
Nein sudah tiba di bandara menunggu kedatangan talent nya, Vanilla yang memutuskan untuk pergi ke Dubai turut serta dalam acara Dubai fashion week.
Vanilla membawa sahabat sekaligus asistennya, Joana. Mereka hanya pergi bertiga. Seperti kepergian mereka sebelum-sebelumnya.
Grizelle yang masih berada di rumah sakit dalam masa pemulihan hanya tinggal bersama Jhico.
Meninggalkan anak dalam kondisi baru habis sakit, banyak sekali pesan yang Vanilla tinggalkan untuk anaknya maupun suaminya.
Setelah berpikir lumayan lama untuk memutuskan apakah akan pergi atau tidak, akhirnya Vanilla memilih untuk pergi setelah sebelumnya Ia memastikan terlebih dahulu bagaimana kondisi Grizelle sebelum Ia tinggal.
"Sehalusnya (seharusnya) Pupu antal (antar) Mumu,"
"Mumu tidak mau diantar. Lagipula kalau Pupu mengantar Mumu ke bandara, kamu dengan siapa di sini?"
"Bisa minta Nada ke sini. Glandma juga akan datang nanti,"
Jhico memang sempat menawarkan diri untuk mengantar Vanilla walaupun Ia sendiri bimbang apakah Ia bisa meninggalkan Grizelle di rumah sakit. Tapi Vanilla tegas menolak Malah Vanilla pun berpikiran sama dengannya. Sekalipun ada Rena atau Nada, tapi harus ada salah satu orangtua yang mendampingi. Lagipula Vanilla bukan anak kecil yang harus diantar kemanapun, begitu kata Vanilla.
Jhico membuka pesan dari Rena yang mengatakan sudah dijalan bersama Nada juga.
"Hari ini Griz banyak teman,"
"Ada Glandma dan Nada 'kan?"
"Iya, tapi tetap saja Pupu tidak mau meninggalkan Griz,"
"Pupu kenapa tidak mau bekelja(bekerja)? nanti tidak dapat uang bagaimana?"
Jhico terkekeh mendengar ucapan polos putrinya. Ia bukan tidak mau, tapi situasinya belum mendukung. Vanilla sudah pergi, tidak mungkin Ia hanya menyerahkan Grizelle pada Rena ataupun Nada.
"Griz tetap bisa makan dan sekolah. Tenang saja," pungkasnya seraya tersenyum.
"Oh Pupu tinggal minta uang saja ya dali (dari) klinik?"
Minta uang
Mendengar kedua kata itu Jhico terbahak. Tahu bahwa Pupunya pemilik, maka Grizelle berpikir Jhico hanya tinggal duduk manis.
"Pupu, katanya mau buat klinik lagi 'kan?"
"Iya, sudah mulai jalan. Kenapa?"
Grizelle menggeleng, kemudian menunduk memainkan kuku-kukunya.
"Nanti Pupu semakin sibuk,"
__ADS_1
Mengetahui kerisauan hati Grizelle, Jhico mengusap puncak kepalanya.
"Tidak lah, Pupu bisa membagi waktu. Selama ini begitu 'kan?"
Jhico menambah jumlah kliniknya lagi itu artinya akan menyita waktu Jhico. Dan Grizelle mulai takut Pupunya terlalu sibuk dan perlahan menjauh darinya.
"Pupu dan Mumu tidak akan terlalu sibuk. Kami akan selalu berusaha untuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga,"
Grizelle menatap keseriusan di mata Ayahnya. Ia takut sekali kehilangan perhatian mereka berdua walaupun Ia sudah terbiasa mandiri sebagai anak perempuan.
Kalau mereka sibuk lalu ketika dirinya sakit dan sangat butuh perhatian dari keduanya, maka Grizelle tidak tahu harus bagaimana.
*****
"Grizelle bagaimana saat kamu tinggal? Dia menangis 'kah?"
Saat dalam perjalanan, Nein yang penasaran dengan reaksi Grizelle ketika ditinggal Ibunya, akhirnya bertanya pada Vanilla.
"Tidak, dia sudah terbiasa ditinggal. Apalagi kondisinya sekarang sudah membaik. Jadi tidak rewel lagi,"
"Ah syukurlah. Jadi dia hanya bersama Jhico di rumah sakit?"
"Iya, tapi Mamaku sudah berjanji untuk selalu melihat keadaan Grizelle baik itu saat di rumah sakit ataupun nanti kalau sudah kembali ke rumah,"
"Beruntungnya orangtuamu pengertian dan peduli ya,Van,"
Jhico membela Vanilla saat ditegur oleh Rena. Jhico mengatakan bahwa memang Ia yang sudah mengizinkan Vanilla unuk pergi karena Vanilla juga sudah lama tidak pergi bekerja di tempat yang berjauhan dengan anaknya. Berutungnya kondisi Grizelle sudah hampir pulih. Jadi tak ada alasan bagi Jhico untuk melarang. Selagi istrinya masih ingin bekerja dan membagi waktu, Ia tidak keberatan.
