Nillaku

Nillaku
Nillaku 401 Jane tidak habis pikir dengan Grizelle yang memelihara buaya


__ADS_3

"Jangan terlalu lama menghindari Richard. Dia perlu kamu, Jane,"


Setelah menceritakan permasalahannya pada Rena, Rena memberikan sarannya. Ia mengusap rambut Jane yang kini menangis dalam pelukannya.


"Dia bersikap seolah kami tidak ada masalah setelah aku pergi. Mengirimi aku pesan, menelponku. Aku jadi kesal!"


"Justru bagus. Artinya dia memang tidak bisa jauh dari kamu, tidak mau terus berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja bersama kamu. Seharusnya kamu senang dia masih peduli padamu,"


Jane menarik napas dalam. Ia mengusap jejak air matanya kemudian melepas pelukannya dari Rena.


"Aku senang, tapi aku juga kesal. Waktu aku belum pergi, dia dingin sekali walaupun tetap ingin menemani aku ke sini. Tapi setelah aku pergi, dia malah hangat,"


"Kamu memang masih perlu waktu untuk menenangkan pikiran kamu. Setelah itu, temui Richard,"


"Dia saja yang menemui aku. Kenapa harus aku? aku tidak mau,"


"Kalau dia ke sini kamu akan menerima kedatangannya 'kan?"


Anggukan Jane membuat Rena menghela napas lega. Ada kesempatan untuk mereka kembali baik-baik saja.


"Kamu itu sangat mencintai Richard begitupun sebaliknya. Ini cobaan yang harus kalian lalui sama-sama,"


"Cobaannya masih sama dari dulu sampai sekarang," Sela Jane sebelum kembali melanjutkan, "Kami belum diberikan keturunan sampai akhirnya membuat keluarga Richard jenuh menunggu,"


Rena menggigit bibir gusar. Ia pun tidak mungin menyalahkan keluarga Richard. Mungkin memang begitulah mereka kalau menghakimi seseorang. Dan Ia lebih tidak mungkin lagi menyalahkan Tuhan yang sampai detik ini belum memberikan kepercayaan untuk Jane dan Richard memiliki anak.


"Sudah, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Percaya saja, akan ada waktu yang tepat. Usiamu dan Richard madih muda, masih ada waktu untuk memilikinya. Kalau kamu terlalu menjadikan itu sebagai beban pikiran, justru kamu akan terus merasakan tekanan. Sebab kamu tidak berkuasa untuk melakukan apapun. Pada akhirnya hanya Tuhan saja yang memiliki kuasa untuk memberikan keturunan pada kalian berdua kalau memang dirasa kalian sudah tepat menjadi orangtua,"


Rena mengusap rambut Jane yang baru kali ini benar-benar meluapkan keluh kesah mengenai rumah tangganya bersama Richard.


Ia memberikan pendapat yang netral. Tidak ingin membela Jane maupun Richard. Sebab keduanya memang sedang dalam masa yang perlu waktu untuk istirahat sejenak dari keterpurukan yang menghampiri mereka untuk yang kesekian kalinya dan lagi-lagi karena perkara yang sama.


"Aku takut sekali," guman Jane seraya memainkan ujung baju Rena, Ia menunduk dalam.


"Takut kenapa, Sayang?"


"Aku takut---takut kalau Richard meninggalkan aku, memenuhi keinginan keluarganya untuk mencari yang lain,"

__ADS_1


"Astaga,"


Rena terkesiap mendengar itu. Apalagi melihat Jane yang kembali terisak. Sampai sebesar itu pengaruh mereka terhadap rasa sakit yang dialami Jane?


"Apapun itu, kamu harus yakin kalau Tuhan selalu baik padamu. Tuhan ingin yang terbaik untukmu,"


"Aku tidak mau kehilangannya. Aku tidak siap. Walaupun dia juga jahat karena tidak prrnah mau berani mengeluaran suaranya ketika aku merasa dihakimi, tapi aku sangat mencintainya, Aunty. Aku tidak ingin Ia pergi,"


Rena menghapus air mata Jane yang mengalir tanpa tahu malu. Ia tidak bisa melihat siapapun menangis apalagi karena permasalahan terjadi dalam rumah tangga. Ia seolah bisa merasakan sakitnya sebab Ia juga seorang istri yang memiliki suami dan juga permasalahan.


