Nillaku

Nillaku
Nillaku 428 Kakek mau disuapi gelato oleh Grizelle


__ADS_3

"Grizelle, hati-hati,"


Evelyn berpesan pada Grizelle yang akan menaiki sebuah luncuran yang cukup curam.


"Okay, Eve,"


Grizelle menatap ke depan dan Ia segera meluncur. Ia berseru senang merasakan sensasi meluncur dari tempat yang lumayan tinggi.


"Kamu berani sekali," kata Evelyn pada Grizelle. Evelyn ingin mencobanya juga namun Ia tidak memiliki keberanian. Ia takut keluar dari luncuran.


"Aku ingin mencoba tapi aku takut, Griz,"


"Coba saja. Tidak akan terrljadi (terjadi) apapun,"


"Tapi aku takut,"


"Tidak usah takut, Eve. Kamu tidak akan bisa tahu rasanya kalau belum coba. Pasti penasaran 'kan?"


Evelyn mengangguk gamang. Karena Grizelle meyakinkan dirinya maka keberanian itu timbul. Ia menaiki tangga tetlebih dahulu kemudian menatap ke bawah dimana Grizelle berdiri menunggunya.


"Ayo, Eve. Kamu paati bisa, tetap hati-hati ya," Grizelle menyemangati sekaligus berpesan pada temannya itu.


Evelyn mengangguk, Ia harus segera meluncur supaya tidak pendaran lagi bagainana rasaya berseluncur seprti Grizelle tadi.


Ia meluncur dengan mata terpejam. Tapi Ia berhasil berkat Grizelle yang meyakinkannya.


"Yeayyy Eve bisa. Bagaimana? menyenangkan?"


"Iya, aku jadi ingin punya ini di rumah,"


Grizelle tertawa, karena sudah tahu keseruannya, Evelyn sampai ingin punya sendiri di rumah.


"Iya, minta pada Opa Thomas,"


"Kamu ingin minta juga pada Kakek?"


Grizelle menggeleng pelan. Aa yang Ia punya sekarang sudah cukup. Playground besar di luar rumah ada, playground di rumah yang tidak besar juga ada.


"Kita lihat acara dulu mau?"


Evelyn mengangguk. Ia berjalan bersama Grizelle menuju ballroom. Ternyata acaranya sudah dimulai. Mereka yang ada disana tampak sedang melakukan pembicaraan berskala besar karena orang yang hadir cukup banyak.


Keduanya melihat dari celah pintu yang terbuka sedikit. Setelah itu kembai lagi ke area bermain tadi. Gerak-gerik mereka selalu diawasi dengan baik.


"Aku lapar," Grizelle mengeluh serraya menyentuh perutnya. Evelyn tertawa, bisa-bisanya lapar disaat Kakek mereka sedang sibuk. Bagaimana mereka bisa mendapat makanan?


"Sebentar,"


Evelyn mendapat ide. Ia mendekati orang kepercayaan Kakeknya untuk meminta tolong.


"Bisa bantu aku mengambilkan makanan? temanku lapar,"


Tentu laki-laki itu mengangguk, Ia dengan cepat ke ruangan dimana banyak sajian tersedia.


Anak buah Thanatan mendekati kedua anak itu dan bertanya "Ada apa, Griz?"


Ia bingung karena lelaki yang juga sama-sama menjaga mereka berdua itu pergi setelah Evelyn bicara.


"Aku laparrl (lapar),"

__ADS_1


"Itu sudah diambilkan. Tunggu sebentar ya," pinta Evelyn pada Grizelle yang langsung mengangguk.


"Terrlimakasih, Eve,"


"Sama-sama, Griz,"


Lelaki tadi kembali mendekati mereka dengan dua makanan untuk Grizelle juga Evelyn.


"Aku diambilkan juga?"


"Iya, biar kalian berdua sama-sama makan,"


"Terrlimakasih ya,"


"Terimakasih, sudah mengambilkan aku juga,"


Keduanya mengucapkan terimakasih kemudian langsung menyantapnya di luar arena bermain.


"Huh baru akan masuk makanannya. Perutku juga sudah bunyi, Griz,"


Evelyn menertawakan perutnya yang juga ternyata lapar. Ketika Ia akan mulai makan, perutnya berbunyi.


"Iya, marrli (mari) kita makan,"


"Kalian yang sudah baik menjaga kita kenapa tidak mengambil makanan juga?" Grizelle tidak tega makan di depan kedua penjaganya. Anak buah Kakeknya dan Kakek Evelyn.


"Tidak apa, Nona kecil. Kami bisa makan nanti. Yang terpenting kalian dulu, apalagi kalian sudah lapar,"


*****


Jhico memasuki rumahnya yang sepi. Pikirnya Grizelle mungkin ada di kamarnya sedang sibuk dengan tugas atau di kamarnya dan Vanilla sedang mengobrol dengan Vanilla, atau bisa jadi tengah bermain dengan Nada di playground rumah.