Ia sudah pernah meminta Vanilla untuk berhenti dari kesibukannya sekarang tapi Vanilla tidak mau. Jhico tak bisa memaksa. Mungkin Vanilla memang masih nyaman dengan pekerjaannya sekarang.
"Nein, kalau aku mengandung lagi, aku berencana untuk istirahat dulu,"
Nein yang sedang menikmati makanan yang baru diantar oleh pramugari, mengangguk menanggapi ucapan Vanilla.
"Ya sudah, Van. Bila memang itu yang terbaik menurutmu, aku mendukung. Tapi yang perlu kamu ingat, kalau kamu ingin kembali lagi, aku dengan tangan terbuka menyambutmu,"
Vanilla menghela bahunya, "Tidak tahu apa aku masih bekerja lagi atau tidak. Karena aku benar-benar ingin fokus merawat anak-anakku,"
"Tapi, kamu curang ya. Saat Grizelle masih sendiri, kamu bekerja. Tapi saat punya anak lagi, kamu berencana untuk berhenti,"
Vanilla merasa tertohok dengan ucapan Nein yang sebenarnya hanya bercanda tapi entah kenapa mengusik perasaannya sebagai Ibu.
"Iya ya. Kenapa aku tidak adil?"
"Apa aku harus secepatnya berhenti sebelum aku mengandung lagi? agar aku benar-benar bisa mengurus Grizelle sembari menunggu anugrah Tuhan lagi untuk yang ke dua kalinya,"
__ADS_1
"Kamu bicarakan hal ini dengan Jhico. Karena dia yang berhak untuk menyampaikan suaranya,"
"Kataku ya, Van. Kamu tetap bisa bekerja hanya dari rumah sebagai influencer. Tidak perlu lagi menjadi model dari brand-brand besar dan tidak perlu lagi menerima segala pekerjaan yang harus dilakoni di tempat yang jauh,"
Joana mencuri dengar pembicaraan Vanilla dan Nein. Ia yang sedari tadi memilih diam, akhirnya mencoba untuk menuangkan pikirannya.
"Selain menjadi influencer, kamu bisa membangun bisnis. Mengingat namamu sangat menjual," tambah Joana.
Vanilla menggaruk keningnya sekilas. "Nanti aku pikirkan lagi. Sekarang kita 'kan lagi mau ke Dubai, jadi pikirkan dulu yang ada di depan mata," ujar Vanilla seraya terkekeh.
"Ya kamu yang lebih dulu membahas itu," Nein mencibir pada Vanilla yang kini memejamkan matanya.
"Belum lama aku berpisah dari Griz, aku sudah merindukan anakku itu. Sedang apa dia sekarang ya? Apa Mamaku sudah datang,"
"Nanti langsung telepon begitu sampai,"
Vanilla mengangguk cepat, "Itu pasti." Grizelle harus tahu secepatnya bila Ia sudah tiba.
"Sekarang aku tidur dulu lah,"
"Iya, nanti begitu sampai kita bisa jalan-jalan dulu disekitar penginapan," ucap Nein yang memegang kendali atas semua project Vanilla.
******
Grizelle menahan seruan bahagianya saat melihat Thanatan datang menjenguknya.
Ia bahkan hampir melompat dari bangsal untuk menyambut sang kakek dengan pelukan.
Tapi sebelum Ia melakukan itu, Jhico sudah menegur tegas. Hingga akhirnya Grizelle tak memiliki nyali untuk se-euforia itu menyambut kakeknya.
"Kakek datang?"
"Ya menurutmu? siapa yang ada di hadapanmu sekarang?"
"Kakek, telimakasih(terimakasih) ya,"
"Kapan diizinkan pulang?"
"Belum tahu, Kakek. Apa Kakek mau menemani aku di sini sampai aku sembuh?"
Thanatan mendengus sebelum menjawab,"Memang kamu pikir Kakek tidak ada kesibukan?" tanya Thanatan dengan nada dinginnya seperti biasa. Namun Grizelle tersenyum, karena Ia tak serius dengan ucapannya tadi.
Grizelle Hanya ingin mencairkan suasana yang dirasa mencekam begitu kakeknya memasuki ruangan. Apalagi ketika Ia melihat Jhico yang tidak menyambut Kakeknya sama sekali dan Kakeknya pun tak menyapa Jhico bahkan melewati Jhico begitu saja ketika Ia memasuki ruangan Grizelle sementara Jhico masih di depan pintu karena Ia yang membukakan pintu untuk Thanatan.
-----
__ADS_1
Woooo Kakek Than dtg, guyss. Siapa yg nyangka? Kakek niat bgt minta maaf sm cucunya. Wkwkwk. Untuk malam minggu nya aku up 5 part yaa. Smg kalian terhibur. Nillaku up jg✔Jgn lupa tekan like, vote, dan komen yg buanyaakk. Makasih semuanya🙏Papaaayy🙌