Nillaku

Nillaku
Nillaku 186


__ADS_3

Grizelle benar-benar meminta pada Jhico untuk ditemani ke rumah Thanatan, kakek nya yang begitu Ia sayang sekalipun tidak selalu baik padanya.


Mereka pergi hanya berdua, tanpa Vanilla. Jhico mengajak Vanilla juga tadi, namun anaknya hanya ingin pergi bersama dirinya.


"Kenapa Mumu tidak boleh ikut? apa karena tadi Mumu sempat menolak permintaan mu? kamu kesal dengan Mumu?" tanya Jhico sembari fokus menyetir. Tidak biasanya Grizelle ingin pergi tanpa Vanilla.


"Tidak kesal, aku hanya ingin bersama Pupu saja,"


Terlepas alasan itu benar atau tidak, tapi Jhico bersyukur anaknya tidak sampai merajuk terang-terangan pada Vanilla. Kalau Grizelle merajuk, kasihan juga Vanilla. Ia sudah menegur Vanilla dengan tegas tadi. Pasti Vanilla merasa bersalah.


*******


Merasa kesepian, Vanilla memutuskan untuk pergi ke coffee shop. Ia suntuk berada di rumah, karena hari ini kebetulan tidak bekerja. Suami dan anaknya ke rumah Ayah mertuanya. Lebih baik Ia mencari ketenangan sendiri.


Vanilla duduk di sudut coffee shop. Ia memanggil salah satu waitress. "Flat white satu, black forest cake satu,"


"Baik, tunggu sebentar ya, Nona."


Vanilla mengetuk-ngetuk jarinya di meja sembari menunggu minum dan cake nya datang.


Ia mengeluarkan ponsel dari sling bag yang dibawanya sekarang. Satu pesan masuk dari manager nya yang bukan Jane lagi karena sepupunya itu masih nyaman tinggal di negara lain bersama dengan suaminya.


Pihak brand sudah bertanya terus padaku apakah kamu menerima tawaran kontrak dari brand Beauty shoes.


Vanilla menghembuskan napas gusar. Ia memijat kening nya. Ia bingung ingin membalas apa karena Ia sendiri juga masih menunggu keputusan Jhico yang barangkali ada perubahan. Ia masih berharap Jhico mengizinkan. Tapi sepertinya itu sulit sekali. Jhico sudah melarang, tapi kalau Vanilla keras kepala maka Jhico tidak bisa melakukan apapun. Pesan Jhico adalah, Ia tidak ingin waktu Vanilla bersama Grizelle semakin terpangkas karena kesibukan Vanilla yang akan bertambah bila kontrak itu diterima oleh Vanilla.


"Aku harus terima ini. Karena aku sudah menginginkannya sejak dulu," gumam nya dalam hati.


Vanilla mengetik balasan untuk pesan manager nya. Tangannya bergerak cepat karena Ia sudah yakin. Jhico adalah laki-laki yang pengertian, walaupun tak bisa dipungkiri Jhico pasti kecewa atas keputusan Vanilla karena itu artinya Vanilla menentang larangan nya.


Aku menerima kontrak itu.


Setelah mengetik itu, pesanan nya datang. Vanilla meletakkan ponselnya di atas meja lalu Ia meneguk flat white dan juga menyantap black forest cake yang menjadi favorit nya bila sedang berkunjung ke coffee shop yang tak jauh dari rumah nya itu.


*******


"Glandpa dimana?"


"Ada di kamarnya, Nona kecil. Grandpa sedang sakit,"

__ADS_1


"Hah sakit? sakit apa?"


Grizelle bertanya pada maid yang menyambutnya tapi Ia berlari ke kamar Kakeknya, tanpa mendengar jawaban maid itu.


Jhico belum selesai menempatkan mobilnya dengan benar di carport, anaknya sudah keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam hingga rambutnya yang terjuntai bergerak terbawa angin yang Ia ciptakan sendiri karena larinya yang cepat.


Jhico menggeleng pelan melihat anaknya. Grizelle selalu antusias bila mengunjungi kediaman sanak keluarga, baik itu kakek dan neneknya, ataupun sepupu nya. Tapi selama ini baru rumah triple A yang dikunjungi anaknya. Kalau rumah sepupu Grizelle dari pihak Jhico tidak pernah menjadi list untuk dikunjungi Grizelle karena memang mereka pun hampir tidak pernah menampilkan wajahnya di hadapan Grizelle yang sekarang ini sudah berusia tiga tahun.


Grizelle kurang mengenal keluarga dari Pupu nya karena mereka semua seperti menganggap Grizelle bukan bagian dari mereka.


Sementara sepupu nya selain triple A dari pihak Vanilla, jarang juga bertemu dengan Grizelle. Hanya bertemu di acara-acara keluarga saja itupun tidak selalu, karena keluarga Vanilla banyak juga yang tinggal di wilayah berbeda.


