
"Van, jangan melamun. Kamu memikirkan apa sih? tadi sampai di tegur dosen,"
Sudah kedua kalinya Joana menegur Vanilla yang kedapatan melamun. Bahkan saat belajar tadi, Ia sempat ditegur juga oleh dosen karena terlihat tidak fokus.
Joana mendorong pelan bahu Vanilla yang belum juga terbangun dari lamunannya. "Kamu sakit? biar aku antar ke rumah sakit,"
"Tidak, aku hanya---"
"Hanya apa?" tanya Joana dengan cepat. Vanilla menggeleng lalu menunduk. Joana yang melihat itu semakin bingung.
"Apa karena masalah tadi? kamu masih memikirkan ucapan cleaning service yang mulutnya berbisa itu? Astaga, aku sudah katakan jangan ingat-ingat lagi kalimatnya. Kalau kamu terlalu banyak memikirkan banyak hal, bisa mempengaruhi kesehatan bayi kamu juga,"
"Tidak-tidak, aku sudah melupakan itu."
"Lalu kamu melamun karena apa?"
"Aku masih tidak percaya saja, ada orang yang mau membantu aku tadi. Aku tidak bisa bayangkan kalau aku terjatuh,"
"Kejadian tadi dijadikan pelajaran. Lain kali hati-hati. Kalau Jhico tahu---"
"Jangan sampai dia tahu. Mulutnya akan berisik seperti suara piring pecah,"
Tawa Joana meledak seketika. Ia menggeleng tidak percaya mendengar ucapan sahabatnya. "Jhico yang cool bisa berubah cerewet? aku tidak yakin,"
"Lain kali kamu harus menyaksikannya secara langsung,"
"Tapi tidak mungkin seperti piring pecah. Kamu ada-ada saja,"
"Dia tidak henti bicara kalau aku tidak sengaja melakukan sesuatu yang menurutnya bahaya untuk aku dan anaknya,"
"Anak kalian," Joana mengoreksi satu kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Kamu pernah melakukan apa memangnya?"
FLASHBACK ON
Pada saat ingin berangkat ke studio pemotretan, Vanilla mencari-cari sepatu yang biasa dipakainya. Karena modelnya simple dan mudah digunakan, Vanilla jadi suka memakainya apalagi ditengah kondisi Ia yang sedang hamil.
Ternyata diletakkan Jhico di rak atas. Setelah pemotretan semalam, seperti biasa Jhico membantu Vanilla membereskan semua barang yang dibawa saat pemotretan. Dan tidak sengaja Jhico meletakkan sepatu tersebut di rak sepatu tingkat kelima, itu cukup tinggi untuk Vanilla. Akhirnya untuk mengambil alas kaki itu, Vanilla segera meraih kursi untuknya merias diri lalu diletakkannya di depan rak agar Ia bisa menggunakannya.
Saat Jhico mendapati istrinya naik ke atas kursi, Jhico langsung menggendong Vanilla tanpa menunggu waktu lama, lalu meletakkan Vanilla di atas ranjang. Mata lelaki itu menatap istrinya dengan tajam.
"Sepatu aku kenapa diletakkan di tempat yang tinggi? di tempat lain penuh? seharusnya tidak usah diletakkan di rak. Di lantai, juga tidak apa." sembur Vanilla tanpa pembukaan terlebih dahulu. Seharusnya Jhico yang marah. Vanilla tidak tahu sekacau apa irama jantungnya tadi saat melihat Vanilla naik ke atas kursi.
"Kamu tahu kalau naik ke atas kursi bahaya?! kenapa masih dilakukan?"
Jhico segera meraih sepatu yang diperlukan sang istri. Lalu Ia letakkan benda tersebut ke lantai dengan sedikit kasar.
"Bisa minta bantuan padaku. Kenapa harus melakukannya sendiri?"
"Kamu sedang di dapur menyiapkan---"
"Apapun yang sedang aku lakukan, kalau kamu butuh bantuanku, jangan ragu untuk mengatakannya,"
Vanilla tak bisa lagi berkutik. Jhico benar-benar marah. Ia memang tidak teriak-teriak, tapi nada bicaranya terdengar berbeda dari biasanya. Dalam dan penuh penekanan, karena Ia sedang menahan agar tidak membentak Vanilla.
Sampai di mobil pun Jhico masih membahas perkara itu. Vanilla kembali dinasehati dan isinya sama, yang intinya 'Jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa mencelakai kamu dan anak kita'
"Kalau aku tidak datang, kamu pasti masih berusaha mengambil sepatu itu tanpa memikirkan akibatnya,"
Vanilla mendengarkan rangkaian kalimat yang tak kunjung usai keluar dari mulut Jhico.
