
"Icelle dan Pupunya sudah pulang, Van,"
"Oh iya, Bi? sudah lama kah?"
"Sekitar lima belas menit yang lalu,"
Vanilla mengucapkan terimakasih pada Bibi yang melaporkan padanya mengenai hal itu. Ia segera bergegas ke kamar anaknya. Tapi Ia tidak menemukan Grizelle di sana. Akhirnya Ia putuskan untuk ke kamarnya dan Jhico.
Ia membuka pelan dan ternyata benar, Grizelle bersama ayahnya sedang berbaring di ranjang. Ia membuka pintu lebih lebar dan membuat Jhico yang sedang serius menonton menoleh ke arahnya.
"Sudah pulang ternyata,"
"Tidur?"
"Siapa?"
"Itu, princes pertama kamu," Vanilla menunjuk anak mereka dengan dagu seraya melepas kaus kakinya dan juga sling bagnya.
"Iya, tadi Icelle kesal karena kamu tidak mengajaknya. Tapi sudah dijelaskan oleh Bibi dan dia mengerti,"
Vanilla terkekeh kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan kaki dan tangannya, beralih ke walk in closet untuk mengganti pakaian kemudian baru bergabung dengan sepasang ayah dan anak itu.
"Kalian sudah lama pulangnya?"
"Belum terlalu,"
"Oh, hanya jalan-jalan saja?"
"Makan donut dulu tadi. Bagaimana acaranya?"
"Menyenangkan tapi triple A menyayangkan Grizelle yang tidak ikut. Ponselmu tertingga! seharusnya aku bisa mengabari kalian berdua supaya cepat pulang dan kita berangkat ke sana bersama-sama,"
Jhico terkekeh pelan seraya melirik anaknya, takut membuat anaknya terjaga.
"Iya, maafkan aku, Nilla. Aku lupa membawanya. Dan baru sadar saat Bibi bilang padaku,"
"Papa memberi tahuku tiba-tiba juga. Makanya mereka tidak bisa menyalahkan Icelle yang tidak datang ya walaupun Auris dan Ian kesal pada Icelle. Tapi mereka mengerti kalau kamu dan Icelle sedang jalan-jalan snatai menghabiskan waktu berdua,"
"Tadi kami berdua ke taman juga, Nilla. Baru setelah itu makan donut. Kamu langsung berangkat begitu dihubungi Papa ya?"
"Iya, karena kata Papa acaranya sudah mau mulai. Papa lupa sekali memberi tahu kita supaya datang,"
"Oh iya, Auris sudah bilang padaku tadi kalau Icelle sudah benar-benar sembuh, dia mau mengajak Icelle bermain di sana,"
"Ya, dan Icelle pun akan mengajaknya ke playground miliknya juga,"
Vanilla terkekeh menyahuti, "Saling mengunjungi rupanya. Padahal kata Papa, semuanya sama saja. Fasilitas atau jenis-jenis permainannya,"
"Tapi mungkin suasananya tetap beda, Nilla. Karena beda tempat,"
Vanilla bergumam membenarkan. Jhico tiba-tiba menjawil telinganya. Kini Ia dan jhico berada di kedua sisi Grizelle, kanan dan kiri tapi bisa-bisanya Jhico jahil.
"Apa?"
"Bangunkan Icelle. Tadi dia minta dibangunkan kalau kamu sudah datang,"
"Kamu saja yang bangunkan,"
"Kamu lah. Aku tidak tega. Dia baru tidur, belum lama. Tadi minta diusap-usap punggungnya,"
__ADS_1
"Ya sudah, biarkan saja dia tidur dulu. Jangan dibangunkan sekarang,"
"Tapi tadi dia minta dibangunkan, Nillaku,"
"Biarkan saja, tidak usah diturti. Memang kalau dibangunkan juga kenapa? dia mau apa katanya?"
"Ya mungkin mau lihat kamu, tanya-tanya tentang acaranya,"
"Aku mandi dulu," imbuh jhico selanjutnya.
"Oh iya belum mandi. Habis olahraga langsung jalan dengan Icelle, terus berbaring lagi di sini,"
"Iya, mengeringkan keringat, Nilla,"
"Mandilah cepat,"
"Kenapa cepat?"
Jhico menatap istrinya sebentar. Pikirnya akan ada sesuatu yang ingin dibicarakan Vanilla.
"Tidak apa-apa,"
Jhico mendengkus. Ia kira ada hal penting yang akan Ia dengar dari istrinya.
Lelaki itu segera beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritualnya.
*****
"Daddy mau kemana?"
"Kalau pakai baju seperti ini mau apa kira-kira, Sayang? mau damce kah?"
Tapi karena memang kebiasannya ingin mendapat jawaban langsung, maka Ia selalu bertanya.
"Bermain golf, Sayang,"
"Hanya sendiri?"
