Nillaku

Nillaku
Nillaku 305 Momen barbeque Triple A + Icelle


__ADS_3

Grizelle dan ketiga kakak sepupunya sedang bermain mobil di halaman. Sementara Jhico setia menemani istrinya di kamar.


"Icelle, gantian ya? aku mau naik juga,"


"Boleh, silahkan,"


Grizelle meninggalkan mobil miliknya dan mempersilahkan Adrian untuk menaiki mobilnya. Mobil mainan, tentu saja. Tapi memang bisa dikendarai. Itu merupakan pemberian Jhico dan Vanilla untuk putrinya yang meminta itu sebagai hadiah ulang tahun selain berlibur.


"Auris mau coba juga?"


"Tidak mau, aku 'kan perempuan,"


Grizelle tahu itu sebuah sindiran untuknya. Ia menatap Auristella dengan mata memicing.


"Memang tidak boleh kalau perrlempuan berrlmain (perempuan bermain) mobil?"


"Sudah bagus boneka atau barbie. Sekarang kenapa malah suka mainan seperti itu sih?" Auristella tak habis pikir dengan adik sepupunya itu. Dari sekian banyak mainan yang identik dengan anak perempuan, kenapa harus memilih mobil?


"Aku suka. Maka aku minta ini pada Mumu dan Pupu,"


Adrian mengajak Andrean untuk duduk di sampingnya. Ia mengemudikan beberapa putaran.


"Aku ingin mencobanya," ujar Andrean yang langsung membuat Adrian menyingkir dari kursi kemudi mobil tak asli itu.


Kini ia yang duduk di samping Andrean. Saat Andrean menggunakan kecepatan tinggi, Adrian berseru senang.


"Ayo lanjutkan, Ean. Kalau perlu sampai menabrak pos keamanan,"


"Hei jangan!" Grizelle berseru melarang. Bisa gawat kalau pos keamanan rumahnya ditabrak oleh mobil mainannya. Bukan pos yang hancur melainkan mobilnya. Itu baru dibeli! sebagai hadiah pula.


"Aku bercanda, Icelle," sahut Adrian dengan suara kerasnya agar Grizelle yang sedang berjarak dengannya mendengar ucapannya.


Auristella dan Grizelle beberapa kali dikelilingi mobil itu hingga mereka pusing sendiri.


"Kenapa mobilku jadi dikuasai ya,"


Bukan apa-apa, tapi sejak tadi Andrean dan Adrian asik sendiri. mereka bergantian untuk mengemudikan. Sementara Ia baru sekali.


"BERIKAN PADA ICELLE. IAN, EAN," Auristella berseru pada kedua kakaknya.


"Okay, siap,"


Adrian yang saat ini kebetulan memegang stir, langsung mendekati Grizelle. Andrean dan Adrian keluar dari mobil kemudian menyuruh Grizelle bermain.


"Terimakasih ya,"


"Sama-sama, Ean," jawab Grizelle seraya tersenyum sebelum akhirnya Ia mulai menguasai halaman dengan mobil mainannya.


Walaupun mereka bermain ketika sudah memasuki waktu malam, tapi penerangan masih sangat cukup sebab banyak sumber cahaya di sana.


"Ian, kita ajak Icelle barbeque-an,"


Auristella mengguncang lengan kakak keduanya yang membuat Ia menoleh.

__ADS_1


"Memang boleh?"


"Ya kita ajak dulu,"


Adrian mengangguk, Ia akan coba bicara dengan Grizelle. Ia juga sudah kehabisan ide ingin melakukan apa lagi setelah bermain nanti. Kalau barbeque-an pasti akan menyenangkan sekali.


"Berhenti bermainnya ya. Sudah malam, masuk ke dalam rumah,"


Suara Jhico menginterupsi. Istrinya mengingatkan Ia agar menghampiri mereka berempat yang sedang bermain agar berhenti karena sudah malam. Maka di sinilah Jhico sekarang. Meminta keempatnya untuk meninggalkan halaman.


"Okay, Pu," Grizelle mengacungkan ibu jarinya kemudian memposisikan mobilnya di tempat semula, dekat dengan sepeda-sepeda miliknya.


"Icelle, kita barbeque-an mau tidak?"


"Mau, tapi dibolehkan Pupu dan Mumu tidak ya?"


"Boleh, Pupu bolehkan,"


Mendengar itu mata Grizelle langsung berbinar begitupun Auristella.


"Yang benar, Uncle?"


"Iya, boleh. Tapi ditemani asisten di sini ya. Biar mereka yang memasak, dan kalian diam saja. Uncle masih harus menemani Aunty di kamar jadi tidak bisa bergabung,"


"Iya, tidak apa, Uncle,"


Jhico meminta bantuan pada penghuni rumahnya yang biasa membantu Vanilla dalam mengatasi pekerjaan rumah.