"Nillaku,"


"Eh sudah pulang,"


Vanilla tersenyum dikejutkan dengan kedatangan suaminya yang tidak Ia sadari sebab membelakangi pintu dan Jhico yang membuka pintu dengan pelan.


"Icelle dimana?"


"Kamu tidak membaca pesanku ya?"


Tidak hanya sekali dua kali Jhico melewati pesannya. Vanilla memaklumi karena Jhico memang sibuk. Tidak melihat ponsel terus-menerus.


"Icelle diajak Papamu pergi. Papa ada acara di ballroom hotel. Evelyn, cucunya rekan Papa yang bernama Thomas ingin bertemu Icelle katanya. Evelyn kebetulan juga ikut, maka Papa juga mengajak Icelle,"


"Oh begitu. Sudah lama perginya?"


"Lumayan,"


"Kapan mereka pulang? kamu tidak tahu rencananya?"


"Tidak, Jhi. Papa tidak mengatakan padaku akan pulang kapan. Tapi yang jelas tidak menginap,"


"Tadi juga Keyfa datang ingin bermain dengan Icelle tapi karena Icelle akan pergi dengan Kakeknya maka aku katakan pada Keyfa bisa kembali lagi ke sini besok. Akhirnya Keyfa pulang setelah sebelumnya Grizelle sudah meminta maaf,"


Jhico mengangguk mendengarkan penjelasan Istrinya yang kini kembali melanjutkan.


"Icelle merasa bersalah karena saat Keyfa tiba, Grizelle belum pulang sekolah. Lalu tidak lama kemudian Kakeknya Icelle juga datang. Keyfa sudah menunggu tapi ternyata Icelle diajak pergi oleh Kakeknya," Vanilla mengakhirinya.

__ADS_1


"Pasti senang sekali anak itu diajak Kakeknya jalan-jalan,"


"Iya, tadi antusias sekali,"


Vanilla mengingat anaknya tadi yang begitu semangat begitu tahu kalau akan diajak pergi oleh Kakeknya.


"Pantas aku pulang tidak ada Icelle yang menyambutku dengan semangatnya,"


"Sepi ya?"


Jhico mengangguk pelan. Ia sempat berpikir putrinya tadi sedang belajar atau mungkin tidur kalau tak menyambutnya.


*****


Thanatan menghubungi anak buahnya agar membawa cucunya ke ballroom. Grizelle tak sendiri, Evelyn pun sudah dipanggil kakeknya sebab acara sudah usai.


"Makan apa?" Grizelle duduk di pangkuan Kakeknya mengedarkan pandangan.


Thanatan mengusap kening Grizelle yang sedikit berkeringat. "Hei, Kakek bertanya padamu,"


Tak kunjung mendapat jawaban karena Grizelle sibuk meluhat sekelilingnya, maka Thanatan  kembali bertanya.


"Aku sudah makan, Kakek. Tadi aku laparrl (lapar) lalu diambilkan makanan,"


"Oh begitu. Sekarang tidak mau makan apapun?"


"Eve juga sudah makan?"tanya Thomas yang duduk berhadapan degan Thanatan dan Evelyn di sampingnya.


"Sudah, aku sudah makan, Opa. Tapi aku mau ambil yoghurt,"


"Biar Opa yang ambil ya?"


"Tidak mau, aku ambil sendiri saja. Ayo Icelle,"


Evelyn mengajak Grizelle juga. Grizelle langsung menerima uluran tangan Evelyn lalu mereka ke ruangan khusus hidangan baik menu utama maupun menu penutup.


"Kamu mau yoghurt juga?"


"Tidak mau, aku mau gelato. Itu ada gelato,"


"Ayo, aku temani kamu mengambil gelato,"


Evelyn menemani Grizelle terlebih dahulu kemudian Grizlele yang menemani Evelyn mengambil yoghurt.


Barulah mereka kembali ke tempat semula, bersama kakek mereka masing-masing.


"Kakek tidak makan?"


Thanatan menggeleng, Ia tidak merasa lapar maka hanya mengambil minum saja.


"Kakek, mau coba?"


Grizelle menawarkan Thanatan gelato miliknya. Thanatan segera menerima suapan dari sang cucu. Grizelle belum mencobanya, justru Ia menawarkan kakeknya terlebih dahulu.


"Bagaimana rrlasanya (rasanya), Kakek?" tanya Grizelle penasaran.


"Kamu makan saja. Coba sendiri, pasti langsung suka,"


Grizelle segera mencicipinya. Dingin menjalar di lidahnya. Matanya berbinar ketika tahu rasanya. "Hmm segarrl (segar) seperrlti (seperti) minum ice cream,"

__ADS_1


"Yoghurt nya juga segar, Griz. Walaupun rasanya masam," Evelyn menunjukan yoghurtnya yang sudah tidak penuh lagi. Grizele tidak kalah semangat menyantap. Ia akan menyuapi Thanatan lagi tapi Kakeknya itu menolak. Sudah cukup katanya dan Ia meminta Grizelle saja yang menghabiskan.


__ADS_2