"Dengar ya Vanilla, kalau kamu masih saja bersikap sembarangan begitu, lebih baik jangan punya anak sekalian. Saat hamil saja kamu tidak peduli dengan keselamatannya. Apa lagi setelah lahir nanti?"
Vanilla dibuat tersadar akan kebodohannya. Ucapan Jhico sangat tepat dan berhasil menusuk relung hatinya.
"Jangan tersinggung. Aku mengatakan itu, agar kamu tidak mengulanginya lagi,"
Sekejam apapun Jhico berkata, tetap saja hatinya yang begitu mencintai Vanilla tidak bisa melihat Vanilla sedih dan merasa bersalah. Ia mencintai Vanilla artinya harus mencintai semua yang ada dalam diri Vanilla termasuk sifatnya yang suka sembarangan dalam bertindak. Tugasnya adalah memperbaiki.
FLASHBACK OFF
Joana tertawa mendengar cerita Vanilla. "Serumit itu membangun rumah tangga," gumamnya yang didengar oleh Vanilla.
"Memang rumit. Rumah tanggaku sering dihiasi pertengkaran, tidak seperti di novel-novel,"
"Tapi sikap suamimu manis seperti di novel yang sering aku baca,"
"Huh kata siapa? dia itu menyebalkan,"
__ADS_1
"Tapi kamu harus bersyukur, Van. Dia pengertian sekali padamu 'kan?"
Vanilla mengangguk tak memungkiri. Jhico sangat pengertian sekali padanya. Setiap apapun kesulitan yang dibuat Vanilla, pasti dia mencoba untuk memahami.
***
Jhico kedatangan seorang anak yang pernah sangat dekat dengannya padahal bukan Jhico yang menangani penyakitnya.
Jhico menyambut dengan hangat anak perempuan yang memiliki gangguan di jantungnya itu.
Keyfa namanya. Dia datang bersama Ibu dan ayahnya. Mereka berusaha mencari jejak Jhico yang tidak lagi bekerja di rumah sakit. Akhirnya mereka berhasil menemukan Jhico, dokter yang sudah dianggap seperti kakak oleh Keyfa.
"Aku senang sekali bisa bertemu kakak dokter lagi. Kakak dokter tahu tidak, aku mencarimu kesana kemari tapi baru bertemu sekarang,"
Mendengar celoteh anak berusia empat tahun itu, Jhico terkekeh. Ia mengusap kepala Keyfa dengan lembut.
"Bagaimana kondisimu? harus sehat, ingat kataku 'kan?"
"Hmm tidak. Kondisiku semakin parah, kakak dokter."
Kini Jhico menatap kedua orangtua Keyfa. Ibu Keyfa mengangguk membenarkan. Jhico menghela napas pelan.
"Kenapa?"
"Aku merindukanmu kakak dokter,"
Keyfa memeluk Jhico lagi. Hati Jhico merasa tersayat setelah tahu kondisi anak itu malah semakin tidak baik. Padahal walaupun sudah tidak pernah lagi bertemu, Jhico selalu berharap anak itu bisa sehat.
"Sekarang tidak akan rindu lagi karena Keyfa sudah tahu tempatku bekerja. Kapanpun Keyfa mau datang, tidak masalah. Tapi Keyfa harus janji untuk terus semangat,"
Jhico menata rambut Keyfa yang berantakan. Mata Keyfa berkaca karena senang bisa bertemu dengan Jhico. Mereka sangat dekat bahkan kedekatan Keyfa dengan Jhico mengalahkan kedekatan Keyfa dengan dokter yang menangani penyakitnya.
Mereka bertemu saat Keyfa dibawa ke rumah sakit karena kondisinya yang tiba-tiba saja menurun. Keyfa terlahir dengan kelainan jantung yang dideritanya. Di suatu malam, Ia harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya membuat orangtuanya sangat khawatir. Dan Jhico yang kebetulan berjaga pada malam itu sempat memberikan pertolongan pertama untuk Keyfa. Tapi karena Keyfa memiliki penyakit khusus dan dokter yang menanganinya juga tidak bisa dokter umum, akhirnya Ia meminta bantuan pada dokter jantung yang kebetulan sudah pulang. Jhico memohon pada temannya yang berprofesi sebagai dokter jantung di rumah sakit itu agar kembali lagi ke rumah sakit untuk menangani Keyfa. Kebaikan itulah yang masih diingat Keyfa dan orangtuanya sampai sekarang.
