
"Sudah ada yang matang. Siapa yang mau?"
"Aku,"
"Ian,"
"Auris,"
Bibi tersenyum melihat keriuhan anak-anak yang dengan setia mengamatinya memanggang daging.
"Andrean tidak mau?"
Karena melihat Andrean tak seantusias yang lainnya, maka Bibi bertanya seperti itu.
"Aku mau," jawabnya singkat dan datar seperti biasa.
Bibi tersenyum kemudian Ia memindahkan yang sudah matang ke atas piring dan diberikan kepada empat anak itu.
"Ini buat kalian. Makannya bersama-sama ya. Jangan takut kurang. Ini masih banyak,"
"Terrlimakasih ya, Bibi,"
"Sama-sama, Icelle,"
"Terimakasih untuk semuanya," Adrian berseru pada para asisten yang telah menyajikan makanan lezat malam ini.
Mereka bereempat mulai menikmati. Kepala sampai mengangguk-angguk karena terlalu lezat.
"Tidak disangka kita akan barbeque malam ini,"
"Telan dulu, baru bicara," tegur Adrian pada adiknya yang bicaa tersendat karena sambil mengunyah.
Auristella mengunyah kemudian menelannya. "Sudah ditelan,"
"Ya, barulah kamu boleh bicara,"
"Lezat ya?" Auristella meminta pendapat dari kedua kakaknya dan adik sepupunya.
"Lezat sekali," sahut Grizelle. Ia saja sudah habis dua slice daging. Grizelle begitu menikmati kelezatan dari makanan itu dan juga kebersamaan dengan saudaranya yang belakangan ini sempat hilang.
"Kurang tidak?" tanya Nada pada mereka. Nada bertugas memberi bumbu.
"Kurang banyak," sahut Adrian yang tak rela piring di hadapannya ini kosong. Sudah harus diisi lagi sebelum habis.
"Ini Nada tambah ya,"
Nada bergegas mengisi piring datar berukuran lumayan besar yang berada di tengah-tengah empat anak itu.
"Woahhh harumnya itu membuat hidungku bergetar,"
Grizelle tersedak dengan tawanya mendengar seruan Auristella. Kakak sepupunya itu mengatakan dengan serius tapi entah mengapa membuat perutnya tergelitik.
"Nada, tolong siapkan untuk Mumu dan Pupu ya biarrl (biar) merrleka (mereka) juga mencoba,"
__ADS_1
"Okay, Griz,"
Nada melaksanakan apa yang diminta anak Tuan dan Nonanya. Itu. Disaat menikmati apa yang tersaji pun Grizelle tetap mengingat kedua orangtuanya. Padahal Ia bisa saja sibuk sendiri memuaskan nafsu makannya, tapi Grizelle tidak seperti itu.
"Memang Aunty bisa makan ini ya, Icelle?"
"Boleh, ini matang. Kalau kata Pupu, sebaiknya ibu yang mengandung itu makan yang matang sempurrlna (sempurna) karrlena bakterrli (karena bakteri) darrli (dari) makanan mentah bisa membuat adik bayi tidak sehat,"
"Iya, benar, Icelle,"
Adrian mengangguk dengan mulutnya yang tak henti bekerja. "Kenapa lezat sekali ya? padahal selama aku makan seperti ini, rasanya lezat tapi biasa saja. Ini luar biasa sekali,"
"Mungkin karena kita makannya bersama,"
"Selama ini kita juga makan bersama terus, Auris,"
"Maksudku, makan bersama Icelle. Mungkin Icelle adalah perasa, jadi dia bisa menambah kelezatan makanan,"
Grizelle menggeleng pelan mendengar kalimat Auristella yang aneh dan tak masuk akal.
"Aku manusia, bukan perrlasa (perasa)!" protesnya tidak terima.
"Bercanda, Icelle," Auristella terkekeh meringis apalagi melihat kening Grizelle yang mengerinyit dan menatapnya kesal.
"Griz mau antar ke Mumu dan Pupu?" tanya Nada seraya membawa satu baki yang diatas terdapat piring berisi daging lezat yang telah matang.
"Iya, aku yang akan berrlikan (berikan) pada Mumu dan Pupu,"
Ia beranjak lalu meraih baki tersebut. Ia meninggalkan tempat duduknya sementara waktu karena ingin mengantar bagian untuk Ayah dan Ibunya.
"Iya, Icelle,"
"Griz bisa membawanya? biar Nada saja,"
"Aku bisa, Nada. Aku kuat," ujarnya yakin seraya terkekeh kecil. Anak itu membawa baki sampai pada kamar kedua orangtuanya.