"Kamu datang ke sini untuk menenangkan diri. Jadi jangam biarkan rasa sedih menguasaimu,"


Jane mengangguk pelan. Ia akan berusaha untuk melakukan itu. Walaupun rasanya sulit sekali. Apa yang dikatakan Rena benar. Ia ke sini dengan tujuan menghilangkan kesedihan dengan bertemu keluarga, bercerita apa yang memang mau diceritakan sehingga menjadi tenang.


"Grrlandma, Aunty,"


Jane cepat-cepat menghapus jejak air mata di seitar mata juga pipinya. Grizelle terdengar melangkah ke arahnya. Anak itu tidak boleh mendapatinya sedang bersedih.


"Hai, sayang. Sudah melihat hewannya?"


Grizelle berdiri di hadapan Jane dan Rena. Ia menunjuk Mumunya yang menyusul dengan langkah pelan. Beruntungnya Ia tidak menyeimbangakan langkah Grizelle sebab anak itu berjalan cepat sekali karena lukanya semakin kering.


"Mumu tidak membolehkan aku mendekat pada buaya,"


"Ada buaya?"


Jane pikir anak itu ingin melihat hewan yang sejenis kucing, ikan, dan hewan tak me gerikam lainnya. Ternyata buaya?


"Ada, oh iya, Aunty belum tahu ya? aku punya buaya. Tapi tinggalnya di sini,"


"Kamu yang punya?"


"Iya, aku minta pada Grrlandpa lalu dipenuhi,"


"Ya ampun, dari sekian banyak hewan kenapa harus buaya, Grizelle?" Jane tak habis pikir dengan keponakannya yang satu ini. Santai sekali dia mengatakan bahwa dia yang menginginkan buaya dan kakeknya memenuhi keinginanya tersebut.


"Aku inginnya buaya. Aku juga ingin singa putih tapi belum dipenuhi Grrlandpa karrelna (karena) tidak dibolehkan Pupu, Mumu, dan Grrlandma,"

__ADS_1


Jane menepuk keningnya merasa akan stres kalau ia memiliki anak seperti Grizelle yang tidak pernah diduga pola pikir, keinginan, sampai sifatnya sekalipun.


"Kenapa mau memelihara hewan-hewan seperti itu? memang kamu tidak takut?"


"Tidak, aku berralni(berani),"


"Kelewat berani," sahut Vanilla yang masih kesal setiap mengingat sikap Grizelle tadi yang sulit sekali diperingatkan agar tidak terlalu mendekat pada buaya.


"Jelas saja mereka tidak mengizinkan. Permintaanmu luar biasa aneh," cetus Jane yang membuat Grizelle merengut.


"Aku minta singa putih supaya sama dengan aku,"


"Sama bagaimana maksudnya?"


Grizelle menyuruh rambutnya sendiri lalu menjawab," Aku kalau bangun tidurll (tidur) rrlambutnya (rambutnya) selalu berralantakan (berantakan) seperrlti (seperti) singa,"


Jane tertawa mendengar penjelasan anak itu mengapa Ia meminta singa. Rupanya karena singa memliki kesamaan dengannya bila habis bangun tidur.


"Melihat hewan dengan mumu tidak menyenangkan. Apa-apa tidak boleh. Lebih menyenangkn dengan Grrlandpa (Grandpa)," katanya jujur yang mengundang decakan kesal dari mulut Vanilla.


Sama bila ingin makan cokelat atau minum ice cream, Grizelle kan merasa bebas bila tak ada orangtuanya.


"Mumu khawatir padamu," Jane menjelaskan pada keponakannya itu keapa Mumunya ba yak melrang.


"Iya, tapi aku 'kan ingin melihat darrli (dari) dekat tapi tidak dibolehkan,"


"Ya wajar saja Mumu melarang. Dia takut kamu digigit,"


"Ada pelindungnya, Aunty,"


"Berlapis lagi," tambahnya yang tetap saja digelengi oleh Jane.


"Tetap berbahaya. Kamu itu pewaris nomor satu Vanilla dan Jhico jadi tidak boleh terluka sedikitpun. Mengerti?"


Jane merangkum wajah Gruzell dengn geas hingga mulutnya mengerucut. Ia mencium gemas hidung Grizelle yang memang kecil semakin tidak terlihat saja ketika Ia menekan kedua pipinya.


"Pewaris berikut-berikutnya juga!" tambah Vanilla seraya mengusap perutnya sendiri. Ia tidak ingin semua anaknya terluka. Entah itu Grizelle, atau nanti adik-adiknya. Sama seperti orangtua lainnya. Anak adalah hal paling berharga yang harus dijaga dengan sangat baik.

__ADS_1


__ADS_2