
Jhico bersama perawat yang juga bekerja di kliniknya keluar dari ruang pemeriksaan. Jhico melepas masker yang digunakannya lalu menatap Ghea, sang perawat.
"Berikan saja obatnya. Beliau tidak perlu membayar,"
"Baik, Dokter."
Ghea langsung melaksanakan titah Jhico untuk menyiapkan obat dan memberikannya pada perempuan tua yang dilarikan ke klinik ini karena ditemukan pingsan di jalan. Kondisinya begitu memprihatinkan. Pakaian lusuh dan kotor, wajah pucat, dan terlihat begitu lemah.
Bila melihat pasien-pasien seperti ini Jhico tidak tega untuk membebankan biaya. Ia membiarkan pasien sembuh tanpa perlu memikirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk menebus obat di klinik. Rupanya masih banyak orang-orang yang kurang beruntung di dunia ini. Selama kliniknya dibuka, Jhico sudah beberapa kali bertemu dengan pasien yang benar-benar butuh bantuan tetapi kondisi keuangan tidak memungkinkan.
"Terima kasih, Dokter."
"Kembali kasih, Nyonya. Semoga lekas pulih. Istirahat yang cukup,"
Perempuan ini terlalu keras dalam bekerja sampai tidak memikirkan kondisi tubuhnya sendiri. Ia sibuk mengeluarkan tenaga tetapi makanan tidak ada yang masuk sebagai pengganti energi yang telah terkuras. Beruntungnya ada orang-orang baik yang masih peduli. Mereka mengantar perempuan tua ini ke klinik Jhico yang kebetulan sangat berdekatan dengan posisi saat pasien ditemukan.
********
"Vanilla, aku mau bicara."
"Bicara saja. Aku dengarkan."
Joana melirik Renald dengan bingung. Ia terpaksa bergeser posisi karena Renald ingin duduk berhadapan dengan Vanilla. Saat ini Vanilla dan Joana sedang menghabiskan waktu luang disela mata kuliah untuk makan di kafe kampus.
"Joana, bisa tinggalkan Vanilla di sini bersama aku saja?"
"Tidak boleh! Joana sudah bersama aku sejak tadi. Biarkan dia di sini," ujar Vanilla dengan tegas. Ia rasa Joana tidak mengganggu sama sekali. Apa salahnya Joana ikut mendengar pembicaraan. Vanilla mengambil tindakan sedikit ketus seperti ini karena Ia juga masih kesal dengan sikap Jhico sebelumnya.
Renald tak bisa membantah. Apa lagi ketika melihat tatapan tajam Vanilla, mau tak mau Ia membiarkan Joana di sana bersamanya dan Vanilla.
"Kenapa kamu melakukan itu pada Anneth? dia temanku, dan seharusnya kamu bisa menjaga sikap, Vanilla."
"Huh?" Vanilla terperangah. Ia datang ke sini hanya untuk membahas masalah tadi lagi? bahkan masih ada unsur tuduhan di dalam kalimatnya.
"Melakukan apa? aku sudah menjelaskan semuanya. Aku tidak mempermalukan siapapun kalau itu yang mau kamu dengar,"
__ADS_1
"Dia terjatuh karena kamu dan kamu masih tidak mau mengakui itu?"
"Sepertinya kamu sudah mendengar sesuatu yang keliru. Ular betina itu berbicara apa saja padamu?"
Vanilla tak bisa mengendalikan emosinya lagi sampai menyematkan panggilan untuk Anneth. Yang erat sekali kaitannya dengan sesuatu yang jahat dan berbahaya.
"Namanya Anneth,"
"Aku tidak mau tahu siapa namanya. Tapi kalau sudah berurusan denganku dan membuat pernyataan yang tidak sesuai dengan faktanya, Dia berhak mendapatkan panggilan itu,"
Joana bergantian menatap keduanya. Di awal pembicaraan, Ia masih belum mengerti topik apa yang sedang mereka bahas. Tetapi ketika Vanilla membantah dan Renald masih berusaha menekan Vanilla agar mengakui sebuah kesalahan, Joana yakin kalau yang mereka bicarakan adalah kejadian yang tadi diceritakan oleh Vanilla padanya.
