Nillaku

Nillaku
Nillaku 160


__ADS_3

"Jane, jangan membandingkan seperti itu. Setiap manusia punya tantangan hidup masing-masing dan tidak ada yang benar-benar berjalan sempurna. Belajar untuk bersyukur tanpa membandingkan memang sulit, Jane."


Kalau Jane mengatakan hidup Vanilla sempurna, tidak ada masalah, maka Jane salah besar. Apalagi kalau sudah menikah dan memiliki anak, cobaan yang diberikan Tuhan lebih bervariasi. Hubungan yang kurang harmonis dengan keluarga dan perdebatan dengan pasangan, baik karena masalah besar atau kecil, itu sudah termasuk cobaan bagi Vanilla.


"Bersyukur kamu masih memiliki suami yang baik dan keluarga yang selalu berada di belakang mu ketika kamu merasa butuh,"


"Sempat terbesit dalam pikiranku untuk berpisah saja----"


"Jangan berpikir seperti itu. Bukankah Richard sangat baik padamu? dia menerima kamu yang maaf belum bisa mengandung 'kan?"


"Iya, tapi kami sering sekali bertengkar, bukan tentang anak tapi banyak hal lain,"


"Semua pasangan pasti akan seperti itu. Pasangan yang belum menikah saja ada masalah nya, apalagi yang sudah menikah. Aku dengan Jhico saja sering meributkan hal kecil tapi itu wajar. Berbeda pendapat yang menjadi pemicunya. Tapi kalau dibicarakan berdua secara baik-baik pasti akan ketemu dengan jalan keluarnya. Yang utama adalah komunikasi, jangan dipendam sendiri dan jangan memilih diam karena pasangan belum tentu tahu bagaimana keinginan kita,"


Jhico mengerinyit kan keningnya karena samar-samar mendengar suara istrinya yang sedang di balkon.


Ia beranjak dari ranjang. Lelaki itu menatap anaknya yang masih tidur. Kemudian Ia berjalan menuju balkon, memperhatikan istrinya yang berdiri membelakanginya, menghadap langit, dan bicara dengan seseorang di telepon.


"Ya sudah, kalau kamu butuh ketenangan, cari tempat yang aman untukmu dan jangan lupa beri tahu Richard agar Ia tidak khawatir,"


"Tidak, aku tidak akan kemana-mana. Richard sangat baik padaku. Dia masih menghargaiku. Richard tidak bersikap sama seperti keluarganya saja sudah membuatku bersyukur, Vanilla."


"Aku senang mendengarnya. Pertahankan apa yang baik menurutmu. Ingat, jangan sia-siakan yang baik itu. Kalau ada masalah, bicarakan berdua,"


Jhico mendekati istrinya. Lelaki itu menyentuh bahu sang istri hingga mebuatnya tersentak kaget.


Vanilla menoleh padanya sebentar, kemudian fokus lagi dengan telepon mendengarkan suara Jane. "Maaf mengganggu waktumu, Vanilla."


"Tidak apa, kalau butuh sesuatu jangan lupakan aku,"


"Iya, terimakasih, Vanilla. Sampaikan rinduku pada Griz ya. Dia pasti sudah besar ya?"


"Dua bulan, badannya memang berisi,"


"Semakin menggemaskan pasti. Ah aku tidak sabar bertemu dengannya,"


"Tinggal di kota ini saja seperti waktu itu,"


"Aku mengikuti Richard kemanapun, Van. Ada rencana untuk kembali ke sana tapi belum tahu kapan. Lagipula kamu belum mulai bekerja,"


"Secepatnya ya, aku tunggu, Nona Manager,"


"Okay, bye."


"Bye, Jane,"


Vanilla mengakhiri panggilannya lalu menatap Jhico. "Kenapa kamu bangun? suaraku mengganggu kamu?"

__ADS_1


"Kamu menelpon Jane?"


pertanyaan dijawab dengan pertanyaan juga. Itulah Jhico kalau sudah terlalu penasaran.


"Iya, dia ada masalah,"


"Kenapa?"


"Karena Jane belum hamil, sikap keluarga Richard berubah,"


"Kenapa begitu? Memang Jane yang salah? bukan inginnya dia belum bisa mengandung,"


"Iya, oleh sebab itu Jane merasa terpukul sekali. Biasanya mereka sangat baik dengan Jane, tapi akhir-akhir ini berubah,"


"Lalu bagaimana dengan Richard?"


"Dia tidak sama seperti keluarganya,"


"Syukurlah, karena hanya Richard yang bisa menjadi sandaran Jane sekarang apalagi keluarganya yang membuat Jane terpukul. Dia pasti ada rasa bersalah,"


"Jane sedih sekarang dan aku tidak ada di dekatnya,"


"Doakan saja yang terbaik. Kalian harus saling mendoakan meskipun tidak lagi dekat,"


******


Malam ini Dion ingin menyatakan perasaan yang sesungguhnya pada sahabat kecilnya itu. Ia butuh kejelasan hubungan mereka. Apakah Fionna tetap ingin menganggap bahwa mereka sebatas sahabat atau lebih dari itu.