Grizelle mengetuk pintu kamar dengan pelan. Karina dan Thanatan yang ada di dalam kamar saling menatap. Karina mengambil mangkuk dan minum yang tadi digunakan suaminya untuk dibawa kembali ke dapur. Lalu Ia berjalan ke arah pintu.


Setelah membuka pintu, Ia terkejut melihat cucu satu-satunya ada di sana. Ia tersenyum senang melihat Grizelle. Ia mengusap pipi Grizelle.


"Glandpa, sakit?"


"Iya, Sayang."


"Aku boleh masuk ke dalam?"


"Tidak, Grandpa baik tapi terkadang tidak mau aku ajak bermain,"


Karina terkekeh kecil. Lalu mempersilahkan cucu semata wayang nya masuk ke dalam kamar, menghampiri suaminya yang saat ini masih terbaring lemah. Karina memutuskan untuk meninggalkan kamar.


Grizelle melangkah pelan, mendekati kakeknya yang sekarang memejamkan mata. Ada rasa takut di hati Grizelle. Ia takut membuat kakeknya terganggu. Akhirnya kaki kecil itu memilih untuk kembali lagi keluar.


Langkahnya sangat pelan karena Ia tidak ingin menimbulkan suara sedikitpun. Grizelle meraih handle pintu susah payah karena tinggi nya yang belum mencukupi. Tapi akhirnya Ia bisa menekan handle pintu. Decitan pintu membuat Thanatan menoleh. Ia terkejut mendapati cucunya yang kini tersenyum meringis padanya. Grizelle merasa sudah sangat pelan membuka pintu tapi masih saja menimbulkan suara. Anak itu mendengus kesal pada pintu.


"Hehee maaf ya, Glandpa. Aku ganggu ya? aku akan kelual (keluar) sekalang (sekarang),"


"Kenapa keluar? di sini saja, temani Grandpa."


"Tapi Glandpa sedang sakit,"


Thanatan menepuk sisi di sampingnya agar Grizelle mendekat padanya. Anak itu terlihat ragu. Thanatan membujuknya lewat tatapan. Akhirnya Grizelle berjalan mendekatinya yang berbaring di ranjang.


"Glandpa, sakit apa? kenapa bisa sakit?"

__ADS_1


"Sudah tua, banyak penyakitnya,"


"Aku benal-benal tidak ganggu? aku kelual saja---"


"Datang ke sini karena mau bertemu Grandpa 'kan?"


Grizelle mengangguk membenarkan. Apalagi tujuannya datang ke sini kalau tidak ingin bertemu dengan kakek dan neneknya. Tapi Ia tidak menyangka kalau kakeknya sakit. Kedatangannya tepat sekali. Kalau Ia dan Pupunya tidak datang, mungkin Ia tidak tahu kalau kakeknya sakit.


"Pupu dimana? dia tidak mau menjenguk Grandpa?"


"Ada di lual (luar)mungkin nanti masuk ke sini. Glandpa kenapa bisa sakit? tadi pertanyaan itu belum dijawab,"


"Mungkin kelelahan,"


"Supaya tidak kelelahan, jangan sibuk bekelja (bekerja) telus (terus), Glandpa. Kenapa sih pekeljaan itu nomol (nomor) satu? bukannya kata Mumu, kesehatan yang paling penting?"


"Iya, benar,"


"Telus (terus) kenapa masih sibuk dengan kelja ? (kerja)"


Thanatan menatap langit-langit kamarnya. Ia memejamkan mata sebentar kemudian menghembuskan napas berat.


"Semakin hari, Grandpa semakin merasa kesepian. Untuk menghilangkan nya adalah dengan cara bekerja,"


"Glandpa, ada aku, kenapa kesepian?"


"Memang kamu setiap saat ada di dekat Grandpa?"


Grizelle menggeleng kemudian Ia mengusap tengkuknya bingung. Ia harus apa kalau kakeknya merasa kesepian? obatnya hanya berkumpul dengan orang-orang terdekat atau menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan agar rasa sepi itu hilang.


"Aku juga seling (sering) kesepian. Aku tidul saja atau aku belmain (bermain) supaya bisa lupa,"


"Kamu kesepian? ingin punya adik?"


Grizelle menggeleng tapi sedetik kemudian Ia mengangguk. Terkadang Ia ingin punya adik dalam waktu dekat. Tapi ada saat dimana Ia tidak ingin punya adik untuk sekarang-sekarang ini karena Ia saja masih sering ditinggal bekerja oleh Vanilla. Ia memikirkan nasib adiknya.


 ------


Icell kata kalian punya adek atau enggak? komen yaa di bawah

__ADS_1


__ADS_2