Setiap Keyfa datang untuk periksa, Jhico juga akan menemani kalau kebetulan Ia tidak sibuk. Keyfa menganggapnya sebagai kakak, jadi Ia harus memperlakukan Keyfa layaknya adik.
"Kakak dokter semakin tampan. Semoga hatinya semakin baik juga ya,"
Keyfa sudah kenal betul dengan Jhico dan tahu bahwa Jhico adalah orang yang sangat baik. Banyak orang yang dibantu oleh Jhico tanpa meminta imbalan. Dulu, Ia juga sering ikut Jhico ke panti-panti sosial untuk menyapa sekaligus memberikan bantuan untuk penghuni di sana.
"Kakak dokter, aku sudah lama tidak ikut kakak dokter ke panti," ujar anak itu menggemaskan. Kedua orangtua Keyfa yang bernama Ferdy dan Vivy terkekeh melihat anaknya, begitupun dengan Jhico.
"Kakak dokter pasti semakin sibuk setelah bekerja di klinik sendiri,"
"Selama tidak bertemu aku, masih sering ke panti?"
"Masih, jujur aku merasa sepi karena tidak ada teman,"
Keyfa terkekeh geli mendengarnya. Jhico senang melihat wajah kecil itu berseri lagi. Sinarnya kembali terlihat, berbeda sekali dengan tadi ketika datang.
Ferdy bangkit dan mengajak Keyfa untuk pulang. Tapi Keyfa malah menggeleng dan memeluk Jhico dengan erat.
"Kamu ada latihan piano hari ini,"
Piano adalah hal yang penting dalam hidupnya. Dengan memainkan alat musik itu, Keyfa merasa sakit ditubuhnya sedikit berkurang dan ia merasa lebih tenang.
Akhirnya Ia melepas pelukan Jhico dan bersiap untuk pulang. "Kakak dokter, nanti aku boleh ke sini lagi 'kan?"
"Tentu saja boleh, Sayang. Kapanpun kamu mau datang, tidak masalah. Aku malah senang sekali,"
"Terima kasih, Nak Jhico sudah menyempatkan waktunya untuk Keyfa yang ingin melepas rindu," ucap Ferdy dengan rasa terima kasih dan syukur yang tak terhingga.
"Terima kasih, Nak Jhico."
"Iya, sama-sama, Pak, Bu. Sering-sering datang ke sini ya. Jangan sungkan,"
"Iya, kami pamit pulang dulu,"
"Hati-hati,"
Jhico merendahkan tubuhnya di hadapan Keyfa, Ia mengecup kening dan pipi Keyfa sebagai tanda perpisahan.
"Keyfa hati-hati ya. Semangat terus, jangan pernah menyerah. Ada kakak dokter di sini yang selalu mendoakan Keyfa," ujar Jhico lalu memeluk Keyfa dengan erat dan penuh kasih sayang. Keyfa seperti adik untuknya. Ia begitu menyayangi anak ini. Walaupun mereka tidak pernah lagi bertemu, tapi nama Keyfa selalu hadir disetiap doa Jhico. Ia meminta pada Tuhan agar anak cantik dan berhati lembut ini segera bebas dari penyakitnya yang sudah ada sejak lahir itu.
***
"Ganadian, jangan menatapku begitu! aku geli, tahu tidak?"
Tawa Ganadian meledak seketika. Ia sedang menjahili Vanilla yang sedang melakukan pemotretan. Di balik punggung fotografer, Ia menatap Vanilla terus menerus hingga Vanilla merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Jantungmu berdisco karena aku tatap?"
"Hih, terlalu percaya diri,"
"Ayo Vanilla. Satu, dua,"
"GANADIAN!"
Fotografer menghela napas jengah saat Vanilla berteriak pada Ganadian yang baru saja memberikan simbol hati menggunakan tangannya.
"Ganadian, lebih baik kau bersiap. Sebentar lagi giliranmu,"
"Aku sudah siap. Tinggal difoto saja,"
"Dasar laki-laki genit! aku sudah punya suami ya! jangan sembarangan memberikan hati,"
"Ck! aku hanya bercanda jangan terlalu serius,"
"Tapi sekarang bukan waktunya bercanda, Ganadian." Fotografer menyahuti dengan kesal. Ganadian beberapa kali mengganggu Vanilla. Ia sebagai fotografer merasa lelah karena Vanilla sibuk berdebat dengan Ganadian sementara waktu terus berjalan.