"Ian dan Ean akan menemani Daddy. Mereka juga akan ikut bermain,"
"Aku tidak diajak?"
"Kalau kamu ingin ikit, ayo kita pergi,"
"Tapi Daddy tidak mengajak aku,"
"Tanpa diajak kalau kamu ingin ikut pasti kamu akan merengek. Buktinya sekarang tidak. Pasti kamu tidak ingin ikut 'kan?"
Auristella menjentikkan jarinya. "Tepat sekali! aku malas keluar rumah," sahut anak itu yang diangguki oleh Devan. Devan sudah menduga. Karena kalau memang Auristella ingin ikt bersamanya sejak awal ia bersiap Auristella pasti merengek ingin ikut juga.
"Mommy tidak diajak?"
"Hah, Mommy tidak sabaran. Cepat menyerah kalau bolanya tidak masuk target,"
Devan sengaja bicara sedikit keras agar istrinya yang tengah menggambar di balkon mendengar.
"Bulan malas itu! tapi memang tidak ada bakat,"
Devan menahan tawa saat sindirannya dibalas telak. Ternyata Lovi mendengar ucapannya yang memang sengaja Ia tujukan untuk Lovi bahkan sampai ia niat sekali mengeraskan sedikit suaranya.
__ADS_1
"Harus perlu kerja keras dan konsentrasi tinggi, Lov,"
"Sudah semua aku lakukan tapi tetap saja tidak ada hasil,"
Auristella menyetujui apa kata Mommynya itu. Ia juga merasakan apa yang dirasakan Lovi.
"Dad, pulang dari golf temani aku berkuda ya,"
"Hari ini?"
"Iya, masa harus tunggu dua tahun lagi?"
Devan mengangguk pelan tapi kemudian Ia menyela, "Lihat nanti ya, Sayang. Daddy ada pekerjaan yang harus diselesaikan,"
"Hmm...ya sudah, tidak apa,"
Auristella tampak kecewa tapi ia tidak mau memaksa. Maka Ia mengangguk, ia yakin kalau memang ayahnya memiliki waktu luang pasti akan dituruti. Sayangnya saat ini sang ayah kelihatan ragu untuk menyatujui keinginanya karena ada hal yang harus ia selesaikan.
"Tapi Daddy usahakan bisa menemani kamu,"
"Nanti sore ya?"
"Iya, siap, putri kecil,"
"Yeayy semoga Daddy bisa menemaniku,"
Adrian dan Andrean memasuki kamar orangtuanya. Mereka menatap ayahnya yang sudah siap juga.
"Ayo, Dad kita berangkat,"
"Beri tahu Mommy kalau sudah mau berangkat,"
Keduanya mengangguk, dan bergegas ke balkon kamar orangtuanya dimana ibu mereka tengah mengerjakan project barunya dengan klien baru juga. Dres pernikahan dengan dominan berwarna silver.
"Hati-hati ya," pesan Lovi sepeeti biasa pada keduanya.
Lovi meraih kepala Andrean untuk dikecupnya di semua bagian. Tapi Andrean sedikit menjauh saat akan dicium pipinya, "Di kening saja," kata anak itu.
"Hih kenapa sih? Masa Mommy tidak boleh cium pipi?"
Andrean tersenyum tipis. Kalau kening ia tidak masalah. Tapi kalau pipi ia tidak suka lagi. "Woah benar-benar sudah besar anak Mommy ini. Coba yang satu lagi sini, Mommy cium juga pipinya,"
Adrian pun sama. Ia minta di kening saja. Lovi merengek kesal. "Kalian kenapa sih? kenapa tidak mau lagi dicium di pipi?"
"Sudah besar, Lov."
"Apa?! baru sepuluh tahun juga. Lagian 'kan aku yang mencium bukan teman perempuan mereka,"
Lovi kini merasakan perbedaan yang mulai kelihatan dari kedua anaknya yang tak ingin lagi diperlakukan sama seperti waktu masih kecil yang dicium berkali-kali di pipi juga tidak masalah. Sekarang, semakin tidak mau.
"Tapi kalau dicium teman perempuan mau?"
Lovi memukul suaminya itu dengan pensil. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu pada kedua anak mereka.
"Tidak boleh! Mommy saja tidak dibolehkan, mereka di luar sama juga tidak boleh!"
"Mommy dan Daddy bicara apa sih? sudah, ayo kita berangkat, Dad,"
Lovi dibuat terkejut saat kedua putranya malah mencium keningnya dengan lembut. Bergantian, dimulai dari Andrean dulu. Meskipun mereka tidak ingin dicium di pipi, tapi mereka tentu tak akan segan mengungkapkan rasa sayang terhadap ibu mereka dengan kecupan di kening perempuan yang telah melahirkan mereka dengan segala perjuangannya.
__ADS_1