"Sampaikan kalimatku ini padanya, jangan mencari masalah kalau dia tidak mau mengenal aku yang dulu. Kamu tahu aku yang dulu bagaimana 'kan?"
Mulut Renald terbungkam. Vanilla segera mengalihkan matanya pada Joana, "Kita pergi sekarang, Joana."
Joana segera bangkit mengejar langkah kaki Vanilla yang cepat. Vanilla berusaha menahan dirinya mati-matian. Ia tidak mau membuat Renald malu di hadapan banyak orang. Bisa saja Ia menampar wajah Renald yang sembarangan menuduhnya tanpa bukti, hanya mengandalkan kalimat berbisa dari mulut Anneth.
"Vanilla, kamu mau kemana? mata kuliah kita belum selesai," seru Joana yang sadar kalau Vanilla melangkah ke basement kampus. Bukan ke kelas mereka.
Joana menghembuskan napas pelan. Vanilla kembali lagi seperti dulu yang seenaknya meninggalkan mata kuliah dan ini karena Renald. Padahal sudah lama Vanilla tidak semena-mena seperti ini terhadap kewajibannya dalam hal pendidikan.
Vanilla memutuskan untuk datang ke klinik suaminya. Vanilla bertemu perempuan tua yang baru saja keluar dari klinik Jhico. Ia berjalan tertatih, Vanilla yang melihatnya langsung membantu. "Dimana rumahmu Nyonya? biar aku antar,"
"Terima kasih, tapi aku akan pulang sendiri."
"Nyonya yakin bisa pulang dengan kondisi seperti ini?"
"Aku sudah lebih baik,"
Vanilla melihat ada sekantung obat di tangan perempuan itu. "Aku antar," Hati Vanilla meringis dan tak tega bila harus membiarkan Ia pulang sendiri.
Melihat Vanilla yang begitu tulus ingin membantu, akhirnya Ia menurut saja saat Vanilla menuntun langkahnya ke mobil.
"Ghea, apa yang kamu lihat di luar?"
__ADS_1
"Dokter, istrimu mengantar perempuan yang tadi,"
"Huh?"
Jhico yang baru saja sibuk dengan pasien, menatap pintu kaca kliniknya. Di luar sana, Ia melihat mobil Vanilla baru saja keluar dari area klinik.
*********
Vanilla sampai di depan sebuah rumah kecil milik perempuan di sampingnya yang sepertinya memiliki usia tak berbeda jauh dengan Rena.
"Terima kasih sudah mengantarku, Nona. Hatimu sangat baik,"
"Kembali kasih. Nyonya tinggal sendiri di sini?"
"Bersama cucu,"
"Dimana cucunya? kenapa tidak berobat bersama dia?"
"Bekerja di restoran. Aku berobat di klinik itu juga karena tidak sengaja,"
"Maksud Nyonya?"
"Menurut dokter yang menanganiku tadi, Aku pingsan di jalan dan dilarikan ke sana,"
"Astaga," Vanilla terkejut mendengarnya. Berarti kalau tidak pingsan, Ia tidak akan berobat padahal kalau dilihat dari kondisinya, perempuan ini benar-benar butuh pertolongan.
Vanilla meraih sling bag nya yang berada di kursi tengah. Secepat kilat Ia meraih semua uang yang ada di dompetnya. Lalu Ia menyerahkan itu pada orang yang kurang beruntung ini.
"Nona sudah baik sekali mengantar aku pulang. Tidak perlu lagi memberikan ini, Nona."
Ia akan keluar setelah berhasil mengembalikan beberapa lembar uang yang diberikan Vanilla. Vanilla menahan lengannya dan mengunci pintu mobil dengan cepat sehingga Ia tidak bisa kemanapun.
"Aku mohon terima ini. Tidak banyak, tapi aku berharap bisa sedikit mengurangi beban Nyonya,"
Vanilla kembali meletakkan berlembar-lembar uang yang telah dilipatnya ke telapak tangan perempuan itu, lalu Vanilla tersenyum. "Semoga cepat pulih, Aku pulang dulu."
__ADS_1
------------