Nillaku

Nillaku
Nillaku 159


__ADS_3

Pesan yang Karina kirim untuk suaminya tidak lama langsung dibaca. Entah Thanatan sudah tiba di kantornya atau belum. Yang jelas Ia punya waktu untuk mengecek ponsel. Lalu kenapa Ia tidak punya waktu untuk sekedar menyapa cucunya.


"Vanilla dimana, Jhico? Mama tidak melihat dia,"


"Ke kampusnya sebentar, Ma."


"Dia sudah mulai kuliah lagi?"


"Belum, nanti saat usia Griz tiga bulan. Nilla ke sana karena ada urusan di kampus,"


Karina menghela napas pelan. Beruntungnya tidak ada Vanilla di sini. Kalau dia menyaksikan perilaku Thanatan tadi, lagi-lagi Ia harus merasa tidak enak hati dengan Vanilla.


"Mama ingin sekali membawa Grizelle untuk bertemu teman-teman Mama,"


"Nanti ya, Ma. Griz masih terlalu kecil,"


"Iya, saat Griz sudah besar nanti, Griz harus ikut Mama saat kumpul-kumpul dengan teman Mama. Mereka sering membawa cucunya. Mama tidak mau kalah,"


********


Thanatan meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar usai membaca pesan dari istrinya.


"Kenapa dia selalu memaksa? untuk apa aku bertemu dengan anak itu. Selain karena dia bukan berjenis kelamin laki-laki seperti keinginanku, anak itu belum tentu menjadi anak yang baik. Bisa jadi dia seperti ayahnya yang pembangkang,"


"Karina terlalu menyayanginya. Nanti kalau dia tumbuh menjadi anak yang tidak sesuai harapan, barulah Karina kecewa," gumam laki-laki yang sering sekali dikatakan gila oleh istrinya sendiri. Karina menganggapnya gila karena tidak ada seorang kakek di dunia ini yang menolak kehadiran cucunya kalau dia adalah seseorang yang waras. Sekesal apapun Thanatan dengan Jhico, seharusnya Grizelle tetap mendapat pengakuan dan perlakuan yang baik dari kakeknya.


********


"Akhir minggu ini akan ada pertemuan keluarga. Salah satu sepupu mu sebentar lagi menikah,"


Jhico sampai tidak tahu kalau sepupunya ada yang akan melepas masa kesendiriannya. Mereka terlalu jarang komunikasi bahkan hampir tidak pernah sehingga apapun yang terjadi pada mereka atau pada Jhico jarang sekali saling mengetahui satu sama lain.


"Apa kamu akan datang?"


"Datang, kalau tidak ada kendala, aku pasti datang, Ma."


"Kalau bisa bawa Griz ya,"


"Sepertinya jangan dulu, Ma. Aku belum siap melihat reaksi keluarga terhadap kehadiran Grizelle,"


"Aku khawatir mereka tidak jauh berbeda dengan Papa dan Opa. Aku datang sendiri saja," lanjutnya.


"Vanilla tidak diajak?"


"Tidak usah, dia masih belum terbiasa dengan sikap keluarga kita,"


*******


Vanilla keluar dari sebuah gerai donat dengan membawa dua kotak donat. Ia tersenyum menatap sebentar kotak donat itu.

__ADS_1


"Hmm aromanya membuat aku tidak sabar untuk menikmatinya,"


Aroma dari donat sampai keluar dan hinggap di indera penciuman Vanilla sebentar.


Vanilla memasuki mobil Jhico yang hari ini Ia pakai. Ia menyetir sendiri, menolak untuk disetiri oleh suaminya. Jhico yang memang merasa fisiknya belum terlalu bisa diandalkan untuk membawa mobil, akhirnya terpaksa membiarkan sang istri untuk menyetir sendiri ke kampusnya.


Vanilla meletakkan kotak donat di kursi samping kemudi. Lalu Ia mulai bergegas melanjutkan perjalanan menuju apartemen. Tidak sabar ingin bertemu Grizelle yang sudah bangun dari tidurnya, kata Jhico di pesan singkat tadi.


*******


"Nilla, bagaimana kalau satu bulan yang akan datang, kita pindah ke rumah yang sudah aku siapkan dari awal aku bekerja,"


Vanilla menggeleng keberatan. "Sebelum pindah rumah, kita harus mengisi rumah dengan segala perlengkapan dulu dan itu membutuhkan uang. Nanti-nanti saja lah,"


"Sudah ada porsinya untuk itu. Sudah aku siapkan. Ada bagian rumah yang belum sempurna, beberapa hari lalu, aku minta untuk disempurnakan,"


Vanilla segera menoleh pada suaminya yang ternyata sudah menyempurnakan rumah masa depan mereka tanpa bicara dulu dengannya.


