
"Aku mau kamu,"
"Jhi--"
Grepp
Jhico membalik tubuh Vanilla hingga berhadapan dengannya. Mata mereka saling menatap berusaha menyelami perasaan dan keinginan masing-masing. Sama, mereka memiliki itu semua.
"Aku juga mau," tanpa keraguan sedikitpun Vanilla siap menyerahkan dirinya untuk menjadi milik Jhico sepenuhnya.
Perasaannya terhadap Jhico sudah tak perlu lagi membutuhkan pertimbangan yang lebih matang. Jhico berhak mendapatkan apa yang seharusnya Ia dapatkan dari seorang Vanilla, istrinya.
Jhico yang sedari tadi menahan napas, berusaha untuk tetap waras dan tetap pada teritorial yang ada dalam dirinya, malah dibuat terperangah dengan jawaban Vanilla. Ia semakin kesulitan mengendalikan diri. Vanilla menerimanya dengan tangan terbuka.
"Aku sudah katakan, aku mau melakukannya kalau kita sudah sama-sama siap. Jadi--"
"Sejak aku mabuk juga aku sudah siap,"
"Tidak, Nillaku. Aku tidak mau melakukan itu saat kamu tidak sadar,"
"Kamu terlalu naif atau bagaimana?"
Jhico berdecak dan mengecup bibir Vanilla sesaat. "Jangan berdebat. Kalau memang sudah siap, kita lanjutkan saja."
"Okay, aku cinta kamu!"
Jhico tak bisa menahan senyumnya. Ia mendekatkan telinganya ke bibir Vanilla,
"Apa? aku tidak dengar. Kamu kurang yakin mengatakannya,"
"Tidak ada pengulangan. Besok telingamu perlu diperiksa,"
"Kamu terlalu banyak bicara, Sayangku."
Bughh
__ADS_1
"JHICO!"
"Apa?"
"Santai! bisa santai? tidak perlu banting-banting aku. Memang aku apa?!"
"Aku melakukannya dengan lembut. Kamu yang membanting diri, kamu sudah benar-benar pasrah ya? tidak sabar lagi hmm?"
Sebelum bersatu menciptakan alunan syahdu malam pertama, mereka masih sempat saling menggoda. Jhico dan Vanilla tidak ada yang mengutamakan lonjakan gairah yang sejak tadi memaksa untuk dilampiaskan. Mereka menikmatinya, tanpa terburu-buru, dengan perasaan cinta yang sudah diakui oleh keduanya.
Di detik tali baju tidur Vanilla jatuh dari bahunya, Jhico terlihat gugup. Tenggorokannya naik dan turun mengintai setiap lekuk tubuh gadis di hadapannya yang sudah terbaring menantikan sentuhannya itu.
Ini kali kedua Jhico melihat semuanya. Tetapi rasa canggung itu masih ada. Jhico terlalu terkesima dengan semua yang sebentar lagi akan menjadi miliknya utuh tanpa tersisa.
Vanilla terkekeh mendapati suaminya yang terlihat bodoh. "Kamu amatir," ejeknya dengan senyum miring.
Ego lelaki Jhico merasa tersentil. Ia lebih membangkitkan sisi liarnya agar Vanilla tahu bahwa Ia tak seamatir itu untuk seorang pemula.
"Kamu akan menarik ucapan itu kalau sudah aku buat mend--"
"Kamu lakukan saja, jangan banyak bicara. Aku malu!"
"Supaya kamu tidak tegang, Nillaku. Ayolah, kita sambil bicara kalau perlu bercanda,"
Seharusnya Vanilla melihat dirinya sendiri. Ia menertawakan Jhico yang dianggap amatir, Ia tidak tahu saja wajahnya sedari tadi membuat Jhico salah fokus. Ada tegang, panik, dan seksi yang membuat Jhico tak sabar ingin menghentak. Tapi tidak! Ia tidak boleh egois.
Vanilla membulatkan matanya saat pertahanan yang selama ini Ia jaga, berhasil ditembus oleh suaminya. Jhico melakukannya dengan lembut tanpa Vanilla merasa kesakitan. Vanilla hanya terkejut sesaat kemudian mulai dihujani dengan kenikmatan yang selama ini belum pernah dirasakannya.