"Vanilla, tolong fokus ya. Jangan pedulikan dia,"
"Okay,"
Ganadian menahan tawa saat Vanilla mulai berpose di depan kamera. Sikapnya itu tidak luput dari perhatian Joana. Ketika melihat Ganadian, Joana jadi ingat ucapan Vanilla tempo hari dimana Ganadian tengah mencari pasangan. Padahal kalau dilihat, Ganadian adalah tipe laki-laki yang tidak kaku sama sekali. Ia jahil tapi baik hatinya, mau berteman dengan siapapun. Meskipun Ia model yang cukup tinggi jam terbangnya, tapi dengan semua pekerja, Ia akrab.
Ganadian duduk di samping Joana yang tengah menyiapkan baju selanjutnya untuk Vanilla. "Temanmu payah. Dia tidak bisa lagi aku ganggu. Berlagak fokus segala,"
"Kamu bicara dengan aku?"
"Iya lah, dengan siapa lagi?" sahut Ganadian yang kesal dengan pertanyaan Joana. Hanya mereka bertiga di sini. Jane, Joana, dan Ganadian. Sementara yang lain sedang berpencar dengan kesibukan masing-masing.
"Aku kira dengan Jane,"
"Jane jauh, ada di ujung sana."
Ganadian melirik Jane yang sibuk dengan ponsel di kursi yang sama sepertinya tapi berada di paling ujung.
"Kamu jangan terlalu sering mengganggu Vanilla. Dia sensitif sekali. Hati-hati kamu dimakannya," Joana menjawab dengan santai dan itu membuat perut Ganadian tergelitik.
"Kau pandai juga melucu,"
"Aku tidak melucu. Memang Vanilla sedang sensitif. Salah sedikit, bisa diperdebatkan sampai sore. Percaya padaku,"
Dengan suaminya sendiri saja, Vanilla seperti itu. Apalagi dengan Ganadian. Ia hanya memperingatkan sebelum Vanilla benar-benar marah padanya.
"Tadi sebelum datang ke sini, Jane sempat mengirimkan pesan padanya dan kelebihan satu kata. Dia permasalahkan, bahkan Jane dimarah-marahi,"
"Maksudmu? aku tidak mengerti,"
"Errrgh, tampan tapi lambat dalam berpikir," Joana mencibir dan tak sengaja memuji. Ganadian menahan senyum. "Astaga, Joana yang selama ini tidak acuh padaku mengakui kalau aku tampan? mimpi apa aku semalam ya?"
Joana melirik Ganadian dengan sinis. Kalau dia tidak tampan, tidak mungkin dia jadi model. Pujian sudah pasti sering Ganadian dapatkan. Tapi sekarang dia berlebihan sekali.
Joana memilih mengalihkan pembicaraan. Ia menceritakan kejadian tadi. Jane mengirimkan pesan 'Van, jangan ke studio ya.' padahal sebelumnya Jane menyuruh Vanilla ke studio. Vanilla bingung kemudian dia langsung menelpon Jane.
"Aku ke studio atau tidak sih? kamu yang jelas kalau bicara. Jadwalku hari ini ada pemotretan atau tidak?"
"Iya, ke studio ada pemotretan sekarang. Cepat!"
"Tadi di pesan kamu bilang 'jangan ke studio' bagaimana sih?!"
"Huh? memang aku bicara begitu?"
"Lihat saja di ponselmu kalau tidak percaya!"
"Okay, aku salah ketik."
"Errggh buat aku kesal saja. Seharusnya dilihat dulu sebelum dikirim,"
"Ah kamu juga sering salah ketik,"
"Tapi aku tidak mau kamu juga salah-salah ketik. Mataku sakit membacanya,"
Joana berkutat dengan kemudi sementara Vanilla sibuk mencibir sepupunya itu. Bahkan setelah telepon ditutup pun, Vanilla masih melampiaskan rasa kesalnya. Sampai di studio dan melihat Jane, mulut Vanilla semakin berisik. Padahal seperti yang Jane katakan tadi, Vanilla juga sering salah ketik. Dan tidak ada yang pernah mempermasalahkan. Giliran Ia yang salah ketik, Vanilla marah sampai berlarut-larut.
Jane hanya bisa saling lirik dengan Joana. Mereka takut kalau suasana hati Vanilla sedang buruk, bisa mempengaruhi pekerjaan nya. Tapi ternyata tidak, Vanilla paham kalau ia harus profesional. Semua pekerjaan ia lakoni dengan baik walaupun dengan Jane Ia masih belum bersahabat lagi.
 -----------
__ADS_1
Ayooo mampir ke sini yaaa👇