Nillaku

Nillaku
Nillaku 412 Auristella jujur pada Mommy Adrian mau ke playground tanpa izin


__ADS_3

"Ah jadi Uncle Richard tidak datang? kenapa tidak Aunty ajak?"


Benar dugaan Jane. Pasti Adrian akan bertanya juga tentang suaminya. Keempat keponakannya sudah bertanya semua mengenai Richard yang tidak bersama Jane saat ini.


"Ayo duduk dulu,"


Jne meminta Auristella dan Adrin untuk duduk, tidak berdiri saat bicara dennya.


"Mau makan juga, Ian, Auris?"


"Mau, Mom,"


Mereka kompak menjawab tawaran Lovi yang langsung menyiapkan makan untuk kedua anaknya.


"Bagaimana sekolahnya?" Jane bertanya pada keduanya yang langsung menjawab dengan kalimat berbeda.


"Lancar, Aunty,"


"Ada yang kurang karena tidak ada Ean,"


Adrian merasa ada yang lurang karena kakaknya hari ini tidak masuk sekolah. Biasanya Ia selalu bersama sang kakak, tadi tidak.


"Tugasku?"


"Sudah,"


Andrean memastikan pada adiknya mengenai tugas yang sudah Ia selesaikan apakah suda diserahkan Adrian atau belum.


Mereka akhirnya makan bersama di meja makan dan sesekali terlibat obrolan.


"Mom, tahu tidak, tadi Ian mengajak aku ke playground  Aku tidak mau karena belum minta izin pada Mommy. Tapi Ian memaksa, mom. Dia nakal sekali,"


Auristella hampir lupa menceritakan perihal itu pada Mommynya yang harus tahu kelakuan anak keduanya.


"Oh sudah berani pergi tanpa izin Mommy ya?" Lovi menatap Adrian dengan sorot mata yang datar. Adrian langsung tersenyum meringis. "Sebenarnya tidak serius, Mom,"


"Tidak serius? kamu bahkan memintanya lebih dari sekali. Bukan meminta lebih tepatnya, tapi memaksa,"


"Berisik," Adrian mencibir Auristella seraya mengacungkan garpu ke arah adiknya itu seraya memberi tatapan tajam agar sang adik tak bicara apapun lagi.


"Tidak boleh seperti itu, Ian. Apapun yang ingin kalian lakukan harus dengan izin Mommy. Kalau tidak, maka tidak boleh melakukannya. Paham tidak?"


Lovi tidak hanya memberi peringatan pada Adrian saja melainkan pada Auristella dan Andrean juga. Karena anknya ada tiga jadi harus bagi rata. Baik itu hadiah dan peringatan sekalipun.


"Iya, Mom. Aku sudah menurut. Tapi Ian yang tidak mau menurut, Mom,"


"Lain kali tidak boleh begitu,"


Lovi meminta Adrian patuh dengan ucapannya. Ia tidak ingin anaknya pergi tanpa izin darinya terlebih rahulu. Ia harus tahu kemanapun anak-anaknya pergi.


******


"Jadi Aunty Jane di rrlumah trliple A (rumah triple A) ya, Mu?"

__ADS_1


"Iya, Sayang. Auris ingin bertemu dengan Aunty Jane,"


Gruzelle mengangguk paham. Pantas saja yang menjemputnya hanya Vanilla ternyata Jane sedang berkunjung ke rumah saudara sepupunya.


"Okay, sekarang kita pulang ya,"


"Kita ke klinik Pupu dulu boleh, Mu?"


"Memang kamu tidak lelah? istirahat saja di rumah ya?"


Grizelle tetap mengangguk meskipun ingin sekali ke klinik ayahnya tapi Vanilla sepertinya ingin kalau Iaistirahat saja di rumah.


Tiba di mobil, Grizelle langsung ingat dengan rencana Jane dan Vanilla usai mengantarnya ke sekolah tadi.


"Bagaimana dengan rrlumah (rumah) Aunty Jane, Mu? sudah dibeli?" tanya nya penasaran.


"Belum, Sayang,"


Jane mengatakan ingin bicara dulu dengan Richard sebelum benar-benar memutuskan. Entah mengapa Ia takut untuk melakukannya. Jane akan mencari waktu yang tepat untuk bicara.


******


"Biasanya Grizelle pulang sekolah jam berapa, Kakek?"


Thanatan menatap arloji di pergelangan tangannya. Sudah pukul dua siang lebih.


"Sekarang Grizelle sudah pulang sepertinya. Kalau untuk jadwalnya sehari-hari, Kakek kurang tahu,"


Evelyn masih nyaman mendengarkan perbincangan kakeknya bersama Thanatan. Sekalipun ia bosan dan mengantuk. Beruntungnya kini pembicaraan mereka telah usai.