Nada mengikuti dari belakag dan Ia dimintai tolong oleh Grizelle untuk mengetuk pintu.
Jhico membuka pintu dan langsung mengambil alih yang dibawa anaknya. Kemudian Nada langsung pergi setelah memastikan anak itu aman sampai di kamar orangtuanya.
Grizelle masuk ke dalam dan langsung duduk di sisi ranjang, dekat dengan Mumunya saat ini.
"Aku bawakan yang sudah matang untuk Mumu dan Pupu. Silahkan dicoba, rrlasanya (rasanya) lezaaaat sekali,"
Vanilla dan Jhico langsung mencicipinya. Mereka mengunyah seraya mengangguk-anggukan kepala.
"Bagaimana? lezat 'kan? iya lah, tentu saja, karrlena (karena) itu bukan buatan aku,"
Vanilla dan Jhico terkekeh mendengarnya. "Griz sudah makan belum?"
"Sudah, Mu. Sudah habis banyak,"
"Pupu melihat kalian tadi sesekali,"
__ADS_1
"Oh ya? aku tidak sadarrl (sadar) kalau Pupu mengawasi,"
"Ya, tidak sadar karena terlalu sibuk menyantap ya,"
Grizelle tertawa kemudian mengangguk membenarkan penuturan ayahnya.
Memang Ia begitu menikmati kegiatan malam ini. Makan sambil mengobrol dengan saudara dan para asistennya yang sambil memanggang.
"Ya sudah, Griz kembali lagi ke sana. Nanti triple A bingung kalau Griz lama-lama di sini,"
"Okay, aku kembali ke sana lagi ya. Mumu dan Pupu kalau mau tambah, tinggal telepon Bibi saja. Nanti aku yang antarrl (antar) lagi,"
Mereka berdua mengangguk dengan senyumnya. Bahkan bibir mereka masih melengkung sampai punggung Grizelle hilang dibalik pintu kamar.
"Baik sekali dia,"
"Tak heran, ayahnya juga baik," ujar Jhico dengan jumawa yang membuat istrinya mendengus.
"Iya, kamu baik sekali. Aku juga baik," pungkas Vanilla dengan senyumnya dan Ia menaik turunkan alisnya, tak kalah menyombongkan diri telah mewariskan sifat baik kepada anak mereka.
"Ya maka kita berjodoh karena sama-sama baik,"
Jhico tertawa memberi ciuman singkat di bibir istrinya. Vanilla segera berseru kesal.
"Jhi, bibirmu masih ada sisa dagingnya itu,"
"Ya biar ciumanku rasa daging,"
"Ck! dasar aneh," Jhico terkekeh mengacak pelan rambut sang istri. Ia mengangsurkan minum pada Vanilla setelah wanita itu menghabiskan potongan daging kedua. Ia meregangkan ototnya sebentar.
"Jangan tidur dulu," Jhico memperingati istrinya seolah tahu setelah ini istrinya akan apa.
"Iya, aku tahu, My Jhi. Tapi jujur, aku jadi mengantuk setelah makan,"
"Biasanya memang seperti itu 'kan?" Jhico menggoda istrinya yang sering mengeluh jadi ingin tidur usai makan.
"Iya, bagaimana badanku tidak makin mengembang ya,"
"Itu karena kamu tengah mengandung, Nilla,"
"Tapi sebelum mengandung memang sudah mulai mengembang,"
"Memang sudah ditakdirkan untuk tidak bekerja lagi, Nilla,"
Vanilla merengut tapi dalam hati membenarkan. Kalau berat badannya tak bisa kembali lagi seperti semula Ia harus tahu diri mundur perlahan dari dunia pekerjaan yang selama ini Ia geluti.
"Berikan kesempatan pada yang lain," secara halus Jhico membujuk istrinya agar setelah melahirkan dan anaknya sedikit besar nanti, Vanilla benar-benar berhenti berkarir sebagai seorang peraga.
"Pada yang badannya masih bagus, muda, dan belum berkeluarga ya?" tanya Vanilla dengan sinis.
"Iya, benar sekali,"
"Huh kamu mengejekku atau bagaimana? maksudmu, aku ini sudah gemuk dan tua?"
__ADS_1
Jhico menghembuskan napas pelan. Istrinya sensitif sekali. Padahal niatnya tak ke arah sana.
"Aku tidak berkata seperti itu," bantahnya dengan senyum berusaha membuat Vanilla tidak merengut lagi.