"Tolong kalian buat mereka senang malam ini. Tapi jangan lengah menjaga mereka. Kalian saja yang memasak ya,"


Jhico mengangguk dan membiarkan mereka menyiapkan peralatannya.


"Memang ada daging, saus, dan lainnya?"


"Ada, di rrlumahku (rumahku) semua ada," ucap Grizelle menenangkan Auristella.


"Ya sudah, Pupu ke kamar dulu ya. Bisa Pupu pantau dari atas sana," Jhico menunjuk rooftop dan balkon kamarnya pada mereka berempat.


"Iya, Pu,"


"Okay, Uncle. Nanti kita bagi kalau sudah matang,"


Jhico terkekeh mengacak lembut rambut lebat Adrian, keponakan laki-lakinya yang bertolak belakang dengan saudara kembarnya.


"Tidak usah dibagi juga tidak apa. Habiskan sama kalian. Selamat bersenang-senang ya," pesannya sebelum kembali ke kamar menemani Vanilla. Ia belum benar-benar bisa tenang meskipun Vanilla sudah terlihat sangat baik kondisinya.


"Mereka dimana? kenapa tidak datang ke sini?"


Jujur Vanilla merasa bosan di kamar terus dan hanya berbaring sembari bermain gadget atau menyaksikan siaran televisi. Kalau ada anak dan keponakannya pasti akan bisa menghiburnya dan Ia tak akan bosan.


"Aku izinkan mereka untuk barbeque-an dengan asisten di sini,"


"Huwaa aku juga mau bergabung,"

__ADS_1


Jhico menggeleng tegas. "Aku saja sampai rela tidak bergabung dengan mereka padahal aku ingin sekali tapi aku tidak ingin meninggalkan kamu,"


"Ya sudah, kita bergabung saja,"


"Jangan, Nilla. Lebih baik kamu istirahat. Wajahmu masih terlihat lesu dan pucat. Aku khawatir maka aku memilih di sini. Lagipula aku bisa mengawasi mereka,"


Vanilla merengut sedih. Ia ingin sekali bersama mereka berempat menikmati barbeque. Tapi suaminya ini benar-benar menjaganya.


"Nanti aku mau minta kalau sudah matang,"


"Tadi Adrian sudah bilang begitu. Tapi aku jawab, tidak usah habiskan saja oleh mereka,"


"Huwaa aku mau, Jhi! buatku satu saja tidak apa,"


Vanilla memohon agar nanti ketika hasil barbeque nya sudah ada, Ia minta bagiannya meskipun sedikit tak masalah.


"Iya, aku yakin mereka mengingat kamu, apalagi Griz,"


Vanilla berseru senang dan bertepuk tangan riang. Sakitnya kali ini kenapa malah membuat Ia merengek ingin sesuatu ya? tapi sejujurnya Jhico senang karena istrinya itu jarang sekali menginginkan sesuatu selama mengandung sampai ia terkadang bingung. Biasanya kalau tengah mengandung akan lebih banyak inginnya. Saat mengandung Grizelle juga Vanilla seperti itu walaupun permintaannya masih wajar saja dan tergolong jarang juga meminta sesuatu padanya.


****


"Awas, hati-hati Bibi,"


"Icelle juga hati-hati,"


"Aku 'kan tidak dekat bara apinya" elak anak itu yang memang duduk jauh dari jangkauan api. Ia duduk bersama ketiga saudaranya tentu saja.


"Aku ingin mencobanya,"


"Tidak boleh, biarrl (biar) yang masak orrlang (orang) dewasa saja, Ian. Kita tinggal duduk dan menikmati hasil yang sudah matang," larang Grizelle pada Adrian yang permintaannya sangat bertolak belakang dengan pesan ayahnya tadi.


"Iya, kamu tidak boleh mendekati api. Bahaya!"


Adrian membungkam mulut adiknya dan menggeram, "Iya, cerewet."


"Jangan mulai," ujar Andrean pada Adrian dan Auristella. Biasanya tak lama lagi akan ada peperangan antar saudara.


"Mulai apa sih? mulai menonton bola,"


Andrean memutar bola matanya seraya mendesis pada Auristella, "Tidak ada hubungan dengan itu."


"Kamu aneh,"


"Kamu yang aneh, Auris," pungkas Andrean.


"Kamu,"


"Sudah, jangan mulai," Kali ini Adrian yang memperingati. Kata-kataya sama dengan apa yang keluar dari mulut kakaknya barusan.


"Tidak biasanya mau meladeni Auris,"


"Aku hanya antispasi saja. Jangan sampai kalian bertengkar di sini. Malu dengan Griz. Dia saja yang masih kecil tidak pernah bertengkar,"

__ADS_1


Adrian dan Auristella menatap takjub pada kakak mereka yang tak biasanya mengeluarkan kalimat panjang demi menegur mereka.


"Griz mau bertengkar dengan siapa? adiknya belum lahir. Nanti kalau sudah lahir dan sedikit besar juga pasti akan bertengkar. Lihat saja,"


__ADS_2