"Sepi sekali restoran ini,"


"Aku sengaja membuat nya sepi agar suasana mendukung,"


"Ada apa sih? kenapa kamu mengajak aku ke sini?"


"Fionna, sebenarnya tanpa dijelaskan pun kamu sudah tahu bagaimana perasaanku padamu. Yang butuh penjelasan adalah aku. Apa kamu memiliki perasaan yang sama padaku?"


Fionna melipat bibirnya ke dalam. Tiba-tiba Ia merasa gugup. Bertahun-tahun ia sengaja menutup hati karena ia berharap ketika pulang ke negara asalnya Ia bertemu dengan Jhico dan bisa memiliki hubungan lebih dari sahabat. Tapi ternyata takdir berkata lain. Jhico sudah menikah bahkan sekarang sudah memiliki anak. Sahabat kecilnya tidak mungkin Ia raih. Awal bertemu dengan Jhico kembali, sempat terbesit rasa ingin memiliki, merebut apa yang bukan miliknya. Tapi Ia berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa Ia juga perempuan. Ia memposisikan dirinya sebagai Vanilla. Saat dibayangkan saja rasanya sakit sekali. Apalagi kalau Ia benar-benar sejahat itu pada istri dari sahabat kecilnya.


"Aku belum bisa membaca perasaanku sendiri, Dion. Aku butuh waktu,"


Dion menghela napas berat namun ia tersenyum. Ia tahu tidak mudah bagi Fionna. Oleh sebab itu Ia harus sabar menanti Fionna sampai Fionna bisa membuka hati untuknya.


"Kapanpun dan apapun jawabanmu, aku terima,"


"Tapi kalau seandainya jawabanku tidak sesuai dengan harapanmu, kita tetap menjadi sahabat 'kan?"


Dion menangkup tangan Fionna yang sedari tadi berada di atas meja. "Tentu saja, jawabanmu tidak akan mempengaruhi persahabatan kita. Aku, kamu, dan Jhico tetap sahabat. Sahabat kecil yang akan menjadi sahabat sampai kapanpun,"

__ADS_1


********


"Jhi, kamu sibuk?"


"Tidak, memang kenapa?"


"Bibi 'kan menjenguk anaknya, aku harus masak. Bisa bantu aku untuk menjaga Griz sebentar?"


"Bisa,"


Jhico yang sebelumnya sedang berbaring di ranjang berhadapan dengan laptop langsung mengubah posisi menjadi duduk.


Vanilla sudah ke dapur untuk memasak dan Jhico duduk lalu memangku Grizelle. Saat ini ayah satu anak itu sedang membaca laporan klinik selama satu bulan terakhir ditemani oleh anaknya.


******


Sembari makan malam, Jhico membuka ponselnya. Tak sengaja Ia melihat foto yang baru saja di upload oleh Dion. Ia melihat Dion dan Fionna foto berdua dengan latar yang romantis walau hanya terlihat sedikit saja. Wajah keduanya hampir memenuhi kamera.


Jarang sekali foto bertiga. Sekarang foto berdua dulu, lain kali aku juga diajak ya.


Tulis Jhico memberi komentar atas foto itu. Jhico tersenyum memperhatikan foto mereka dan hal itu membuat Vanilla mengerinyit bingung.


"Kamu senyum dengan siapa, Jhi?"


"Coba kamu lihat,"


Jhico mengangsurkan ponselnya pada Vanilla. "Woahh so sweet," gumam Vanilla dengan raut senang.


"Aku yakin, mereka bukan sahabat lagi,"


"Huh? maksudmu? kalau mereka tidak bersahabat lagi alias bertengkar, kenapa di foto ini mereka tersenyum bahagia. Dan kamu lihat suasana di foto itu sangat romantis walaupun hanya terlihat sedikit,"


"Maksudku bukan bertengkar,"


"Lalu apa?"


"Mungkin mereka berdua sudah punya hubungan special. Selama ini mereka terlihat sering berdebat kecil, sekarang justru manis sekali. Seperti sepasang kekasih,"


Vanilla melepas sendok dan garpu yang Ia pegang lalu Ia membuka mulutnya mengeluarkan pekikan senang hingga membuat Jhico menutup telinga nya.


"AAAAAA AKHIRNYA FIONNA PUNYA KEKASIH,"


 -------


Kira-kira knp Nilla teriak kek gt? ada yg bs nebak? Makasih kemaren kalian ingetin aku yg nulis salah nama Richard jadi RolandđŸ˜‚Part kemaren udh aku ubah namanya. Kl msh ada kesalahan, kasih tau bagian mana dan maaf yaa.


ADDICTED UP

__ADS_1



__ADS_2