"Aku masih nyaman di sini,"


"Aku tahu. Tapi aku ingin pindah saja supaya dapat suasana yang baru,"


"Kamu tidak membicarakannya denganku sebelum melakukan pembenahan rumah,"


"Tadi aku sudah bicara,"


"Aku tahu kamu pasti akan melarang. Kalau sekarang kamu melarang, sudah tidak ada gunanya lagi. Karena sudah berjalan,"


Vanilla menggeram gemas seraya menekan kedua pipi suaminya. Jhico segera menjauhkan tangan Vanilla dari wajahnya.


"Tadi Mama mengatakan padaku kalau sepupu ku ada yang akan menikah,"


"Oh ya? kapan?"


Jhico menyerahkan ponselnya pada Vanilla dimana di ponsel itu ada file berupa undangan yang dikirim Mama nya tadi.


"Oh masih dua minggu lagi," ujar Vanilla.


"Mungkin acara itu bisa menjadi kesempatan untuk kita memperkenalkan Griz,"


Jhico lansung menggeleng mendengar ucapan istrinya itu.


"Tidak usah dikenalkan, Nilla. Kalau memang mereka mau mengenal Griz, kenapa tidak datang saat dia lahir sampai sekarang? aku ingin hanya aku yang datang ke acara itu. Kamu bersama Griz diam di sini saja,"


"Aku juga tidak boleh ikut?"


"Tidak usah, Nilla. Lebih baik kamu dan Griz tidak usah ikut. Kalau kamu ikut, bagaimana dengan Griz?"


"Jhi, jangan membalas sikap kurang baik mereka. Kamu selalu mengajarkan aku untuk berbuat baik,"

__ADS_1


Vanilla tahu kalau suaminya sedang mencoba untuk melindunginya dan Grizelle. Hubungan Jhico dengan keluarganya akan semakin renggang kalau mereka sama-sama keras kepala.


"Aku tidak membalas sikap buruk mereka. Aku tetap datang bila ada acara-acara penting keluarga, itu artinya aku masih sangat menghargai mereka yang sedari dulu tidak mengacuhkan aku,"


Vanilla menghembuskan napas berat. Ia belum berhasil memperbaiki hubungan keluarga Jhico dengan Jhico sendiri. Mereka seperti bukan keluarga. Kalau Vanilla boleh membandingkan, keluarganya jauh lebih harmonis dibandingkan dengan keluarga suaminya. Jhico terasingkan dimata keluarganya sendiri.


********


"Astaga, Jane. Aku langsung mendengar tangisan begitu menjawab panggilan darimu,"


"Vanilla, aku kesal sekaligus sedih,"


Vanilla melirik suaminya dan Grizelle yang terlelap nyaman. Ia segera beranjak dari tempat tidur menuju balkon kamarnya. Ia harus menjadi pendengar yang baik untuk sepupunya yang sepertinya sedang diterpa masalah.


"Ada apa, Jane?"


Suara tangis Jane terdengar pilu sekali ditelinga Vanilla. Vanilla yakin masalah yang dihadapi Jane saat ini cukup sulit.


"Aku belum hamil dan aku mulai merasakan perbedaan dari sikap keluarga Richard,"


"Huh? berbeda bagaimana maksudmu?"


"Biasanya mereka sangat memperhatikan aku, lembut padaku, pada intinya sangat baik padaku. Tapi belakangan ini, aku seperti diabaikan,"


"Itu hanya perasaanmu saja, Jane."


"Tidak, Vanilla. Richard saja merasakan hal yang sama,"


"Tapi Richard tidak seperti keluarganya 'kan? dia tidak berubah?"


"Tidak, tapi aku tahu dia juga sama seperti keluarganya yang sangat mengharapkan hadirnya seorang anak,"


"Jane, usia pernikahan kalian masih sangat muda. Banyak pasangan di luar sana yang sudah lama menikah tapi belum memiliki anak. Mereka sabar menanti sampai akhirnya Tuhan memberikan apa yang mereka nantikan. Aku harap kamu bisa sabar, Jane...."


"Bahkan ada juga yang tidak dianugrahi keturunan oleh Tuhan tapi tetap bisa bahagia dengan pasangan nya,"


Jane mendengarkan Vanilla dengan isak tangis yang belum reda. Malam ini Ia menyendiri lalu tiba-tiba saja merasa sedih setelah ingat bagaimana sikap keluarga Richard sejak beberapa waktu lalu hingga tadi siang di pertemuan keluarga yang rutin dilakukan, dan dipertemuan itu Jane semakin merasakan perubahan dari perilaku keluarga Richard padanya.


"Kalian harus berprasangka baik. Mungkin menurut Tuhan, belum waktunya kalian memiliki anak,"


"Aku jadi sering membandingkan diriku dengan kamu, Nilla. Hidupmu sempurna sekali,"


 -------


HELLAWW KU DATANG LAGEHHH. GK ADA YG NANYAIN JANE DR KEMAREN. GK KANGEN JANE APA?


ADDICTED UP YAAAA. SILAHKAN KLIK PROFIL DAN MAMPIR DI SEMUA KARYAKU. TENGKYUU💕


__ADS_1


__ADS_2