"Kamu sudah benar-benar aku miliki, Nilla. Terima kasih atas semua yang sudah kamu jaga selama ini. Aku yang berhasil mendapatkannya dan aku bahagia,"
Erangan dari keduanya terdengar sahut-sahutan di tengah ributnya angin malam. Ini penantian yang panjang untuk Jhico. Selain mendapat dua kali pengakuan langsung dari Vanilla bahwa gadis itu sudah mencintainya, Ia juga berasil mendapatkan haknya sebagai suami yang selama ini Ia tunda karena masalah perasaan. Jhico benar-benar menjadi sosok yang begitu beruntung malam ini. Sehingga rasanya sangat bahagia, tak bisa digambarkan dengan untaian kata apapun.
Long-longan panjang keluar dari mulut Jhico pertanda Ia begitu puas atas keberhasilannya dalam mencapai puncak untuk yang kesekian kalinya malam ini. Tak terhitung Vanilla dibuat mabuk kepayang atas sentuhan sang suami.
Siapa yang tahu kalau Jhico baru bisa menikmati malam pertamanya di malam ini, setelah tujuh bulan pernikahan. Perjalanan yang begitu panjang harus Ia lewati untuk membuat Vanilla percaya pada dirinya bahwa dialah orang yang tepat untuk mendapatkan cinta, kasih sayang, dan semuanya dari Vanilla.
__ADS_1
********
Bel apartemen berbunyi entah sudah ke berapa kalinya. Namun penghuni di dalam tak menunjukkan eksistensinya sama sekali, menyapa tamu yang sudah menggerutu sejak tadi.
"Sialan! apa yang dilakukan Vanilla? dia tidur atau mati. Dan dimana Jhico?!"
"Tidak mungkin 'kan kalau aku teriak di sini. Bukan Vanilla yang keluar nanti malah bagian keamanan yang datang lalu mengusir aku,"
Jane datang ke apartemen Vanilla dan Jhico bersama keluarga besarnya yang hari ini akan pergi liburan. Seharusnya Vanilla sudah siap, Ia tahu kalau mereka akan liburan bahkan sudah mengatakan ingin ikut juga. Tetapi ketika sampai di sini untuk mengajak mereka berdua turut bergabung dalam perjalanan, mereka malah belum bangun sepertinya.
Jane memutuskan untuk menghubungi Rena yang menunggu di bawah bersama Raihan, Devan, dan anak-anaknya serta keluarga yang lain.
"Sepertinya anakmu pingsan di dalam,"
"Huh? serius kau?!" Raihan yang menjawab panggilan Jane langsung terbelalak. "Tidak ada yang membuka pintu. Dugaanku seperti itu,"
Adrian yang ikut bergabung dengan mobil kakek dan neneknya menyahuti karena pembicaraan antara Jane dan Raihan sengaja diperbesar volumenya agar semua bisa tahu alasan kenapa Jane lama berada di lantai tujuh belas gedung apartemen ini.
"Lempar bom saja, Aunty. Bawa bom-nya tidak?"
"Ide bagus tapi masalahnya Aunty tidak persiapkan itu dari awal,"
Jane mendengus kesal seraya memandangi pintu sesekali. Benar-benar dua manusia di dalam unit apartemen itu. Mengerjainya sekali, Astaga.
"Aku ke sana sekarang,"
Jane memutus panggilan setelah Raihan mengatakan itu pada Rena yang didengar oleh Jane.
Selama menunggu yang punya anak datang, Jane terus berusaha membuat pintu ini terbuka. Ia mulai menggunakan dua cara sekarang. Lembut dan kasar, semuanya sudah Ia lakukan agar pintu dibuka. Nyatanya tetap saja tidak ada yang keluar.
Jane duduk di depan pintu menyimpan geramnya. Rasanya kalau Vanilla sudah membuka pintu itu, Ia ingin mengacak wajah Vanilla yang sudah membuatnya seperti pendemo yang menuntut sesuatu, Bila tidak dipenuhi akan berbuat sedikit garang.
"Apa mereka sedang sikidipam-pam ya. Karena tidak biasanya mereka seperti ini. Terutama Jhico yang rajin bangun pagi, kalau Vanilla tidak heran aku. Kebakaran sekalipun dia tidak akan bangun,"
------
__ADS_1
Tau skidipam-pam yg dimksd Jane gk? aku mendadak polozz iniš¤£