar atau memang tidak tahu harus bereaksi apa.


"Untuk apa datang ke sini?"


Karina menaikkan satu alisnya bingung. Ia balik bertanya pada suaminya itu, "Memang ada larangan cucu datang ke rumah kakek dan neneknya?"


Thanatan diam, masih dengan wajah datarnya menghadap ke depan dan berpegangan pada besi pembatas balkon dan rooftop kamar mereka.


"Aku yang memintanya datang ke sini untuk menjadi temanmu. Aku tahu kamu bosan, mungkin dengan dia datang ke sini bisa menghilangkan rasa bosanmu bila beristirahat di kamar dan itu bisa mempercepat proses pemulihanmu,"


Karina menyentuh leher suaminya kemudian keningnya juga. Masih terasa panas.


"Lebih baik kamu istirahat. Nanti saat makan siang, aku bangunkan. Tidak usah takut merindukan aku lagi. Aku 'kan sudah pulang," dengan senyum jenaka di akhir kalimatnya, Karina berhasil membuat suaminya menatap tajam.


"Siapa yang merindukan kamu?"


"Jelas kamu, Pa,"


Thanatan menggeleng dengan rahang tegasnya yang menggertak


Istrinya kalau sudah mulai menyebalkan akan terus seperti itu. Maka Ia lebih memilih untuk menghindar.


Karina terkekeh saat suaminya berbalik masuk ke kamar. Thanatan pasti salah tingkah sekarang karena ketahuan merindukannya. Pikir Karina begitu.

__ADS_1


*****


Dari cafe, Vanilla bertandang ke rumah Lovi seraya menunggu waktu pulang anaknya yang masih dua jam lagi kurang lebih. Sekaligus Ia akan berkata pada Lovo bahwa Grizelle akan ke rumah kakeknya dulu setelah pulang sekolah.


"Nanti dia menginap lagi di sini 'kan?"


"Entah, nanti terserah Grizelle saja ya,"


Lovi pun tidak tahu bagaimana keinginan anaknya nanti. Maka Ia tidak bisa menjawab pasti pertanyaan Lovi yang baru pulang dari butik.


"Tidak sampai sore di butik?"


"Tidak, aku akan dimarahi anak-anakku kalau sampai sore di sana, Van,"


Lovi pulang ke rumah bahkan sebelum siang hari, masih pukul sepuluh. Maka Vanilla heran. Vanilla mengira bahwa istri kakaknya itu pulang setelah sore atau paling tidak, memasuki waktu siang.


"Aku senang kamu datang ke sini. Kita lakukan apa ya biar tidak bosan hanya mengobrol saja,"


"Kamu istirahat saja dulu. Setelah dari butik pasti lelah,"


"Ah tidak,"


Sudah terlanjur mengobrol dengan Vanilla, Lovi sampai lupa kalau Ia belum berganti baju dari butik.


Vanilla mengangguk, membiarkan Lovi berganti pakaian. Lebih baik Ia menunggu di kediaman kakaknya daripada di cafe. Sebab Grizelle masih lama keluar dari sekolah. Dan Ia tak diperkenankan untuk menunggu anak di sekolah oleh pihak sekolah.


Kalau di sini, paling tidak, Ia ada teman berbincang. Tidak hanya sendirian seperti di cafe tadi.


"Nona, hanya mau minum saja? tidak mau dibuatkan makanan sesuatu?"


Yuma bingung karena Vanilla tak hanya ingin disajikan air minum saja.


"Aku sudah makan tadi," tolak Vanilla seraya terkekeh.


"Kalau ingin sesuatu, katakan saja ya, Nona. Biar aku buatkan. Biasanya Ibu yang tebgah mengandung sering menginginkan sesuatu,"


Vanilla tersenyum mengangguk. Tapi selama kehamilannya kali ini, Ia tak seperti apa yang dikatakan Yuma. Ia justru terbilang jarang menginginkan makanan ini atau itu. Berbeda dengan saat mengandung Grizelle, hampir setiap hari ada saja yang Ia incar untuk masuk ke dalam perutnya. Bahkan tak kenal waktu. Terkadang malam saja Ia menyusahkan Jhico dengan segala permintaannya. Beruntung lelaki itu sabar dan berusaha memenuhinya walaupun tak setiap saat bisa terpenuhi tapi usahanya saja sudah membuat Vanilla senang.


Lovi meninggalkan Vanilla untuk berganti baju tidak lama-lama. Ia kenbali lagi pada Vanilla dan mengajak Vanilla ke ruang makan.


Vanilla menurut saja namun Ia hanya duduk sementara Lovi langsung mencari makanan ringan.

__ADS_1


"Aku mau buat screamble egg. Kamu mau?"


Vanilla menggeleng menolak. Ia sudah merasa kenyang dengan satu lava cake dan juga satu hot matcha latte di cafe tadi.


"Yang benar?"


"Iya, aku tidak mau," yakin Vanilla.


Tapi tetap saja Lovi membuatkan untuk Vanilla. Mood wanita hamil berubah-ubah. Barangkali nanti Vanilla menginginkannya setelah melihat Ia makan hasil buatannya.


Vanilla mengekori Lovi. Ia duduk di kursi bar dapur menatap Lovi yang bergerilya sendiri tanpa ingin dibantu.


"Jangan buatkan untuk aku," Vanilla sepertinya tahu niat Lovi.


"Tidak apa. Nanti mungkin kamu mau,"


"Tidak,"


"Tapi tetap akan aku buatkan, Van,"


Vanilla mendengus tak lagi melarang istri kakaknya itu. Ia menangkup dagunya dengan kedua tangan. Memperhatikan Lovi yang berdiri membelakangi nya dengan seksama.


"Memang kakeknya Grizelle sakit apa, Van?"


"Tadi kata Mama Karina demam, kepalanya sakit dan tidak mau istirahat"


"Ya ampun, bisa bertambah parah nanti,"


"Itulah masalahnya. Aku pikir kalau Griz datang ke sana, mungkin bisa membuat Ia menurut untuk istirahat,"


"Kasihan juga. Biasanya punya kegiatan sekarang harus di rumah saja. Atau tetap bekerja?"


"Mama Karina memaksanya di runah,"


"Memang sebaiknya begitu agar cepat sembuh dan bisa produktif lagi dan itu juga yang diinginkan oleh Kakeknya Grizelle 'kan? coba kalau sakit, tidak akan bisa beraktifitas. Makanya harus sehat," sembari tangannya bekerja, Lovi bicara padanya Vanilla mengenai pentingnya kesehatan untuk setiap orang apalagi bagi orang-orang yang terbiasa dihujani dengan kesibukan. Akan terasa menyiksa ketika harus diam saja tanpa melakukan apapun akibat sakit.


Lovi menoleh pada Vanilla sesaat memaatikan Vanilla masih di tenpatnya. Kemudian ia berkata,


"Kenapa ya laki-laki di sekitar kita itu selalu ingin tampil prima dan sangat luar biasa dalam bekerja keras? terkadang aku bingung. Papa Raihan, suamiku sendiri begitu, Jhico pun sama saja. Suamimu itu bisa sukses meskipun tak mengikiti jejak ayahnya yang pengusaha,"


"Kita juga begitu, Lovi. Kita perempuan yang pekerja keras. Jadi tepat sekali kalau bersanding dengan mereka yang pekerja keras juga," Vanilla mengatakannya seraya tersenyum hangat pada Lovi.

__ADS_1


__ADS_2