Evelyn masih berharap mengenai hal itu. Ia ingin sekali bertwmu dengan Grizelle yang pernah hadir ke pesta ulangtahunnya bersama kakek serta neneknya.


"Ya, akan Kakek ajak untuk bertemu dengan kamu, Eveleyn,"


"Okay, terimakasih, Kakek,"


"Kami pulang dulu kalau bgitu ya,"


"Iya, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk berbincang bersamaku dan makan siang,"


"Iya, sama-sama, Thanatan,"


"Ayo izin pada Kakek sebelum pulan,"


Evelyn langsung menaap Thanatan dan melambai singjat. "Aku pulang dulu ya, Kakek. Terimaksih sudah mengajak aku mengobrol sesekali,"


Thanatan merupakan orang yang baik dimata Evelyn. Disaat tengah sibuk mengobrol dengan Thomas, Ia masih bisa mengajaknya bicara juga walaupun singkat-singkat.


Mereka berpisah di parking area restaurant kemudian masuk ke dalam kendaraan roda empat masing-masing.


"Opa kenal dengan Grizelle 'kan?"


Thomas tengah menyalakan mobilnya. Ia menoleh untuk menjawab pertanyaan sang cucu.

__ADS_1


"Tahu, cucunya Kakek Thanatan 'kan?"


"Iya, maksudku pernah bertemu?"


"Di acara ulangtahun kamu,"


"Dia baik, Opa. Saat itu aku dan dia bermain dan aku kalah tapi aku tidak mau kalah, Lalu Grizelle dengan dewasanya mengalah. Kami pernah bermain saat dia datang ke pesta ulangtahun aku,"


"Ya, Opa juga menilai bahwa Grizelle anak yang menyenangkan,"


"Iya, memang. Makanya aku ingin mengajaknya untuk bersahabat. Tapi apa dia mau,"


Thomas melajukan mobilnya. Ia tersenyum mendengar cucunya bergumam seperti itu.


"Tentu saja Grizelle tidak merasa keberatan,"


Cucunya juga baik. Thomas yakin Evelyn bisa menyeimbangi Grizelle. Mereka mungkin akan berteman sangat akrab.


"Semoga tidak lama lagi Opa dan Kakek Thanatan kembali mengobrol. Jangan lupa kabari aku ya, Opa, karena aku mau ikut,"


Thomas mengangguk tidak keberatan. Bila memang waktunya bertepatan dengan ketidak sibukkan cucunya yang merupakan anak sekolah, maka akan Ia ajak.


Sejujurnya Ia tidak merasa terganggu sama sekali bila memgajak cucunya bekerja, Ia mengajak serta Evelyn ke meeting atau pertemuan seperti tadi guna membahas mengenai pekerjaan. Tapi sayangnya tidak setiap saat Evelyn bisa ikut karena Ia juga harus menuntut ilmunya juga.


Tadi saja yang kebetulan Ia melelui sekolahan cucunya. Maka sekalian saja Ia yang menjemput Evelyn dan Evelyn ingin ikut bersamanya pergi.


*****


"Ean, Ian, Auris, Aunty Jane membeli puding tadi sebagai dessert usai makan,"


"Mau-mau,"


Jane segera mengambil puding di lemari pendingin lalu diberikannya pada Lovi, meminta bantuan supaya memotongnya hingga menjadi beberapa bagian, barulah ia akan ikut menyantap.


"Aunty sampai lama di sini 'kan?"


"Ah kalau sudah bertemu kalian sebenarnya Aunty mau langaung pulang,"


"Tunggu Devan dulu," pesan Lovi belum mengizinkan Jane untuk pergi. Jane sudah sangat jauh ke sini hanya untuk bertemu keluarganya.


"Okay,"


"Sebentar lagi dia sampai,"


"Sore, Mom,"


"Iya, tidak lama lagi sore. Lebih baik kamu istirahat dulu. Nanti kita lanjut lagi pembicaraamnya," Lovi menyarankan Jane agar istirahat sejenak sambil menunggu sepupunya datang.


"Iya, Aunty tidur saja dulu sambil menunggu sore tiba. Mau aku temani?"


"Hmm boleh. Nanti ya,"


Auristella mengangguk disela mulutnya yang bergerak mengunyah puding setengah cake lembut dengan saus mangga di atasnya.

__ADS_1


"Mom, bikin ini, Mom. enak sekali,"


Adrian langsung berpesan seperti itu pada Mommynya agar membuat puding seperti yang Jane bawa. Ia suka sekali. Dan ia yakin Lovi bisa membuatnya juga supaya mereka tidak perlu beli. Kalau Jane, mereka yakin membelinya sebelum bertandang ke rumah mereka.


__ADS_2